
Kinasih mengikuti saja ke mana Kanjeng Mami memerintahkan. Ternyata Kanjeng Mami mau menunjukkan berbagai pengelompokan buku.
'Haduh... ini yang ditakutkan malah beneran terjadi' Fatin Kinasih, tapi dia tidak bisa menolaknya.
Kinasih lebih baik seharian masak di dapur, atau beres-beres rumah sampai ngecat genteng pun Kinasih mau. Daripada suruh belajar, otaknya panas, nggak betah duduk juga, udah tak ngebul pantat panas lagi. Nggak mungkin kan baca sambil lari-lari, atau sambil jalan-jalan juga sebentar hanya di ruangan itu saja, bisanya duduk makin tepos aja bokong.
Rak sebelah kanan adalah buku-buku tentang wanita. Yang paling bawah tentang rumah tangga. Mulai dari menu masakan, resep, segala masa meresep. Dari cara membuat kue, membuat camilan baik tradisional maupun modern, ataupun resep makanan berat.
Kemudian arah kedua dari bawah yaitu tentang fashion. Wanita harus bisa memiliki kemampuan ilmu dalam tata busana, meskipun hanya ilmu dasar.
Kemudian arah ketiga dari bawah yaitu attitude menjadi seorang istri ningrat. Dari cara bicara, cara berjalan, cara makan, cara menyambut suami pulang dari luar atau kerja, begitupun cara bercanda diajarkan. Orang-orang berdarah biru bukan berarti mereka orang-orang yang serius. Namun, mereka punya aturan sendiri kapan bercanda dan apa yang tas dibuat bercanda. Semuanya ada aturan tersendiri tidak bisa sembarangan.
Pokoknya sebelah kanan adalah seluruh buku tentang kehidupan. Jadi Kinasih sebagai istri walaupun dia jarang keluar tapi wawasannya tidak akan tertinggal. Tentu saja yang penting bisa nyambung ngobrol dengan sesama keturunan ningrat.
Kanjeng Mami pun menjelaskan tidak usah khawatir Kalau merasa tidak menjadi wanita gaul, atau orang yang mengikuti zaman masa kini. Karena circle kita bukan mereka, justru kalau kita tidak mempelajari ilmu-ilmu tentang attitude wanita ningrat bakal kena cemooh, karena pertemuan untuk orang-orang berdarah biru itu rutin dilakukan.
"Nah kamu nanti buat jadwal sendiri berapa jam untuk membaca, berapa jam untuk perawatan, berapa jam untuk olahraga, berapa jam untuk hiburan dan berapa jam untuk praktek," ucap Kanjeng Mami panjang lebar.
"Praktek apa ya, Mami?" Kinasih tidak mengerti memang, bukankah olahraga juga praktek. Luluran, membaca, itu juga kan mempraktekkan perintah dari Kanjeng Mami.
"Kamu agak pintar sedikit dong. Yang harus dipraktekkan ya harus dicoba. Misal masak. Jangan tanya lagi masak apa yang harus dipraktekkan. Seluruh sesuatu yang harus dimasak kamu harus mempraktekkannya. Dari makanan berat, camilan, kue pokoknya apapun."
Kinasih manggut-manggut, dia agak tidak enak juga saat kencing Mami bilang dirinya harus pintar dikit. Memangnya aku nggak pinter? Aku cuma males aja melakukan apa yang tidak aku suka, batin Kinasih.
"Nah, sekarang kita pergi ke rak sebelah kiri."
Kanjeng Mami menggandeng tangan Kinasih. Ini yang Kinasih paling tidak suka. Buku sederhana untuk sehari-hari saja, Kinasih udah merasa berat otaknya. Apalagi membaca buku-buku pengetahuan, yang serius-serius gitu.
Seperti buku bisnis, manajemen, ekonomi, sejarah, 24 jam pintar berbahasa Inggris, tips-tips menjadi pengusaha sukses. Itu hanya segelintir judul yang Kinasih baca dari sampul buku. Sedangkan satu rak panjangnya sekitar 3 meter. Lalu setiap rak terdiri dari 5 sampai 6 tingkatan.
Bayangkan saja berapa ratus buku di sana. Belum yang di dalam lemari kaca. Katanya kalau buku yang di dalam lemari kaca itu buku mahal. Bukan mahal harganya, tapi mahal isinya. Jika kita ingin meminjam buku dari sana, harus persetujuan Kanjeng Papi. Dan lemari itu pun dikunci.
"Nah, kamu boleh menggunakan meja di sini untuk kamu beraktivitas. Sana tempat buku baru," ucapkan jeung Mami menunjukkan salah satu sudut ruangan yang ada lemari satu pintu. Maksudnya jika lemari buku yang dikunci itu ada tiga pintu memang besar.
Lemari satu pintu ini tempat alat tulis baru. Kanjeng Mami meminta Kinasih untuk menuliskan jadwal dirinya sendiri. Mulai dari bangun tidur, sampai aktivitas yang Kanjeng Mami perintahkan barusan. Yaitu membentuk diri menjadi wanita ningrat. Selain merawat diri, otak juga harus dirawat.
"B-baik Kanjeng Mami," ucap Kinasih mengangguk.
"Jangan hanya bilang baik, baik, aja. Emang kamu ngerti semua yang aku ucapkan? Kalau gak tahu mending tanya aja." Kanjeng Mami merasa belum yakin dengan pengakuan Kinasih yang merasa sudah paham, tapi sepertinya lelet kalau dilihat dari pergerakan cara membawa buku dan bolpoin dari lemari.
"Pokoknya sekarang saya mau mulai dengan menulis jadwal, Kanjeng Mami. Nanti setelah itu saya membaca buku-buku ini sesuai jadwal juga, terus hari berikutnya saya mengerjakan apapun sesuai jadwal begitu kan?" Kinasih mencoba menguraikan.
"Pintar juga pemahaman kamu," ucapkan jeung mami.
Kemudian Kanjeng Mami menitipkan pesan agar Kinasih patuh aturan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Kinasih sendiri di ruangan baca tersebut.
__ADS_1
"Hah. berat juga ya Mau jadi istri orang kaya saja harus ribet kayak gini." Kinasih ngdumel.
Kinasih memulai tugasnya sebagai calon menantu keluarga ningrat. Dia harus menulis jadwal sebaik mungkin, tulisannya juga harus bagus biar menarik perhatian Kanjeng Mami.
***
Sementara itu di rumah Keken, Kemala tidak sekolah padahal hari ini bukan hari libur.
"Kenapa kamu nggak sekolah? Jangan bolos loh. Nanti aku bukan ngelaporin ke mama kamu aja. Tapi biar sama Mbah Kakung dan Mbah Uti kamu dicoret dari," ucap Keken menegur keponakannya itu.
"Enggak Tante, Aku kan udah janji nggak bakal ngulangin lagi. Hari ini gurunya ada rapat, katanya pasti pulang Pagi. Daripada keluar ongkos, terus nanti teman-teman pada ngajakin main. Mending di rumah aja kan? Nggak apalah bandel dikit paling jam 08.00 juga udah." Kemala memberikan alasan kepada Keken.
Apakah alasan yang Kemala berikan benar? Tentu saja itu adalah sebuah karangan. Kemala tidak sekolah dia akan perawatan untuk acara besok. Seharian ini dia akan berendam air susu dan bunga-bunga. Agar besok terlihat paling bersinar di depan mata Estu.
"Dasar anak bandel, nggak berubah-berubah sih. Palingan ongkos cuman habis berapa ribu, tinggal pulang lagi aja apa susahnya, kalau iya memang pulang masih pagi. Udah ah tante berangkat dulu, hati-hati di rumah jangan keluyuran," ucap Keken berpamitan kepada keponakannya, sambil mengusap-ngusap puncak kepala Kemala.
"Ih Tante kebiasaan deh, nyebelin!" seru Kemala yang dengan segera merapikan rambutnya.
Kemala paling tidak suka kalau ada yang mengacak-acak rambutnya. Kecuali itu dilakukan oleh pria pujaannya. Pasti sangat romantis dan menyenangkan. seperti yang dilakukan oleh pasangan-pasangan di drama Korea. Dan itu adalah cita-cita Kemala kalau dia sudah bisa mendapatkan hati Estu.
Semenjak kepergian Keken, Kemala langsung menghambur ke kamar tantenya. Di sana dia mengambil beberapa botol racikan untuk perawatan tubuh. Ada susu kambing, tentu saja yang udah diolah khusus untuk mandi. Ada serbuk ekstrak aroma bunga dan juga membawa lilin aroma terapi.
.
Mala akan berendam sepuasnya dalam bathtub, sambil berelaksasi dengan aromaterapi yang menjernihkan pikiran menenangkan perasaan.
***
Sementara itu di kantor, Estu selalu terngiang-ngiang akan ucapan Kanjeng Mami yang mau langsung kan pertunangan Kinasih dan Bagas.
*Aku harus cari akal, tapi bagaimana caranya?" Gumam Estu.
Hari ini sungguh tidak konsentrasi bekerjanya.
Derrt!
Derrt!
Tiba-tiba sebuah pesan masuk, Estu langsung melihatnya. Dan....
"Tidak tahan juga kan kalau lama-lama bermusuhan denganku?" gumam Estu dengan bibir tersenyum merekah.
Ya, pesan masuk itu dari Kinasih. Padahal Kinasih juga sudah berpikir seribu kali untuk hanya mengirim pesan mengingatkan jangan lupa minum obat. Tadinya Kinasih gengsi juga mau mengingatkan hal seperti itu. Takutnya nanti Estu kegeeran.
Akan tetapi, dipikir-pikir lagi oleh Kinasih, kasihan juga jiga sampai sakit kepala Estu kambuh. Alhasil, dikirim lah pesan itu, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, kurang sedikit.
__ADS_1
Kembali pada Estu, dia sudah sangat senang mendapat pesan dari nomor istrinya.
"Yah ... cuma sekedar suruh minum obat. Kirain minta maaf, Kek. Gak bisa ya? Cuma sekedar bilang maaf? Nunggu pria dulu yang minta maaf? Memang wanita gak pernah salah? Tidak akan. Lihat saja, siapa yang kuat bertahan." Estu ngomel pada kayar ponselnya. seakan orang yang membuat dia kesal ada di hadapannya.
***
Pukul satu siang, Keken singgah ke Wastu Hestama. Dia hanya ingin melihat persiapan untuk pesat besok malam, sambil ingin tahu, kalau saja ada hal yang harus dia bantu.
Suatu hal yang wajar jika wanita atau calon menantu ingin mencari perhatian dari calon mertuanya. Meski pun pada akhirnya Keken tidak dibolehkan pegang ini itu kelh Kanjeng Mami. Hanya saja, Keken tetap datang, untuk menunjukkan itikad santunnya.
"Selama siang Mami." Keken menyapa Kanjeng Mami yang sedang berada di dapur.
"Eh, anakku. Kenapa kemari? Bau asap dapur loh." Belum apa-apa Kanjeng Mami sudah menegur Keken karena berada dilingkungan dapur.
"Tidak apa-apa Mi, aku juga kan ingin bantu-bantu," ucap Keken, sambil melihat ke beberapa titik para chef, kali aja ada yang bisa ia kerjakan.
"Sudah, tidak usah. Sana, kamu mending ke atas, Kinasih sedang belajar, kamu bisa bantu bimbing dia. Atau kamu istirahat, mempersiapkan apa kek gitu, yang lainnya. Asal jangan ke dapur. Belum waktunya." Kanjeng Mami, tidak bisa dibantah.
Keken tersenyum sambil mengangguk, kemudian dia permisi.
Keken malangkahkan kakinya ke kamar Estu. Sudah lama dia tidak melihat-lihat kamar itu. Walau sudah ada pelayan khusus untuk merapikan kamar Estu, tapi Keken suka penasaran kalau tidak melihat hasil dari tangan pelayan di rumah itu.
Dibukan kamar Estu. Pertama yang Keken lihat adalah kamar mandi. Dia suka sekali beres beres ruangan. Sampai ada sedikit saja yang licin, langsung Keken gosok.
Setelah keluar kamar mandi, dia melihat tempat menyimpan baju kotor. Hanya ingin melihat, apakah pelayan sudah membawanya?
Keken tidak suka kalau cucian ditumpuk-tumpuk, terkadang dia cuci sendiri baju Estu, kalau pelayan belum mencucinya.
Prinsip Keken dan pelayanan berbeda. Jika para pelayan sengaja mencuci pakaian agak banyak untuk sekaligus menghemat waktu dan deterjen. Meskipun deterjen yang digunakan sesuai kapasitas, kalau baju banyak deterjen lebih banyak. Hanya saja tidak tanggung kalau hanya mencuci satu setel. Lebih baik mengerjakan pekerjaan lain yang butuh waktu lebih.
Tapi menurut Keken kalau mencuci baju satu, akan lebih teliti dalam membersihkannya. Hasilnya lebih bersih.
Akan tetapi dalam hal ini Keken memaklumi, prinsip mereka memang berbeda dengan dirinya dan Keken pun tidak akan menegur pelayan.
Jika Keken sempat, maka dia akan mencuci sendiri baju calon suaminya itu Kalau kebetulan dia sedang ke sana.
Keken memungut pakaian Estu yang kemarin dipakai.
Seperti biasa mengecek setiap saku, takut ada barang yang tertinggal, entah itu kertas, bolpoin, uang atau benda lainnya.
Namun, saat mengecek bagian kerah...
"Lipstik?" Keken terkejut.
Diciumnya bagian kerah itu, meskipun noda itu dari kemarin, siapa tahu masih tercium bahwa itu memang noda lipstik.
__ADS_1
Keken mengamati lagi dengan seksama, dia tidak terburu-buru overthinking kepada calon suaminya. Diambilnya ponsel, kemudian difotonya noda tersebut sebagai bukti kalau nanti dia akan menanyakan kepada Estu, jika waktunya sudah tepat.
Bersambung....