Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Lika Liku Asmara


__ADS_3

Kali ini Bagas sangat hati-hati untuk menjaga jarak laju mobilnya dengan yang di depan, agar tidak ada ruang kosong untuk disalip oleh kendaraan lain. Dia tidak ingin lagi Kinasih menggoyang-goyangkan lengannya, bukan merasa terganggu, tapi justru takut dia merasakan getaran yang aneh.


Apalagi Kanjeng Mami menjodoh-jodohkan mereka, takutnya malah menjadi sugesti, malah jadi suka beneran terlebih dengan sikap Kinasih yang menggemaskan.


"Emangnya kamu kenapa sih? Moodnya sepertinya jadi buruk kayak gitu?" Bagas mencoba mencari tahu perubahan apa yang terjadi pada Kinasih.


"Nggak ada, udah aja maju. Kita mau ke salon kan nanti? Kalau di salon pasti jadi segar," jawab Kinasih dengan nada ketus. Seakan menyindir, tapi entah tujuan buat siapa, padahal Bagas tidak berbuat apa-apa dari tadi.


Bagas hanya menarik nafas, dia tidak ingin menginterogasi Kinasih lebih jauh  Karena pasti tidak akan terus terang. Jadi percuma saja mendesak, salah-salah nanti Kinasih malah berbuat kekanak-kanakan seperti tadi, apalagi ini di jalanan.


***


Sementara itu di sisi Estu, sebenarnya dia merasa khawatir saat Kemala turun dari mobilnya. Takutnya kenapa-napa. Tapi karena karakter Estu yang cuek, jadi dia tidak peduli toh Kemala sudah besar. Kemudian Estu  melanjutkan mobilnya ke cafe untuk melakukan meeting. Sudah ditunggu oleh kliennya.


Jalur yang dilalui oleh mobilnya Estu cukup lancar, sedangkan jalur yang dilalui oleh Bagas tetap padat merayap. Sehingga Estu kini bisa melihat mobil Bagas yang tadi sudah maju terlebih dahulu.


"Pak, Itu mobil Bagas. Coba pelan-pelan jalannya." Perintah Estu kepada Pak sopir.


Pak sopir mengikuti apa kata tuannya, dia pasti hafal mobilnya Bagas, karena itu sama saja majikannya  Saat sudah sejajar dengan mobil Bagas maka lajunya diseimbangkan.


"Pak, bunyikan klakson," perintah Estu.


Kinasih tidak menoleh saat mendengar klakson dari mobil yang dikendarai oleh suaminya, karena dia sudah tahu dari kaca spion. Bahkan kaca pintu yang sedikit membuka ditutup dengan rapat oleh Kinasih.


Bagas merasa heran, asa apa dengan Kinasih? Namun lagi-lagi tidak berani bertanya, apa alasannya seperti sedang bertengkar dengan Estu. Akan tetapi tadi pagi Bagas sempat lihat, saat Estu sebelum berangkat kantor melakukan ritual sebagai suami istri, yaitu cipika-cipiki dan Kinasih sempat mencium punggung tangan Estu.


Jika dilihat tidak ada masalah dengan hubungan mereka, terlihat romantis meskipun sembunyi-sembunyi.


"Ah dasar, sepasang pengantin baru yang aneh," batin Bagas.


"Ayo buruan  tuh, udah ada jarak. Nanti ke salip orang lain," Lagi-lagi Kinasih mendesak Bagas.


Padahal jarak mobil mereka hanya satu sampai dua meter dengan kendaraan di depannya. Kinasih berkata seperti itu padahal bukan karena takut kendaraan lain di belakangnya menyalip kendaraan yang ditumpangi. Namun, dia tidak ingin melihat mobil yang ditumpangi oleh suaminya.  Perasaan Kinasih benar-benar sebal saat ini.


Salon yang dituju sudah terlihat, sedangkan Estu yang tadi sempat sejajar dengan mobil yang dikendarai Kinasih, sudah tak terlihat. Mungkin memang beda jalur saat menemukan jalan bercabang, Estu belok ke sana pada jalan yang bercabang, sedangkan Kinasih lurus.


Kinasih turun dari mobilnya disambut oleh karyawan yang kemarin menangani Kinasih. Bahkan ada juga karyawan salon yang lain sudah menyambut Kinasih terlebih dahulu, Ses Jenny malah menyerobot, dia tidak ingin Kinasih dipegang siapapun.


Ses Jenny ingin merubah penampilan Kinasih yang benar-benar natural, dia akan membuat sesuatu yang istimewa dengan keterampilan dari jari-jari lentiknya. Maka dia tidak ingin maha karyanya dicampuri oleh tangan orang lain.

__ADS_1


"Mas Bagas, mah nungguin di sini?" tanya Kinasih.


Bagas bingung ditanya seperti itu. Jika dia nungguin di salon itu, Kinasih bukan siapa-siapanya. Seharus itu kah, menunggu di sana? Tapi jika menolak, apakah nanti tidak akan jadi masalah? Sedangkan dari tadi Kinasih terus saja uring-uringan.


"Ditanya kok, malah bengong," ucap Kinasih.


"E... Kalau tidak ditungguin gimana?" jawab Bagas dengan suara hampir tidak terdengar, karena ragu dan takut salah bicara.


Kinasih malah menoleh pada jenny. Dia meminta kejelasan berapa lama Kinasih akan melakukan perawatan.


Jenny pun menjelaskan bahwa ini akan sangat lama, belum tentu Kanjeng Mami dan Keken saat sampai mereka juga pasti akan melakukan perawatan lama.


Ya, tadi Kanjeng Mami sudah menyampaikan pada Jenny bahwa mereka akan perawatan di sana. Karena dua hari lagi akan syukuran kembalinya Estu berkumpul dengan keluarga Hestama dengan selamat, maka penampilan mereka juga harus paripurna.


Makanya Jenni sekarang akan leluasa menyihir tubuh Kinasih sedetail-detailnya, ibarat batu kali akan dirubah menjadi berlian yang berkilauan.


"Kalau begitu aku pergi aja, ya Kinasih. Nanti kalau mau pulang boleh kok menghubungi lagi." Akhirnya Bagas memutuskan untuk kembali ke kantor.


"Ya udah kalau gitu, lagian kasihan juga Mas Bagas kalau di sini lama-lama," ucap Kinasih. Dia merasakan bagaimana seorang pria memang tidak bisa berlama-lama untuk duduk, apalagi menunggu perempuan di salon.


Kinasih tahu kebiasaan laki-laki yang tidak bisa terlalu lama menemani wanitanya, baik itu belanja ke salon atau kegiatan lain. Hal itu sering Kinasih simak dari drama-drama Korea dan film-film lainnya, makanya Kinasih tidak mengekang Bagas untuk tetap tinggal di sana.


Bagas akhirnya pergi kembali menuju kantornya. Sebenarnya dia sangat lelah bolak-balik hanya untuk mengantar seperti itu. Padahal sopir di rumah pun pasti ada yang biasanya stand by, jika para pelayan membutuhkan untuk keluar, belanja atau kebutuhan yang lain. Bahkan jika tidak ada sopir bisa dibantu oleh Security untuk mengantar ke manapun. Karena mobil masih ada yang nganggur.


***


Di Rumah Sandra.


"Eh, kenapa lo cemberut gitu?" tanya Sandra saat melihat Kemala murung yang main ke rumahnya dan lagi masih menggunakan seragam putih abu.


"Nggak, lagi bete aja." Kemala menjawab secara malas. Dia malah merebahkan dirinya di kasur.


"Iya betenya kenapa? Kan ada alasannya."


"Susah banget sih cuman pengen deket doang, lagian gue tahu diri, dia milik tante gue." Kemala mengomel tak jelas didengar oleh temannya.


Sandra belum tahu apa yang membuat Kemala uring-uringan, meskipun apa yang diucapkan Kemala terdengar, tapi belum tahu dia ngomel untuk siapa.


Kemala yang tiduran pada ranjangnya Sandra terlihat matanya mulai sayup dan tidak menyangka langsung tertidur begitu saja, karena terdengar dari suara dengkuran halusnya. Serta matanya memejam rapat.

__ADS_1


"Huft, ini anak kebiasaan deh," gumam Sandra. Di kemudian pergi ke depan laptopnya, karena Sandra tidak mengantuk dan sedang tidak menginginkan apa pun, maka dia menonton film yang sudah di list judul sebelumnya.


Sandra dan Kemala adalah dua sahabat yang sudah seperti saudara. Namun, sayangnya mereka kurang pengawasan dari orang tua. Begitu pun Sandra orang tuanya yang sering ke luar negeri, di rumahnya hanya dipantau oleh asisten rumah tangga.


Makanya mereka sekolah juga sering tidak karuan, terlalu sering di luar, atau bolos. Sedangkan pihak sekolah untuk memanggil orang tua Sandra sangat sulit sekali, karena jarang berada di Indonesia.


Kalau Kemala cukup rajin, karena Keken pernah mengultimatum sudah tidak ingin lagi untuk datang ke sekolah Kemala, kalau ada panggilan karena kelalaian Kemala dalam aturan sekolah.


Kemala dan Sandra memang bersahabat, hanya saja Kemala belum bercerita tentang Estu. Iya Kemala menyukai Estu meskipun tahu itu milik tantenya. Makanya dia tidak curhat pada Sandra, karena masih cinta diam-diam.


Namun, setidaknya sebelum janur kuning melengkung, kenapa tidak? Apalagi Kemala masih muda, tidak kalah cantik dari Keken. Dia merasa percaya diri, laki-laki pasti akan memilih yang lebih muda daripada yang sudah matang umurnya.


***


Sementara itu di sebuah cafe.


Terlihat Estu bersalaman dengan seorang pria bule, rupanya meeting mereka telah selesai. Sepertinya mendapat kabar baik, dilihat dari wajah Estu yang tersenyum menunjukkan giginya.


"Terima kasih Mr. Jer, atas kerjasamanya yang menyenangkan ini, sangat lancar dan tepat sasaran. Semoga kedepannya akan semakin berkembang ya," ucap Estu mengakhiri pertemuan mereka.


"Saya juga merasa senang sekali bisa bekerja sama dengan anda dan kalau boleh saya tahu, apakah ada mainan yang menghibur di sini?" tanya Mr. Jer.


Estu tidak mengerti apa maksud Mister Jer. Tentu saja dia mengurutkan kening. Tidak mungkin orang seperti Mister Jer sudah besar masih menginginkan mainan, lagi pula tentu saja mainan pasti menghibur. Makanya Estu bingung, mainan yang menghibur seperti apa?


"Maksud saya itu," ucap Mister Jer, tatapan matanya mengarah pada kerah Estu.


Estu sedikit menunduk, mengecek dadanya dan beberapa bagian tubuh depan. Estu menggeleng kepala sambil merentangkan kedua tangan, yang bertanda "Apa?" yang dimaksud Mister, dia tidak menemukannya.


"Em, maaf tuan Estu," ucap Mister Jer menunjuk pada kerah kemaja Estu.


"Atau Anda boleh menggunakan ponsel untuk melihatnya," saran Mister Jer.


Purba pun menurut, dia membuka ponselnya lalu menggunakannya sebagai cermin untuk menyoroti kerah tersebut.


Betapa terkejutnya Estu, tidak menyangka noda seperti itu menempel di kerahnya. Berarti sejak tadi dia berbincang dengan Mister Jer, satu asisten dan sekretarisnya, ada noda itu di sana? Di kerah Estu? Betapa malunya.


Wajah Estu seketika memerah, dia ingin sekali berteriak. Tak terbayang anggapan mereka kepada dirinya, mungkin disangka sugar daddy atau cassanova?


Jangan lupa baca novel "Oh... Bunga Lain CEO," ya .... dengan konflik cukup berat.

__ADS_1


Sambil nunggu update bab novel ini. Terima kasih yang sudah mampir.


Bersambung...


__ADS_2