Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Mempertahankan Posisi


__ADS_3

Bab25


“Kalian?” Keken sedikit terperanjat, tapi terus saja berjalan menghampiri Kinasih.


"Kenapa Mba Keken?” tanya Kinasih, dia masih melakukan aktivitasnya bersama Estu.


Sebenarnya Keken sedikit risi melihat kegiatan yang dilakukan calon suaminya bersama wanita lain. Namun, bagaimana lagi. Selama yang dilihatnya bukan hal-hal yang berlebihan.


Terutama Keken adalah wanita yang modern, dia tidak akan serta merta cemburu buta hanya karena sesuatu hal yang belum pasti. Ya, meskipun perasaan wanita peka, tapi dia tahan saja, itu lebih baik.


Terlebih Keken selalu mendahulukan logika, berbeda dengan Kinasih yang sensitif dan overthinking.


Keken menjelaskan tentang buku yang dibawanya adalah beberapa hal yang harus diketahui di Wastu Hestama. Kenapa Keken memberikan buku aturan tersebut? Karena sudah seharusnya para pelayan mendapatkan semuanya, supaya tidak bolak-balik diajari atau ditegur kalau ada kesalahan.


Meskipun sebenarnya untuk Kinasih masih bingung. Akan ditempatkan sebagai apa? Keken belum tahu kemampuan Kinasih dalam hal apa.


Kinasih juga sedikit bingung untuk menerima buku itu, dia melihat kepada Estu, harus menerima atau tida. Akan tetapi memang lebih baik menerimanya. Jika tidak, malah akan lebih aneh, dia kan datang memang sebagai pelayan. Kenapa menolak?


"Baik mbak Keken, nanti saya pelajari," akhirnya, Kinasih menurut saja.


"Sayang. Ayo," ucap Keken sambil meraih tangan Estu yang masih dipegang oleh Kinasih.


Estu tidak bisa apa-apa, dia ikut saja saat Keken menariknya. Estu juga sempat menoleh kepada Kinasih yang terlihat kasihan. Kinasih terus memandang Estu pergi seperti dengan paksa.


Kinasih mengusap sudut matanya, ada sesuatu yang basah akan terjatuh di sana. Bulir bening yang masih sanggup ditahan. Kenapa rasanya sakit? Padahal ini sudah kesepakatan dan dia juga menerima.


Kinasih menarik nafas sambil mengusap dadanya, dia mencoba menahan sabar.


***


Di Kamar Estu.


"Mas... tadi lagi apa sih? Kenapa bareng Kinasih?" tanya Keken saat sudah berada di kamar Estu.


"Cuman kebetulan dipijitin aja."


"Memang nggak bisa ya manggil Kinasih keluar, di taman atau di mana gitu. Jangan di kamar seperti tadi," tegur Keken masih secara lembut.

__ADS_1


Ya, tadi Kinasih dan Estu segera mengubah posisi mereka, saat mendengar pintu diketuk. Yang tadinya mereka berpelukan, menjadi tangan Estu hang dipijit oleh Kinasih.


"Entahlah, aku masih bingung dengan diri sendiri. Jadi merasa seperti saat di kampung saja bersama Kinasih. Tidak sungkan lagi kalau bersama," ucap Estu tanpa mengindahkan apakah Keken tersakiti hatinya atau tidak.


"Aku paham Mas, mungkin karena saat sadar dari kecelakaan, yang pertama dilihat adalah keluarga Kinasih. Jadi Mas merasa mereka salah keluarga, lebih dari keluarga mungkin. karena sudah menyelamatkan jiwa Mas.


"Ya, mungkin seperti itu."


Estu juga merasa canggung mengobrol dengan Keken, jadi dia menjawab seperlunya dan menjelaskan sebagai dirinya yang baru. Bukan sebagai Estu calon suami Keken yang dulu selalu tegas.


Kemudian Keken menawarkan apa yang harus dilakukannya, agar bisa membuat Estu nyaman saat ini. Karena mungkin selama di kampung ada kebiasaan yang rutin Estu dapatkan, untuk membantu pemulihan dari amnesia.


Atau makanan apa yang harus dibuat Keken, agar Estu lebih sering meminta kepadanya daripada ke Kinasih. Pokoknya segala sesuatu Keken meminta diberitahukan, agar peran Kinasih nanti dirinya yang melakukan.


Karena tidak baik, Kinasih dan Estu terlalu dekat, sementara Estu sudah memiliki calon istri.


"Tidak, tidak ada yang harus aku inginkan darimu. Yang pasti saat aku merasakan sesuatu di kepala atau tubuh merasa ada yang aneh, Kinasih bisa mengatasi.


Keken memahami apa yang dikatakan Estu. Berarti Estu lebih nyaman mendapat perawatan oleh Kinasih. Jadi wajar kalau Estu tidak bisa menyebutkan apa yang harus dilakukan. Mungkin Kinasih berbuat seperti itu juga atas dasar dari nalurinya dan kebetulan cocok dengan yang Estu rasakan. Sehingga Estu jadi kebiasaan.


Keken pasrah. Untuk sementara memang tidak bisa dipaksakan, kemudian dia mengambil laptop milik Estu yang ada di lemari.


"Tidak! Nanti Mas lihat aja." Keken membuka laptopnya.


 


***


Pukul tiga lewat sedikit, Kanjeng Mami sudah bangun dari tidurnya. Dia langsung pergi mandi karena sebentar lagi akan menyambut suaminya pulang.


Kanjeng Papi memang selalu pulang tepat waktu, kalau tidak pukul 04.00 paling lebih sedikit.


Meskipun ada pekerjaan tambahan dia akan selalu pulang terlebih dahulu, setidaknya mengontrol keadaan rumah, itu sudah menjadi rutinitasnya jangan sampai gila kerja hingga di rumah hanya sekedar tidur saja.


Jika ada lembur malam, Papi akan mengerjakan di rumah atau jika ada meeting tambahan pasti tidak akan mengambil waktu terlalu sore. Atau bisa dilanjutkan nanti pukul tuju malam hingga Kanjeng Papi masih bisa pulang dulu.


Kanjeng Papi memang ingin menciptakan suasana rumah yang hangat, keluarga harmonis, sehingga jangan terlalu tidak tersentuh sekali oleh kepala keluarga di rumah.

__ADS_1


Maka semalam saat Estu baru pulang, Kanjeng Papi belum sempat bertemu, karena sedang di luar. Dan saat Kanjeng pulang, waktu sudah sangat larut.


***


Kinasih sedang memotong daun kuning atau daun mati dan kering pada tanaman hias, yang berjajar di teras kemudian disiramnya. Walaupun ada tukang kebun, tetapi untuk tanaman hias biasanya dilakukan oleh pelayan lain. Namun, kali ini diambil alih oleh Kinasih agar ada kegiatan.


Untuk tukang kebun sendiri mereka hanya mengerjakan rumput-rumput di halaman depan dan belakang, serta pohon-pohon yang berjejer rapi di samping rumah, agar terlihat asri.


Kemudian tukang kebun juga bertugas menata batu-batu taman dan ornamen lain agar taman tetap terlihat indah. Hal lain juga seperti mengecek kebersihan lampu taman agar tak terlihat kotor, hingga cahaya menjadi redup.


Terlihat sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam, berhenti di halaman rumah.


Kinasih menghentikan aktivitasnya, dia melihat siapa yang datang dari mobil jadul itu.


Ya, Kinasih kira itu adalah mobil jadul, karena bentuknya biasa aja. Kinasih tidak paham, padahal itu adalah mobil mewah, paling mahal.  


“Oh, ternyata Kanjeng Papi,” gumam Kinasih.


Kanjeng Papi turun dari mobil, kemudian melangkah menaiki tiga anak tangga untuk menuju rumah. Sementara Kinasih, di sudah tersenyum menyambut kedatangan Kanjeng Papi.


“Sore, Kinasih,” sapa Kanjeng Papi, berhenti sebentar hanya untuk tersenyum.


Kinasih jadi gugup, dia pikir Kanjeng Papi gak akan menyapanya. Refleks tangan Kinasih mengulur, akan menjabat tangan Papi Hestama.


Namun, siapa sangka, Papi Hestama menyambut uluran tangan Kinasih. Alhasil Kinasih mencium punggung tangan laki-laki sepuh itu dengan keningnya. Kinasih senang sekali, merasa diakui sebagai menantu.


“Lanjutkan, ya.” Papi Hestama menepuk pundak Kinasih.


Lagi-lagi Kinasih merasa senang. Seramah itu ternyata. Jauh dari sangkaannya yang selalu merasa takut kalau di dekat Papi Hestama.


Saat Kinasih akan melanjutkan merapikan tanaman, dia mendengar suara lembut wanita yang memanggil Papi Hestama.


Kinasih sedikit menengok ke dalam, ternyata Keken menyambut kepulangan Papi Hestama dengan begitu akrab. Keken memeluk Kanjeng Papi dan itu membuat Kinasih merasa iri.


'Oh ... jadi seperti itu. Maka kalau aku mendapat pelukan Kanjeng Papi, posisiku akan sejajar dengan Keken. Suatu saat aku harus mendapatkan pelukan itu,' batin Kinasih.


Kinasih terdorong rasa tidak ingin kehilangan Maruta yang pasti tidak ingin kehilangan posisinya sebagai istri Estu, dia harus bisa mengambil hati orang tua suaminya.

__ADS_1


 Bersambung....


__ADS_2