
Bab 45
Estu langsung mendudukkan Kinasih di tempat tidur. Kinasih sempat mau beranjak lagi ingin membuka kunci pintunya. Namun Estu tetap menahannya, justru karena waktunya sebentar jangan dulu banyak perlawanan, itu maksud Estu.
"Ada apa sih Mas?" tanya Kinasih.
"Kamu ada hubungan dengan Mas Bagas?" Estu berbicara sedikit berbisik.
"Tidak ada. Kok Mas berpikirnya seperti itu?"
Estu menjelaskan beberapa yang dia simak akhir-akhir ini, mulai dari Kanjeng Mami yang berubah lebih perhatian pada Kinasih, lalu selalu membahas menantu dan seperti berusaha mendekatkan Kinasih pada Bagas.
Terutama saat tadi makan malam, bahkan Kanjeng Mami menempatkan Kinasih tepat di samping Bagas dan Estu dibiarkan duduk sendiri. Padahal Kanjeng Mami setidaknya bisa pindah kalau memang tidak ada niat untuk mendekatkan Kinasih pada Bagas. Atau lebih baik Kinasih yang pindah duduk di sebelah Estu. Memang seperti itu seharusnya bukan?
"Tidak Mas. Mami itu biasa saja." Kinasih berusaha menjelaskan apa yang dia rasakan, memang merasa tidak ada yang spesial.
"Pokoknya aku ingin kamu jaga jarak dengan Mas Bagas." Estu, meminta dengan sangat.
"Aku sudah jaga jarak, tapi kalau Kanjeng Mami yang meminta, aku masih takut Mas. Takut menolak. Apalagi kepada orang tua harus hormat bukan?"
"Aku pikir kalau kamu tegas, penolakanmu tidak akan menjadi masalah. Atau jangan-jangan kamu memang lebih baik memilih Mas Bagas aja? Biar tidak sembunyi-sembunyi seperti denganku hubungannya?"
"Bukan begitu Mas. Aku pun tidak tahu kenapa seperti ini jadinya."
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu kamar Kinasih diketuk, sejoli itu saling bertatapan panik. Estu mencari tempat bersembunyi. Kinasih hanya mematung, dia bingung harus membuka pintu atau mencari tempat sembunyi bagi suaminya.
"Kinasih!" panggil Kanjeng Mami dari luar, rupanya Kanjeng Mami yang mengetuk pintu.
"Bagaimana ini mas?" tanya Kinasih saat Estu masih hilir mudik mencari tempat persembunyi.
"Udah ... abaikan saja. Paling Mami sudah tahu bahwa kamu sudah tidur."
"Kinasih...!" seru Kanjeng Mami lagi.
"Ha...hacyuh!" Kinasih malah bersin.
"Ya ampun! Kenapa harus bersin?" ucap Estu gagal untuk bersandiwara bahwa Kinasih sudah tidur.
"Kayaknya aku mau pilek Mas. Tadi mandi kesorean, dingin." Kinasih masih sempat merespon.
"Kinasih! Kamu belum tidur bukan?" Kanjeng Mami masih belum pergi juga.
Kemudian Estu memberikan kode dengan tangannya, seperti mengusir. Pertanda bahwa Kinasih boleh membuka pintu. Sedangkan Estu bersembunyi di balkon kamar, pintunya ditutup beserta gordennya oleh Kinasih.
Kemudian Kinasih membuka pintu, sengaja matanya dikerjapkan agar terlihat seperti bangun tidur.
"Kamu sudah tidur?" tanya Kanjeng Mami yang melihat keadaan Kinasih.
Kinasih tidak menjawab secara langsung, dia hanya menyengir sedikit tanda canggung.
__ADS_1
"Mami cuma mau bilang, besok pagi-pagi sekali Mami tunggu pukul 07.00. Jadi kamu tidak perlu memegang pekerjaan apapun di rumah. Pokoknya persiapan untuk ikut Mami, jangan membuat badan bau atau kotor karena pegang pekerjaan. Jelas!"
Kinasih mengangguk. Dia paham, malah sangat paham. Karena Kanjeng Mami mengulang permintaannya sehingga lebih jelas.
“Ya udah, tidur lagi sana. Besok biar gak kesiangan.” Kanjeng Mami, meninggalkan kamar Kinasih.
Saat Kinasih akan menjauh dari pintu, dia sudah berbalik badan.
Kemudian...
Crek!
Kinasih kaget, langsung menoleh pada pintu yang tiba-tiba dibuka. Dia menoleh ke arah balkon juga, takutnya Estu pas kebetulan ke luar dari persembunyiannya.
Kinasih lega karena melihat Estu masih aman, tidak terlihat. Namun, ada yang membuatnya takut, tirai penutup jendela balkon, bergerak tak wajar.
Apakah Estu tidak bisa menahan dirinya untuk diam? Bisa bisa ketahuan Kanjeng Mami kalau Estu bergerak terus saat bersembunyi.
Kinasih harus cari cara, agar Kanjeng Mami tidak fokus pada tirai yang bergerak itu.
“Ada apa lagi, Mi?” tanya Kinasih, saat Kanjeng Mami masuk ke kamar Kinasih.
Kanjeng Mami melihat sekitar, seakan sedang mengamati.
Kinasih sangat cemas, takutnya ketahuan saat Mami tadi sempat melihat tirai yang gerak. Apalagi Mami saat ini sedang menunju balkon.
Kinasih sudah deg-degan, dia mencari cara bagaimana untuk melarang Kanjeng Mami agar tidak membuka pintu balkon.
Sambil terus berpikir Kinasih mengikuti Kanjeng Mami, agar bisa mencegah jika ada sesuatu yang mendesak.
Tangan Kanjeng Mami sudah meraih tirai, dia juga menyimak tirai dari atas hingga ke bawah, lalu dibuka dengan cepat.
'Hah? Ke mana Mas Estu?' batin Kinasih.
Kinasih cukup lega, cuman masih dihinggapi penasaran. Kemana suaminya pergi? Bukankah tadi masih ada di balik tirai? Bahkan saat Kanjeng Mami masuk, tirai itu masih bergerak. Mungkin tadi Estu akan keluar.
Namun, saat Kanjeng Mami kembali mengetuk pintu, Estu mengurungkan. Akan tetapi tirai masih bergerak.
Kanjeng Mami sudah berdiri di balkon, dia melihat sekeliling ke luar juga.
"Kamar ini kalau tidak nyaman kamu bisa ganti, Kinasih. Kamar di lantai dua lebih luas," ucap Kanjeng Mami.
"Tidak perlu Mi. Ini sudah lebih dari cukup," ucap Kinasih.
Karena bagi Kinasih tidak perlu kamar yang berlebihan, ini sudah jauh lebih bagus daripada kamarnya yang di kampung.
"Benar, tidak ada yang kurang? Kamu jangan sungkan untuk mengatakannya."
"Tidak Mi. Benar, ini sudah lebih dari cukup."
"Ya sudah, kalau begitu jangan lupa besok," ucap Kanjeng Mami mengingatkan lagi.
Kemudian Kanjeng Mami meninggalkan balkon, dia melangkah hendak keluar. Namun, matanya masih memantau ke kanan, kiri, ke arah kamar mandi, ke arah sisi lemari seakan memang sedang mencari sesuatu.
Padahal Kanjeng Mami hanya menyimak ruangan yang sudah lama tidak ditempati, takutnya tidak layak untuk Kinasih. Walau untuk ukuran Kinasih, itu masih lebih bagus dari kamar para pelayan.
__ADS_1
"Jangan lupa istirahat yang cukup," ucap Kanjeng Mami kembali mengingatkan, saat dia sudah berada di depan pintu kamar Kinasih.
Kinasih mengangguk lalu dia menutup pintu dengan segera dan menguncinya.
"Akh!"
Kinasih berteriak karena terkejut, tiba-tiba Estu sudah memeluknya dari belakang saat Kinasih berbalik.
"Mas, ngagetin aja. Kalau Mami mendengar teriakanku bagaimana?"
"Kenapa kamu Kunci pintunya? Apakah sekarang suasana sudah aman? Tidak akan ada yang kemari lagi? Dan kita..."
Es tuh sengaja menggantungkan ucapannya, dia memberi kode pada Kinasih. Kedua alisnya digerakkan. Lalu dengan senyum mengembang dia semakin mengeratkan pelukannya pada Kinasih. Namun, Kinasih masih memberi jarak pada wajahnya meskipun badan mereka sudah tanpa jarak.
"Kita sebentar lagi mendapat restu dari orang tua, bisa sabar sedikit kan?" ucap Kinasih sambil sedikit mendorong dada Estu.
"Tapi Mami memperhatikanmu karena mengira kamu cocok untuk Mas Bagas." Estu masih kesal karena Mami.
"Tidak seperti itu, tenang saja. Ini kan baru perkiraan kita." Kinasih terus mencoba membuat Estu tidak salah sangka.
"Estu!" Terdengar teriakan mami
Kinasih langsung mendorong suaminya dan mengatakan bahwa dicari oleh Kanjeng Mami. Namun, Estu tak peduli.
"Mas, nanti Kanjeng Mami ke sini lagi," ucap Kinasih memperingatkan suaminya.
"Tidak mungkin, tadi saja sudah ke sini. Pikiran dari mana Mami menyangka aku ada di sini? Kalau Mami mencari Mas Bagas, mungkin dia akan berpikir ngumpet di sini pedekate sama kamu." Estu malah merasa ada tidak suka pada kakaknya. Selalu diungkit.
Mungkinkah Estu cemburu karena Kanjeng Mami malah membuat ruang untuk Kinasih dan Bagas lebih akrab?
"Estu!" Sekali lagi panggilan Kanjeng Mami terdengar.
Kinasih semakin mendorong dada Estu. Namun, malah semakin dieratkan. Estu menarik Kinasih tidak berada di belakang pintu lagi. Namun mereka bergeser di dinding sebelah kiri pintu, sehingga dekat dengan pojok ruangan.
Tombol lampu di ruangan itu dimatikan oleh Estu, karena letaknya dekat dengan tempat Mereka berdiri.
"Mas... gelap," bisik Kinasih. Namun, Estu tidak menggubris.
Malah Kinasih mendapat serangan pada bibirnya, apalagi ini suasana malam dengan ruangan gelap. Menambah kedamaian seakan tidak ada siapapun di dunia itu, kecuali mereka berdua yang sedang dimabuk cinta.
Jelas Kinasih tidak bisa menghindar. Estu sudah tidak peduli lagi dengan keinginan Kinasih untuk menunggu restu kedua orang tuanya. Estu tidak ingin Kinasih dimiliki oleh orang lain. Hingga harus diberi tanda sekarang.
Kinasih terbuai saat tangan Estu bergerilya menjelajah tubuh Kinasih, mulai dari rabaan sederhana hingga menguasai.
"Mas... ingat Mas," ucap Kinasih.
Namun, larangan hanya sekedar perkataan. Nyatanya, Kinasih menikmati hal itu sampai pada pakaian bagian atas yang dikenakan Kinasih tersingkap, dengan refleks Kinasih malah membuka kancing kemeja Estu.
Kinasih sadar apa yang mereka lakukan. Namun, anggota tubuh mereka tidak sejalan dengan pikiran untuk tidak melakukannya lebih jauh.
Tubuh mereka reflek bergerak seakan tanpa perintah, melakukan sesuai rasa yang sedang mereka nikmati.
Satu pakaian terjatuh sembarangan, kemudian satu lagi menyusul teronggok di lantai. Kini sepasang suami istri muda itu telah menanggalkan kain pelindung bagian atasnya. Mereka seperti tak sabar lagi menuju puncak manisnya asmara.
Estu Kemudian membopong Kinasih tanpa melepas pagutan bibir mereka dan menaruh Kinasih di atas ranjang.
__ADS_1
Bersambung....