
Bab37
"Tante, aku pinjem rooftopnya, ya? Teman-teman mau main di sana, kebetulan sedang tidak ada pelajaran sekarang," telepon Kemala kepada Keken.
"Beneran kamu tidak ada pelajaran? Sepertinya sering sekali?" tanya Keken.
"Kalau nggak percaya telepon aja ke sekolah." Kemala selalu memberikan alasan seperti itu, karena tahu Keken tidak akan mungkin menghubungi pihak sekolah.
Bukan Keken yang tidak berani, cuman urusannya terlalu sibuk. Lagi pula kalau ada apa-apa nanti orang tuanya Kemala, ya Itu kakaknya sendiri yang akan bertanggung jawab.
Keken, meskipun dia orang berada, tapi untuk usahanya tidak langsung mengandalkan asisten atau memperkerjakan orang. Keken ingin benar-benar membangun usahanya dari kecil, dari uang tabungannya sendiri.
Selain memiliki perpustakaan umum, Keken juga memiliki usaha di bidang fashion. Karena Keken seseorang yang suka sekali dunia pendidikan, cinta budaya sendiri, tentunya butik yang dia miliki banyak mengusung pakaian dengan tema nasional, yaitu batik-batik dari nusantara. Bukan butik sembarang butik.
Dua usaha itu saja sudah membuat Keken tidak memiliki waktu untuk hal lain, karena juga harus tetap belajar. Salah satu hiburan yang Keken suka adalah pergi ke sanggar tari. Menurut Keken, menari adalah sebagai ekspresi kebahagiaannya untuk melepaskan penat dan masalah-masalah yang selama ini muncul dari aktivitas sehari-hari.
"Tapi jangan bikin ulah, ya. Pokoknya harus sama-sama menjaga. Malu sama Kanjeng Mami dan Kanjeng Papi."
"Iya tante, siap," ucap Kemala senang.
Panggil mereka pun Berakhir. Dan tiba-tiba...
"Kamu nguping ya? Lagian ngapain juga nguping, gak sopan. Oh ya, nanti makanannya bawa ke atas aja," cap Kemala yang langsung naik ke lantai paling atas menggunakan lift.
"Eh tunggu, nanti kalau ada temanku tolong anterin ya," imbuh Kemala sebelum lift benar-benar menutup.
Kinasih hanya mengangguk-angguk saja, meskipun dia kurang paham. Biar nanti disampaikan kepada pelayan lain.
'Kok bisa bukan sanak saudara, tapi di rumah seenaknya seperti itu,' gumam Kinasih yang masih membersihkan sisa makanan yang tumpah tadi.
Kemudian Sarah datang, dia sudah membawa dua tukang kebun.
"Kinasih, udah, nggak usah terlalu bersih nggak apa-apa. Karpetnya juga mau diangkat, mau dibawa ke belakang," ucap Sarah.
"Oh... katanya mau di laundry?"
"Iya di laundry di belakang. Maksud kamu emang laundry di mana?"
"Biasanya kalau laundry ada yang mengambil untuk ke tempat laundry," jawab Kinasih, itu kebiasaan tukang laundry di kampungnya.
"Hahaha, itu beda lagi. Di sini laundry-nya ya di rumah, gak harus ke tempat laundry." Sarah tertawa karena Kinasih terlihat kebingungan.
Ya, karena ini pengalaman pertama Kinasih berada di tengah keluarga Ningrat, kaya raya. Apa sih yang tidak bisa dilakukan orang kaya? Fasilitas di rumah bisa super lengkap, karena ada uang.
Kinasih manggut-manggut, baru sadar ini kan rumah orang kaya. Tukang masak aja menggunakan chef, tukang kebun juga bukan asal tukang kebun, mereka mahir penataan kebun, interior rumah, apalagi tukang cuci pasti tahu cara mencuci barang-barang disesuaikan dengan bahan, alat dan deterjen tentunya.
Kadang Kalau Ke laundry ada saja barang yang jadi rusak. Lagi pula, pekerja di Wastu Hestama, sudah lebih baik dari laundry berkualitas sekali pun.
***
"Pak Estu agak kurusan ya?" ucap salah satu karyawan, saat tadi melihat Estu baru datang.
"Iyalah, namanya juga habis kena musibah."
" Tapi nggak hilang kan gantengnya?" salah satu karyawan yang baru datang ikut nimbrung.
Tadi pagi, saat Estu baru datang, seluruh karyawan dikumpulkan di aula untuk mengumumkan bahwa Estu telah kembali.
Untuk merayakannya, bentuk rasa syukur, maka diputuskan selama satu minggu karyawan mendapat uang makan.
Mengapa bukan mendapat makan gratis di kantin? Malah uang makan. Karena tidak semua karyawan makan di kantin, ada juga yang makan di luar atau membawa bekal.
__ADS_1
Kenapa Kanjeng Papi tidak merayakan pesta juga buat karyawan? Menurut Papi, karena itu kurang efisien. Jadi biar simple, maka mereka diberi bonus uang makan saja.
Kini Estu sedang berada di ruangan, sejak tadi Kanjeng Papi dan satu temannya membimbing Estu dengan penuh kesabaran. Karena perusahaan ini bukan perusahaan kecil, yang ditangani dengan sembarangan
Ekspor impor dalam hasil bumi memang sangat menguntungkan, karena negara kita adalah kaya akan hasil bumi dan negara luar selalu membutuhkan barang yang banyak
Estu harus menyesuaikan lagi dengan beberapa klien, tumpukan file dia harus pelajari dengan seksama, Karena ibaratnya ini dimulai lagi dari awal, sebab Estu sama sama tak ingat.
"Kenapa Estu?" tanya Kanjeng Papi,
melihat Estu mengusap-ngusap tengkuknya.
Kanjeng Papi langsung peka, dia melihat jam belum saatnya makan obat. Masih sekitar 1 jam setengah lagi. Namun, daripada lupa Kanjeng Papi membawakan obat dan satu potong roti di simpan di meja Estu, takutnya tidak sempat untuk pergi makan siang dan es itu harus segera makan obat.
"Nggak apa-apa Pi, cuma pegal aja," ucap Estu.
Jelas aja pegal, Estu yang belum pulih benar harus menghadapi layar komputer secara serius dan dalam waktu lama.
"Mau Papi pijitin?" tanya Kanjeng Papi.
"Tidak usah Pi, terima kasih." Padahal Estu hanya merasa masih canggung pada Papi. Bukan sekedar takut merepotkan.
"Oh ya Pi, bukankah orang rumah akan membawa makan siang ke sini? Boleh tidak jika Kinasih yang antar?"
"Boleh, kenapa nggak. Nanti Papi akan hubungi orang rumah."
"Terima kasih Pi."
Padahal Jika Estu dalam keadaan belum hilang ingatan, dia tak perlu minta izin jika akan melakukan apa pun. Estu berkuasa atas segala keputusan.
Orang rumah mengantar makanan ke kantor untuk para staf. Karena sudah terbiasa bertahun-tahun sehingga menu makanan tidak seragam. Mereka memesan masing-masing, atau sudah terjadwal agar tidak repot mengubah meni. Setiap kali merasa seleranya sedang ingin berbeda, boleh request untuk esoknya.
Setiap hari menunya pasti berbeda, yang pasti lengkap empat sehat lima sempurna.
Akan tetapi kalau staf kadang mereka telat untuk istirahat, karena tanggung menyelesaikan pekerjaannya. Sehingga makanan harus diantar tentunya, daripada beli dari restoran atau rumah makan, lebih baik chef yang di rumah yang membuatkannya.
***
"Selamat siang Kanjeng Papi," ucap Lili yang menerima panggilan pada ponselnya.
"Iya baik. Nanti saya sampaikan," ucap Lili kembali, merespon ucapan Kanjeng Papi dari sebrang telepon.
Kemudian panggilan pun berakhir.
“Marni, tolong beri tahu Kinasih. Nanti dia yang bawa makan siang ke kantor.”
Marni mengangguk kemudian pergi ke belakang, tempat cuci laundry.
“Kinasih! Waktunya antara makanan ke kantor,” seru Marni yang memanggil Kinasih dari kejauhan.
Kinasih menoleh, dia tidak begitu mendengar. Lalu menghampiri Marni.
“Ada apa?” tanya Kinasih.
Lalu Marni mengulangi ucapannya lagi, bahwa Kinasih diminta Kanjeng Papi untuk mengantar makanan ke kantor.
“Kok, aku? Takut salah.” Kinasih terlihat panik.
“Tinggal bawa langsung ke ruangan Mas Estu, nanti juga dibantu sama Pak Sopir, gak bakal salah. Dan makanan lain untuk staf, nanti diserahkan ke pantry. Biar OB yang bagi-bagi ke staf nanti."
Akhirnya Kinasih menurut, dia juga sudah ingin bertemu suaminya. Ingin tahu bagaimana suaminya jika bekerja.
__ADS_1
Kinasih bersiap-siap, dia mengganti pakaiannya. Tadinya ingin mandi agar lebih sehat, tapi sepertinya gak sempat. Yang penting di depan Kanjeng Papi tak tercium aroma dapur.
Sebelum berangkat, Kinasih pamitan dulu pada Marni.
“Oh ya, Mbak Marni hutang janji loh sama aku,” ucap Kinasih sedikit cemberut.
Janji apa?” tanya Marni, padahal dia sudah bisa nebak. Pasti Kinasih masih penasaran dengan apa yang diucapkannya pada Kanjeng Mami.
“Ih, pura-pura gak tahu. Yang tadi pagi bilang ke Kanjeng Mami, apa?”
“Hehe... Iya, iya. Nanti setelah dari kantor ya.”
“Kayanya Mbak Marni sengaja ya? Nyuruh saya yang anter makana ini biar gak jadi cerita?”
“Eh, enggak Serius, tadi Kanjeng Papi yg telepon ke Lily.”
“Mba Kinasih, ayo! Mobil sudah siap.” Sopir menghampiri Kinasih ke dapur, memutuskan percakapan antara Kinasih dan Marni.
Kemudian Marni dengan tertawa mendorong Kinasih ke luar, agar segera mengantar makanan ke kantor.
"Hati-hati di jalan ya," ucap Marni masih dengan tawa geli sendiri. Senang bikin Kinasih penasaran terus.
Marni senang, bisa mengerjai Kinasih makin lama.
***
Tok!
Tok!
“Masuk,” seru Kanjeng Papi dari dalam ruangan.
Terlihat wanita cantik, elegan dan teduh berjalan begitu anggun menghampiri Kanjeng Papi dan Estu.
Namun, Estu sungguh terkejut saat Keken mengecup pipi kanan kiri, meski hanya dengan pipi, bukan dengan bibir. Untungnya tak terlihat Kinasih.
Estu sangat mencintai Kinasih, sebab Kinasih dia anggap adalah malaikat penolongnya. Namun, cinta bukan karena balas budi, Estu benar-benar jatuh cinta sama Kinasih, Kepribadian Kinasih yang membuat Estu selalu nyaman.
Kinasih wanita sederhana, pekerja keras, suka mengalah dan patuh. Meski memiliki hati sensitif, anggap saja itu adalah sisi unik wanita yang selalu ingin dimengerti. Karena cinta tak ada tantangan juga gak seru. Ya kan?
“Gak bareng Mama, Papa, Ken?” tanya Kanjeng Papi.
“Tidak Pi, beliau tetap ingin nanti saat acara syukuran katanya.”
“Ok. Sebentar lagi makan siang, kita makan bareng ,ya.”
Keken mengangguk, dia melihat jam di dinding, lima belas menit lagi waktunya Estu makan obat. Namun, sepertinya melihat Estu yang masih fokus pada layar laptopnya, Keken berinisiatif mengambil minum untuk Estu.
“Eh?” respons Estu saat tiba-tiba Keken menyodorkan gelas minum pada bibir Estu.
“Terima kasih, nanti aku bisa sendiri.” Estu menolak perhatian Keken.
“Keken, dari tadi Estu belum minum. Dia jarang sekali minum, Papi lihat. Dengan adanya kamu jadi lebih terperhatikan,” ucap Kanjeng Papi.
“Benar begitu Mas? Minum itu nomor satu untuk kesehatan tubuh. Ayo, jangan menolak.” Keken mencoba membujuk Estu.
Namun, tiba-tiba....
“E-eh, maaf.”
__ADS_1
Semua orang yang ada di dalam, melihat ke sumber suara.
Bersambung...