Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Ternyata Kemala


__ADS_3

Bab36


"Mending bantu aku dulu yuk! Nanti Saat siang pas kita kumpul-kumpul, aku akan cerita, deh."


Kinasih mengikuti aja apa kata Marni. Daripada terus mendesaknya dan Marni juga tidak akan menjawab desakan Kinasih, jadi lama dan buang waktu.


Akhirnya Kinasih ikut ke dapur menyiapkan untuk makan siang, tapi bukan memasak seluruhnya. Ini hanya menyisihkan beberapa bahan lalu disimpannya di lemari pendingin buat nanti diolah saat makan siang tiba. Nanti tinggal lanjut proses masak saja, tidak perlu meracik-racik lagi.


Tiba-tiba...


"Pagi! Selamat pagi!" terdengar suara teriakan dari arah ruang depan, para pelayan di sana tahu benar itu suara siapa.


"Kamu aja sana yang ke depan," pinta Lili pada salah satu pelayan yang paling junior, namanya Sarah. Pelayan ini memang baru gabung di Wastu Hestama sekitar enam bulan lalu, dia menggantikan ibunya yang sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaan lagi karena sudah cukup umur.


Sebenarnya beruntung menjadi bagian dari Wastu Hestama, meskipun hanya seorang pelayan. Karena saat mereka akan resign atau mengundurkan diri karena sakit atau keperluan lain, mereka bisa mencarikan pengganti, baik itu dari sanak saudaranya atau pun orang dekat lainnya yang memang membutuhkan pekerjaan.


Makanya Sarah Ini menggantikan ibunya, yang berarti ibunya Sarah adalah pelayan senior dan sekarang Sarah adalah pelayan termuda atau bisa dikatakan junior. Jadi dia harus lebih nurut pada pelayan senior di sana.


 


"Eh Mbak Kemala? Tumben datang nggak ngabarin?" tanya Sarah menyambut Kemala, keponakan dari Keken yang kini sekolah SMA di Jakarta.


"Apa kamu bilang? Mbak? Aku kan masih muda," ucap Kemala. Dia paling tidak suka disapa dengan sapaan yang lebih tua.


Padahal Mbak itu sapaan sopan, bukan hanya untuk usia yang lebih matang.


"Kaya baru tahu aja, emang yang lain gak pada ngingetin apa?


"Iya Non, Maaf bibi lupa." Sarah mengalah saja.


"Ya- ya -ya. Aku maklum, tenang aja. Kamu kan pelayan baru, belum terbiasa mengingat semua aturan rumah Ini kan?"


Sarah hanya mengangguk saja, dia sudah tahu karakter keponakannya Keken itu, tidak baik juga jika berdebat dengannya.


"Sekarang mau dibuatkan apa, Non"? Sarah sudah mengerti jika Kemala datang ke Wastu Hestama pagi-pagi, pasti ada sesuatu yang diinginkan, yaitu pesan makanan buat teman-temannya.


" Aku ingin dimasakin burger lima, aja terus salad buahnya juga lima, terus minumannya teh susu aja dua, sama moccacino tiga."


"Buat kapan Non?"

__ADS_1


"Em... tahun depan aja. Ergh ...! Ya buat sekarang lah! Aku mintanya sekarang, ya sekarang!" bentak Kemala, sampai mukanya merah karena membentak Sarah.


"Maksud saya Non, kan harus dibuat dulu. Soalnya di dapur sedang menyiapkan untuk makan siang, Jadi biar bisa diatur mana dulu yang dikerjain." Sarah tetap memberanikan diri buat menjelaskan, biar gak salah paham juga.


"Gitu aja pakai nanya. Ya, buat yang aku lah. Pokoknya buat yang aku dulu, makan siang kan nanti masih lama. Ini baru jam tujuh, udah repotnya minta ampun. Makan siang dikerjain sekarang kok dikerjain pagi."


Gerutu Kemala sambil ngeloyor pergi ke ruang keluarga. Ruangan itu adalah ruangan favorit Kemala. Karena di sana isa melihat tayangan dari TV LED segede tembok, udah kayak layar tancap aja.


Kemala akan memutar musik kesukaannya, yaitu K-Pop atau girl band dari Korea, yang diputar dari kanal YouTube yang sudah terdapat fiturnya di TV tersebut.


Sudah tak memiliki merasa malu, Kemala ikut-ikutan dance seperti idolanya di layar televisi itu.


Bukan masalah dance yang bikin gak punya malu, tapi rumah itu bukan rumah saudaranya, apalagi punya orang tuanya. Kemala diterima dengan baik di Wastu Hestama, karena Keken yang sebentar lagi jadi bagian dari keluarga Hestama.


Sehingga Kanjeng Papi dan Mami berlaku baik juga pada saudara - saudara Keken.


***


"Sekarang menunya apa katanya?" tanya Lili kepada Sarah yang sudah kembali ke dapur.


Lili langsung menanyakan menu pada Sarah, karena dia tahu jika Kemala datang ke rumah itu pasti hanya ingin dibuatkan makanan ala restoran atau makanan junk food seperti yang ada di swalayan.


Kemudian Sarah menyebutkan pesanan dari Kemala, tanpa berpikir panjang mereka langsung membuatnya. Lebih cepat justru lebih baik. Agar Kemala segera pergi dari rumah itu.


"Jadi Kemala itu siapa?" tanya Kinasih yang menyimak obrolan para pelayan menyebut nama Kemala dan pesanan, tapi Kinasih tidak paham.


Marni menjelaskan bahwa Kemala itu keponakan Keken yang ikut satu rumah dengan Keken, karena orang tua Kemala aslinya  berada di Jawa tengah.


Kenapa kok Kemala sampai ada di Jakarta? Karena untuk menemani Keken yang memiliki kegiatan di Jakarta. Keken bukan hanya kuliah, tapi memiliki usaha dan beberapa komunitas. Jadi Keken lebih sibuk di Jakarta daripada di Jawa, kampung halamannya.


Kebetulan hari ini juga orang tua Keken sedang ada di Jakarta. Namun, mereka tidak sempat berkunjung saat Estu pertama kali dibawa pulang setelah musibah itu.


Kata orang tuanya Keken, nanti aja sekalian syukuran. Karena mereka juga hari pertama istirahat terlebih dahulu, karena perjalanan jauh. Meskipun pergi dengan pesawat hanya sekitar dua sampai tiga jam saja, namun mereka sudah sepuh. Tidak bisa dibuat serba cepat untuk memenuhi segala aktivitas.


Hari kedua orang tua Keken ingin mengetahui aktivitas sang anak, kadang ikut ke tempat usahanya. Yaitu toko buku yang ada di daerah dekat taman kota. Iya, Keken memiliki tempat penyewaan buku. Meskipun bekas, akan tetapi itu bermanfaat sekali.


Karena tidak semua orang mampu membeli buku dengan harga lumayan menguras kantong, makanya Keken membuka usaha tersebut, tapi ada juga buku baru yang bisa diperjual belikan atau buku baru yang bisa disewakan.


Keluarga Keken memang suka sekali membaca, makanya orang tua Keken santai untuk menemui orang tua Estu, karena rencana mereka memang akan cukup lama di sana, sekitar dua minggu.

__ADS_1


Tapi karakter kakaknya Keken tidak turun pada Kemala, yang hobinya hanya bersenang-senang dengan teman-temannya.


Ya, Kemala adalah anak kedua dari kakaknya Keken.


Makanan telah siap sekitar 1 jam, semuanya cepat selesai karena bahan-bahan selalu tersedia, mereka tinggal memasaknya dengan cepat, begitupun juga dengan minuman yang tak kalah rasanya dengan buatan cafe-cafe ternama.


"Mbak Sarah biar aku bantu bawain ya," tawar Kinasih saat Sarah akan membawa beberapa kantong untuk diserahkan pada Kemala .


Sarah hanya mengangguk dan tersenyum pada Kinasih, lalu menyerahkan dua kantong kepada Kinasih dan tiga kantongnya lagi dia yang bawa.


Setelah sampai di ruang keluarga terlihat Kemala masih melakukan gerakan mengikuti idolanya, padahal Kemala seperti menyadari bahwa Sarah dan Kinasih datang ke sana. Namun...


Burgh!


Entah mengapa tiba-tiba Kemala seperti tersandung karpet lantai yang dia pijak, lalu jatuh menimpa Kinasih.


"Ih...! Ngapain sih kamu? Jadi jatuh deh!" tegur Kemala sambil dia berusaha berdiri.


Otomatis makanan yang Kinasih bawah jadi hancur, beserta minumannya juga tumpah.


"Udah tahu ada orang di di sini, malah jalan deket-deket. Kan bisa lewat sana. Ngapain lewat sini?" Kemala ketus, terus saja menyalahkan Kinasih.


Kali ini Kinasih yang menjadi bulan-bulanan si Kemala yang suka membolos itu, sebelumnya Sarah yang suka menjadi alasan Kemala tidak akan berangkat sekolah. Padahal drama itu dibuat sendiri, tapi orang lain yang menjadi penyebabnya.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, buat lagi. Jangan kelamaan! Udah siang mau sekolah," bentak Kemala.


Memang ada saja dramanya dan entah mengapa Keken sebagai tantenya Kemala seakan percaya saja, dengan alasan Kemala yang sudah terjadi beberapa kali itu.


"Kamu orang baru ya? Pantes aja nggak ngerti aturan rumah sini. Beresin cepet!" ketus Kemala sambil sedikit menendang gelas plastik tempat minuman yang saat ini tergeletak di atas karpet, karena tadi jatuh.


Kinasih buru-buru pergi ke dapur untuk membawa alat kebersihan. Dia tak ingin kena omel Kemala lagi, jantungnya merasa mau copot dibentak - bentak gitu.


"Ada apa Kinasih?" tanya Lili.


"I-itu, makanannya tumpah sama minumannya, terus kena karpet," ucap Kinasih merasa gugup.


"Nggak usah gugup, nanti Sarah bantuin. Pokoknya setelah ini beres kita cerita-cerita di belakang, biar nggak ada korban selanjutnya."


"Hah? Korban?"

__ADS_1


"Udah, beresin dulu aja sana. Biar cepet kelar." Kini Marni yang berbicara.


Bersambung.


__ADS_2