
Kinasih harap Jenny bisa menemukan jalan keluarnya, tanpa dia mengeluarkan suara semoga jeni mengerti kekhawatirannya hanya dari tatapan Kinasih.
"Em, boleh Kanjeng Mami. Cocok sekali, para pasangan ink nantinya akan terlihat romantis dan menjadi sorotan orang lain yang melihatnya. Aku yakin mereka akan terkagum dengan kedua pasangan dari keluarga Hestama ini."
Kanjeng Mami senang dengan respon Jennie yang pendukungnya. Kanjeng Mami sudah ada tiga warna yang sudah ditentukan, yang menurut Kanjeng Mami cocok untuk usia mereka masing-masing.
Meskipun begitu, Kanjeng Mami tetap meminta pendapat dari Jenny.
Kanjeng Mami memiliki rencana untuk warna kebaya dan pakaian adat pria. Yaitu ada warna merah marun, biru marun, dan ungu marun. Warna-warna seperti itu terkesan meriah, mewah, namun tetap kalem untuk sebuah gaun tradisional.
"Nah, jadi merah marun untuk Keken dan Estu, biru marun untuk Kinasih dan Bagas, sedangkan Mami dan Papi warna ungu marun. Bagaimana menurut kalian apakah cocok? Atau ada saran lain?" Sepertinya Kanjeng Mami Memang sudah mempersiapkannya dengan matang jauh hari.
Warna yang dipilih Kanjeng Mami Memang cocok, tapi Kinasih tetap berharap ada jalan keluar, agar warna pakaian yang dikenakannya senada dengan Estu.
Jenny merespon pilihan dari Kanjeng Mami, tapi dia juga bingung mencari alasan agar warna untuk Keken ditukar saja dengan Kinasih.
"Apakah mami sudah menanyakan kepada para pria? Mereka suka tidak dengan warna ini? Jangan sampai nanti saat acara, mereka cemberut loh Mami, hanya karena warna yang menurut mereka tidak cocok."
Jennie berusaha menggoyahkan keputusan Kanjeng Mami, setidaknya ada perubahan warna yang dipilihkan. Atau biar tidak kentara untuk menukar warna gaun milik Kinasih dam Keken, kalau bisa warnanya semua sama saja. Satu keluarga menggunakan satu warna.
"Tenang saja, mereka pasti setuju dengan Mami. Mereka para pria tidak akan mengurusi masalah fashion seperti ini. Mereka tidak peduli, meskipun begitu mereka tetap memperhatikan penampilan tapi selalu percaya apa yang dipilihkan Mami. Mereka tahu nggak mungkin Mami akan mempermalukan mereka. Jika Mami salah memilih kostum untuk mereka, bukan mereka saja yang malu, tapi Mami juga, seluruh keluarga akan kena malu."
Jenny berpikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Kanjeng Mami. Para pria biasanya tidak peduli dengan detail kostum yang dikenakannya. Yang penting, sopan, tidak memalukan dan tidak salah suasana saja. Jangan sampai acara pesta menggunakan jeans apalagi pesta formal. Atau menggunakan celana santai kemeja yang dibuka serta kaos di dalamnya. Sungguh tidak mungkin Kanjeng Mami akan memberikan mereka salah kostum.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu udah deal ya? Sepakat dengan warna itu. Sekarang, kalian coba dulu ukur dengan benar pakaiannya. Kalau Mami sudah pasti cocok. Seusia Mami, tidak banyak perubahan dengan bentuk tubuh. Kecuali Mami habis sakit, mungkin berubah jadi ada penyusutan.
Terutama buat kamu, Kinasih. Mamu belum tahu sama sekali ukuran badan kamu. Kalau Keken hanya cukup memastikan saja ya? Dia sudah ada catatan ukuran tubuhnya untuk sebuah kostum "
Kinasih dan Keken mengikuti Jenny bertemu dengan desainer. Sementara itu sekalian mereka akan melihat gaun malam yang cocok untuk pesta, yang diadakan bersama relasi bisnis keluarga besar Hestama.
Jika untuk gaun malam atau beberapa kostum yang umum, desainer sudah tidak perlu mengecek lagi ukuran tubuh yang sudah tertulis. Kecuali memang seperti yang dikatakan Kanjeng Mami, orang tersebut mengalami sakit atau akhir-akhir ini memiliki nafsu badan yang tinggi. Tapi kalau hanya perubahan itu hanya beberapa minggu, tidak akan berpengaruh pada perubahan tubuh untuk sebuah pakaian.
"Nah, Om Irwan. Ini ketua gadis cantik menantunya Kanjeng Mami, mereka mau mengukur kebaya ini. Yang merah kebayanya Keken dan yang biru punya Kinasih. Jangan ketuker," ucap Jenny setelah masuk ke ruangan desainer.
Jika untuk kostum pria tidak perlu repot di coba dulu. Desainer itu sudah punya ukuran badan Bagas, Kanjeng Papi dan Estu. Walaupun Estu sudah lama tidak pernah fitting baju lagi, kamu desainer itu yakin tubuh Estu tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Jika pun berubah sedikit, kalau untuk pria tidak terlalu bermasalah. Apalagi ini pakaian adat yang biasanya cenderung sedikit longgar. Dengan ke bawahan celana biasa dibalut kain yang bisa disesuaikan ukurannya.
'Hah? Lagi-lagi orang melambai seperti ini? Memangnya di dunia kecantikan, fashion, yang menangani itu rata-rata pria ya? Kenapa tidak wanita saja yang jelas-jelas memiliki jiwa lembut yang natural. Jadinya begini kan jika urusan wanita dipegang oleh laki-laki. Jadi deh mereka pada melambai. Jarinya lebih lentik dari kita-kita para wanita,'
Kinasih bergumam dalam hatinya, sambil berjalan menuju ruangan yang diperintahkan oleh Om Irwan. Bukan dia tidak suka, hanya heran saja. Meskipun dia sebenarnya sudah tahu dan paham, seorang desainer atau pegawai salon sudah biasa ditangani oleh pria melambai. Namun, Kinasih benar-benar baru menyaksikan sekarang secara langsung.
***
"Tante di mana? Kok sudah sore belum pulang?" Kemala mengirim pesan kepada Keken.
Dia sudah sampai rumah, namun tidak ada siapa-siapa. Tumben sekali tantenya belum pulang sudah hampir maghrib. Biasanya kalau Keken pulang telat maka akan memberi kabar. Begitupun kalau dia menginap di rumah temannya atau pada keluarga Hestama.
__ADS_1
"Ke mana Mbah Kakung sama Mbah Uti ya?" Kemala bergumam, dia juga tidak melihat kedua orang tua tantenya.
Kemala tidak begitu akrab dengan kedua orang tua Keken, dengan kata lain itu adalah kakek dan neneknya. Sebenarnya bukan tidak akrab. Hanya saja kakek dan neneknya itu terlalu kolot. Kemala jadi sungkan untuk terlalu dekat dengan mereka. Takut apa-apa jadi salah.
"Mumpung Mbak nggak ada, aku mau kerjain tugas Mbak, ah. Biar nanti kalau tante pulang, aku bisa mendapat izin dengan mudah, agar bisa ikut ke pesta keluarga Hestama," gumam Kemala, dengan senyum penuh strategi.
Ya, di rumahnya Keken tidak menggunakan asisten rumah tangga yang menetap. Karena sebenarnya dia sanggup melakukan segalanya sendiri. Malah terkadang tidak cocok cara dia mengatur rumah dengan orang lain. Namun, terkadang Keken butuh juga, saat dia harus tergesa-gesa untuk melakukan aktivitasnya atau terkadang sedang banyak pekerjaan sehingga tidak bisa memegang urusan rumah.
Maka dari itu Keken mengadakan asisten rumah tangga yang bisa pulang setiap hari. Keken ingin memiliki privasi dalam rumahnya. Keken wanita yang cukup memiliki kekhawatiran tinggi dengan kata lain tidak begitu percaya dengan orang lain. Takutnya ada yang tidak disadari oleh Keken tentang pribadinya yang orang lain lihat lalu bisa jadi tersebar ke luar.
Makanya dari itu sekarang ke Mala setelah merapikan dapur tidak ada cucian perkakas yang kotor, langsung menyetrika pakaian yang harusnya dikerjakan oleh asisten rumah tangga besok saat ia datang.
Jadi biasanya asisten rumah tangga datang pagi hari sekitar pukul 06.00, terkadang Keken mengirimkan pesan kepada asisten rumah tangga itu sekalian membeli sarapan untuk dirinya. Jadi di rumah itu memang jarang masak. Adanya kompor, bahan makanan dan peralatan dapur lainnya, hanya untuk sesekali jika mereka ingin memasak makanan cepat saji.
Pagi-pagi sekali asisten rumah tangga menyapu, mengepel, membersihkan debu-debu yang menempel pada setiap sudut rumah dan perkakas. Setelah itu mencuci pakaian dan cuci-cuci yang lain. Seperti selimut yang sudah kotor, sprei, gorden, apapun yang memang sudah kotor. Jadi meskipun sepertinya ringan hanya mencuci pakaian tiap hari sedangkan di sana penghuninya hanya Keken dan Kemala, meskipun sekarang ada orang tuanya Keeken. Namun, tidak begitu banyak.
Cucian kotor tiap harinya paling hanya 10 setel, Apalagi kalau tidak ada orang tuanya Keken sedang datang ke Jakarta.
"Sebentar lagi pulang. Kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja. pintu gak perlu dikunci." Keken membalas pesan Kemala yang masuk sejak satu jam yang lalu.
Oh, ya. Rumah Kemala juga ada satu Security. Meski rumah itu tiduran terlalu besar, karena yang tinggal hanya sedikit orang. Akan tetapi, tetap butuh Security, sebab rumah itu seringkali kosong karena ditinggal kesibukan.
Maka, saat ini kalau Kemala ketiduran tanpa mengunci pintu, Keken merasa tidak khawatir. Karena ada penjaga ke amanan di depan rumah.
__ADS_1
Bersambung. ...