Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Terbongkar Rahasia Sendiri


__ADS_3

Bab32


Kinasih menghubungi Deswita. Kebetulan dia juga belum begitu ngantuk, malah kepikiran karena sakit kepala Estu kambuh. Sambil menunggu Deswita merespon pesannya, Kinasih berganti pakaian dan bersih-bersih beberapa bagian anggota badan untuk bersiap tidur.


Namun, isi kepalanya terus saja memikirkan tentang kelangsungan hidupnya. Apakah dia harus keluar dari rumah ini? Menjalankan usaha kuenya di kota. Siapa tahu laku. Akan tetapi kepikiran juga dengan suaminya. Bagaimana dengan Estu? Tapi kalau tetap di sini seakan tidak ada gunanya juga.


Sesaat setelah berganti pakaian, Kinasih mendapatkan balasan dari sahabatnya di kampung. Deswita belum juga menghubungi. Dia harus apa sekarang? Akhirnya memutuskan untuk ke dapur saja bertemu sama pelayan lain. Siapa tahu mereka belum tidur. Namun, Kinasih sambil membawa ponselnya takut dihubungi oleh Deswita.


***


"Bagas, Maimk mu ke mana?" tanya Kanjeng Papi saat mereka sedang berada di ruang kerja.


"Mungkin di kamar Estu Pa, tadi terakhir di sana."


"Coba kamu panggil, kita belum membicarakan tentang Kinasih. Jangan sampai kita tidak menghargai orang di rumah kita."


"Papa pikir obrolan tadi tidak sampai mengganggu ketenangan kondisi Estu. Apakah kamu tidak menyadari saat kita membicarakan tentang Kinasih? Estu merasakan sakit di kepalanya. Mungkin itu suatu masalah atau tekanan buat dirinya. Bagaimana menurut kamu?" tanya Papi. Sebelum Bagas pergi untuk memanggil Maminya.


"Bisa jadi Pi, mungkin Estu merasa nggak enak karena Kinasih yang menolongnya, tapi mendengar pilihan hanya sekedar memberikan hadiah, lalu Kinasih pulang atau di sini juga tidak jelas statusnya sebagai apa. Jadi Estu merasa bersalah tapi mungkin tak berdaya untuk memberikan penolakan pada kita, karena Estu merasa orang lain di sini."


Kanjeng papi manggut-manggut, mendengar penjelasan dari Bagas. Masuk akal juga. setidaknya meski hanya dalam waktu singkat, enam bulan cukup membuat Estu dan keluarga Kinasih merasa begitu dekat seperti keluarga sendiri.


Kanjeng Papi juga mengerti, maksud Bagas bukan berarti karena seseorang telah menolong kita lalu jadi terbebani. Kita harus menolong orang itu kembali, selamanya. Namun, masih terlalu dini untuk membicarakan orang yang menolong kita agar kembali ke tempatnya semula, sedangkan dilihat es itu masih membutuhkan Kinasih.


"Makanya panggil Mami mu, kita harus selesaikan segera. Biar esok-esok kita melakukan aktivitas masing-masing seperti biasa dengan fokus dan sewajarnya. Estu juga harus kembali ke perusahaannya."


"Baik Pi, " ucap Bagas. Dia keluar ruangan lalu mencari Kanjeng Mami, sudah pasti dia berada di kamar Estu. Di mana lagi?


***


“Mbak Kinasih belum tidur.” tanya Marni yang masih beres beres dapur.


"Belum Mbak, lagi nggak bisa aja." Kinasih menjawab sambil mendekati Marni.


Kinasih melihat cara Marni mencuci piring. Karena bukan seperti kita menggunakan sabun dan tangan. Namun, menggunakan mesin pencuci yang terlebih dahulu tentunya harus dibuang sampah makanannya, lalu dimasukkan ke dalam mesin dengan tertata tentunya.


"Biasa Mbak Kinasih. Namanya juga tempat baru, susah tidur bukan hal yang aneh."


Saat Kinaaih masih mengobrol dengan Marni, ada panggilan masuk dan itu dari Deswita. Kinasih menepuk lengan Marni menandakan dia minta izin untuk menerima telepon terlebih dahulu.


Kinasih duduk di kursi yang ada di sana.


Deswita berbasa-basi menanyakan kabar Kinasih, begitu pula dengan Kinasih, dia menanyakan bagaimana kabar ayahnya, toko kuenya dan orang-orang di kampung, Alhamdulillah semuanya Kinasih dengar dalam keadaan baik-baik saja.


"Dari kemarin tahu, aku ingin nelpon kamu. Khawatir rasanya. Pesan ayah juga, harus cepet-cepet hubungi kamu," ucap Kinasih dari sambungan telepon.

__ADS_1


"Khawatir Kenapa?" tanya Kinasih, kemudian, "Aku kan udah gede lanjutnya.


"Udah gede juga kamu baperan kan? Takut apa-apa, ada masalah dipikirin sendiri, terus kabur deh. Hahaha." Deswita bercanda tapi apa yang dikatakan memang benar. Kinasih sensitif dan overthinking.


"Nggak segitunya juga kali. Ya ... meski bener sih, emang akhir-akhir ini masih ada masalah terus.*


"Masalah apa? Tapi kamu masih sanggup kan? Jangan apa-apa pakai perasaan. Coba dipikirin tujuan kamu ke situ untuk apa. Jangan selalu overthinking. Itu yang aku takutkan, orang lain nggak gimana-gimana, tapi kamu berpikirnya aneh-aneh. Nyakitin diri sendiri lah."


"Iya bawel," ucap Kinasih pada sahabatnya yang memang lebih dewasa dari Kinasih, kalau perihal karakter.


"Ayo cerita, ada masalah apa?" pinta Kinasih.


Kemudian Kinasih menceritakan tentang Keken calon istri Estu. Lalu rapat yang tadi baru saja di lakukan dan tentang posisi dirinya yang belum jelas di sana, serta keterbatasan Kinasih untuk selalu berada di samping Estu..


Tak lupa Kinasih juga menceritakan orang-orang di Wastu Hestama. Tidak ada yang jahat sebenarnya, menyebalkan juga tidak, semuanya baik dan ramah. Hanya mungkin karena aturan dan kebiasaan mereka dalam menjalani kehidupan, membuat Kinasih merasa masih kaku dan takut salah dalam menyesuaikan.


"Nah, berarti ini tinggal di kamunya. Kan udah aku bilang, jangan baperan, jangan overthinking."


"Iya... iya." Kinasih, udah bosen mendengar nasehat itu. Emang segitu sensitif dirinya ya? pikir Kinasih.


"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Kinasih.


"Ayah baik, dia ingin ke Jakarta nengok kamu."


"Hah? Lebih baik jangan deh, jangan waktu dekat ini. Suasananya belum kondusif. Siapa tahu aku malah dalam waktu dekat pulang."


"Ya... kepengennya sih nggak, tapi nggak tahu lah. Terserah yang punya rumah. Bingung aku."


"Pokoknya aku doakan semoga kamu mendapat tempat di situ, atau segera semua orang tahu bahwa kamu istrinya Estu."


"Aamiin," ucap Kinasih.


Deswita juga menceritakan bahwa tadi ada panggilan ke ponsel Kinasih, itu adalah nomor ayahnya. Deswita menceritakan tentang bingkisan yang diberikan oleh Mas Bagas, ternyata HP dan sejumlah uang sangat banyak. Mereka terus berbincang kurang lebih 30 menit kemudian selesai.


Setelah Kinasih menutup panggilan, dia baru sadar bahwa di sana ada Marni. Sedangkan dia membicarakan tentang Estu.


Apakah Marni paham apa yang dibicarakan Kinasih pada Deswita? Obrolan itu sangat jelas. Pastinya Marni menyimak dengan jelas pula.


Kinasih melihat ke arah Marni yang masih sibuk. Kembali hatinya merasa dag dig dug. Takut besok dirinya dipanggil dan dimintai penjelasan tentang hubungannya dengan Estu.


Kinasih beranjak dari duduknya dan menghampiri Marni.


"Mbak Marni Maaf. Aku mau tanya," ucap Kinasih hati-hati sekali dalam mengucapkannya.


"Ada apa Mbak Kinasih?"

__ADS_1


"Tadi aku kan teleponan sama teman di kampung. Em ... Mbak Marni denger apa yang aku bicarakan? Tahu apa yang kami maksud?"


"Mbak Kinasih maunya aku tahu atau enggak?" Marni malah bertanya balik membuat Kinasih semakin deg-degan. Marni juga menjawab dengan nyengir kuda. Seperti sengaja banget ingin mengerjai Kinasih biar semakin panik.


Tangan Kinasih tiba-tiba menyentuh tangan Marni, dia memohon untuk tidak mengatakan apa pun kepada Kanjeng Mami atau Kanjeng Papi. Kinasih terus berbicara memohon, karena dia juga menjaga jarak dengan Estu, meskipun statusnya di kampung mereka sudah menikah.


Kinasih seperti orang kepanikan, dia terus bawel kepada Marni memohon supaya menjaga rahasia apa yang didengarnya barusan.


"Mbak ... tenang Mbak, tenang. Sebenarnya Mbak Kinasih ada apa sih? Ketakutan gitu, hihi." Marni malah tertawa semakin membuat Kinasih takut.


"Ya jelaslah takut. Mbak Marni diem aja. Aku mohon ya mbak ya...."


"Ya, karena aku nggak tahu apa-apa. Jadi diam, tapi karena Mbak Kinasih barusan ngobrol terus, ya aku jadi tahu, hehe."


"Hah? Tuh kan... jadi tahu beneran." Kinasih semakin panik.


Nah, begitulah Kinasih, panikan, overthinking itu penyakit yang akan mencelakakan dirinya sendiri. Untung dia berbicaranya hanya pada seorang Marni, pembantu di sana tidak comel kalau bukan urusannya dan bukan hal yang berbahaya, mereka pandai menyimpan rahasia.


"Kan aku bilang tahu, karena Mbak Kinasih yang bilang sendiri, barusan mengatakan panjang lebar."


"Jadi tadinya Mbak Marni nggak tahu?"


"Ya ... sedikit menebak-nebak sih, hehe. Namanya juga ngobrol deket banget di situ, masa gak kedengeran," ucap Marni sambil menunjuk dengan mata mengarah pada tempat duduk, yang Kinasih duduki tadi saat menelpon.


"Tapi kan nggak begitu paham dan takut salah menduga juga. Kedengeran sih dikit-dikit, tapi nggak jelas maksudnya apa." Marni menegaskan kembali, agar Kinasih tidak begitu panik.


"Tapi sekarang Mbak Marni udah tahu? Huaa... mohon ya Mbak, ya. Jaga rahasia." Kinasih seperti hampir menangis.


"Oke, tapi ada syaratnya."


"Syaratnya apa?"


"Em ... Apa ya. Besok aja deh."


"Mbak Marni jangan gitu dong, jangan bikin aku nggak tenang. Nanti nggak bisa tidur, ayo sekarang aja, katakan syaratnya apa?"


"Sekarang udah malem, kalau bangun kesiangan nanti dihukum Kanjeng Mami. Udah tidur aja dulu, nanti syaratnya aku tambah makin berat loh, kalau gak nurut." Marni malah sengaja menggoda Kinasih, dia menakut-nakuti dengan syarat yang padahal bukan apa-apa.


"Oke, tidur sana. Jangan kesiangan lagi," ucap Marni menepuk kedua pipi Kinasih seakan pada adiknya sendiri, merasa gemas.


Marni pergi ke kamarnya. Sedangkan Kinasih masih terbengong di dapur.


"Oh ya. Jangan lupa matikan lampunya," ucap Marni berbalik sebentar hanya ingin mengatakan hal itu pada Kinasih.


Kinasih menoleh pada Mardi dan mengangguk, tak lama dia juga kembali ke kamarnya setelah mematikan lampu dapur.

__ADS_1


Kinasih benar-benar tidak bisa tidur gara-gara memikirkan syarat dari Marni. Ini gara-gara kebiasaan paniknya jadi rahasianya terbongkar oleh mulut sendiri.


 Bersambung....


__ADS_2