Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Pertunangan Salah Pasangan


__ADS_3

Pawang 59


"Lusa, kan ada acara syukuran di wastu Hestama, aku ikut ya ... plisss." Kemala menakutkan kedua tangannya di depan dada, dia merayu sang tante agar dirinya diajak.


Keket mengurutkan keningnya, heran dengan sikap keponakannya sampai merajuk seperti itu. Tumben sekali, seperti ada sesuatu yang spesial di sana. Atau yang menyenangkan, acara seru, seakan benar-benar menarik acara syukuran nanti. Setahuku Keken keponakannya itu tidak suka acara keluarga. Katanya membosankan, yang dibahas hanya itu-itu saja.


"Tumben," tanya Keken singkat, dengan wajah tak acuhnya


"Ingin aja Tante, sesekali ikut acara keluarga," jawab Kemala. Masih merengek dengan kedua tangan masih menangkup di depan dadanya.


Wajah membalas Kemala tidak membuat hati Keken terenyuh. Malah Keken merasa ingin tertawa. Tidak cocok wajah Kemala memainkan wajah yang sedih dan minta dikasihani.


"Kenapa Tante malam ketawa? Ih ... orang sungguh-sungguh juga besok pengen ikut." Kemala kesal, karena Tantenya malah mesem seakan meledak.


"Em ... kalau Tante gak mau ajak kamu, bagaimana?" tanya Keken, ingin sedikit mempermainkan keponakannya itu.


"Yah ... Tante... plis Tan... Nanti aku nekad loh," ucap Kemala sepert bernada ancaman.


"Siapa takut, nekat aja. Paling nanti kena egur Mbah Kakung dan Mbah Uti, we ...." Keken malah sengaja.meledek ponakannya itu.


Mbah Kakung atau Mbah Uti adalah panggilan untuk orang tuanya Keken, jika disebut oleh cucu. Mbah adalah bahasa Jawa, yang artinya sebutan untuk seseorang yang sudah tua. Kalau kakung artinya laki-laki dan Uti adalah sebutan dari Putri atau perempuan. Jadi Mbah Uti itu adalah nenek perempuan.


Sebagian orang Jawa seringkali menyebut kakek dan neneknya dengan sapaan Mbah Kakung dan Mbah Uti. Bisa juga yang Kakung dan eyang Uti. Yang pasti kakung dan Uti adalah keterangan untuk laki-laki dan perempuan.


"Pokoknya sebelum aku dapat jawaban tante nggak bisa masuk kamar, gak bisa istirahat." Kemala sekarang memaksa, dan mengultimatum tidak akan membiarkan Keken untuk beristirahat malam ini.


"Yeyy, bisanya main ancam," ucap Keken sedikit mencubit pipi keponakannya itu.


"Tante sih... gak bisa gerdcel jawabnya. Padahal apa susahnya tinggal jawab, Ya dan Tidak "


Keken pura-pura berpikir, dia menaruh jari telunjuknya di dagu dengan kepala sedikit menengadah. Jari telunjuknya dikira-kirakan seperti orang mengetuk-ngetuk di. "Em ... Ijinin gak ya?" ,


Keken masih belum puas mempermainkan keponakannya. Kemala sudah tak sabar lagi, dia menggoyang-goyangkan paha tantenya. "Ayo Tant... Buruan ih. Gitu doang lama banget."


"Enggak deh kayanya ya, kamu takut bikin onar di sana." Keken memutuskan untuk tidak mengajak Kemala.


Seketika Kemala merengek lagi, dia sedikit banget kakinya.


"Kalau gitu aku nggak mau beres-beres rumah tadi, di dapur sudah beres, setrikaan sudah beres, bukannya dihargai kek keponakannya sudah rajin. Ketimbang ikut doang apa susahnya. Emang aku bikin onar apa coba, Emang aku berandal bisa bikin keributan apalagi di rumah orang."

__ADS_1


Kemala terus mengoceh. Dia menyesali apa yang sudah dilakukannya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga bisa menjaga rumah dengan baik, membantu urusan pekerjaan rumah tangga. Namun sayangnya Kemala pamrih, Keken tahu itu. Makanya dia sengaja untuk mengerjai keponakannya.


"Ah ... kalau gitu aku acak-acakan lagi deh, bajunya. Piring, gelas aku kotorin lagi. Percuma!" Suruh ke Mala dengan bibirnya yang masih maju 5 cm karena menggerutu,


Saat gerutunya yang terakhir, Kemala sambil beranjak dari duduknya. Sepertinya dia berniat akan menghancurkan lagi hasil kerjanya.


Kekn tiba-tiba....


"E ... Eh ....!" Keken berdiri seketika lalu mengejar langkah Kemala.


Setelah dapat, Keken menarik tangan Kemala untuk kembali duduk. Menghadapi gadis ini memang harus penuh dengan kesabaran. Masa iya sih pekerjaan yang sudah rapi mau diacak-acak lagi, kurang kerjaan sekali.


"Nagapain kamu? Kaya anak kecil aja." Keken menepuk kening Kemala perlahan. Keken gemas dengan kelakuan bocil sang ponakan.


"Habisnya ...," gerutu Kenala. Dia masih kesal oada Tantenya.


"Iya deh, iya. Kamu diajak, kok," ucap Keken, akhirnya kalimat yang ditunggu Kemala dari tadi, keluar juga dari mulut sang Tante.


Dengan girang Kemala langsung memeluk tantenya. Malah sangat berlebihan, dia sampai mencium kedua pipi tantenya. Dengan mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Lagian, kalau kamu gak di ajak, di sini sama siapa? Acara sampai malam loh. Mbah Uti dan Mbah Kakung juga ikut. Seringkali Tante juga ajak kamu ke acara mekiari, kamunya aja yang sering gak mau." Keken menambahkan, sebenarnya tanpa diminta pun Kemala pasti diajak.


"Jadi, sebenarnya aku pasti diajak, Tant? Tanpa harus setrika baju segitu banyaknya dan membereskan cucian kotor di dapur?" Bola mata Kemala hampir copot, dia membelalak saking terkejutnya.


Namun, usaha sia-sia yang sekarang adalah ternyata Kemala tidak harus meringankan pekerjaan rumah tetap diajak juga. Tau gitu dia dari tadi mending santai-santai aja di kamar dengan smartphone-nya.


"Ah ... Tante bikin kesel deh. Tahu gitu aku dari tadi santai aja di kamar. Perawatan, huh." Lagi-lagi Kemala menggerutu.


"Apa sih? Serba salah deh. Ibadah tahu, udah ngerjain pekerjaan rumah. Udah ah, Tante mau istirahat." Keken sekali lagi menepuk kening keponakannya itu.


. Namun, baru saja Keken beberapa langkah akan ke kamarnya, dia menoleh ke arah Kemala. Merasa keponakannya itu beranjak dari tempat duduknya, dan mungkin akan melakukan sesuatu.


"Awas aja kalau pekerjaannya kamu acak-acak lagi. Tante hukum gak bisa ikut ke acara besok dan di rumah sendiri." Keken memberi ancaman kepada keponakannya sebelum dia masuk ke kamar.


"Iyaaa....!" seru Kemala sedikit berteriak.


Padahal Kemala hanya ingin mengambil ponselnya yang berada di sebelah lipatan baju yang sudah disetrika. Karena dia juga akan beranjak tidur.


Keken berjalan ke kamarnya sambil tertawa geli, puas sekali malam ini sudah mengerjai sang keponakan.

__ADS_1


***


Keesokan harinya di Wastu Hestama.


Seperti biasa seluruh anggota keluarga kumpul di meja makan. Keadaan Kinasih dan Estu masih dalam perang dingin. Tidak ada orang yang tahu ataupun peka dengan konflik yang terjadi di antara sepasang suami istri gelap ini.


Ya aku mah anggap aja Kinasih dan Estu memang sepasang suami istri gelap, karena statusnya belum diketahui oleh keluarga pihak pria. Namun, ada satu orang yang peka terhadap gerak-gerik mereka yang seakan hambar.


Ya, dia adalah Bagas. Pria dewasa, tampan dan hangat itu tahu bahwa adik dan adik iparnya sedang melakukan gencatan senjata diam-diam.


Apakah Bagas ingin membantu mereka untuk kembali romantis meskipun tetap saja aku romantisan mereka akan terjadi di belakang layar. Namun, setidaknya Bagas bahagia jika mengetahui sang adik menemukan gairah hidupnya lagi.


Jika seperti sekarang dilihatnya seperti patung hidup. Dua-duanya ke aku tapi bisa bergerak.


Ataukah Bagas malah ingin mengerjai adiknya? Dengan bersikap perhatian kepada Kinasih. Agar Estu terpancing rasa cemburunya.


Bagas memang kadang-kadang jahil. Sudah tahu adiknya sedang gundah gulana, malah akan sengaja dipancing biar cemburu buta.


"Papi tidak mau acara besok ada yang terlambat dengan alasan apapun. Lebih baik Jangan melakukan aktivitas di luar jika tidak bisa mengontrol waktu untuk pulang."


Kanjeng Papi memberi ultimatum, karena besok adalah hari H untuk syukuran kembalinya putra dari keluarga hestama dengan selamat dan sehat walafiat.


Kanjeng Mami hanya diam, dia tahu itu kesalahannya sedang dibahas oleh suaminya.


"Maaf Pi, besok jangan lupa juga. Sekalian acara pertunangan Kinasih dan Bagas. Tapi Mami belum membeli cincinnya, Kemarin lupa."


Kanjeng Papi melirik dengan sudut mata menikam. Jika diartikan dalam kata-kata, Kanjeng Papi akan mengucapkan "Kemarin ngapain aja sampai lupa mau beli cincin. Terlalu fokus pada perawatan sehingga lupa hal yang penting."


Kanjeng Mami tidak bisa membantah atau memberi keterangan lagi untuk pembelaan. Kanjeng Mami sudah merasa bersalah, tidak sepantasnya dia melakukan pembelaan lagi makanya lebih baik diam.


Namun, tadi sesaat setelah Kanjeng Mami mengatakan lupa membeli cincin untuk pertunangan Kinasih dan Bagas, bukan Kanjeng Papi saja yang terbelalak. Namun, ketiga orang yang ada di meja makan tersebut pun ikut membawakan matanya.


Akan tetapi keterkejutan tiga orang tersebut berbeda dengan terbelalaknya Kanjeng Papi.


Jika Kanjeng Papi terbelalak karena tidak habis pikir dengan keteledoran istrinya, sedangkan Estu Kinasih dan Bagas, mereka membelakakan matanya karena tidak menyangka bahwa acara besok sekaligus akan ada acara sakral yaitu tunangan.


Dan yang paling tidak disangka adalah pertunangan antara Kinasih dan Bagas. Sudah jelas itu sesuatu hal yang tidak mungkin.


Bagaimana caranya membatalkan pertunangan itu? Apakah harus berkata pada Kanjeng Mami berterus terang? Atau mengadakan drama keributan biar acara besok ada hambatan?

__ADS_1


Ah, yang pasti ketiga orang di meja makan itu sedang menenangkan dirinya masing-masing. Mereka belum terpikir harus melakukan tindakan apa.


Bersambung....


__ADS_2