Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Istri Jadi Kaka Ipar


__ADS_3

"Halo om, aku bawain makan siang. Karena tahu dari rumah tidak akan dikirim bukan?" ucap Kemala yang sudah menenteng Tote Bag.


Estu menoleh pada Bagas, dengan mengangkat alisnya, pertanda bertanya, siapa dia. Dengan lirih Bagas menjawa bahwa dia adalah Kemala, ponakan dari Keken.


Estu bergeming, dia memperhatikan gerak gerik Kemala walau tidak secara langsung. Sambil senyum dan sedikit merespons kedatangan calon keponakannya juga, Estu sudah dspat menangkap bahwa Kemala gadis yang manis dan periang. Tidak terlihat sebagai remaja labil yang nakal atau sejenisnya.


"Cobain deh, Om!" seru Kemala, dengan suara nyaring dan riang.


Tempat bekal sudah dibuka oleh Kemala, Estu jadi bingung. Mau tidak mau dia harus mengambilnya beberapa, untuk menghargai Kemala.


Kebetulan Kemala membawa sushi yang simple dan itu memang buatan Kemala sendiri, sengaja membuat yang mudah tapi mengenyangkan dan tetap berkelas.


Gak mungkin kan, kalau Kemala hanya buat nasi goreng atau pisang goreng, hehe.


Bukan Estu tidak suka makanan sederhana, tapi sudah yakin itu bukan selera untuk makan siang dan beda suasana.


"Udah cukup, terima kasih." Estu menyodorkan wadah yang tinggal beberapa sushi lagi.


"Ini tanggung, Om. Tinggal beberapa," ucap Kemala sambil membawa dengan sumpit dan di sodorkan pada mulut Estu.


"Biar, aku saja." Bagas mengambil alis sumpit itu, lalu dimasukkannya sushi ke dalam mulut.


"Hem. Enak juga. Kamu yang buat?" tanya Bagas. Dia memang lebih bisa bersikap ramah daripada Estu yang kaku.


"Iya, hehe. Enak ya? Makasih." Kemala bertingkah sok imut. Tapi dia memang cantik sih, meski tidak ayu seperti tantenya.


Kemudian bagasa menanyakan ada keperluan apa Kemala datanga ke kantor. Tidak mungkin kalau hanya sekedar mau ngantar makan siang.


Kemala sedikit gugup, dia mau bicara tapi takut salah. Namun, setelah Bagas mendesaknya, Kemala bicara juga.


Sebenarnya kemala hanya ingin ditemani oleh Estu untuk ke pesta akhir tahun sekolahnya. Yang biasanya akan ada pagelaran seni. Dan orang tua atau kerabatnya harus hadir. Boleh diwakilkan maksudnya, kalau yang tidak memiliki orang tua atau tidak bisa hadir karena halangan.


"Aku sibuk. Kenapa tidak Mas Bagas?" jawab Estu to the point.

__ADS_1


Bagas menoleh pada Estu, kebiasaan adiknya tidak peduli pada perasaan orang lain kalau merespons.


Namun, justru prinsip Estu adalah, daripada menyakiti orang lain dikemudian hari. Lebih baik terus terang sekarang. Daripada pura-pura baik, nyatanya saat disetujui permintaan malah Estu tidak bisa seramah orang lain kalau di depan umum. Estu ya Estu, di mana pun, tak akan berbeda atau bersandiwara.


"Yang penting orang tua atau saudara, Kan? Nanti suruh pelayan di rumah aja, ya. Gak apa?" Bagas menawarkan dengan ngasal, tapi serius.


Di mata Kemala, penawaran itu seperti ngasal. Masa iya sih, diantar pelayanan. Apa nanti kata teman-teman?


Namun, Bagas menawarkan secara serius. Sebab selain pelayan, pasti tidak dapat meninggalkan pekerjaan. Terlebih Estu, sebagai pemimpin kantor pusat, sama sekali tidak punya waktu luang untuk itu.


Mereka tidak membahas Keken, karena tahu bahwa Keken sudah pasti tidak bisa. Maka dari itu Kemala malah meminta pada keluarga tunangan tantenya.


"Om, Bagas. Masa iya sih. Mending gak usah kalau sama pelayan. Gak ngaruh kok hadir atau enggak, sebenarnya. Tapi kan kalau orang tua atau saudara yang datang, itu terlihat bahwa kita benar-benar menghargai undangan sekolah."


Kemala yang dari tadi duduk di depan meja Estu, kini beralih pada sofa, dia merasa kesal. Kedua omnya tidak bisa membantu, padahal mungkin hanya meluangkan waktu satu jam saja. Asal hadir beberapa saat.


Kemala memang sudah akrab dengan keluarga Hestama. Malah, Kemala merasa lebih dekat dengan keluarga itu dari pada tantenya. Karena Keken memang sangat sibuk, sebagai wanita karir dan masih kuliah juga. Hingga, Kemala lebih sering menghabiskan waktu di Wastu Hestama, meski masih patuh pada pesan tantenya. Jangan melewati batas saat main di Wastu Hestama.


Dert!


Dert!


Dan kebetulan Estu masih dalam mode santai, belum memegang pekerjaannya. Karena dia harus menyelesaikan dahulu masalah Kemala, jadi lebih baik pekerjaan di tunda. Sebab jika terus bekerja sambil ada masalah didekatnya, Estu tak bisa fokus. Jadi lebih baik, beresakn satu-satu.


[ Bagas, masih dimana? Mami sama Kinasih nungguin lama, nih. Jadi jemput gak?] Kanjeng Mami mengirimkan pesan.


Bagas bingung membalasnya, di ruangan itu ada Kemala. Estu paling tidak suka kalau dirinya ditinggal sendirian bersama wanita, apalagi yang tidak begitu akrab.


Untuk Kemala, mungkin dia sudah merasa akrab dengan keluarga Hestama. Namun, untuk Bagas atau Estu, tentunya merek menjaga jarak.


"Apa kata Mami?" tanya Estu, dia tahu pesan yang Bagas terima adalah dari Maminya. Walau bahas tidak bilang.


"Aku baru jemput Mami sekarang." Bagas menunjukkan pesan pada Estu, walau tidak jelas. Karena, Bagas lekas menarik ponselnya. Dia baru bergegas takut Kanjeng Mami menunggu.

__ADS_1


"Sorry, aku tinggal!" ucap Bagas tanpa menunggu respon dari Purba. Dia pergi meninggalkan ruangan. Terasa begitu cepat Bagas berjalan. Kini dia sudah berada lagi di luar ruangan. Tanpa sempat Estu protes untuk mencegahnya tidak berangkat dahulu.


Estu menarik nafas, kini tinggal dia dan Kemala di ruangan itu. Entah harus apa. Berbincang? tidak akrab, lagi pula bahas tentang apa?


Jika mengabaikan? Ini paling mungkin Estu bisa lakukan. Meskipun kalau terlalu lama Kemala di sana, Estu benar-benar tidak bisa bekerja.


Estu akhirnya beranjak dari kursinya. Dia ke luar meninggalkan ruangannya tanpa memedulikan Kemala.


Namun, tak disangka Kemala malah beranjak pergi dan mengekor Estu, ke mana pun. Estu sudah keruangan manajemen, pantry, sampai ke toilet pun Kemala masih mengekor. Tentunya gadis itu menunggu di luar toilet dengan sabar.


Apakah Kemala merasa dipermainkan atau bete?


Tidak!


Dia malah happy mengekor ke sana kemari dengan Om Gantengnya. Itulah cita-citanya bisa dekat dengan Omnya.


Selain itu Kemala juga sambil melakukan chat dengan teman-temannya, jadi dia tidak bete. Malah pembicaraan heboh di grup genknya. Kemala menceritakan bahwa dia sedang dengan seorang direktur.


Kini Estu sudah benar-benar risi diikuti Kemala terus. Saatnya dia mau ke luar saja, pergi bersama sopirnya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Estu pada Kemala yang juga ikut menuju mobil.


"Aku cuma ingin keputusan aja Om." Kemala menjawab masih dengan saura yang ceria dan tanpa rasa kesal sedikitpun.


"Keputusan apa? Kamu lihat sendiri dari tadi, aku sibuk. Belum yang aku kerjakan di laptop. Dari tadi hilir mudik, kamu dengan apa yang aku bahas? Jika aku membuang waktu hanya untuk duduk di sekolahmu, maka keluargaku akan jadi miski dalam sehari. Dan itu gara-gara kamu!"


Ini kali pertama Estu berkata panjang lebar. Saking sudah kesal pada Kemala. Gadis itu tidak bisa diberitahu secara singkat.


Apa yang terjadi pada Kemala setelah estu mengomel? Apakah dia merasa tersinggung? Kesal dan ingin pergi? Atau merasa sedih?


Bersambung....


**

__ADS_1


__ADS_2