
Bab 38
Kinasih masuk tanpa mengetuk pintunya. Dia tidak bisa mengetuk karena kedua tangannya memegang kantong makanan, kalau diangkat tinggi untuk mengetuk, ditakutkan akan rusak makanan yang ia bawa.
Kinasih melihat pemandangan saat Keken memberikan gelas minuman langsung pada bibir Estu, meskipun hanya adegan seperti itu tetap saja Kinasih merasa tersayat hatinya.
Lalu Pak sopir menyusul masuk ke ruangan dengan membawa kantong di kedua tangannya juga, sama seperti Kinasih.
Estu peka dengan reaksi Kinasih yang seakan menjadi sungkan. Estu memundurkan kursinya langsung beranjak menghampiri Kinasih, tentunya untuk membawakan kantung makanan. Andai tidak ada orang di sana, Estu akan memeluk istrinya.
"Saya permisi," ucap Kinasih tiba-tiba. Karena dia bingung akan apa jika terlalu lama di sana, tentunya langsung pulang saja.
"Argh..." tiba-tiba es tuh mengerang.
Dia memegang kepalanya, Kinasih yang mau berbalik keluar ruangan diurungkan dan kembali memutar badannya, melihat Apa yang terjadi.
Kinasih berhambur saat melihat suaminya sedang merasa kesakitan. Dia mencoba memberikan pertolongan seperti biasanya. Namun, kali ini Keken sudah terlebih dahulu gesit. Hingga Kinasih hanya melihat dari dekat, dia tak bisa melakukan apa-apa. Masih bisa menahan diri untuk tidak begitu panik. Kinasih sadar diri, bahwa dia di sana belum dipandang sebagai keluarga Hestama.
"Ayo bawa ke sini," perintah Kanjeng Papi agar Estu dibantu berjalan menuju sofa.
Setelah Estu duduk di sofa, mendapatkan tempat nyaman untuk merilekskan tubuhnya. Keken dengan sigap memberikan pelenturan pada otot Estu,.dengan cara memijat-mijat beberapa bagian seperti yang Kinasih lakukan.
Persis seperti Kinasih, Keken melakukan pada bagian tubuh yang sama, dari tengkuk, kepala, tangan. Semua diberikan sentuhan pijatan halus. Namun, sayangnya tidak ada perubahan.
“Lihat, sudah pukul dua belas. Waktunya makan obat,” ucap Kanjeng Papi panik.
Keken terlihat bingung, mau mengambil obatnya atau terus melanjutkan pelenturan pada Estu. Dan Kanjeng Papi tahu kebingungan Keken, dia berinisiatif membawa sepotong roti tadi beserta obat-obatnya.
“Nak, minum dulu. Lalu makan roti ini.” Kanjeng Papi berusaha menyodorkan gelas pada bibir Estu, tapi bibir itu tertutup rapat.
Estu masih memejamkan mata dengan erangan kesakitan yang belum berhenti. Keken semakin panik, begitu pun Papi.
“Kinasih, ini bagaimana?” tanya Keken, suaranya bergetar. Tak tega melihat Estu yang sudah bermandi keringat.
“Boleh saya yang menangani Mbak Keken,” tawar Kinasih.
Keken mengangguk dan bergeser dari dekat Estu, memberi ruang buat Kinasih.
Hal yang pertama Kinasih lakukan adalah, menggosok tangan Estu, tapi ada yang aneh di sini. Biasanya tangan itu tegang, sedikit kaku dan agak dingin kalau sakit Estu sedang kambuh. Namun, saat ini seperti biasanya, ada rasa hangat dan tidak begitu kaku.
Kemudian Kinasih pindah pada bagian tengkuk dan sekitar kepala. Sama juga, tidak merasa ketegangan saat biasanya kalau kambuh.
Lalu Kinasih memberikan minum pada bibir Estu. Dia mau membukanya sedikit demi sedikit, air itu masuk membasahi kerongkongannya. Estu terlihat mulai tenang.
__ADS_1
Keken, Papi, satu temannya lagi dan Pak sopir masih ada di sana. Mereka hanya bisa menyimak apa yang Kinasih lakukan.
“Mas Estu, sudah bisa makan?” Kinasih bertanya pada Estu dengan pelan.
Estu menggeleng sedikit. Terlihat masih lemah.
“Bagaimana Kinasih, ini sudah hampir pukul satu. Gimana kalau telat makan obat?” tanya Kanjeng Papi malah jadi panik, padahal Estu sudah mulai tenang.
“Tenang, Pi. Saya coba memasukkan makanan perlahan.” Kinasih lalu beranjak dari duduknya, dia membawa sendok yang ada di sana.
Ruangan kerja Estu juga sudah terdapat alat makan lengkap di sebuah kotak tertutup. Jadi tidak mengganggu pemandangan dekorasi kantor yang terlihat khusus buat kerja saja.
Terlebih makanan yang sering diantar dari rumah, sehingga alat makan sangat dibutuhkan di sana. Agar tidak repot juga tiap hari harus ke pantry untuk membawa alat makan dan mengembalikan lagi ke sana.
Toilet dan wastafel juga ada di sana. Pokoknya ruangan itu sudah di design sedemikian rupa untuk orang yang gila kerja. Sampai betah tak keluar ruangan, karena semu bisa dilakukan di dalam ruangan itu secara private.
Kinasih kembali dengan membawa tiga sendok dan satu piring. Kinasih menaruh potongan roti, kecil ke atas piring, lalu agak disiram dengan air, agar roti itu lebih lembut. Sehingga mudah untuk ke dalam mulut Estu.
Satu suapan masuk, tapi suapan berikutnya Estu menggeleng.
“Apa Mas, mau makan nasi saja?” tanya Kinasih.
Estu mengangguk. Kini badannya sudah duduk dengan normal, tidak rebahan ke punggung kursi seperti tadi.
Kinasih mengangguk, dia menyerahkan piring makan yang sudah bersih masih dan lauknya.
“Kalau begitu Papi istirahat dulu ya. Kalian di sini aja. Temani Estu.”
Kanjeng Papi, temannya dan Pak sopir meninggalkan ruangan. Kini tinggal Keken, Kinasih dan Estu yang ada di sana.
Keken memberikan satu siapa pada Estu, hanya saja yang masuk pada mulut Estu sangat sedikit. Mungkin hanya seujung sendok saja.
“Kinasih apa boleh minum obatnya, walau baru makan sedikit saja?” tanya Keken.
“Lebih baik makan yang cukup Mbak, soalnya Mas Estu mungkin belum makan sudah dari setelah sarapan.”
Keken mengangguk, benar juga apa kata Kinasih. Makan itu bukan saja karena mau minum obat. Tapi karena kebutuhan juga. Sejak tadi Estu pasti hanya fokus dengan pekerjaan saja.
“Biar aku makan sendiri.” Estu mengambil piring yang tergeletak di meja. Lalu Keken meletakkan sendok yang ia pegang ke atas piring, yang akan digunakan oleh Estu.
Keken merasa senang, melihat Estu bisa makan dengan normal. Meski tidak lahap seperti orang kebanyakan, tapi ini lebih baik, daripada saat dirinya yang menyuapi.
“Mba Keken, tidak makan?” tanya Kinasih.
__ADS_1
Karena yang lain makan, tapi Keken tidak. Meskipun Kinasih juga belum.
“Biar nanti saja setelah Mas Estu makan, biar tenang juga saya makannya.” Keken tidak bisa kalau harus kenyang sendirian.
Kinasih merasa tak enak juga. Kurang apa Keken di mata Estu? Sebagai wanita, Kinasih terpesona dengan kepribadian Keken. Wanita smart, anggun, paras cantik, telaten dan penyabar.
Kinasih merasa bersalah kalau harus berada di antara hubungan mereka.
Walau Kinasih pun tak sanggup jika harus merelakan Estu. Saat menyimak Estu makan, Kinasih masih bergelut dengan pemikirannya. Apakah dirinya merasa egois? Perebut suami orang? Meski sebenarnya Estu belum sah menjadi suami Keken.
“Sudah Mas?” tanya Keken saat Estu meletakkan piringnya di atas meja.
Estu tidak menjawab, dia hanya mengangguk, lalu meminum sedikit air saja. Dia tak ingin dahulu makan obat, saat Keken menyodorkan beberapa padanya.
“Keken, biasa bantu saya,” tanya Estu.
“Bantu apa, Mas?”
“Kamu lebih baik makan. Jangan sama-sama sakit nantinya. Aku tahu kamu juga banyak kesibukan, aku tidak ingin hanya karena mendampingiku, kamu jadi sakit.”
Wajah Keken berubah, dia merasa terharu diperhatikan seperti itu oleh tunangannya. Keken tersenyum dengan netra berkaca-kaca. Sungguh ini Mas Estu, tunangannya?
Ini adalah pertama kalinya Estu memerhatikan dirinya secara kata-kata. Dari semenjak dia kenal Estu dan dijodohkan orang tuanya, Keken tak pernah mendapatkan perhatian semanis ini.
Bukan karena Estu menentang perjodohan mereka, hanya saja karakter Estu yang dingin, kalau dan tak pandai berbasa-basi.
“Baiklah, aku bawa makanan ini saja. Aku senang melihat Mas sudah baikkan. Jadi aku juga tenang meninggalkan Mas. Aku mau melanjutkan pekerjaan. Tak apa aku tinggal ya, Mas?” tanya Keken.
Estu mengangguk, meski wajahnya masih terlihat loyo. “Pergilah, jangan khawatir akun. Semoga aktivitasmu lancar dan menyenangkan.”
Lagi-lagi Keken merasa mendapatkan undian jackpot. Bahagia setengah mati.
Estu berubah menjadi pria yang sangat manis dan hangat.
Walau saat Estu masih bersikap kaku dan dingin, Keken tetap suka, tapi dengan perubahan ini, Keken semakin suka.
“Ya udah, aku pergi ya Mas.” Keken beranjak dari duduknya. Lalu ... muach.
Lagi-lagi Keken mengecup pipi Estu tanpa lihat tempat.
Otomatis reaksi Estu langsung sedikit memundurkan wajahnya, walau tetap saja Keken berhasil mendaratkan ciumannya di pipi Estu.
Estu juga refleks langsung melihat pada Kinasih. Dia tak enak rasanya, ada wanita lain yang mencium dirinya di depan istri sendiri.
__ADS_1
Bersambung...