
Bab 28
""Mas! Mas Estu!" seru Keken sambil berjalan melewati ruang depan, menoleh kanan kiri dan sekitar.
"Mas Estu ke mana sih? Lagian udah sore juga mau ke mana lagi?" gumam Keken sambil terus menoleh sana sini.
Keken terus berteriak memanggil nama calon suaminya. Namun, sekerasnya Keken berteriak, tentu saja tidak memecahkan telinga orang yang ada di rumah. Suaranya yang lembut, nada bicaranya yang tenang, berteriak pun tidak seperti orang marah-marah, nggak perlu pakai otot.
"Mas. Mbak Keken?" ucap Kinasih panik, dia celingukan mau pergi ke arah mana, ke depan atau ke belakang.
"Nggak usah panik. Nanti Keken keburu nengok ke sini, udah. Kamu ke sana, aku ke sini." akhirnya mereka pergi berlawanan arah.
Karena Estu dan Kinasih sedang berada di belakang tangga, sedangkan di belakang tangga terdapat beberapa pintu entah kamar apa, Estu nggak tahu.
Yang pasti tangga itu terletak di tengah rumah megah itu. Tangga dari kayu mahal, yang melingkar estetik di tengah rumah, sehingga Estu pergi ke sisi kiri tangga, sedangkan Kinasih ke sisi kanan tangga dengan arah jalan menuju ke kamarnya masing-masing.
"Kinasih?" tanya Keken yang melihat Kinasih dari arah kamarnya.
Keken merasa heran. Kenapa nampan yang berisi gelas bekas Bagas tadi belum disimpan? Selama itukah, Kinasih memegang nampan dari tadi? Keken berbicara dalam hatinya.
"E-eh, mbak Keken?" ya tanya Kinasih. Pura - pura kebetulan bertemu.
"Kamu habis ngapain? Dari tadi kamu belum menyimpan nampan itu?"
"Eh iya, a-aku tadi kebelet terus ke kamar mandi dulu." Kinasih gugup takut ketahuan berbohong.
"Tapi kenapa harus ke kamar? Kan dari arah sana ke toilet, lebih dekat ke dapur," ucap Keken.
Maksud Keken adalah dari arah tadi dia berdiri di pintu depan, ke dapur lebih dekat daripada pergi ke kamar Kinasih.
"Ehehe, gimana ya Mbak. Udah enakan di toilet sendiri, em-maksudnya yang biasa dipakai sendiri."
"Oh ... Eh, kamu lihat Mas Estu?" tanya Keken.
"Aku di sini!" seru Estu yang kini ada di belakang Keken, jarak mereka kurang lebih empat meter.
Tadinya Kinasih bingung menjawab apa, beruntung Estu buru-buru muncul dari arah kamarnya, yang juga satu arah dari belakang tangga dan ke kamar Bagas, pokoknya rumah itu memang benar-benar luas.
Keken menoleh, "Mas Estu? Dari mana? Aku cari dari tadi." Keken menghampiri Estu.
"Aku hanya baru berkeliling, masih penasaran dengan rumah ini."
"Bilang dong Mas, aku tadi ngobrol sendiri di kamar."
Kinasih agak sedikit tidak bisa menahan tawanya, tidak terbayang saat Keken mungkin mengajak Estu berbicara, lalu saat menyadari tidak ada Estu di kamar, tidak terbayang reaksi wajah Keken seperti apa ekspresinya.
__ADS_1
Lalu Keken menghampiri Estu, mengajaknya ke kamar. Sambil berjalan mereka juga berbincang, menyampaikan rencananya, maka dari itu Keken mencarinya.
Sesampainya di kamar, Keken meminta Estu untuk memilih pakaian yang akan digunakan.
Seperti rencana sebelumnya, keken hanya ingin mengetes style Estu seperti apa. Rupanya benar dugaan Keken, Estu memilih style yang sederhana, hem kotak berwarna biru muda dan celana hitam berbahan kain.
Keken tidak jadi masalah karena semuanya memang pantas untuk makan malam nanti, hanya saja pemilihan bahan dan warna bisa diketahui itu bukan selera Estu yang dulu.
"Ya udah, aku mau mandi," ucap Estu.
"Aku juga mau persiapan. Jangan lupa nanti ditunggu saat makan malam pukul 07.00 di ruang makan, untuk acara keluarganya nanti mas Estu bisa ikutin kita aja."
Estu mengangguk, dia menunggu Keken keluar kamar baru kemudian mandi.
***
Tok!
Tok!
Kinasih yang baru saja selesai mandi terkejut, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia buru-buru mengenakan pakaian atas, walaupun bawahnya masih menggunakan handuk kimono.
Kinasih perlahan membuka pintu, hanya kepalanya saja keluar, dia ragu takutnya siapa dan ternyata...
"Kamu sudah tahu nanti ada acara jam 07.00?"
Kinasih mengangguk.
"Oh. Dari siapa?"
"Kan, memang jadwalnya makan malam ya Mas? Dan saya nanti ikut menghidangkan makanannya."
"Bukan itu maksudku."
Kinasih mengernyitkan kening, tidak paham apa maksud Bagas. Kemudian Bagas mengatakan, selain nanti makan malam rutinitas seperti hari-hari sebelumnya, ada juga rapat keluarga dan Kinasih diminta ikut.
Kinasih cukup takut bila bergabung dengan semua keluarga besar, walaupun Kinasih sudah tahu karakter orang-orang di Wastu Hestama. Namun, tetap saja merasa minder atau takut salah berperilaku.
Terlebih Bagas memintanya ikut makan malam juga satu meja dengan mereka. Bagas mengatakan juga kepada Kinasih jangan khawatir jika ada yang mempertanyakan kamu gabung. Alasannya, karena ini Bagas yang meminta.
Nanti Bagas juga yang memberikan alasan kepada orang yang dituakan dan yang harus dihormati di sana. Yaitu Kanjeng Papi dan Kanjeng Mami. Awalnya Kinasih tetap ragu, dia tidak bisa mengatakan iya. Akan tetapi kalau mengatakan tidak juga kesannya tidak sopan menolak undangan
"Pokoknya nanti aku tunggu ya, tidak perlu menyiapkan apa pun, pokoknya kamu sudah ada di meja jangan telat."
"I-Iya, baik Mas," ucap Kinasih, badannya mulai panas dingin sudah membayangkan nanti bagaimana, saat satu meja makan dengan Mami dan Papi hestama.
__ADS_1
Begitulah seorang Kinasih yang sensitif dan overthinking, bahkan selama memilih pakaian pun dia bingung mau yang mana.
Tidak mungkin pakai celana, biasanya tidak sopan, itu pikirnya. Kalau pertemuan untuk formal biasanya menggunakan dress, itu menurutnya. Akan tetapi Kinasih hanya membawa dress dua saja dan dua-duanya lengan pendek, itu juga motif bunga dengan dasar kain berwarna krem dan satu lagi berwarna pink.
Warna-warna pastel memang cocok untuk kulit Kinasih yang putih bersih, alami pula.
Apa bedanya kulit putih alami atau putih karena tersentuh skin care yang lengkap? Menurut pengamatan, jika kulit putih bersih karena skin care biasanya terkesan kulitnya menipis dan sering terlihat ruam merah.
Namun, jika kulit alami terlebih yang putih, bisa terlihat enak dipandang, meskipun tidak begitu glowing tapi kesannya kulit segar tidak terlihat tipis.
***
Pukul 18: 30 petang, Kinasih ke dapur. Dia ingin membantu menyiapkan masakan. Pukul 19 kurang 15 masakan sudah dihidangkan di meja makan.
Kinasih juga membantu membawa beberapa makanan ke meja makan, dia sudah menggunakan pakaian yang direncanakan untuk ikut acara keluarga nanti setelah makan malam.
Namun, saat terakhir Kinasih akan menghidangkan makanan, Bagas melihatnya, dia baru keluar dari kamar.
"Aku bilang jangan membantu tugas pelayan," tegur Bagas, yang membuat Kinasih agak terlonjak kaget.
"Kenapa Mas Bagas? Aku bingung harus ngapain, jadi aku bantu di dapur."
"Pakai tidak suka saat makan ada aroma dapur. Ganti pakaianmu!" perintah Bagas.
"Emang seperti itu ya?" lirih Kinasih.
Kemudian Kinasih mencium pakaiannya, menarik baju bagian dada, lengan kanan dan kiri, tapi tidak bau menyengat dari dapur atau bau bumbu, bau rempah-rempah juga tidak seperti kemarin, bau bawang-bawang juga tidak.
"Tapi menurutku ini biasa aja Mas," Kinasih mencoba membela diri.
"Papi itu penciumannya tajam, kalau untuk di tempat makan dia pengen bener-bener tidak mau terganggu aroma apapun, kecuali aroma masakan itu sendiri.
"Ya sudah, aku mau ganti kalau begitu."
"Bentar bentar." Bagas menghentikan Kinasih yang hendak beranjak.
Bagas meraih tangan Kinasih, dia menarik Kinasih entah mau ke mana.
Saat Bagas menarik Kinasih, Estu keluar dari kamar akan menuju ke ruang makan. Namun, dari kejauhan melihat Kinasih ditarik oleh Bagas. Dia penasaran. Ada apa Kakaknya menarik istrinya seperti itu?
Bersambung....
Jangan lupa yang belum baca "Oh... Bunga lain CEO." Yuk Mampir!
thx 🤗**
__ADS_1