
Pawang 51
Estu yang baru saja membuka pintu untuk Keken, dengan gesit melangkah ke arah pintu belakang. Ternyata kondenya Kanjeng Mami nyangkut di sela-sela pegangan pintu di sebelah atas. Untung saja tidak copot karena Kanjeng Mami dengan sigap saat merasa kondenya nyangkut langsung berhenti. Namun, jika pun lepas tidak apa, kan sudah di salon bisa diperbaiki sekalian perawatan.
"Mami bisa-bisanya konde nyangkut," ucap Estu yang sebenarnya menahan tawa.
"Kamu bisanya protes Mami kerepotan bawa dus itu, mana berat lagi," sewot Kanjeng Mami.
Kuni Kanjeng Mami sudah berada di luar mobil dengan merapikan kondenya. Biarkan Estu yang mengambil dus, yang tadi akan dibawa Mami Desi.
Estu masih penasaran saja sebenarnya apa yang ada dalam dus itu, sehingga harus diturunkan sekarang. Tidak mungkin kan perlengkapan salon, ini kan salah milik orang lain, masak Mami yang belanja. Atau perlengkapan Mami, Keken dan Kinasih?
Ah ... Estu tak peduli, entah karena dia pria jadi tidak bisa menebak kalau itu perlengkapan apa yang ada hubungannya dengan salon.
Kanjeng Mami senang karena putarannya membawakan barang belanjaannya, padahal dulu Estu tidak pernah melakukan hal itu. Dia paling anti membawa tas belanjaan, bahkan disuruh belanja barang titipan sekalian pulang kantor pun tidak mau.
Mungkin jiwa Estu sudah berubah menjadi Maruta saat di kampung. Yang biasa bekerja saling bantu sekeluarga. Hingga kebiasaan itu terbawa sampai saat ini perannya kembali pada seorang Estu.
Estu jalan di depan sambil membawa dus yang juga besar itu, sedangkan Mami Desi dan Keken pengikut di belakang. Mereka tidak memperhatikan noda pada kerah Estu karena tadi saat akan ke kantor es itu sempat merapikan kerahnya ke dalam jas hingga sedikit tertutup.
Udah sampai di dalam salon, Restu menaruh dus itu di dekat sofa yang pasti tidak menghalangi jalan. Para pegawai salon terutama yang waria langsung menghubungi Estu. Dahulu Kanjeng Mami pernah membawa Estu ke sana, dengan alasan untuk mengantar. Dan setelah itu Estu tidak mau lagi mengantar Maminya ke salon, karena seperti saat ini males untuk di kelilingi oleh para waria menggelikan.
Namun, karena Estu lupa akan hal itu, maka saat hari ini diminta Kanjeng Mami menjemput dan mengantar ke salon Estu mau. Coba kalau Estu ingat bagaimana menggelikannya dikerubungi para waria pasti dia akan menolak sekeras apapun Mami memaksa.
__ADS_1
"Maaf ya,maaf. Maaf!" Hanya itu yang diucapkan oleh Estu, sambil memajukan kedua tangannya dengan telapak tangan membuka seperti memberi perintah stop.
Kemudian saat Estu masih dikerubungi oleh para waria dia melihat dari salah satu ruangan muncul Kinasih dengan rambut digulung oleh sebuah handuk dan pakaiannya dibalut khusus pakaian salon seperti pakaian untuk kunjungan di rumah sakit.
Seketika Estu mencari Keken dan dia sudah masuk menuju padanya. Seketika Estu menghampiri Keken dan langsung memegang tangannya.
Keken sendiri merasa heran, tumben Estu seperti itu. Tatapannya menunduk dan melihat pada tangan itu yang menggenggam jari jemarinya.
Keken tersenyum, Estu rupanya benar-benar berubah. Dia tidak sekaku dahulu, meskipun sekarang masih kaget-kaget kalau Keken mencium kedua pipinya, seperti yang masih kikuk. Namun, dengan perubahan saat ini Keken sudah sangat bersyukur.
"Kenapa Mas tumben?" Dengan memberanikan diri Keken bertanya pada Estu, karena dia tidak ingin terlalu kepedean. Dengan mengatakan hal itu pada Estu juga berharap Keken mendengar sebuah pengakuan yang menyenangkan dari calon suaminya.
"T-tidak, aku hanya geli saja dikerubuni mereka. Mungkin dengan terlihat mesra denganmu mereka akan membatasi diri,' ucap Estu yang kini mengelus tangan Keken yang digenggamnya.
Jawaban yang tidak diharapkan oleh Keken, ternyata sikap Estu yang manis pada dirinya hanya untuk menghindari dari para waria. Bukan mesra atas ketulusan hatinya.
Sementara itu Kanjeng Mami berjalan langsung menghampiri Kinasih. Dia ingin menanyakan perawatan apa saja yang sudah dilakukan, terus diminta untuk mencoba pakaian yang dia bawa barusan dari swalayan.
Iya, dus besar yang dibawa oleh Estu, adalah berisi beberapa setel kebaya modern. Yang dia beli barusan dari sebuah butik yang ada di dalam swalayan. Butik ternama yang sengaja membuka stand di dalam gedung supermarket besar, yang sering orang sebuah dengan nama Hypermart atau Mall.
Estu sengaja berjalan menuju Kinasih dengan menggandeng tangan Keken.
Kinasih melihat hal itu dan dia biasa saja, karena sadar bahwa Keken adalah calon istrinya Estu. Meskipun hubungan ini rumit, tapi anggap saja sebuah takdir. Maka Kinasih tidak begitu bermasalah dengan cara Estu memperlakukan Keken.
__ADS_1
Meskipun Kinasih merasa nggak yakin, bahwa Estu akan seperti itu pada Keken. Kinasih yakin bahwa Estu tidak mencintai Keken. Pasti ada sesuatu, tumben Estu terlihat agresif karena kelihatan sekali sejak tadi berjalan menuju Kinasih, Estu terus mengelus punggung tangan Keken dan itu sangat berlebihan, kelihatan sekali bukan dari hati.
"Kamu mau perawatan apa?" tanya Estu menoleh pada Kinasih yang sangat dekat di sampingnya.
"Aku mau mengontrol rambutku dulu," jawab Keken yang melepas genggaman tangannya kemudian duduk di kursi yang kosong.
Estu membantu Keken untuk duduk di kursi, dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang agar Keken nyaman untuk duduk.
Dan hal itu pun sengaja Estu lakukan untuk memanasi Kinasih dan sayangnya kemesraan mereka tidak mempan sebagai bahan untuk memanasi Kinasih.
Malah saat itu juga kebetulan Bagas menelepon, sedangkan ponsel Kinasih tergeletak di atas meja, di depan sana sehingga terlihat sekali panggilannya bertuliskan Mas Bagas.
Kinasih mengambil ponsel yang terletak itu, lalu menerima panggilan dari calon kakak iparnya.
Senjata makan tuan, yang tadinya Estu ingin memanasi Kinasih, tapi malah dirinya sendiri yang terbakar. Estu nggak suka nama kontak kakaknya ditulis dengan nama sebutan Mas. Lalu saat Kinasih menyapa dirinya/Estu dengan sebutan Mas jug. Apakah itu masih bisa disebut istimewa kalau panggilan Kinasih ke Estu sama seperti kakaknya?
"Halo Mas. Iya?" sapa Kinasih sesaat setelah menerima panggilan tersebut.
"Tidak tahu Mas. Nanti terserah Kanjeng Mami aja," Kinasih lagi.
Itulah yang didengar oleh Estu, dia tidak tahu apa yang diucapkan oleh kakaknya. Dan Estu tidak menyangka juga, Kinasih dan Bagas malah berbincang cukup lama, entah apa yang mereka bahas. Mulai dari tadi saat mobil macet, dan mungkin sempat membahas tentang memilih tahapan perawatan.
Kok bisa Kinasih seakrab itu dengan kakaknya? Mungkin Kinasih tadi sempat menanyakan, lebih baik perawatan apa dulu. Karena Kinasih belum tahu cara merawat diri di salon.
__ADS_1
Estu semakin panas kenapa Kinasih bisa mengalir begitu saja mengobrol dengan kakaknya.
bersambung....