
Bab43
"Udah Pi, ceritanya anti di rumah aja. Biar mami cepet beres, ini."
"Ya udah, berarti Kinasih masih bersama Mami, ya?"
"Iya, dia masih bersamaku."
Kanjeng Papi menutup teleponnya, lalu menyampaikan pada Bagas dan Estu bahwa Kinasih masih bersama Kanjeng Mami di salon.
Kanjeng Papi meminta Bagas dan Estu untuk bersiap makan malam, karena mereka baru pulang sehingga harus beristirahat sejenak, kemudian membersihkan diri. Pasti waktu tak terasa menuju malam.
"Tapi Pi, yang dibahas menantu oleh Mami siapa?" tanya Estu.
"Papi nggak tahu. Kata Mami nanti aja di rumah."
Estu dan Bagas terdiam, mereka lagi-lagi saling memandang. Pemikiran mereka apakah sama yaitu menganggap Kanjeng Mami tahu bahwa Kinasih adalah istrinya Estu?
Mereka akhirnya saling mengendikan bahu, lalu pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak, sebelum mereka berkumpul kembali untuk makan malam.
Ponsel Estu, berbunyi saat dia sudah sampai kamar dan itu adalah dari Keken.
"Udah pulang Mas?" isi pesan dari Keken.
Estu merasa tidak berkewajiban membalas pesan dari Keken maka dia mengabaikan dan hanya melihat Pesan itu dari pemberitahuan, tidak dibuka sama sekali chatnya.
***
"Akhirnya kuku Mami cantik juga, sudah risi rasanya berasa berat kalau jari-jariku belum dirawat," ucap Kanjeng Mami setelah selesai pedicure manicure.
Dia kemudian ke ruangan Kinasih, Kanjeng Mami sudah hafal di mana ruangan-ruangan untuk message, untuk perawatan wajah, botox, suntik vitamin dan lainnya. Karena Kanjeng Mami sudah langganan di salon itu semenjak dia baru pindah ke Jakarta, sekitar 20 tahun lalu.
Ya, Kanjeng Mami dan Kanjeng Papi pindah ke Jakarta saat usia Estu dan Bagas lima dan tuju tahun. Pertama kali menemukan salon itu direkomendasikan oleh adiknya, yang sudah lebih lama tinggal di Jakarta. Sehingga sampai sekarang salon itu menjadi langganan untuk menunjang penampilan Kanjeng Mami. Yang memang sangat membutuhkan perawatan sebagai seseorang berdarah biru, yang harus menjaga penampilannya terlihat menarik dan nyaman dipandang.
"Kinasih udah selesai belum?" ucap Kanjeng Mami saat memasuki ruangan yang ditempati Kinasih untuk perawatan.
"Sudah Mi, sebentar lagi tinggal nbersihin doang." Ses Jennie yang merespons.
__ADS_1
"Kalau bukan karena calon mantu, nggak bakalan Mami nungguin gini," ucap Kanjeng Mami sepolos itu. Kalau dia bicara menyakitkan, tapi tidak menyebalkan.
Kanjeng Mami sepertinya tertarik memperhatikan Jennie yang dengan lincahnya jari jemari mengusap wajah Kinasih. Sangat lihai sekali membersihkan sudut hidung, sudut mata takut tercolok karena begitu lincah dan cepat.
"Kinasih jangan tidur," ucap Kanjeng Mami komen seenaknya.
Karena melihat Kinasih yang sepertinya memejamkan mata dengan penuh kenikmatan. Bahkan Kanjeng Mami datang pun Kinasih tak merespon apa pun seperti benar-benar sedang tidur.
"Gimana enakan kalau perawatan, Kinasih?" tanya Kanjeng Mami.
Namun, hening tidak ada jawaban dari Kinasih.
"Yah ... tidur, aku bilang jangan tidur. Sebentar lagi kita pulang."
Kanjeng Mami yang bawel terus mengomentari Kinasih yang sedang perawatan. Dibilangnya harus rutin besok ke sini lagi, kalau sudah perawatan harus bisa melayani anaknya Kanjeng Mami dengan baik. Jangan menjadi wanita yang mau sana-sini. Harus lebih menjaga image setelah menjadi salah satu anggota keluarga Hestama dan semua orang tidak perlu direspon oleh Kinasih. Pilih-pilih dalam bergaul.
"Ah, dasar gadis desa. Baru perawatan segitu udah terlelap, tapi bisa bangun lagi kan Jennie?" tanya Kanjeng Mami mengucapkan pertanyaan yang sungguh di luar dugaan.
"Udah Kanjeng Mami, selesai. Lihat makin kinclong kan mantunya?" ucap Jennie merasa bangga karena kemahirannya membuat mahakarya yang menakjubkan.
Kinasih bangun dari tidurnya. Dia merasakan perbedaan dari wajahnya. Disentuhnya perlahan wajah yang terasa halus, ringan dan berpengaruh pada penglihatan lebih terang. Serta percaya dirinya seakan muncul, hanya sekedar perawatan wajah oleh seorang jennie.
"Bagaimana? Udah tidurnya?" tanya Kanjeng Mami pada Kinasih yang masih meraba wajahnya, yang merasa seakan mendapat wajah baru.
"Kenapa pertanyaan Mami tidak selalu dijawab? Apa sekarang Kamu masih tidur dalam keadaan duduk begini?" ucap Kanjeng Mami, sungguh seperti seorang ibu yang rewel.
"Mami, tadi aku tidak bisa menjawab karena tangan Jennie bergerak di wajahku terus," ucap Kinasih, polos.
"Jadi hanya karena itu? Padahal bisa loh sambil bicara. Haduh...," Kanjeng Mami heran. Bisa-bisanya perawatan wajah malah tegang.
"Hehe, saya pikir tidak boleh. Karena takut mengganggu. Jadi wajahku harus dalam keadaan tenang saat dipijat-pijat." Kinasih membeli diri. Dia hanya tidak ingin, menjadi berantakan saat perawatan tadi, kalau sambil bicara.
Jennie tertawa seketika, "Hahaha dasar kamu ya, bikin aku geli. Hey ses, kalau lagi perawatan dan mau ngomong, ya tinggal ngomong aja. Kecuali lagi pakai masker. Eh, tapi kalau lagi pakai masker juga bebas ngomong, biasanya hanya takut retak doang."
"Aku kan belum tahu apa-apa ses Jennie." Kianasih nasisa membela diri.
"Ya udah, udah. Ayo pulang! Kanjeng udah nunggu. Sebentar lagi pukul tujuh," ucap Kanjeng Mami.
__ADS_1
Kinasih paham apa yang diucapkan oleh Kanjeng Mami, mereka harus makan malam bersama karena itu harus bergegas.
Saat di perjalanan menuju pulang, Kanjeng Mami tak hentinya bicara untuk menasehati Kinasih menjadi menantu yang baik. Nanti kapan-kapan Kanjeng Mami akan membawa Kinasih lagi untuk menyesuaikan pakaiannya Jangan hanya sekedar Levi’s dan kaos dress bunga-bunga. Kinasih akan diajak Shopping.
Kinasih masjid tak habis pikir, kenapa Kanjeng Mami selalu membahas tentang mantu akhir-akhir ini?
Sesampainya di rumah, Kinasih diperintahkan oleh Kanjeng Mami untuk segera mandi dan Nanti ditunggu pukul tuju di meja makan.
Kinasih menurut saja apa kata Maminya, dia tidak menyangka akan sampai sejauh ini dan dekat dengan Kanjeng Mami. Beberapa hari sebelumnya dia sangat takut, keberadaannya tidak akan dipedulikan di rumah itu.
Namun Kinasih tidak langsung pergi ke kamar mandi, dia pergi ke dapur menagih janji Marni.
"Mbak Marni, ayo," ucap Kinasihi menarik tangan Marni yang sedang mengiris bahan-bahan untuk makanan.
Kinasih tak peduli lage,i kalau nanti para pelayan tidak suka pada dirinya atau marah karena mengganggu Marni yang sedang bekerja. Daripada Kinasih merasa terganggu dengan janji Marni yang akan mengatakan suatu hal hari ini, gak jadi terus. Maka Kinasih memaksa Marni, takut ada gangguan lagi jika tidak segera untuk mengatakan.
"Apa sih Kinasih? Aku lagi masak," ucap Marni sambil sedikit berlari jalannya. Karena ditarik oleh Kinasih.
Kinasih tidak menjawab, dia terus berjalan menuju Gazebo belakang, tanpa melepas tarikan tangannya pada Marni.
"Nah, sekarang kita udah ada di taman belakang. Kan janji Mbak Marni akan mengatakan tentang yang Mbak Marni katakan ke Kanjeng Mami di sini. Ayo katakan jangan alasan lagi."
"Siapa yang beralasan? Kan emang benar tadinya siang mau aku sampaikan, tapi kamunya nggak ada. Terus sekarang aku lagi masak. Kan beneran emang lagi masak.".
"Tinggal mengatakan, cepat... Apa susahnya sih Mbak? Nanti kalau aku telat datang untuk makan malam, Mbak mari juga loh yang kena imbasnya. Aku akan alasan Mbak Marni yang menghambat aku."
"Eh, nanti malam kamu ikut makan malam lagi? Wah ... Ada kemajuan nih. Berarti kamu udah diakui di keluarga ini." Marni malah membahas hal lain, bukan yang Kinasih maksud.
Maksudnya Marni adalah, dia pikir Kinasih di ajak makan malam kemarin karena hanya untuk menentukan statusnya di rumah ini, karena itu harus diketahui oleh Kinasih diskusi mereka. Namun, hari ini Kinasih ditunggunya juga. Berarti sudah ada sesuatu yang spesial untuk Kinasih.
"Aku hanya ikut aja apa mau mereka, Mbak Disuruh ikut makan malam, ya ikut. Disuruh ke sana, kemari, ya ikut juga. Disuruh ngapain aja, ya ikut. Aku jug tahu diri Mbak.
"Ya udah, kalau gitu aku lanjut masak dulu ya Satu jam itu bukan waktu yang lama untuk masak. Nanti tak terasa tiba-tiba sudah kumpul aja mereka."
"Ih... mau kabur lagi ya? Tinggal ngomong aja sih. Memang akan sebanyak apa bahasan yang akan disampaikan Mbak Marni? Gemes aku deh Mbak."
__ADS_1
Bersambung....