Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Pemanasan Sejoli


__ADS_3

Bab 39


Tentu saja reaksi Kinasih juga  jadi kicep, dia malu sendiri dan tak enak berada di sana. Bukan merasa langsung sakit hati dan cemburu. Rasa cemburu dan tidak suka itu sudah pasti ada, saat suaminya di cium oleh wanita itu lain. Namun, rasa tidak enaknya lebih dulu muncul. Dia berada di tempat yang salah.


“Maaf ya, Kinasih. Aku suka nggak bisa nahan, kalau udah senang dan kebiasaan juga setiap mau pergi memberikan tanda di pipi Mas Estu.”


Keken merasa tidak enak, di depan orang dia mencium tunangannya. Walau tak salah, tapi mungkin dianggapnya dia adalah wanita yang agresif atau kata gaulnya bucin.


Padahal yang dilakukan Keken adalah reaksi dari seorang wanita yang lemah lembut, penyayang dan memunculkan sisi manja saat dekat pasangannya. Lagi pula saat Keken mencium Estu, itu dilakukan sangat cepat. Karena Keken juga masih punya rasa malu.


Hanya saja itu juga saran dari Kanjeng Mami, Keken harus memperlakukan Estu dengan manis. Jika Estu tidak bisa bersikap pada Keken, maka dia sendiri harus mendahului bersikap manis pada tunangannya. Agar Estu juga merasa terbiasa nantinya.


“Tidak apa Mba, Keken.” Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Kinasih.


Keken kemudian meninggalkan ruangan. Setelah Keken pergi, Estu langsung menatap tajam pada Kinasih. Jelas saja Kinasih menjadi kaget. Kenapa Estu seakan marah padanya?


Kinasih mengatakan apa, tapi tidak bersuara. Dia masih keheranan dengan sikap Estu yang tiba-tiba.


Kemudian Estu menepuk tempat duduk di sampingnya. Maksudnya agar Kinasih mendekat padanya.


Namun, entah Kinasih tak peka, pura-pura tidak paham maksud Estu atau memang polos. Kinasih tetap tak bergerak. Dia malah meraih gelas Estu, kemudian beranjak dari duduknya akan mengambil air minum pada dispenser.


Estu kesal, istrinya tidak peka. Lalu, saat Kinasih masih menuangkan air, tiba-tiba Estu berdiri di belakang Kinasih dan memeluknya. Tangan kekar Estu melingkar di perut Kinasih.


“Eh, Mas. Untung tidak tumpah airnya.” Kinasih terkejut. Seakan Estu menubruknya, karena dia memeluk dengan tiba-tiba.


“Ini kantor Mas, sebentar lagi...h.” Kinasih tidak bisa melanjutkan ucapannya, Karena Estu tiba-tiba menyerang leher Kinasih.


Hal ini adalah kegiatan paling jauh yang pernah Estu lakukan setelah mereka menikah.  Bahkan ciuman bibir saja hanya sekilas, bulan madu masih bisa ditahan, Estu masih menghargai Kinasih yang ingin statusnya diresmikan dulu sebagai bagian dari keluarga Hestama.


Estu paham, Kinasih memiliki harga diri dan aturan. Sebagai pria yang benar-benar mencintai pasangannya, Estu justru menghormati keputusan Kinasih. Bukan malah menunjukkan cinta dalam bentuk nafsu, seperti kebiasaan laki-laki brengsek kebanyakan, di luaran sana.


Kinasih merasa air dalam gelas sudah luber, karena dia terlalu terlena dengan perlakuan Estu.


Kinasih mematikan keran dispenser sebisanya. Namun, Estu juga menyadari, istrinya sudah dalam posisi bebas, tidak lagi menuang air. Sehingga Estu dengan cepat membalik Kinasih yang kini menjadi berhadapan dengannya.


Kinasih menatap lekat mata Estu, dia ingin bicara, tapi bingung. Seakan terhipnotis dengan tatapan Estu yang sangat dalam, dan deru nafas Estu yang terdengar. Membuat kinasih mematung.


Pundak Estu naik turun, seperti orang kelelahan. Kedua tangannya masih berada di pinggang Kinasih.

__ADS_1


Lalu Kinasih menyentuh kedua tangan Estu, perlahan akan melepaskannya karena takut ada seseorang masuk ke ruangan itu.


Namun, ...


Dengan sigap, Estu malah menarik pinggang istrinya lebih dekat padanya. Kini tak ada jarak antar mereka. Esti menyantap bibir Kinasih. Dia melakukannya perlahan. Agar dapat sama-sama menikmati, Estu tak ingin berbuat kasar, Estu tak ingin melakukannya dengan nafsu menggebu. Dia ingin memberikan cinta yang manis, mendamaikan dan hangat.


Dalam kegiatannya masih mengeksplor  bibir Kinasih. Estu melangkahkan kakinya perlahan, menjauh dari dispenser, hingga Kinasih pun ikut tergeser, walau kadang kakinya tersandung-sandung karena dia tak melihat dan melangkah mundur ikut jalur langkah dan dorongan tubuh Estu.


Kinasih tenggelam dalam buaian lembut bibir Estu. Tangannya yang jatuh pasrah, kini ia pindahkan mencengkeram kemeja bagian dada suaminya. Dan tangan satunya lagi menggenggam erat lengan Estu.


Permainan itu cukup lama, mereka mendapatkan ketenangan karena merasa sudah suami istri. Merasa itu bukan kesalahan dan nafsu yang dilanggar.


Namun, saat Estu kembali turun ingin menikmati bagian leher istrinya, Kinasih berkata. “Sudah Mas, cukup. Nanti ...”


Lagi-lagi Kinasih tak dapat melanjutkan ucapannya, dia merasa sedikit kesakitan, dengan refleks tangan mencengkeram pakaian punggung Estu. Karena suaminya itu sedikit menunduk. Walau Kinasih memilih tubuh tinggi, tapi tetap saja Estu harus merendahkan tubuhnya saat menikmati leher istrinya yang sudah menggodanya sejak makan malam, Kinasih berpenampilan lain dari biasanya.


Estu kembali akan menikmati bibir istrinya, tapi dari jendela terlihat Papinya datang menuju ruangan.


“Papi datang,” ucap Estu, dikecup sekilas bibir Kinasih dan masih sempat mengecup keningnya serta berkata, “Terima kasih.” Senyum Estu mengembang lembut.


Kinasih mengangguk dengan senyumannya pula, mereka dengan cepat merapikan pakaiannya masing-masing. Lalu Estu kembali ke meja kerjanya, tapi Kinasih bingung harus melakukan apa.


Karena dia melihat makanan Estu yang masih terambil sedikit, dengan cekatan Kinasih mengambil piring tersebut untuk diberikan pada Estu.


Estu pun dengan cepat paham maksud Kinasih. Dia dengan segera menerima suapan dari tangan istrinya.


Kanjeng Papi dan temannya masuk ruangan.


“Belum selesai makan?” tanya Kanjeng Papi.


“Belum Pi,” jawab Kinasih, sedangkan Estu fokus tatapannya ke layar laptop.


“Belum makan obat, dong?”


Kinasih menggeleng dengan sungkan, pasti ini akan menjadi pertanyaan lagi buat Kanjeng Papi. Karena, dia tahunya harus makan obat tepat waktu.


Benar saja, Kanjeng Papi melihat jam yang menempel pada dinding. “Ini pukul satu lewat,” ucap Kanjeng Papi.


“Tapi Estu sudah baikkan?” tanya Kanjeng Papi lagi.

__ADS_1


“Iya Pi. Soalnya tadi susah makan, kalau makan belum cukup, makan obat pun tidak akan baik reaksinya.” Kinasih mencoba menjelaskan. Agar Kanjeng Papi tidak curiga.


Bersyukur Kanjeng Papi percaya. Kemudian Kinasih melihat meja yang berantakan, dia menyimpan piringnya terlebih dahulu di meja dekat Estu. Kemudian bergegas merapikan meja yang satu set dengan sofa tersebut. Pastinya tempat itu akan digunakan oleh Kanjeng Papi dan temannya buat bekerja.


“Kinasih?” tanya Kanjeng Papi saat Kinasih berada di dekatnya, sedang merapikan meja.


Gerakan tangan Kinasih berhenti, “Ya, Kanjeng Papi?”


Kinasih sedikit kaget, juga terkejut. Merasa Kanjeng Papi memperhatikan dirinya. Kinasih jadi overthinking. Jangan-jangan Kanjeng Papi melihat perubahan pada wajah Kinasih. Apakah bibir Kinasih terlihat lebih tebal? Karena dicium Estu cukup lama? Atau wajah Kinasih kusut karena melakukan pemanasan hingga tak ingat penampilan?


Kinasih sungguh takut Kanjeng Papi menyadari hal itu.


“Kamu sudah makan?” tanya Kanjeng Papi.


Hah ... lega rasanya. Kanjeng Papi hanya bertanya perihal makan.


“B-belum,” ucap Kinasih singkat.


Kemudian Kanjeng Papi menyarankan agar Kinasih makan terlebih dahulu. Walau Kinasih bertugas melayani, tapi makan juga penting. Jangan lupakan perut sendiri hanya untuk mengisi perut orang lain.


“Iya Pi, setelah ini. Terima kasih.”


Kemudian Kinasih membawa barang yang ia rapikan dari atas meja. Dipindahkan pada meja dekat wastafel, untuk nanti dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya.


Wastafel itu berada di sudut ruangan paling belakang, dari arah pintu masuk ke kanan. Sedangkan meja kerja Estu ada di tengah dan sofa set ada di arah sebelah kiri dari pintu masuk.


Kemudian dispenser ada di sebelah kiri meja Estu, dekat dengan sofa. Sehingga tadi saat Estu dan Kinasih melakukan pemanasan, adegan mereka tak akan terlihat dari luar. Karena terhalang tembok yang menuju toilet. Hanya saja tetap bisa melihat ke luar. Karena kaca dinding yang begitu besar.


Kinasih selesai menyimpan perkakas di meja dekat wastafel, dia mencuci tangannya lalu merapikan rambutnya yang diikat satu, kini dibuka ikatannya dan kembali diikat lebih rapi.


“Hah?” Kinasih terkejut saat melihat tanda merah di lehernya. Untung tanda itu agak ke sebelah belakang leher dan agak bawah, sehingga bisa tertipu baju atau kerah. Tapi dia jadi tidak leluasa bergerak, takutnya kelihatan oleh yang lain.


Kinasih jadi ingat pada Kanjeng Papi. Jangan jangan tadi melihatnya?


Kinasih gugup, dia jadi tidak pede dan cemas.


“Ini kenapa?” tanya Kanjeng Papi.


Estu dan Kinasih serempak melihat apa kata Kanjeng Papi. Rupanya Papi Hestama melihat lantai di bawah dispenser basah.

__ADS_1


Estu dan Kinasih langsung bertatapan. Itu kan ....


Bersambung....


__ADS_2