Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Lumayan Bersuara Sedikit.


__ADS_3

Pawang 62


Keken melanjutkan mencuci pakaian milik Estu. Karakter Keken memang tidak begitu sensitif seperti Kinasih, makanya tadi Keken hanya mau foto bukti saja. Dia langsung bisa beraktifitas seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.


Setelah itu merapikan isi lemari Estu dan beberapa yang perlu dirapikan lagi. Karena pelayan terkadang tidak berani membuka lemari milik majikannya. Mereka paling merapikan benda-benda yang hanya di ruangan biasa saja. Untuk merapikan kamar para pelayan biasanya hanya yang terlihat saja yang disentuh.


***


Sementara itu Kinasih yang sedang membaca buku di ruang baca ketiduran. Sudah sejak beberapa menit yang lalu sebenarnya sudah menguap. Dan kini dia benar-benar tidak bisa mempertahankan matanya untuk terus membuka.


Kinasih tertidur dengan keadaan duduk, dia menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Kinasih tak berani tiduran di kursi meskipun itu adalah sofa berukuran panjang, cukup sebenarnya untuk rebahan. Namun, karena Kinasih menggunakan dress, dia takut saat tertidur terlalu nyenyak roknya tersingkap.


***


Kinasih mencoba memarut kelapa, membantu Mbak Marni akan membuat makanan yang harus menggunakan santan. Selain makanan untuk sayur, santan juga dibutuhkan untuk membuat kudapan seperti kue lapis dan untuk tabur kue lainnya.


Beberapa kali tangan Kinasih terpeleset, sehingga jarinya beberapa kali juga lecet. Kinasih sudah terbiasa menggunakan parutan gerhana seperti itu. Makanya dia bisa mengimbangi saat jarinya licin memegang buah kelapanya, tangannya tidak benar-benar tergores di alat parutan itu.


Kinasih heran, Kenapa di rumah orang kaya seperti itu masih saja menggunakan parutan alami. Bukankah kalau masak sayur masih banyak santan instan yang tinggal tuang. Lalu kalau membutuhkan parutan kelapa untuk hiasan kue atau campuran yang lainnya kan bisa memberi di pasar langsung jadi yang udah diparut


Terkadang Kinasih juga heran dengan orang kaya seperti itu, kadang terkesan menghambur-hambur uang, kalau irit kadang irit sekali seperti orang pelit.


"Aw."


Berkali-kali Kinasih berteriak lagi-lagi dia kepleset memegang kelapa yang sudah kecil itu. Sudah hal yang lumrah meskipun kelapanya sudah kecil tetap saja diparut,  Karena penasaran ingin sampai habis. Dan sayang juga sebenarnya kalau masih bisa diparut lalu dibuang.


Namun, alhasil jadi gini sih jadi beberapa kali lecet deh.


"Akh!"


Kali ini teriakan genasi begitu kencang, rupanya dia bukan karena tergores parutan saat kelapa yang diparut sudah sedikit. Namun, ada orang yang mengagetkan dia.


Seketika Kinasih langsung duduk dengan normal. Rupanya yang mengagetkan dia adalah Keken.


Ya, Kinasih memarut kelapa dalam mimpi. Bisa-bisanya mimpi memarut kelapa tidak ada yang lebih indah apa? Misal bertemu pangeran berkuda, bertemu miliarder masih muda, atau bertemu pangeran Arab.


"Kamu Kenapa kaget gitu? Mimpi ya?" Tanya Keken yang kini sudah duduk di samping kiri.


Keken menyangka bikin nasi mimpi bertemu setan atau dikejar penjahat, sebelum Kinasih menjawabnya kenken sudah banyak benar-benar Kak. Kok bisa tidur siang sampai mimpi. Karena kalau Keken tidur siang perasaan tidak pernah mimpi apalagi yang aneh-aneh


"Eh Mbak Keken ada apa?" Kinasih bertanya masih dengan mata berkedip-kedip.


Belum ngumpul nyawanya setelah tidur sangat lelap, meskipun sepertinya hanya sangat sebentar. Tapi biasanya tidur yang sebentar adalah justru tidur yang berkualitas.


"Aku hanya mau minta kamu tolong coba ini," ucapkan sambil menyodorkan satu buah benda yang selama ini justru sedang dibuat takut oleh Kinasih.

__ADS_1


Benda itu adalah cincin. Lebih tepatnya Kinasih sedang menakutkan cincin tunangan. Bukan cicinya yang dibuat takut, tapi momen besok malam yang dibuat takut jika sampai cincin dari Kanjeng Mami, melingkar di jari manis gini nasi.


Bisa-bisa berabe, nanti bakal susah untuk lepas dari kebohongan. Maksudnya nanti semakin sulit untuk mencari alasan kepada Kanjeng Mami, Bahwa Kinasi sudah memiliki pasangan.


Kinasih awalnya ragu untuk mencoba cincin emas putih yang ada permata di tengahnya. Kinasih tidak tahu bahwa itu adalah berlian.


Kenapa Keken yang membawanya? Karena Keken yang ditugaskan tadi oleh Kanjeng Mami untuk mencarikan cincin tunangan. Keken mengerti pasti itu buat generasi dan Mas Bagas.


Kenapa Kanjeng Mami juga meminta Keken yang mencari cincinnya? Kenapa nggak sendiri saja, Kinasih jadi semakin merasa tidak ada apa-apanya di Wastu Hestama.


Kanjeng Mami tidak bisa keluar karena mendapat ultimatum dari Kanjeng Papi. Akan tetapi anjing Mami tidak pernah kehabisan akal kalau dalam kesulitan, Kanjeng Mami Ma minta Keken untuk mencarikan cincin, tunangan, karena Kanjeng Mami percaya dengan selera Kekek.


Lagi pula menurut Kanjeng Mami Keken dan Kinasih tubuhnya nggak beda jauh, mungkin jarinya juga tidak akan beda jauh ukurannya, makanya Kanjeng Mami meminta Keken biar simple dan mudah. Selain itu agar Keken juga bisa melihat persiapan di rumah itu.


"Cukup, Mbak. Pas banget, malam. Saya suka," ucap Kinasih. Kenapa dia bilang suka bukannya dia takut kalau tunangan.


Kinasih terlalu berlebihan untuk memuji hasil usaha orang lain. Alhasil menjadi senjata makan tuan kan? Sebenarnya Kinasih ingin mengatakan penolakan, tapi kalau mengatakan cincinnya tidak cocok, modelnya bukan selera dia, tidak suka cincin emas putih. Namun, semua itu hanya tersangkut di tenggorokan. Tidak bisa diungkapkan begitu saja.


Akan tetapi, Kinasih menjadi teringat sesuatu saat dia ingin melepas cincin pemberian dari Keken.


"Ah, aku yakin bisa melakukan sandiwara itu. Pokoknya meskipun aku dengan Estu sedang perang dingin, kami tidak akan saling berkhianat. Aku yakin Mas Estu kayak gitu, kami hanya sedang saling egois dan saling manja saja.


"Baiklah kalau begitu aku akan simpan cincin ini untuk acara besok. Oh ya. kamu lagi belajar ya? Semangat ya!" Kinasih mendapat support yang sebenarnya membuat dia geli. Kenapa geli?


Ya karena kata-kata dukungan itu, dukungan untuk apa coba. Pertunangan ? Itu kan tidak mungkin. Tapi ya sudahlah Kinasih mengikuti skenario yang ada. Kalau nanti ada kesempatan untuk menerapkan cara agar dia tidak bisa menerima cincin tunangan itu, maka dia akan lakukan cara pertama. Tapi kalau cara pertama gagal, Kinasih yakin bahwa estus sekarang sedang memikirkannya bagaimana agar tidak terjadi pertunangan itu.


Awal-awal Kinasih baru sampai di wastuhestama, Kinasih seringkali matanya mengantuk kalau sudah siang. Namun, Kinasih tidak berani tidur karena takut ditegur oleh Kanjeng.


"Ah, tapi kalau sekarang aku ngantuk pas tengah hari, Aku akan tidur saja.. Masa iya Kanjeng Mami marah, "


Kinasih bergumam sambil mengembalikan buku yang barusan ia baca ke tempat semula.


Dulu dia serba takut melakukan sesuatu di Wastu Hestama kan karena belum tahu bagaimana karakter orang-orang di keluarga itu.


Kinasih keluar dari ruang baca, dia langsung menuju kamarnya untuk mandi sore. Namun, dia mencium aroma masakan yang sangat lezat. Yang tadinya harus belok ke kamarnya, bikin nasi lurus aja ke dapur. Dia penasaran dengan aroma itu.


Kinasih melihat Kanjeng Mami ada di dapur. Sedang menggunakan topi koki dan apron.


"Nah, ini yang aku heran. Jeng Mami bilang aku tidak boleh ke dapur, Bahkan aku yakin Mbak Keken juga tidak boleh melakukan pekerjaan dapur. Tapi kenapa Kanjeng Mami sendiri malah ikut memasak?"


Kinasih belum tahu aturan yang sebenarnya.


"Kanjeng Mami masak apa?" tanya Kinasih tiba-tiba ada di belakang Mami Desi, yang sedang menyiduk kuah pasakan yang akan dicicipinya.


"Eladalah, dalah!" Kanjeng Mami yang sedang meniup-niup kuah di sendok itu seketika terlonjak kaget. Hingga sendoknya jatuh ke dalam panci yang ada di depannya. Air kuah yang di dalam panci masih mendidih, karena api belum dimatikan.

__ADS_1


"Ya ampun Kinasih! kamu mengagetkan Mami saja." Kanjeng Mami menegur calon mantunya itu. Sambil tangannya menjewer telinga Kinasih, Namun, tidak kencang..


""Lagian Kanjeng Mami fokus banget masaknya. Mami bilang jangan ke dapur nanti bau, kalau melayani suami. nah ini Mami sendiri kenapa berada di dapur? ikut masak lagi."


Kinasih protes, mungkin lebih tepatnya hanya ingin cari tahu saja, kalau Kinasih merasa tidak paham dengan aturan Kanjeng Mami. Bisa juga Kinasih merasa tidak adil, karena masak itu menurut Kinasih adalah hobi. tapi di rumah ini malah dilarang.


"Eh .... dasar, anak tidak pernah fokus mamah diberi tahu." Lagi-lagi Kanjeng Mami menjewer telinga Kinasih. "Sini duduk.Biar Mami kasih pencerahan dulu," ucap Kanjeng Mami, sambil menarik Kinasih ke tempat duduk yang tengahnya meja. Iya itu adalah meja makan, tapi khusus untuk para pelayan termasuk sopir, tukang kebun, ataupun yang lainnya kalau bukan bagian dari keluarga Hestama.


Kanjeng Mami kemudian menjelaskan, kalau aturan di rumah itu untuk para istri muda atau calon istri memang tidak boleh menyentuh dapur terlebih dahulu. Karena untuk memberikan persembahan terbaik untuk suaminya.. Penampilan mereka harus selalu rapi dan wangi.


Kalau untuk seorang istri yang sudah lanjut usia seperti Kanjeng, Hasrat mereka dalam asmara juga sudah berkurang. Tapi bukan berarti boleh bau asap dan penampilan seadanya. Akan tetapi, usia rumah tangga seperti Kanjeng Mami dan Papi Hestama, yang terjalin bukan cinta lagi, tapi sayang.


Kalau pasangan muda cintanya masih menggebu-gebu. jadi harus saling menunjukkan kesempurnaan di depan pasangan masing-masing.


Tapi kalau usia pernikahan seperti Kanjeng Mami dan Papi Hestama, terkadang penampilan adalah nomor sekian. mereka akan mengutamakan rasa sayang.


Ya, rasa sayang. biasanya lebih erat daripada hanya sekedar cinta. Kalau sayang, bukan lagi sesuatu yang selalu menggunakan perasaan. maksudnya sudah tidak ada lagi overthinking, karena saling percaya. Sudah kurangnya cekcok hanya karena salah paham.


pernikahan usia tua biasanya semakin matang, semakin bisa saling mengiklaskan, tidak perlu terlalu dekat tapi kalau terlalu lama menjauh akan merasa sangat kehilangan.


itulah sayang, biasanya tidak melihat kekurangan atau perubahan pada diri kita. Karena sudah sayang Maka tidak rela untuk melukai. Saling mendukung apa pun risikonya.


"Oh gitu, Jadi dulu Kanjeng Mami baru nikah sama Papi, juga tidak ke dapur?"


Kinasih menanyakan sesuatu hal yang sudah jelas, dan itu Kanjeng Mami tidak suka. makanya respon Kanjeng Mami hanya menggelengkan kepala saja.


"Lalu saat Kanjeng Mami boleh memasak di usia pernikahan berapa tahun?" sekarang Kinasih pertanyaannya bukan karena ingin tahu, tapi lebih kepada kepo


Kanjeng Mami menjelaskan dulu pertama kali dia terjun ke dapur di usia pernikahan tahun ke-5, itu juga karena keadaan kepepet. Maksudnya waktu itu saat para pelayan sedang cuti hari raya besar, sehingga tidak ada yang memasak di rumah. Al-hasil Kanjeng Mami masak daripada anak-anak kelaparan.


Mungkin kalau orang dewasa bisa menahan lapar untuk esok hari. Namun, kalau ada anak kecil meskipun kita sudah memberi tahu, tetap aja tidak bisa menahan dan terdengar rengekan. Itulah awal mula Kanjeng Mami terjun ke dapur. untungnya sudah tidak asing lagi perihal masak atau bumbu-bumbu. Dulu Kanjeng Mami juga sama seperti Kinasih suruh belajar beberapa buku.


Makanya di awal sudah saya bilang bahwa Kanjeng Mami meskipun grafisnya sebagai ibu rumah tangga biasa, tapi ilmunya tidak kalah pintar dengan para pria yang kerja di kantor.


"Ya udah Kanjeng Mami aku mau mandi dulu, udah sore," Kinasih berpamitan kepada mertuanya. lalu dia beranjak menuju kamar.


Saat Kinasih keluar dari pintu dapur, Dia melihat Estu baru saja pulang dari kerjanya.. Hampir saja Kinasih melangkahkan kakinya menghampiri Estu untuk menyambut kedatangannya.


Ssesungguhnya Kinasih sangat malu Jangan sampai gerak-geriknya dilihat oleh Estu.


Kinasih yang sudah terlanjur melangkahkan satu kakinya,, Lalu pura-pura menuju ke vas bunga yang ada di pojok tembok Kinasih pura-pura mengelap-ngelap meja atau beberapa benda di sana.


"Ekhem.." Estu berdaham. entah apa maksudnya.


Yang pasti dengan dahaman Estu seakan meruntuhkan perang dunia gunung Es di hati.

__ADS_1


Entah kenapa Kinasi sangat senang lagi mendengar Estu bersuara.


Bersambung....


__ADS_2