Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Masih Takut Kanjeng Mami


__ADS_3

Bab31


Saat pertemuan itu masih berlangsung, tiba-tiba sakit kepala Estu kambuh. Dia memegang kepalanya dan kini bersamaan dengan dadanya yang terasa sesak. Seluruh keluarga panik.


"Mas... Mas!" Kinasih berhambur mendekati suaminya.


Kanjeng Mami histeris, dia juga berhambur ke samping anaknya.


Kinasih dengan cekatan mengusap belakang kepala Estu dengan cara sedikit ditekan, agar ototnya tidak terlalu tegang dan peredaran darah sedikit lancar, untuk mengurangi rasa sakit dan stres yang dialami Estu.


"Mas Bagas, tolong ambilkan bantal," pinta Kinasih karena Estu akan direbahkan di sofa. Tidak bisa dibawa ke kamarnya terlebih dahulu, karena akan makan banyak waktu.


Kanjeng Papi memperhatikan Kinasih begitu cekatan dan tahu pertolongan pertama yang harus diberikan kepada putranya.


Setelah diberi lotion untuk penenang otot dan sedikit dipijat-pijat, serta aroma yang membuat Estu merasa lebih rileks, saat ini dia sudah agak tenang. Meski sedikit meringis karena masih terasa tekanan di kepalanya, seakan ditusuk-tusuk. Namun, sudah tidak seperti tadi sakitnya.


"Sepertinya Mas Estu belum minum obat, tadi setelah makan malam langsung ke sini," ucap Kinasih baru ingat.


"Oh iya, Mami sampai lupa." Kanjeng Mami Terus menghambur ke kamar Estu membawa obat.


Kinasih terus mengusap-ngusap Estu agar otot-ototnya tidak terlalu tegang, termasuk mengusap dada mengurut tangan-tangan. Setidaknya apa yang dilakukan pada Estu bukan untuk dipijat, namun hanya agar terasa rileks saja otot-ototnya yang tegang, tidak membuat stress dan sakit berlebihan pada tubuhnya.


Keken hanya bisa melihat tindakan pada calon suaminya yang sedang menderita, tapi dia tidak bisa apa-apa.


Kanjeng Mami sudah kembali membawa obat, dia menuangkan obat itu. Namun, susah untuk meminumnya karena dalam keadaan tidur dia belum bisa bangun.


"Biar sama saya aja Kanjeng Mami," ucap Kinasih, dia meminta satu gelas kosong dan air hangat di gelas yang lain.


Kinasih menuangkan obat yang sudah terlanjur ada pada sendok, yang dituangkan oleh Kanjeng Mami tadi. Lalu menaruhnya dalam gelas kosong, diberi air hangat sedikit karena itu adalah obat sirup. Namun, terlalu kental kalau Estu harus langsung menelannya dalam kondisi tegang Dan panik, karena sakit kepalanya.


Kemudian beberapa tablet yang lain juga dihancurkan dulu di gelas kosong, diberi beberapa sendok air lalu Kinasih meminumkannya pada Estu, satu sendok demi satu sendok. Walaupun sedikit yang penting masuk semua.

__ADS_1


Kanjeng Papi mencolek Kanjeng Mami agar memperhatikan apa yang dilakukan Kinasih pada anaknya.


Beberapa saat setelah minum obat, terlihat Estu lebih tenang, nafasnya mulai teratur. Meskipun masih memejamkan mata. Namun, sudah tidak terlihat meringis seperti orang kesakitan, hanya saja keringatnya sekarang keluar.


"Jadi bagaimana ini? Apakah Estu tidak menjadi parah?" tanya Kanjeng Papi.


"Menurut yang saya tahu tidak Pi. Waktu di kampung juga sering seperti ini, tapi setelah saya memberikan obat tepat waktu, tidak pernah kambuh lagi," papar Kinasih.


"Jadi makan obat pun harus teratur ya? Pastinya itu harus kan? Terlambat sedikit saja tidak bisa?" tanya Kanjeng Papi kembali.


"Tidak Pi, kalau biasa diberikan pukul Tuju, maka harus seperti itu diberikan esoknya juga dan untuk pagi siang juga harus di waktu yang sama." Kinasih kembali menjelaskan.


Kanjeng Mami dan Kanjeng Papi manggut-manggut, serta Keken memperhatikan dengan seksama, bagaimana cara mengurus calon suaminya nanti.


Sepertinya Estu sudah tenang, tadi Papi belum menyelesaikan membahas tentang keberadaan Kinasih.. Kanjeng Papi ingin melanjutkan diskusinya.


Kinasih melihat pada Bagas, tatapan matanya seperti pemohon agar jangan ada pembahasan lagi. Takutnya Estu tegang kembali, meskipun dia seperti sedang memejamkan matanya, tapi telinganya tetap mendengar.


Kanjeng Papi akhirnya mengerti, dia mengangguk-angguk dan mengakhiri pertemuan itu.


"Baik kalau gitu, Kinasih terima kasih sudah sigap memberi pertolongan pertama pada Estu, Papi akan kembali ke kamar ya. Mami yang akan menemani sampai estu benar-benar tidur dan nyaman," ucap Papi, setelah itu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Sementara Kanjeng Mami dan Kinasih tetap ada di sana sampai merasa tenang dengan keadaan Estu. Kemudian dua Security datang, mereka dipanggil oleh Bagas karena akan memindahkan Estu ke kamarnya.


"Bagas, besok sepertinya kita harus membeli kursi roda. Agar tidak kerepotan seperti ini kalau Estu tiba-tiba tidak berdaya lagi," sara Kanjeng Mami pada bagas, mereka berjalan ke kamar Estu mengikuti Keda Security yang menggotong Estu.


"Em, maaf Mi. Kalau saya saya mending tidak usah. Sayang kalau harus beli. Soalnya paling cuma terpakai sebentar." Dengan rasa takut, Kinasih memberanikan diri memberi saran.


"Kalau buat Mami, lebih sayang anak Mami harus digotong model gitu. Mending pake kursi roda, bisa juga buat jalan-jalan kalau Estu kelelahan. Udah deh, gak usah kasih saran-saran segala. Pemikiran kita yang mudah cari uang, beda dengan kamu." Kanjeng Mami jadi sewok.


Kinasih sempat merasa menyesal memberikan saran, padahal maksud dia baik, karena kejadian ini tidak akan terulang kalau tepat memberikan obat. Itu saja.

__ADS_1


Dan untuk kanjeng Mami, dia bukan jutek pada Kinasih atau gak suka. Cara dia bicara memang gitu, apa ada tanpa saringan, kaya sepolosnya anak memang. Tidak kasar, tapi ya ... begitulah. Apa yang ingin diucapkan pasti dikatakannya.


***


Pertemuan keluarga pun selesai dan malam itu juga Keken pamit untuk pulang ke rumahnya, karena di sana dia memang hanya untuk menyambut Estu, tidak baik juga terlalu lama berada di rumah calon suaminya, meskipun mereka sudah dekat.


"Hati-hati ya sayang. Besok kembali ke sini kalau tidak sibuk," ucap Mami Desi.


"Iya, Mi. Tentu saja, aku juga harus ada di samping Mas Estu, apalagi dalam keadaan seperti ini."


"Iya, kamu benar sayang. Hati-hati ya di jalan." Kanjeng Mami mengecup kening calon mantunya.


Kemudian Kanjeng Mami masuk ke kamar Estu, di sana masih ada Kinasih duduk di samping Estu yang sedang berbaring. Wanita berambut panjang itu, terus menggenggam tangan suaminya, diusapnya sampai benar-benar tertidur.


"Dia sudah tidur, ngapain kamu masih di sini?" bisik mami Desi menegur Kinasih, dia tidak ingin anaknya juga terbangun, makanya bicara dengan saura pelan.


Kinasih menatap Kanjeng Mami, dia ingin meminta untuk menemani Estu malam ini. Namun, sepertinya itu tidak mungkin di setujui oleh Kanjeng Mami.


"Kembali ke kamarmu, biarkan Estu, istirahat," bisik Kanjeng Mami lagi.


Kinasih bisa apa? Dia berdiri dari duduknya dan kembali ke kamar.


Sedangkan Kanjeng Mami malah naik ke tempat tidur, lalu merebahkan dirinya di samping Estu, dia ingin menemani anak bungsunya tidur, takut terjadi apa-apa nanti malam.


***


Kinasih sudah sampai di kamarnya, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Dan saat membuka ponselnya melihat ada beberapa panggilan dari Deswita dan dari nomor yang tidak dikenal, entah siapa.


 


 Bersambung....

__ADS_1


 


__ADS_2