
Bab33
Keesokan harinya Kinasih bangun tidak kesiangan. Namun, matanya pucat karena kurang tidur. Semalam dia mungkin memejamkan mata sekitar pukul dua belas, karena gelisah terus memikirkan apa kata Marni.
Kinasih langsung ke dapur. Dia membantu para pelayan di sana sebisanya. Soalnya memang belum ditentukan untuk Kinasih akan ditempatkan sebagai apa.
"Udah bangun Non?" kata Marni meledek Kinasih.
"Apaan sih Mbak?" ucap Kinasih, dia sungkan disapa seperti itu oleh Marni. Jadi ingat lagi tentang hal semalam. Apakah Marni memanggil Kinasih Non karena tahu dia istri dari Estu? Atau kah memang ledekan biasa. Kalau seseorang bangun kesiangan disindir dengan panggilan non atau tuan putri.
Kinasih pikir bangun pukul 04.30 adalah sudah termasuk pagi. Namun ternyata mereka bangun dari pukul tiga. Kenapa mereka bangun sangat dini sekali? Karena saat nanti majikannya bangun, keadaan rumah harus benar-benar nyaman dipandang dan masakan juga harus benar-benar siap saat sarapan.
Lagi pula jika masakan dimasak terburu-buru tidak enak rasanya, makanya dari pukul 03.00 mereka sudah bangun. Keadaan dapur pun harus selalu bersih, soalnya suatu waktu tuan rumah akan ke dapur dan tidak enak kalau suasana dapur berantakan, alat-alat masak atau lantai licin. Meskipun mereka pakai alas kaki di rumah.
***
"Kinasih! Kinasih...!" terdengar suara panggilan Kanjeng Mami dari kejauhan.
Kinasih lari menghampiri Kanjeng Mami.
"Iya Mami. Ada apa?" ucap Kinasih dengan nafas masih ngos-ngosan.
"Kamu sudah mandi? Bau asap masakan kayak gini," ucap Kanjeng Mami sambil menutup hidungnya.
"B-belum mami," jawab Kinasih. Mulai gugup kalau Kanjeng Mami bertanya.
"Kenapa? Tidak ada terkecuali di rumah ini, bangun harus langsung mandi. Baik itu yang akan melakukan pekerjaan kotor atau pun tidak, baik itu yang mau berangkat atau tidak, pagi-pagi harus mandi," tegas Kanjeng Mami.
"Iya Mami, maaf."
"Jadwal makan obat kapan?" tanya kanjeng Mami, dia tidak pernah lama kalau menegur satu hal. Cukup memberitahu sekali.
"N-nanti pukul 07.00 Mami. K- kalau siang pukul 01.00 dan malam pukul tujuh juga."
"Ya udah kembali, jangan lupa mandi dulu," ucap Kanjeng Mami kemudian pergi ke kamar Estu.
Kinasih kembali lagi ke kamar, dia tidak ke dapur karena takutnya seperti tadi dipanggil tiba-tiba malah tercium aroma yang tidak enak.
***
"Kamu sudah bangun, Nak?" ucap Kanjeng Mami saat memasuki kamar Estu.
Melihat anak bungsunya sudah duduk di tepi ranjang, dia sepertinya akan ke kamar mandi. Namun entah apa yang dirasakan, sehingga duduk sebentar, agak menunduk.
"Gimana keadaan sekarang, Nak? Baik?" tanya Kanjeng Mami.
__ADS_1
Estu pun mengangguk, dia hanya sedikit memegang tengkuknya. Sudah tidak terasa sakit. Mungkin saat ini hanya agak kaku saja karena baru bangun tidur.
Kanjeng Mami membuka gorden dan jendela kamar, agar udara bisa bebas masuk, kemudian mengusap kepala Estu, tengkuk, kemudian pundak agar sedikit membantu lebih rileks.
"Sekarang kamu siap ke kantor?" tanya Kanjeng Mami.
Estu menjawab dengan anggukan kembali, lalu Kanjeng Mami menyiapkan air hangat di bathtub untuk anaknya mandi, setelah itu kembali membantu Estu berdiri, takutnya masih terasa pusing.
"Kamu sudah tidak sakit kan, Nak? Atau untuk ke kantor ditunda dulu lagi?"
"Nggak apa Mi. Aku sudah kuat kok."
Estu beranjak ke kamar mandi, dia langsung menyalakan kran air dingin tanpa henti ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat. Karena dia tidak suka jika mandi dengan air hangat. Kran air terus menyala sampai suhu air pada bathub menjadi normal.
Estu hanya kambuh sakit kepala, dan terasa tegang saja. Sehingga saat sakit kepala itu hilang, badan Estu pun tidak pengaruh sebenarnya. Tetap sehat, tidak terganggu, makanya hari ini dia sanggup ke kantor.
Estu selesai mandi, terlihat pakaian kantor sudah disiapkan oleh Maminya. Sang Mami juga membantu untuk mengelap rambut Estu yang basah dan menyediakan beberapa skin care untuk dipakai Estu.
"Ini apa Mi?" tanya Estu.
"Ini skin care kamu. Nah, ini buat muka, ini buat badan atau buat kulit, namanya handbody. Sama saja seperti perempuan, hanya ini khusus pria dan ini parfum untuk pakaian, lalu deodorant. Meskipun seharian beraktivitas, kita tidak memiliki keringat berlebih."
"Emang harus ya Mi? Seperti perempuan pakai kayak gini?"
"Siapa bilang seperti perempuan? Mau laki-laki atau perempuan, merawat diri itu harus."
"Tapi, aku bisa pakai pakaian sendiri, Mi."
"Biar Mami bantu, takutnya kamu lupa dengan letak dan fungsi barang-barang di sini."
"Tapi ini aku jadi tidak bisa bergerak bebas, Mi. Aku sudah besar, mau pakai pakaian dalam dan mau melepas handuk susah."
"Estu... kamu santai aja, tenang. Dahulu juga Mami yang merawat kamu dari bayi, meskipun banyak pelayan dan baby sitter. Kenapa sekarang kamu jadi risi gini?"
"Tapi, sekarang aku udah gede, Mi."
Kanjeng Mami tidak bisa ditentang seakan menemukan bayinya yang hilang, dia tidak ingin jauh dari anak bungsunya itu Hingga Estu kalah debat.
Dia dibantu memakaikan pakaian oleh Kanjeng Mami, kecuali saat memakai pakaian dalam, Kanjeng Mami membelakangi anaknya.
Kemudian dari memakai jas, sabuk untuk celana, merapikan kemeja, Kanjeng Mami membantu hingga memakai dasi juga.
Persis seperti anak kecil yang akan berangkat sekolah. Setelah selesai memakai pakaian, Kanjeng Mami membawa tas kantor dan tas pinggang yang dulu di bawa Estu saat naik gunung. Belum sempat dibongkar, karena Kanjeng Mami saat itu meyakini Estu akan kembali. Dan biarkan pemiliknya sendiri yang membukanya.
"Nah, Estu. Ini tas pinggang kamu." Kanjeng Mami menyerahkan pada Estu yang kini duduk di tepi ranjang dengan pakaian sudah rapi dan wangi.
__ADS_1
"Aku ke kantor pakai tas pinggang, Mi?" tanya Estu, heran.
"Enggak dong. Maksud Mami, di sana itu banyak identitas kamu. Seperti dompet, ponsel dan beberapa kartu yang kamu miliki. Silakan kamu buka sendiri dan pindahkan ke tas kantormu atau senyaman kamu. Karena itu memang milikmu."
Selagi Estu membongkar tas pinggangnya, Mami merapikan tempat tidur, merapikan lemari pakaian karena bekas mengambil pakaian barusan, mengecek kamar mandi agar rapi kembali. Meskipun ada pelayan di sana, apa yang bisa dikerjakan Kanjeng Mami, tetap dia lakukan, apalagi kalau itu urusan pribadi.
"Nah, ini laptop kamu. Silakan buka, Mami kasih tunjuk di mana file dan beberapa folder tempat kamu bekerja bisa." Kanjeng Mami membimbing Estu, sebelum benar-benar pergi ke Kantor, Estu harus dibekali sedikit informasi, agar tidak terlalu lama menyesuaikan kembali.
Kanjeng Mami memang wanita rumahan, tapi sesekali dia mengerti tentang kantor kalau hanya dasar-dasarnya saja. Kanjeng Mami juga orang berpendidikan, makanya bisa mengoperasikan laptop dengan baik. Lagi pula saat ini juga bukan membahas tentang urusan kantor, tapi mengingatkan Estu di mana letak dia menyimpan beberapa file di laptopnya.
***
Sementara itu Kinasih sudah selesai mandi, dia kembali ke dapur sekitar pukul 05.30 dan ternyata masakan sudah hampir selesai.
"Biar aku bantu membawa ke meja makan ya, Mbak." Kinasih menawarkan bantuan pada Lily.
"Silakan Kinasih," ucap Lily yang sudah menaruh setiap masakan di dalam wadah, dengan tampilan ala chef profesional, terlihat makanannya makanan enak dan menarik, menggunakan plating yang keren.
Kinasih bolak-balik menyimpan makanan, lalu saat menyimpan ketig kalinya, sudah ada Bagas di sana.
"Eh, Mas Bagas. Ini aru jam 06.00 sudah mau sarapan?" tanya Kinasih.
"Ya, sambil melihat masakan yang indah-indah ini. Aku memang akan sarapan lebih pagi. Nanti pukul 06.30, karena ke kantor memang harus pagi," jawab Bagas, selalu dengan senyum ramahnya.
"Wah... bos yang sangat disiplin," puji Kinasih.
"Begitulah, atasan harus memberi contoh baik agar karyawan juga menjadi loyal ke perusahaan. Oh, ya. Kinasih, apa boleh aku minta sesuatu?"
"Mina apa Mas?"
"Aku ingin dibuatkan teh, dengan gula yang biasa aku minum. Nanti teh dan gulanya kamu tanya ke Marni atau Lily, ya."
Kinasih mengangguk, lalu kembali ke dapur.
Kinasih bertanya kepada Marni dan Liliy sebelum membuat tehnya. Ternyata tehnya ada di dalam toples dan harus di sharing saat diseduh. Ini bukan teh celup biasa, gulanya pun bukan gula pasir biasa, tapi seperti gula pasir dengan warna seperti gula merah dan ada aroma mintya.
Entahlah, Kinasih nggak tahu itu minuman orang kaya, bukan teh sembarang teh.
Kinasih kembali membawa secangkir teh untuk Bagas. Bertepatan saat Kinasih menyodorkan gelas itu pada Bagas, Estu yang baru keluar dari kamar melihat adegan tersebut.
Estu kembali tidak suka melihat Kinasih dan Bagas terlalu dekat, terlebih saat Bagas mengambil gelas di tangan Kinasih seperti sengajamenyentuh tangan istrinya itu.
"E.., eh! Pelan-pelan jalannya," seru Kanjeng Mami, saat baru berapa langkah dari kamar. Namun, Estu mempercepat langkahnya.
Tidak tahu ada hal apa hingga membuat Estu seperti memburu sesuatu.
__ADS_1
Bersambung....