Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur
Mulai Diakui


__ADS_3

Bab 35


"Pagi semuanya, semoga kita semua dalam keadaan sehat dan menjalankan aktivitas dengan semangat ya." Kanjeng Papi memberikan sapaan pagi sebelum duduk di kursi untuk sarapan.


Semua anggota merespon sapaan Kanjeng Papi dengan santun.


Seperti biasa Kanjeng Papi meminta Bagas untuk memimpin doa sebelum sarapan. Kemudian mereka sarapan sekitar 15 menit, lalu Kanjeng Papi berbicara kembali untuk melanjutkan diskusi semalam yang terhenti.


"Karena kita semua akan pergi beraktivitas, maka Papi hanya akan menyampaikan untuk keberadaan Kinasih di Wastu Hestama.


Semalam sudah diputuskan dengan Mami dan Bagas, bahwa Kinasih tetap berada di sini sebagai tamu kehormatan, karena telah begitu tulus menolong dan merawat Estu. Ya ... boleh dikatakan Papi angkat sebagai bagian dari keluarga Hestama."


"Bagaimana Kinasih kamu dapat menerimanya?" tanya Kanjeng Papi setelah memaparkan keputusan semalam.


Kinasih bingung, dia sebentar melihat pada Bagas lalu pada Estu, hingga Kanjeng Mami bertanya pada Kinasih, "Bagaimana tanggapannya atas keputusan yang disampaikan oleh Kanjeng Papi?"


"Jawab aja Kinasih, apa yang kamu sampaikan tidak perlu sungkan," ucap Bagas karena tahu Kinasih bingung untuk bicara. Dia takut salah."


"I-iya, Kanjeng Papi. Saya ikut aja, dengan senang hati bisa merawat Mas Estu sampai pilih."


"Alhamdulillah kalau begitu, terima kasih Kinasih. Selama kami sedang sibuk untuk mengurus kantor, kamu di sini terserah apa yang ingin kamu lakukan, setidaknya tetap menjaga aturan yang ada. Kamu mengerti?"


"Mengerti Kanjeng Papi."


"Oh ya, sebelum kami semua pergi, Mami mau tanya apakah ada hal lain dalam menangani Estu selama di kampung? Karena tidak mungkin kamu ikut kami ke kantor."


"Tidak Kanjeng Mami, hanya tentang minum obat tepat waktu, maka Mas Estu tidak akan mudah terpancing untuk merasakan tegang saat ada permasalahan dihadapannya."


"Baik, kalau gitu kami semua berangkat. Hati-hati di rumah ya," ucap Kanjeng Mami.


"B-baik Kanjeng Mami."


Kinasih baru kali ini mendengar Kanjeng Mami sepertinya tidak mengerikan saat bicara. Kemarin-kemarin berkata dengan nada yang kurang menyenangkan, saat ini terasa begitu ramah dan peduli pada Kinasih. Entah, mungkin hanya pikiran Kinasih saja. Karena sebenarnya tidak ada yang berbeda dari Kanjeng Mami.


"Ayo Estu, kamu satu mobil dengan Papi. Sebelum kamu dapat menyesuaikan dengan urusan kantor, Papi bisa memantau beberapa saat sebelum pergi ke kantor Papi sendiri." Kanjeng Papi memberikan arahan pada anak bungsunya.


Mereka semua beranjak. Namun Estu sengaja untuk menuju mobil terakhir saja. Estu tidak ingin meninggalkan momen yang penting untuknya, yaitu seorang suami yang akan pergi bekerja.


Restu buru-buru menarik tangan Kinasih yang hendak pergi dari tempat itu.


"Ada apa Mas?" Kinasih terkejut saat tiba tubuhnya tertahan untuk melangkah.


Estu menaruh telunjuk di bibirnya yang menandakan Kinasih harus menuruti apa kata dia dan jangan banyak pertanyaan. Serta jangan bersuara. Karena Kanjeng Papi, Kanjeng Mami dan Bagas belum terlalu jauh dari posisi mereka saat ini.


"Ini," ucap stu menyerahkan tas kantornya pada Kinasih.


"Buat apa?" tanya Kinasih bingung.


"Kamu tidak ingin berperilaku sebagai istri yang baik? Mengantar suamimu untuk bekerja?" ucap Estu melakukan sindiran.


Kinasih terus menoleh kanan kiri, "Tapi kalau orang lihat Mas?" Kinasih terlihat gelisah.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu kan? Di rumah ini hanya ada pelayan yang berada di mana-mana, itu pun mereka tidak akan ikut campur pada urusan kita."


"Terus aku harus gimana?" Kinasih polos apa pura-pura polos...


"Hem, kamu ikut aku ke depan, lalu lakukan tugasmu sebagai istri."


Kinasih takut bicara lagi. Namun, Estu langsung menariknya, dia tak ingin banyak berbasa-basi. Nanti Papinya menunggu di mobil terlalu lama.


Ruangan di sana cukup sepi, hingga di ruang depan para pelayan mungkin sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Estu hanya meminta Kinasih sampai di dekat pintu saja, tidak menuju teras karena akan terlihat oleh beberapa orang.


"Kemarikan tasnya," pinta Estu.


Kemudian Kinasih menurut, kemudian dia melihat hari Estu menunjuk ke bibirnya.


"Hah? Maksudnya?" Kinasih lagi lagi sok, polos.


Estu langsung menarik Kinasih dan mengecup bibirnya sekilas. Kinasih langsung terkejut hal itu jarang sekali dilakukan selama mereka menikah. Selama ini mereka paling mengecup kening, jika melakukan ciuman bibir hanya tipis.


Padahal Estu ingin sekali melakukan kewajibannya sebagai suami untuk memenuhi nafkah batin pada Kinasih. Namun, sayangnya Kinasih masih belum siap. Alasannya selama keluarga Estu belum mengetahui hubungan mereka, Kinasih merasa pernikahan belum sempurna.


"Itu adalah kecupanmu untukku setiap pagi, harus kamu lakukan saat mengantar aku akan pergi ke kantor."


"Tapi kalau orang lihat?" lagi-lagi Kinasih menanyakan hal itu.


"Kalau ada orang di sekitar kita, kalau kamu tetap melakukan, itu nggak jadi masalah. Dan kalau nggak pun nggak jadi masalah. Nggak usah dibikin pusing," kata Estu sewot. Dia terlalu gemas pada Kinasih yang mudah memiliki rasa takut.


"Dan ini kecupanku untukmu," Purba mengecup kening Kinasih, lalu mengulurkan tangannya sebagai salam perpisahan dia mau ke kantor.


Kinasih hanya mengangguk lalu berkata, "Baiklah suamiku, selamat bekerja. Jangan telat makan siang dan obatnya jangan lupa."


"Terima kasih istriku tercinta. Suamimu pergi dulu." Lalu Estu mengecup pipi Kinasih sekali lagi dan Kinasih lagi-lagi terperanjat. Dia memegang pipinya dengan senyum yang mengembang, di wajahnya muncul berwarna merah karena malu.


Estu lalu pergi, Kinasih masih melihat kepergian Estu, dengan tangan yang masih memegang pipinya.


"Ekhem! Ekhem!"


Kinasih kaget saat suara dehaman terdengar di dekatnya, dia mencari sumber suara tersebut. Ternyata Mbak Marni.


"Mbak Marni! Bikin aku kaget saja," bentak Kinasih secara spontan.


"Kebalik kali Non, aku yang dibikin kaget," ucap Mbak Marni, dengan lirikan mata sengaja mengejek Kinasih.


"Kok bisa?" tanya Kinasih heran.


"Ya, Iyalah. Secara Tuan Muda dan istri rahasianya begitu romantis di depan mata jomblo ini. Jadi pengen nikah, nih." Marni meledek dengan pura-pura sewot, cemberut.


"Jadi Mba Marni, melihat semuanya?" ucap Kinasih dengan sedikit mata terbelalak.


"Mata Mbak Marni kan masih awas Non. Masa nggak ngeliat adegan seperti itu."

__ADS_1


Kinasih langsung berjalan menghampiri Mbak Marni lebih dekat, dia takut Mbak Marni akan mengatakan pada siapapun terlebih kepada teman sejawatnya. Belum tentu pelayanan yang lain akan menjaga rahasia seperti Mbak Marni.


"Mbak Kinasih nggak percaya sih sama Marni, nanti Marni bilangin sekalian aja ke semua orang, loh."


"Eh, Mbak Marni ngeyel ya," ucap Kinasih sambil membekap mulut Marni.


Tak disangka, apa yang dibuat Kinasih malah membuat Marni ketawa terbahak-bahak, spontan Marni melepaskan tangan Kinasih dari mulutnya.


"Kenapa sih? Kalau ketahuan orang rumah, siap tahu malah direstui, hehe," ucap Mami.


"Mbak Marni kayak nggak tau aja. Terus nasib Mbak Keken gimana?"


"Mba Keken juga orangnya baik, dia pasti melepaskan Mas Estu demi kebahagiaannya."


"Kayaknya terlalu drama deh, kayak yang di sinetron-sinetron tipi. Seseorang yang melepaskan cintanya demi cinta."


"Pernikahan Mbak Kinasih terlalu dramatis banget. Makanya jangan khawatir sama Marni, rahasia aman pokoknya. Udah ah, Mbak Marni mau melanjutkan tugas lagi, soalnya nanti siang akan ada acara."


"Hah? Acara? Apakah rumah ini akan ada acara besar?*


"Bukan rumah ini, tapi syukuran untuk kami-kami aja. Sambil makan camilan, rujakan kaya kemarin, karokean atau apa kek. Yang penting kalau kerajaan dah beras itu, tenang."


Kinasih tidak mengerti acara apa yang Marni maksud, lalu dia menanyakan karena kalau tidak tahu takutnya hal penting. Apalagi tentang keluarga suaminya.


Akhirnya Marni menjelaskan bahwa momen yang paling ditunggu oleh para pelayan di sana, adalah kebersamaan saat siang. Saat tuan rumah sedang berada di kantornya, setelah menyelesaikan masakan makan siang untuk diantar oleh sopir ke kantor, para pelayan seringkali berkumpul di taman belakang.


Ya seperti kemarin, bukan hanya rujakan saja, tapi aktivitas apa pun mereka lakukan rame-rame lebih seru.


Makanya saat mereka bekerja tidak pernah banyak bicara, karena supaya selesai dan fokus.


Serta waktu hiburan pasti akan ada, majikan mereka tegas, tapi tidak rewel dengan kegiatan pelayanannya. Yang penting tugas selesai dan aman.


"Oh ... berarti kegiatan itu rutin ya mbak."


"Kadang rutin nggak rutin, sih. Kadang kami hanya berkumpul sekedar tiduran, bermain ponsel, membuka medsos gitu aja. Hanya saja kalau istirahat bareng-bareng, jadi rame rasanya. Dan ... bisa sambil ngemil , deh. Hehehe."


"Oh... ya udah aku ngikut-ngikut. Boleh ya? soalnya bingung mau ngapain.x


"Ya terserah," ucap Marni, sambil berlalu akan ke dapur.


Namun, Kinasih menariknya lagi.


"Eh tunggu!" Kinasih menarik tali apronnya Marni dari belakang, karena itu yang sempat digapai oleh Kinasih saat mengeja


"Apalagi sih.., Mbak Kinasih...."


"Tadi kamu ngobrol apa sama Kanjeng Mami? Ngobrol sembarangan ya? Hingga Kanjeng Mami patuh sama kamu."


"Mau tau aja atau mau tau banget?"


Lagi-lagi Marni membuat Kinasih kesel, selalu main tebak-tebakan. Tidak bisa langsung menjawab secara jelas.

__ADS_1


Bersambung....


 


__ADS_2