
Bab44
"Ya, iya deh. Tapi kalau ada pertanyaan-pertanyaan lanjut nanti aja ya. Aku cuman mau ngomong singkat aja." Marni menegaskan terlebih dahulu.
"Ya udah cepet," respons Kinasih.
Karena dia juga pasti akan segera untuk mempersiapkan makan malam, harus kumpul bersama keluarga, belum mandi.
Marni menceritakan bahwa selama ini Kanjeng Mami menginginkan seorang menantu, tetapi itu untuk Bagas. Kalau bisa sebelum hubungan Estu dan Keken diresmikan dalam sebuah pernikahan.
Bagas harus sudah terlebih dahulu menikah, paling tidak memiliki calon istri. Karena sebenarnya seorang adik tidak boleh melangkahi kakaknya untuk memiliki pasangan atau dengan kata lain tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum kakaknya.
Namun, sayangnya karena perjuangan Bagas saat perusahaan sedang turun dan mengalah untuk Estu, agar bisa melanjutkan pendidikannya, Bagas jadi melupakan tentang dirinya sendiri dalam hal asmara. Bagas sangat menyayangi Estu dia jadi pekerja keras yang tidak memikirkan apapun, selain fokus untuk memulihkan kembali perusahaan saat itu.
Hingga terbawa sampai sekarang. Bagas akan dingin terhadap wanita, tapi jika di hadapan wanita dia ramah namun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai lawan jenis.
Beda halnya dengan Estu, yang berkarakter dingin, kaku, tapi terkadang dia bisa membuat baper lawan jenisnya.
"Jadi intinya apa?" tanya Kinasih.
"Ya, sabar dulu. Kalau aku nggak bicara dari awal nanti bingung, dikiranya aku asal ngomong lagi."
Marni melanjutkan, saat makan sarapan tadi melihat Estu dan Bagas kebingungan mencari jawaban saat Kanjeng Mami bertanya, Marni hanya ingin menyelamatkan mereka dari interogasi Kanjeng Mami yang akan panjang.
Kebiasaan Kanjeng Mami kalau pertanyaannya tidak menemukan jawaban yang puas, pasti akan dicecar terus. Sedangkan mereka harus segera pergi ke kantor dan takut keburu ada Kanjeng Papi.
Jika Kanjeng Papi sudah datang, maka diskusi akan semakin lebar dan lama. Sehingga dari itu, Marni mengatakan bahwa apa yang sedang Bagas dan Estu bahas adalah, mereka sebenarnya memperdebatkan Kinasih.
Estu memberi pandangan pada Bagas bahwa Kinasih adalah wanita yang baik, cocok untuk dijadikan menantu. Mengingat Estu mengenal Kinasih cukup dekat selama enam bulan satu rumah dengannya, tahu karakternya luar dalam.
Namun, seperti biasa Bagas meskipun dia orangnya ramah, tapi menjaga jarak dengan perempuan. Hingga kedua adik kakak itu saling berdebat mempertahankan pendapatnya. Mana yang layak jadi menantu dan tidak. Karena Kinasih akhir-akhir ini sering memberikan teh kepada Bagas, Estu memberi dukungan untuk Bagas.
__ADS_1
Namun, Bagas mengatakan itu hanya perhatian biasa.
"Nah, aku cuman mengatakan itu saja. Tuan Estu dan Tuan Bagas cuma saling mempertahankan pendapat aja. Ya itu tentang kamu layak jadi menantu di keluarga Hestama atau tidak. Cuma gitu aja, kok."
Marni selesai menjelaskan pada Kinasih.
"Tapi itu jadi mencelakakan tahu. Berarti selama ini Kanjeng Mami bilang menantu saat aku di salon, adalah untuk Mas Bagas?"
"Aku mana tahu. Memang kamu sama Kanjeng Mami dari mana?" Marni malah balik bertanya.
"Udah ah kita lanjut aja nanti. Pokoknya Ini salah kamu. Jadi runyam kan urusannya. Kamu tahu sendiri kan, aku sama Mas Estu bagaimana?" Kinasih malah seakan terjebak situasi yang salah, tapi juga tanpa sengaja.
"Marni! Ayo sebentar lagi!" Lili berteriak dari pintu dapur.
Maksudnya waktu tak terasa berjalan cepat, jangan terlalu lama meninggalkan pekerjaan.
"Ya udah, yang penting kamu udah tahu kan? Gimana selanjutnya terserah nanti aja, yang penting keuntungannya kamu mendapat tempat kan akhirnya?" Marni sudah harus segera kembali pada pekerjaannya.
"Daripada kamu semakin jauh dari Tuan Estu? Mungkin Berawa Kanjeng Mami salah paham dulu, lama-lama akan bisa menerima kamu untuk jadi istri Tuan Estu, karena Kanjeng Mami sudah terlanjur cocok juga sama kamu. Walau awalnya berpikir, kamu cocok buat Tuan Bagas."
Kinasih jadi bingung, ada benar dan salahnya juga Marni.
Mereka akhirnya kembali ke tugasnya masing-masing. Marni kembali memasak, sedangkan Kinasih ke kamar untuk membersihkan diri.
Kinasih hanya memiliki waktu setengah jam untuk mandi, karena dia sampai rumah pukul 17.30. Kemudian dengan membujuk Marni berbicara ada 30 menit, dengan penjelasan juga tak terasa sampai kamar udah setengah tujuh. Apakah cukup waktunya untuk mandi?
Sebenarnya 30 menit cukup untuk mandi, hanya saja persiapannya, memilih bajunya, merapikan diri walau berias seadanya, tapi karena kegugupan dan belum terbiasa maka waktu 30 menit itu memang terasa sebentar.
Kinasih sedikit terlambat menuju meja makan dan di sana sudah ada semua anggota keluarga kecuali Kanjeng Papi.
Tapi itu tak masalah, karena Kanjeng Mami sedang merasa bahagia akhirnya anak sulungnya akan memiliki pasangan.
__ADS_1
"Kinasih duduk sini," ucap Kanjeng Mami, meminta untuk duduk di sebelah kirinya dan sebelah kiri Kinasih adalah Bagas, jadi Kinasih duduk di tengah.
Sedangkan Estu duduk di sisi meja yang satunya, dia hanya duduk sendiri jadinya.
Estu merasa heran. Kenapa Kanjeng Mami malah meminta Kinasih duduk dekat Bagas? Yang jelas tempat duduknya jadi penuh. Padahal sisi meja yang Estu tempati masih ada dua kursi kosong.
"Mami, kenapa Kinasih tidak duduk di dekatku aja? Ini masih ada kursi kosong." Estu memberi pendapat.
"Nggak apa-apa Estu, sama aja," ucap Kanjeng Mami.
"Tapi nggak enak Mi, kayaknya jadi timpang. Di situ bertiga, sedangkan di sini hanya aku sendiri. Kan kalau di sana dua di sini dua enak gitu lihatnya."
"Udah... nggak usah rewel. Sebentar lagi makan, tinggal makan aja. Nggak masalah mau duduk di manapun, yang penting tetap bisa menikmati makanan dengan tenang. Iya kan, Kinasih?" jawab Kanjeng Mami malah seakan meminta dukungan dari Kinasih. Membuat gadis itu bingung saja. Dia harus menjawab bagaimana?
Terpaksa Kinasih hanya mengangguk dengan tersenyum ragu, serba salah. Karena nanti takutnya Estu nyamperin, ke kamar dan dimintai penjelasan.
Tak berapa lama Kanjeng Papi datang. Lalu memulai untuk makan malam, tanpa basa-basi dan percakapan apapun.
Kinasih tahu selama mereka makan, Estu terus saja memandangi dirinya. Entah memang hanya ingin melihat saja, atau kesal karena keadaan, atau juga merasa pangling melihat perbedaan setelah Kinasih pergi ke salon.
Makan pun selesai. Kinasih membantu membereskan makanan ke dapur, walau sebelumnya sudah dilarang oleh Kanjeng Papi.
Saat Kinasih akan kembali ke tempat makan, Estu memotong langkahnya langsung menarik ke kamar Kinasih, yang memang dekat dengan dapur. Hingga mudah untuk menyelinap.
"Ada apa mas?" tanya Kinasih.
Namun Estu tidak menjawab, sudah dapat ditebak oleh Kinasih kalau Estu tidak cepat respon dia pasti sedang ada hal yang mengganggu hatinya.
"Loh kok dikunci?" tanya Kinasih.
Bukan kenapa-napa, kalau dikunci pas kebetulan orang mencari dirinya takut disangka aneh-aneh. Bukan masalah takut Estu berbuat hal yang tidak-tidak. Karena memang sudah menjadi suami istri jika hal itu terjadi, tak masalah.
__ADS_1
Bersambung....