
Bab41
"Papi tau nggak, waktu dulu Estu masih sekolah di TK, kan ada tukang balon. Dia mau balon itu, nah... tapi bingung milih warna yang mana. Mami ambil dua deh, yang merah sama biru.
Waktu mami kasih ke Estu, dia masih bingung, tapi akhirnya Estu memilih balon biru dan yang satu dikasih ke teman perempuannya yang ada di dekatnya, sama kayak gitu kayak yang sekarang Papi lihat. Satu balon diberikan pada Kinasih, itu tandanya Estu masih mengingat masa kecilnya kan?"
Papi Hestama menggeleng kepala, heran atas kelakuan istrinya sampai seperti itu. Bisa jadi itu kebetulan karena Estu menerima balon dari Maminya dengan tujuan hanya menyenangkan sang Mami dan kalau dia memegang balon dua-duanya, juga tidak mungkin. Karena sedang bekerja.
Sehingga diberikan saja satu pada Kinasih dan hal kebetulan itu dianggap sang Mami adalah tanda Estu mengingat masa kecilnya. Karena momennya sama dan apa yang dilakukannya persis seperti saat kecil.
"Hah ... Mami ada-ada aja. Ya udah Mami pulang sama Kinasih, kasihan takut terlalu lama di kantor," perintah Kanjeng Papi
"Papi gimana sih? Mami ke sini kan mau nengok anak mami. Bagaimana bekerjanya udah kuat belum?"
"Iya Mami, sudah lihat sendiri Estu baik-baik saja. Kasihan Kinasih dari tadi dia mau pulang, tapi sopir sudah pulang duluan." Papi Hestama memberikan pengertian.
"Iya Mi, aku minta tolong Mami pulang bareng Kinasih," ucap Estu.
Kanjeng Mami terkejut mendengar ucapan anaknya, dia langsung berdiri beranjak dari duduknya di samping Kanjeng Papi Kemudian berjalan menuju Estu dengan wajah semringah sambil berkata...
"Apa Nak? Kamu bilang minta tolong ke Mami? Oh ... kamu sungguh manis," ucap Kanjeng Mami sambil memegang kedua pipi Estu lalu dikecupnya, benar-benar seperti pada anak kecilnya begitu menggemaskan.
Memang baru kali ini Kanjeng Mami mendengar Estu minta tolong. Saat dulu dia belum hilang ingatan, Estu benar-benar menjadi anak yang kaku dan dingin seperti tidak diajarkan sopan santun. Padahal karakternya yang memang susah untuk bisa berbasa-basi dengan orang lain, bahkan pada orang tuanya sendiri pun sulit.
"Karena kamu begitu manis, hari ini Mami akan menuruti permintaanmu. Ayo Kinasih pulang bareng Mami?"
Kinasih cukup bingung melihat karakter Kanjeng Mami, yang membuatnya heran atau mungkin bisa disebut aneh kadang menyeramkan, kadang lucu seperti ini kekanak-kanakan.
Mungkin kalau saat menyeramkan itu karena Kanjeng Mami jarang bicara. Seperti ibu-ibu bijak yang lainnya bicara terlalu ramai, terlalu blak-blakan, tapi tidak pernah marah. Hal itu mungkin yang disebut menakutkan bagi generasi.
"Nggak papa Kinasih, udah," ucap Estu yang melihat Kinasih seperti ragu.
"Ayo, ayo! Ngapain kamu takut sama saya?" ucap Kanjeng Mami malah disebutkan ketakutan Kinasih. Membuat Kinasih jadi makin gak jelas rasa.
Kinasih akhirnya menurut juga. Dia berdiri reflek menyodorkan tangannya pada Estu. Dengan tujuan mau mencium tangan suaminya terlebih dahulu, pamitan sebagai seorang istri pada umumnya.
Kanjeng Mami dan Kanjeng Papi heran melihat tindakan Kinasih dan juga Estu otomatis menerima tangan Kinasih. Setelah adegan itu Estu dan Kinasih gelagapan dia tidak sadar bahwa itu adalah kantor dan di hadapannya ada Kanjeng Mami dan Kanjeng Papi.
"Kok?" Kanjeng Mami bersuara heran.
__ADS_1
"M-maaf Kanjeng Mami, ini kebiasaan di kampung," Estu mencoba menjelaskan.
"Maksudnya saat di kampung kalian seperti itu? Seperti suami istri atau pasangan yang berpamitan seperti itu? Atau jangan-jangan selama di kampung kalian sudah... Ngapain aja?" Kanjeng Mami mulai curiga.
"Mami jangan salah paham, aku kan lebih tua dari Kinasih dan aku juga pria. Jadi wajar kalau Kinasih lebih menghormati aku sebagai orang yang usianya lebih dewasa.
Dan pria emang lebih bisa dianggap sebagai kakak atau yang dituakan. Makanya Kinasih bersalaman seperti itu hanya kebiasaan di kampung, untuk menghargai orang yang lebih dewasa."
Estu menjelaskan dengan hati-hati agar maminya tidak salah paham.
"Oh... ya udah. Hem, kebiasaan yang aneh. Jangan dilakukan lagi, kalau ada Keken nanti takut salah paham," tegur Kanjeng Mami
"Iya Mami, maaf," ucap Kinasih.
Kinasih mendekat pada Kanjeng Papi untuk berpamitan, sama halnya yang dilakukan pada Estu mencium tangan Kanjeng Papi.
Kemudian Kinasih dan Kanjeng Mami keluar dari ruangan itu. Waktu menunjukkan belum terlalu sore, Kanjeng Mami mengajak Kinasih pergi ke salon terlebih dahulu.
"Kamu nggak apa-apa nungguin Mami ke salon dulu?" tanya Kanjeng Mami sambil berjalan menuju parkiran
"Nggak papa Kanjeng Mami," ucap Kinasih pasrah aja
"B-bagaimana maksudnya ya, Mam?" ucap Kinasih merasa gugup, dia harus menjawab apa?
"Anak Mami, kan ganteng. Apalagi kamu setelah melihat sekarang pekerjaannya bagus, Estu terlihat lebih ganteng daripada saat di kampung, lebih wangi, keren pokoknya. Apa kamu tidak tertarik?"
"Biasa aja, Mam," ucap Kinasih menjawab mencari aman.
"Nggak mungkin biasa aja. Memang selera kamu seperti apa? Sampai anak saya dianggap biasa aja," respon Kanjeng Mami merasa tidak suka. Karena anak gantengnya tidak disukai oleh Kinasih.
Padahal menurut Kanjeng Mami, tidak akan ada wanita yang menolak pastinya, kalau Estu mendekati wanita itu. Apa yang kurang dari anaknya?
Padahal maksud Kinasih berkata biasa saja, dia bingung kalau bilang jujur. Dia menyukai Estu yang memang secara fisik tidak ada kurangnya, tapi takut Kanjeng Mami curiga. Namun, setelah berkata mencari aman, malah Kanjeng Mami malah tersinggung.
"Yakin biasa aja?" tanya Kanjeng Mami menegaskan.
"Maksudnya, E... Kanjeng Mami, saya cukup tahu diri kalau harus menyukai Mas Estu, kalau dibilang suka, ya wanita mana yang tidak suka dengan pria seperti Mas Estu." Kinasih Meralat.
"Jadi kamu suka?" tanya Kanjeng Mami lagi.
__ADS_1
Kinasih hanya mengangguk, itu pun dengan ragu, takut Kanjeng Mami salah paham.
"Iya sih kamu memang harus sadar diri. Terlebih karena Estu sudah ada Keken, tapi Bagas belum punya. Mami tak masalah, kalau kamu bisa menyukai Bagas juga, dia tidak kalah ganteng kan dengan Estu?"
Kinasih cukup terkejut dengan pernyataan Kanjeng Mami. Kenapa membahas Mas Bagas?
"I-iya Kanjeng Mami, putranya Kanjeng Mami dua-duanya ganteng dan pekerja keras, saya suka melihatnya."
"Jadi kamu suka juga melihat Bagas?"
Kinasih mengangguk, lagi-lagi mencari aman.
"Ya udah kalau begitu, tinggal dimatangkan saja. Meskipun Mami baru mengenal kamu beberapa hari, tapi kayaknya kamu wanita yang cukup baik. Bisa patuh pada suami.
Kalau dari keluarga Mami untuk mencari menantu tidak perlu terlalu muluk-muluk, yang penting patuh terhadap suami itu cukup. Bagaimana?"
"Eh, bagaimana apanya ya Kanjeng Mami?" Kinasih malah menjadi bingung. Arah pembicaraan Kanjeng Mami ke mana sebenarnya?
"Ya udah, nanti kita bahas lagi. Ini udah sampai di salon. Ayo kita turun!" Kanjeng Mami mengajak Kinasih turun dan baru pertama kali ini tangan Kinasih disentuh oleh Kanjeng Mami. Itu pun karena diajak untuk bersama-sama masuk ke salon.
Saat masuk ke sebuah salon mewah, para karyawan salon menyambut Kanjeng Mami dengan hangat. Kinasih tahu kalau salon ini mewah, karena dibanding salon yang ada di kampungnya ini jauh lebih bagus.
"Wah ... Kanjeng Mami sama siapa nih? Mantunya ya?" ucap salah satu karyawan Macho, tapi gemulai
"Belum," ucap Kanjeng Mami merespon para karyawan yang mengajaknya berbincang, sambil menyiapkan alat-alat untuk Kanjeng Mami perawatan.
Lagi-lagi Kinasih terkejut, 'belum?' maksud Kanjeng Mami apakah dia sudah tahu hubungannya dengan Estu?
Kalau kayak gini tidak sesulit yang dibayangkan, pikir Kinasih. Dia sangat bahagia dalam hatinya jika sangkaannya benar.
Rencana Kanjeng Mami hari ini akan perawatan pedicure menicure saja, karena waktu sudah mau sore. Kalau masih siang dia akan luluran seluruh badan dan pemijatan, untuk melenturkan seluruh otot tubuhnya. Agar lebih rileks dan lebih percaya diri, juga aura dalam tubuh terpancar.
"Calon mantunya sepertinya lokalan banget ya Kanjeng Mami?" ucap karyawan yang sedang membersihkan bagian kaki Mami Desi.
"Iya, memang dari kampung. Tapi dia baik kok, penurut."
"Iya, kelihatan. Bagus juga Kanjeng Mami memilih calon mantu dari kampung, asal jangan melihat duitnya anak Kanjeng Mami mami aja."
Bersambung....
__ADS_1