
"Hoaam... ah, aku pulang ah," ucap Kemala tiba-tiba yang baru bangun.
Dia seperti orang mengigau, bangun dari tidur langsung berdiri tanpa mengucap mata atau duduk terlebih dahulu untuk mengumpulkan nyawanya sehabis tidur.
Sandra yang masih di depan laptopnya melihat pada temannya tidak aneh. Kemala memang bukan sekali dua kali main ke sana, dan anehnya lagi hanya numpang tidur. Makanya Sandra sudah sering melihat kelakuan temannya itu, bisa-bisanya bangun tidur langsung bangun begitu aja emangnya tidak pusing.
"Kamu pulang pakai apa?" Hanya Sandra.
Kemala minum air bening yang ada di atas nakas di samping ranjang, yang dia tiduri barusan.
"Hehehe antar sama sopirmu dong," ucap kepala nyengir kuda.
"Kirain kali ini bisa naik taksi kek." Sandra yang menggerutu tetap saja mengirimkan pesan kepada sang sopir agar mempersiapkan mobil karena temannya akan pulang.
"Kan sopir kamu nganggur, daripada makan gaji buta ya, kan?" Ada aja balasan kepala.
"Terus tentang om kamu itu gimana? Masih mau bersaing sama tantemu?" Di sisa waktunya yang sedikit lagi Kemala akan pergi Sandra penasaran, dengan cerita temannya yang jatuh cinta dengan aneh.
Mungkin kalau di beberapa kejadian kasus seperti kemarin tidak aneh, karena bukan kepala saja yang mencintai orang bisa dikatakan salah. Iya, salah mencintai orang. Bukan orang itu jahat atau merugikan, namun statusnya yang tidak boleh kita cintai.
"Memang siapa yang melarang kita mencintai siapa? Semua orang berhak mencintai siapapun bukan?" Kemala tak peduli rasa khawatir temannya itu.
"Terserah kamu saja deh, meskipun menurut aku sulit loh bersaing sama orang dewasa. Apalagi tantemu, aku tahu tantemu orang yang keren. Sudah cantik, produktif, pintar, mandiri lagi. Beueueh ... kayaknya berat deh menyusul orang yang sudah sempurna seperti itu."
"Kamu terlalu pesimis lihat aja nanti. Oke, aku pulang ya. Temanku yang baik nanti aku numpang tidur lagi, muach." Kemala mencium temannya sambil memeluknya dengan erat sebelum perpisahan.
Begitulah Kemala dia sangat berlebihan. Bahasa gaulnya ya itu lebay. Untung kemala tahu bahwa itu adalah rasa gemas dari seorang teman, coba kalau itu bukan teman biasa, nggak mungkin kan cewek sama cewek memiliki rasa... Hiiigh. Emangnya mereka lesbi.
Kemarin sudah turun dari ruangan Sandra yang ada di lantai dua, Kemala sudah akrab dengan sopirnya Sandra.
Di dalam mobil dia mencari akal untuk menarik perhatian Estu, apalagi lusa akan ada syukuran untuk kepulangan pria sang idola itu.
"Bagaimana aku bisa menarik perhatiannya ya, pasti mereka menggunakan seragam. Aku diajak nggak ya sama tante?" Kemala bergumam.
Tanya ingin setiap hari dekat dengan om direktur itu. Wajahnya tak bosan dilihat, tubuhnya yang tegap namun tidak terlalu besar, tingginya cukup, kulitnya sawo matang tapi bersih dan cerah, kulit eksotik seperti itu menandakan pria yang kekar, gagah dan kuat.
__ADS_1
Kadang Kemala sampai berhalusinasi, untuk menikmati sedikit saja bibir sang direktur yang bersih dan terlihat lembut itu. Sebab Estu tidak merokok jadi bibirnya memang bersih. Meskipun tidak merah seperti orang-orang luar negeri yang berkulit putih. Karena mungkin menyesuaikan dengan kulit Estu yang cenderung mengikuti warna kulit Indonesia pada umumnya.
Kalau sudah seperti itu Kemala akan tertawa sendiri, tersenyum, kadang sampai memejamkan matanya lama. Dia berfantasi dengan sang direktur bertubuh tegap, harus dan berwibawa itu. Sikap dinginnya membuat fantasi seorang Kemala malah semakin jatuh cinta. Dia tidak suka cowok yang terlalu rame, rasanya seperti penggombal dan pemain ulung.
"Nanti aku mau ngebujuk tante ah, biar bisa ikut acara itu. Berarti aku harus bersikap manis pada Kanjeng. Biar aku diajak. Tapi kan ini waktunya dua hari lagi, aku tidak mungkin ke rumah Kanjeng Mami dengan pakaian seragam. Nanti Kanjeng Mami makin tidak suka sama aku deh."
***
Kembali ke salon.
Ketika wanita itu sudah selesai mempercantik dirinya, lebih tepatnya perawatan. Karena mereka bukan bermake up tapi untuk memperbaiki setiap detail tubuhnya agar tetap terjaga dan terawat.
Dan sekarang waktunya pemilihan seragam, ya rencananya para wanita keluarga hastama akan menggunakan kebaya yang sama. Namun, hanya warnanya saja yang dibedakan.
Di salon itu bukannya tidak ada kebaya, namun Kanjeng Mami sudah nyaman pesan pada butik yang tadi di pesannya di sebuah swalayan besar.
Kanjeng Mami, Kinasih, Keken dan Jenni, kini berada di sebuah ruangan khusus pakaian. Tadi oleh office boy dus yang dibawa Kanjeng Mami dari swalayan sudah berpindah di sana.
Tidak mungkin mereka akan memilih pakaian di ruang depan, tempat para konsumen datang untuk perawatan.
Jenny dan Kinasih saling berpandangan. Bahaya jika Kinasih menggunakan kebaya model seperti ini. Mungkin orang-orang akan terlihat indah dengan kulit mulusnya menunjukkan pundak yang ramping dan seksi, serta manik-manik yang menghiasi brokat begitu indah terhampar di seluruh dada sampai pundak dan belakang.
Namun, bagi Kinasih jika dia memakai kebaya model itu bukan saja manik-manik pakaian yang terlihat, tapi tanda merah itu yang sepertinya sulit sekali memudah dalam dua hari ini.
"Kalau Kanjeng Mami pakai yang ini bagaimana," tanya jenny menunjukkan kebaya satunya dengan lapisan dalam sampai leher, namun tidak seluruhnya menutupi leher.
Kain yang melingkar di leher bagian tengahnya sedikit terbuka. Jadi dalaman untuk kebaya itu manset panjang sampai pundak dan setengah dada tertutupi seperti huruf O di tengah lalu menyambung ke leher.
Jenny juga menunjukkan model lain yang full menutupi leher, Namun, model kebayanya tidak kalah cantik. Warna dan hiasan manik-manik yang padat, mewah dan elegan. Serta kain batik yang begitu anggun dan sakral sekali terlihat.
Jennie sengaja menunjukkan beberapa model kebaya yang tertutup bagian leher. Agar Kanjeng Mami tersugesti bahwa model kebaya itu yang terbaik, karena jenny menunjukkannya bukan hanya satu. Biasanya Kanjeng Mami akan sependapat dengan jenny.
"Gimana Keken? Kamu setuju yang mana?" Tanya Kanjeng Mami pada menantu untuk anak bungsunya itu.
"Aku ikut Mami aja, semuanya suka," ucap Keken dengan senyum manis, terlihat sekali wanita yang tidak rewel dan penurut.
__ADS_1
Kinasih sampai saat ini tidak bosan melihat perilaku Keken. Ada rasa minder dan takut, kalau suaminya nanti benar-benar kembali pada. Apalagi terlihat Estu sekarang seperti sudah bisa membiasakan diri dengan keluarganya. Seperti bukan seseorang yang hilang ingatan.
"Kamu gimana Kinasih? Setuju yang mana dari beberapa model ini?" tanya Kanjeng Mami, yang menjajarkan beberapa model di atas meja.
Kinasih pura-pura berpikir sejenak, dia melihat beberapa model yang ada di depannya. Padahal Kinasih sudah memiliki pilihan sebelum Kanjeng Mami dan Keken membahasnya. Dia sudah memilih bersama Jenny. Sehingga Jenny mengatur cara agar saat kencing Mami membahas masalah model kebaya, Kanjeng Mami tersugesti dengan penjelasan dari Jenni.
"Kalau yang ini aku suka, yang ini juga Mi, suka." Kinasih sengaja menunjuk dua model yang dia suka. Memiliki kerah sampai leher.
Kinasih sengaja tidak langsung memilih pada satu pilihannya. Agar Kanjeng Mami menyangka bahwa Kinasih juga sebenarnya bingung, padahal Kinasih tak masalah model yang manapun asal semuanya menutupi leher.
"Baiklah kalau begitu kita tinggal pilih warnanya saja ya," ucapkan jeung mami sambil membawa satu tumpuk model yang sama dengan warna lain.
'Hah? Jadi isi dosa besar ini sebenarnya hanya kebaya dengan beberapa model dan setiap model ada beberapa warna? Apa Kanjeng Mami ribet sekali? Bukannya bisa hanya melalui foto atau gambar? Ini malah dibawa semuanya? Dasar orang kaya, semuanya ingin mudah meskipun kata orang kecil seperti aku repot kaya gini.
Lalu, setelah ini baju-bajunya dikembalikan lagi ke toko, gtu? Atau di simpan di sini? Eh, tapi, apakah salon ini ada hubungannya dengan swalayan tadi? Hingga tak apa menyimpan barang dari sana ke sini? Ah ... sungguh tidak dapat dimengerti kelakuan orang kaya.'
Kinasih malah bengong dan mengobrol sendiri dalam hatinya. Membingungkan perilaku Kanjeng Mami, yang menurutnya ribet dan aneh.
"Eh, malah bengong," tegur Kanjeng Mami, dia mencolek tangannya Kinasih.
"Eh, I-iya. Kenapa Mi?" tanya Kinasih, terkejut dengan colekan Kanjeng Mami.
"Ini kamu milih mau yang warna apa? Malah bengong aja mikirin apaan sih?"
"E-enggak Mi, cuma ... Mami bawa contoh sebanyak ini, aku jadi bingung. Heheh." Kinasih menacari alasan pembelaan dan bohong tentunya.
"Udah... nggak usah mikirin yang gak penting, Mami punya usul. Kalian kan sudah ada pasangan masing-masing. Bagaimana kalau modelnya tetap sama kita semua, hanya saja warna yang berbeda. Tentunya Kinasih warnanya senada dengan pakaian adat yang akan dikenakan Bagas, Keken warnanya senada dengan Estu, nah nanti Mami juga senada dengan Papi. Bagaimana?"
Waduh? Kinasih berpandangan lagi dengan Jenny.
Bisa-bisa semakin renggang saja ikatan Kinasih dengan Esti, jika sudah mulai di spesialkan seperti ini sampai baju couple segala.
Meski Kinasih dan Estu sedang ada masalah, tapi jangan sampai karena acara pakaian couple jadi membuat Estu semakin merasa jauh dari Kinasih.
Kinasih juga sebenarnya tidak begitu marah dengan Estu, hanya kesal saja dengan keadaan.
__ADS_1
Bersambung....