
Kinasih yang melihat Estu tersedak, dia ingin membuatnya tenang. Namun, tidak bisa. Selain Estu yang terlihat dingin, saat ini ada Kanjeng Mami juga di sana. Yang selama ini memang harus menjaga kerahasiaan terlebih dahulu tentang hubungan mereka.
Tatapan mereka sempat beradu. Namun, sama-sama gugup dan menghindar. Terutama Kinasih kembali menunduk seakan fokus pada piring yang ada di depannya.
Kanjeng Mami memberi Estu minum air hangat dan semua kembali normal, sarapan pun selesai.
"Selamat pagi semuanya," tiba-tiba suara lembut dari perempuan yang akhir-akhir ini tak nampak, muncul saat pagi itu.
"Keken tumben datang pagi-pagi?" tanya Kanjeng Mami
.
Iya, keken memang jarang sekali datang pagi. Mungkin tak pernah, makanya saat itu Kanjeng Mami heran. Keken selalu sibuk dengan pekerjaannya dan pendidikannya.
Jika pun Keken akan berada di Wastu Hestama, dia akan datang sore hari atau menginap sehingga pagi-paginya bisa sarapan bareng.
Namun, tentu saja hal itu tidak sering ia lakukan. Sebagai keluarga yang memiliki aturan teguh pada norma kesopanan, Keken tetap menjaganya walau di sana adalah rumah tunangannya.
"Apa kabar Mas?" tanya Keken, dia langsung duduk di samping tunangannya.
Tidak lupa cipika-cipiki sebagai tanda mereka memang sudah saling memiliki, meskipun hanya secara status bukan secara hati. Status pun baru setengah, karena masih tunangan.
"Apa mami lupa? Hari ini aku akan ikut sama Mami, untuk mempersiapkan acara syukuran Estu," ucap Keken.
"Ya ampun ... Mami sampai lupa. Untung kamu datang. Kalau nggak, nanti mami bisa-bisa berangkat berdua saja dengan Kinasih."
"Oh. Kinasih ikut?" Wajah Keken terlihat semeringah.
Kinasih tak habis pikir dengan keken. Apa dia tidak punya rasa khawatir? Atau kepekaan pada Kinasih yang ada di tengah keluarga itu. Dan dia pernah tinggal bersama dengan Estu beberapa bulan. Apakah keken tidak merasa bahwa tunangannya takut akan diambil oleh Kinasih? Atau memang keken bukan tipe wanita pencemburu?
karena Keken merasa tidak terganggu dengan adanya Kinasih biasanya wanita kalau ada wanita baru di dekat pasangannya akan waspada terlihat biasa saja malah hangat dan ramah pada generasi.
Kinasih seringkali mencuri pandang pada Keken, dia memang sangat dewasa kelihatannya.
Makan pagi pun selesai, mereka berangkat bersama ke tujuan masing-masing dan kebetulan Estu keluar yang terakhir dan juga Kinasih.
"Tunggu sebentar Mas," ucap Kinasih menghentikan suaminya yang sudah hampir keluar pintu.
Estu diam saja saat dihentikan oleh Kinasih, dia tidak menolak atau pun memasang wajah manis seperti hari sebelumnya.
Kinasih mengecup kedua pipi Estu, "Selamat bekerja ya. Semangat!" ucap Kinasih lalu dia meraih tangan Estu dan menciumnya seperti biasa.
__ADS_1
Estu hanya mengangguk. Namun, dengan wajah yang masam, dia masih marah dengan Kinasih karena kejadian semalam.
Apakah Estu tak berpikir Kinasih lebih kesal? Sebenarnya tanda merahnya di leher yang hanya satu gara-gara kelakuan Estu di kantor, kini bertambah mungkin lebih dari dua. Sehingga Kinasih harus menggunakan syal dan itu sangat mengganggunya. Tidak nyaman untuk bergerak.
Mungkin, lebih tepatnya malu sebenarnya. Karena tidak mendukung dengan cuaca. Jadi Kinasih beralasan sakit. Kalau hanya karena cuaca dingin, padahal saat ini sedang cerah.
Andai Kinasih punya baju yang memiliki kerah tinggi, mungkin itulah yang akan dia pakai.
Estu sudah masuk ke dalam mobilnya, lalu terus melaju. Serta mobil Papi Hestama dan Bagas sudah terlebih dahulu meninggalkan halaman.
"Kamu lama banget sih, Kinasih. Nanti keburu siang. Belanjaan kita banyak, belum kita harus ke butik, ke salon," tegur Kanjeng Mami yang sudah menunggunya sejak tadi di mobil dan Kinasih malah baru datang.
"Maaf, Mi. Tadi ada yang ketinggalan," ucap Kinasih memberikan alasan kebohongan.
***
Sementara itu dalam mobil, Kanjeng Mami begitu ramai bicara dengan Keken. Kinasih tidak bisa ikut nimbrung karena merasa tidak paham apa yang mereka bicarakan. Meskipun sesekali membicarakan tentang acara pernikahan nanti, keken dengan Estu.
"Nah, nanti kalau pernikahan kalian dilaksanakan bareng bagaimana?" tanya Kanjeng Mami.
Keken merasa terkejut. Kenapa ada dua pernikahan? Dia lalu menanyakan kepada Kanjeng Mami tentang kebingungannya.
Kanjeng Mami kemudian menjelaskan bahwa Bagas dan Kinasih sedang pendekatan, mungkin mereka masih malu-malu. Kanjeng Mami berbicara hal seperti itu di depan orangnya langsung, seakan dia yang paling tahu apa yang terjadi pada Kinasih dan Bagas. Padahal Kinasih sendiri sangat menyayangkan Kanjeng Mami terlalu percaya diri.
"hehehe, iya Mi," ucap Kinasih hanya direspon seperti itu saja.
Sejatinya Kinasih memang bingung harus ikut nimbrung bagaimana. Kinasih tidak paham masalah pendidikan, pekerjaan atau apapun itu kebiasaan keluarha Hestama. Jelas tidak ada yang menarik pada diri Kinasih, dia tidak bisa mengimbangi wanita-wanita ningrat itu maka Lebih baik diam.
***
Estu sudah sampai di kantor, dia merasa gelisah bolak-balik dilihatnya ponsel. Sebenarnya dia rindu pada istrinya itu. Namun, dipaksakannya juga bekerja karena dia memang harus profesional. Logikanya harus berjalan, jangan hanya karena cinta lalu pekerjaannya terhambat.
Kali ini Papi hestama sudah tidak mendampingi Estu di kantor, karena sudah bisa ditinggal. Menurut Papi, ingatanan Estu hanya terganggu, bukan kehilangan kemampuan. Maka sekali didampingi akan langsung keluar skillnya yang tertutup. Karena hilang ingatan sementara.
Tok!
Tok!
"Masuk!" seru Estu.
"Hai! Nanti makan siang bareng, ya."
__ADS_1
Seorang pria berwajah tampan, kulitnya lebih terang dari Estu, langsung mengajak istirahat bersama, pada adiknya.
Ya, itu adalah Bagas. Sedang melakukan kunjungan, sekalian menyerahkan berkas kepada tim audit pusat, karena perusahaan yang dipimpin adiknya adalah pusat dari kantor milik Hestama.
Kita sudah tahu, kenapa Estu yang dipercayakan untuk memimpin kantor pusat, daripada Bagas.
Bukan Papi hestama pilih kasih. Namun, itu juga atas persetujuan Bagas. Karena Estu berpendidikan tinggi, meskipun kemampuan Bagas tidak kalah. Namun, untuk membuat lebih dihargai keberadaan perusahaan itu, dilihat dari pemimpinnya. Yang berpendidikan dan memiliki kemampuan yang kompeten.
"Bukannya kakak mau ngejemput calon istri Kakak?" ucap Estu dengan nada yang ketus.
"Marah-marah aja, nih. Bagas tak menggubris sikap masam adiknya, dia duduk di depan meja Estu."
Bagas memberi pengertian pada adiknya, bahwa semuanya harus dibuat santai. Kenapa harus terpancing dengan hebohnya Kanjeng Mami yang menginginkan Kinasih untuk menjadi mantu, yaitu sebagai istrinya Bagas.
Estu yang sedang sibuk fokus pada layar laptopnya, tidak masalah, Bagas tetap berbicara karena yakin pasti didengar oleh adiknya.
Bagas memiliki pemikiran, bukankah sikap Kanjeng Mami justru menguntungkan bagi mereka. Yaitu pasangan Estu dan Kinasih. meskipun awal-awal Kanjeng Mami salah paham, setidaknya Kanjeng Mami sudah pendekatan dengan Kinasih dan tahu karakter Kinasih seperti apa.
"Itu, kan menurut Kakak. Nanti Kanjeng Mami kecewa. Jika ternyata merasa dibohongi," ucap Estu.
"Bukankah kita tidak ada yang membohongi? Siapa yang membohongi?"
"Iya, kita memang tidak membohongi, tetapi kenapa Kakak diam saja meskipun tidak mengatakan bahwa Kinasih itu istriku. Tapi bisa bilang bahwa Kakak tidak ada rasa pada Kinasih. Kan bisa?"
Bagas hanya tertawa, dia semakin suka melihat adiknya yang bermuka masam itu. Dulu Bagas sangat tidak peduli pada wanita, bahkan pada Keken sekalipun sering diabaikan.
Meskipun saat ini pada Keken masih tetap saja dingin, tapi sudah jauh lebih baik, dia masih bisa mengajak bicara. Mungkin karena memang karakternya sudah berubah, jadi tidak begitu dingin pada wanita. Beda lagi Kalau pada Kinasih, Estu sudah pasti akan luluh karena memang istrinya.
"Ayo nggak usah kayak anak kecil, gitu. Justru kalau aku tidak menjemput Kinasih, Mami bakal tahu bahwa aku tak peduli."
Estu hanya melirik kakaknya, dia tidak mengiyakan atau.pun menolak. Namun, Bagas tetap berdiam di tempat duduknya karena yakin adiknya pasti menyetujui ajakannya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Kali ini Bagas bersuara pada seseorang yang mengetuk pintu itu, untuk masuk.
Estu mengerutkan kening saat seorang gadis dengan berpakaian putih abu masuk ke ruangannya. Ada perlu apa dia?
__ADS_1
Bersambung....