
"Sayang, jemput Mami di salon." Kami mengirim pesan kepada Estu.
"Kita natik taksi aja, Mi. Mas Estu Adan Mas Bagas mungkin kecapean, habis pulang kerja." Kekekan memberikan saran.
"Kenapa juga tadi Estu malah pulang dahulu. Kalau dia nungguin, kita kan bisa lebih cepat. Mana ini sudah setengah tujuh. Sebentar lagi makan malam. Bisa-bisa kenapa hukuman Papi, lagi." Kanjeng Mami malah mengomel. Sambil terus mengetik sebuah pesan, entah pada siapa lagi.
'Memangnya Kanjeng papi masih suka menghukum Mami ya? Gimana menghukumnya? Apakah sebenarnya Kanjeng babi? Kan orang sudah terbiasa kalau pulang. Tidak bisa terprediksi kalau ada kegiatan dari luar. Kenapa harus main hukum segala. Udah tua juga, apa nggak kasihan kalau udah setua ini dihukum,' Kinasih berkata dalam hatinya.
Merasa aneh saja, masa Kanjeng Papi seketat itu. Tida ada toleransi kalau orang rumah sampai telat. Memang sih, itu baik untuk kedisplinan. Tapi tidak begitu juga kan? Kalau berada di luar tiba-tiba cuaca buruk, ada halangan darurat. Jadi serem juga, kalau masih ada main hukuman hanya gara-gara yelat pulang, lagi pula bukan pulang larut.
Kinasih masih msrasa heran saja, pada aturan Wast Hestama.
"Nanti dulu, sopir akan datang menjemput. Kita ke rumah Keken dulu ya, Kinasih. Baru pulang." Kanjeng Mami memutuskan. Akhirnya ada supir yang akan jemput.
Sekitar tiga puluh menit, supir pun datang. Mereka segara masuk dala mobil menuju pulang.
Kinasih melihat Kanjeng Mami begitu sibuk mengirimkan pesan. Pada siapa? Sesibuk itu, kah? Kaya orang bisnis saja. Atau teman-teman Kanjeng Mami banyak, dia ibu-ibu sosialita? Pikir Kinasih. Merasa heran, kesibukan Mami Desi sudah seperti seorang pengusaha saja, tak henti sibuk pada smartphonenya.
Kinasih tidak tahu, bahwa Kanjeng Mami sedang chattingan dengan kancing Papi. Ya, Kanjeng Mami harus merayu Papi Hestama agar tidak marah saat mereka pulang. Maka Kanjeng Mami begitu sibuk selain merangkai alasan, dia juga sibuk membalas pesan Kanjeng Papi yang awalnya tidak menerima alasan mereka.
Namun, setelah dijelaskan Kanjeng Papi bisa menerima dan memaklumi. Apalagi itu untuk kepentingan keluarganya, tapi Kanjeng Mami juga salah. Kenapa tidak memperhitungkan waktu, sehingga pulang ke tumah kemalaman.
Tetap saja kalau masalah disiplin dengan Kanjeng Papi meskipun memaklumi dan memaafkan, omelan itu akan ada. Kanjeng Mami cukup menyimak atau mendengarkan saja. Karena bagi Kanjeng Papi tidak ada kata di luar kendali kalau kita sudah mengaturnya matang-matang. Apalagi perihal waktu lebih baik dilakukan jauh dari perkiraan batas akhir daripada dikerjakan mepet.
Begitulah ketika sang Kanjeng Papi yang terkadang tidak bisa diimbangi oleh Kanjeng Mami.
Mobil sudah sampai di depan rumah Keken. Wanita anggun itu turun dari mobil dengan membawa dua jinjingan, itu adalah belanjaan pribadinya bukan pakaian dari salon atau apapun.
"Selamat malam Mami, sehat selalu sampai dengan selamat ya. Keken pamit," ucap Keken berpamitan pada Kanjeng Mami, seperti akan melakukan perjalanan jauh saja kata-katanya cukup formal mendoakan cukup panjang.
Ya mungkin itu kebiasaan mereka, Kinasih saja yang baru tahu dan belum terbiasa. Setelah Keken cipika-cipiki, dia masuk ke dalam pagar rumahnya tak lupa juga melambaikan tangan pada Kinasih sebelum Keken pergi menjauh dari mobil.
"Mi, memangnya Mbak Keken tinggal sendiri ya?" tanya Kinasih, saat kendaraan yang mereka tumpangi sudah maju lagi menuju pulang.
Selain Kinasih hanya ingin berbasa-basi agar perjalanan tidak terlalu sepi, dia juga sebenarnya cukup penasaran dengan keluarga Keken.
__ADS_1
"Ya, Keken sudah mandiri sejak pindah ke Jakarta."
Kanjeng Mami menjelaskan tentang kehidupan Keken yang begitu pandai meniti karir sesuai dengan passionnya. Kinasih jadi mengetahui rumah cukup besar itu miliki nasi pribadi. Dan ada satu keponakan yang menemaninya, Keken jadi ingat gadis berseragam SMA yang menyuruhnya membersihkan minuman dan makanan yang sepertinya sengaja dijatuhkan.
Terbersit rasa iri dan entah apa saat mendengar latar belakang Keken yang begitu positif. Ada rasa di hati Kinasih dia tak mampu bersaing dengan wanita sempurna seperti itu. Bahkan saat Kanjeng Mami menceritakan segala hal tentang Keken, Kinasih merasakan begitu banyak pujian dan kebanggaan yang tersirat dari cara Kanjeng Mami menceritakan apa saja yang Keken alami. Sehingga wanita itu menjadi saat seperti ini, termasuk wanita yang sukses dengan caranya.
Iya, menurut Kinasih rumah yang ditempati kayak Ken cukup besar daripada rumahnya di kampung. Padahal rumah Keken hanya satu lantai, memang di dalamnya terdapat empat kamar. Karena itu persediaan selain untuk kamar tamu juga kalau orang tuanya datang atau orang tua Kemala. Atau juga untuk saudara-saudara lain kalau sedang berkunjung ke Jakarta.
Namun, bagi ukuran Keken rumah tersebut masih terbilang sederhana. Meskipun ada rencana untuk diperbesar ke lantai dua atau lantai tiga. Tergantung kebutuhan nanti, kalau saat ini belum perlu, karena yang tinggal di sana hanya dua orang.
***
Tak lupa Keken menyapa security yang berjaga, kan memang terkenal ramah juga siapapun tak pernah dia lewati untuk tadi siapa. Mau siapapun yang bertemu dengannya pasti disapa walaupun hanya sebuah senyuman.
"Pak, ini ada jajanan untuk Bapak. Semangat ya, kerjanya." Keken memberikan minuman dan makanan untuk security-nya.
Pas security itu mengucapkan terima kasih dengan semringah, Kebetulan sekali sdia sedang ingin mengopi. Namun, tumben belum ada pedagang yang lewat.
Biasanya setelah maghrib akan ada beberapa tukang dagang yang lewat, seperti sekoteng keliling, tukang bajigur keliling, tukang bubur ayam, tukang sate dan lain sebagainya.
Namun, biasanya ramai kalau warga-warga kebetulan berkumpul dekat pos ronda.
Perumahan ada pos ronda nya? Iya meskipun ada pos security di depan gerbang utama, namun di beberapa blog juga ada pos ronda nya. Hal itu bertujuan bukan sekedar untuk menjaga keamanan, tapi agar para warga perumahan tersebut bisa saling mengenal dengan diadakannya pertemuan rutin setiap malam untuk menjaga lingkungan blok masing-masing.
Meskipun yang menghadiri tetap saja para asisten rumah tangganya yang pria. Majikan - majikan mereka pastinya sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Namun, terkadang ada juga kepala keluarga yang menghadiri ronda. Kalau mereka sedang ingin refreshing bertemu dengan warga.
Pos ronda untuk blok lingkungan rumah Keken kebetulan posnya berada cukup dekat dengan rumahnya. Sehingga terkadang para peronda suka mampir di pos jaga security yang menjaga rumah Keken. Namun kali ini sepi. Sehingga kantung pun cepat menyerang security tersebut.
Security di rumah Keken memang hanya satu orang, tidak ada sif. Kalau malam security itu tidur di rumah Keken ada sebuah kamar paling depan dengan pintunya dari luar. Sehingga Pak security tetap bisa berjaga namun dia juga nyaman tidur di dalam kamarnya.
Kreet!
Kekana masuk di rumah dia menyalakan lampu ruang depan karena gelap, Keken tidak suka gelap karena takut ada seseorang yang bersembunyi dan dia tidak tahu. Beda halnya dengan kepala yang takut akan kegelapan.
Namun, saat Keken akan menuju kamarnya dia melihat Kemala masih menyetrika pakaian sambil menonton TV.
__ADS_1
"Wah ... keponakan tante tumben rajin?" Keken meledek keponakannya sekaligus memuji juga.
"Serba salah deh Tan, diam saja dibilang anak perawan nanti bisa apa kalau nikah. Udah rajin kayak gini tetap aja dikatain. Aku sebenarnya harus apa sih Tan?"jawab Kemala yang sebenarnya dia tak masalah dengan ledekan tantenya.
Kemala hanya berusaha bersikap biasa saja tidak merasa tersipu oleh sanjungan sang tante.
"Kan bisa besok saja sama Mbak. Biasanya Kamu jam segini di kamar main HP terus tidur. Takut kesiangan Kan besok sekolah, buka? Meski nyatanya kamu tidur tetap aja larut malam. Pantas saja selalu kesiangan. Hihi." Keken bukan mengomel pada keponakannya, dia hanya sedang ngebecandain.
Bahwa Kemala biasanya suka beralasan dia tidak ingin disuruh ini itu takut badannya capek. Terus nanti tidak bisa tidur, karena pegal-pegal dan besoknya bangun kesiangan.
Padahal itu hanya alasannya saja tidak ingin disuruh, kalau main HP bisa sampai larut malam, tapi kalau disuruh pegang kerjaan alasannya segudang.
"Ya udah, Tante mau mandi dulu. Tapi setelah itu mau langsung tidur ya capek sekali. Kamu mau lanjut selesaikan setrika silakan, mau langsung tidur juga nggak apa-apa. Lampu depan biarin saja menyala, pintu sudah tante kunci kok."
Kekan memberi pesan sebelum masuk ke dalam kamarnya. Namun, saat dia akan membuka handle pintu kamar, Kemala tiba-tiba berlari menghampiri.
"E, e - eh. Tunggu dulu, Tan!" seru Kemala sambil berlari menghampiri tantenya.
"Ayo, sini dulu duduk." kok malah menarik tangan tantenya agar duduk pada sebuah sofa yang ada di sana.
Dengan sekatan Kemala menyimpan tas yang dipegang tantenya di sebuah meja. Agar tantenya itu bisa leluasa duduk dan mengobrol sebentar dengan dirinya.
"Ada apa sih? Penting banget ya tanya Keken?" soalnya Kemala begitu serius sepertinya ingin mengobrol dengan dirinya.
"Hehehe... enggak, cuma mau bertanya dan minta sesuatu aja," ucap Kemala dirinya menyengir kuda merasa bingung menyampaikannya.
"Ada apa sih? Tante curiga deh. Kamu bermasalah lagi di sekolah? Tantem besok suruh ke sana? Kan Tante udah bilang, kalau kamu ada masalah lagi di sekolah, Tante malas buat datang, kamu itu gak ada kapoknya sih." Belum apa-apa Keken sudah mengomel.
"Bukan, Tante. Bukan ...." Dengan gemas Kemala membantah tuduhan tantenya.
"Lalu apa?" tanya Keken.
Bersambung....
Jangan lupa baca juga novel otor "Oh ... Bunga Lain CEO." ya... terima kasih.
__ADS_1