Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Meragukannya


__ADS_3




"Mas ..." Sebenarnya aku ragu untuk memulai pembicaraan ini dengannya. Tapi ... aku harus mengatakannya.


"Ada apa?" Aku melihat lelaki itu kembali pada mode dinginnya. Entahlah, sejak kepulangannya dari kantor, Tian kembali menjelma sebagai dirinya sendiri. Bahkan, ia tak mau menatapku sama sekali.


Kenapa lagi lelaki itu?


"Aku ..." Ku gigit bibir bawahku sebelum kemudian aku kembali berkata. "Aku ingin bekerja."


Tian yang sedang mengusap sudut bibirnya dengan kain itu seketika menatapku. "Kerja?" Tanyanya dengan kedua alis bertaut.


Kepalaku mengangguk. "Iya, aku akan bekerja."


"Apa uang yang aku berikan tak cukup?"


"Bukan." Aku mengibaskan tangan. "Uang dari kamu lebih dari cukup buat aku." Padahal, aku tak pernah memakai uang pemberiannya itu hingga sampai sekarang. "Aku hanya bosan diam terus di rumah ini tanpa melakukan apa-apa. Jadi aku memutuskan untuk bekerja. lagipula, setelah nanti kita berpisah, aku harus punya penghasilan sendiri." Jelasku padanya yang membuat Tian seketika diam.


"Terserah kamu, itu urusan kamu." Selanya cepat. Buru-buru ia meminum air putih yang tersedia di dalam gelas itu hingga tandas. Lalu, Tian kembali menatapku saat ini.


"Memangnya kamu mau kerja apa?" Tanya lelaki itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Temanku menawarkan aku pekerjaan sebagai sekretaris di kantornya."


"Sekretaris?" Tanyanya seolah tak percaya.


Kenapa dia menatapku seperti itu?


Apa aku terlalu buruk bila menjadi seorang sekretaris?


Aku mendesis, menatap lelaki itu tak suka. "Iya, memangnya kenapa?"


"Siapa yang menawarimu pekerjaan itu?"


"Temanku, dia punya perusahaan. Kebetulan sekretarisnya itu resign. Jadi dia menawarkan aku pekerjaan itu." Akuku pada Tian.


"Teman? memangnya kamu punya teman?"


"Punyalah." Jawabku sambil memasukkan air putih itu ke dalam mulut.


"Apa temanmu itu Arga Devano?" Tanya Tian yang membuat aku tersedak seketika.


"Jadi benar, kamu mau bekerja di perusahaan teman mu itu?"


Setelah merasa baikan, maka akupun mengangguk "I - iya."


Dan setelah itu, baik aku ataupun Tian, kami berdua memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing setelah beberapa menit yang lalu kami baru saja menyelesaikan makan malam. Aku merasa senang karena Tian mengijinkan aku untuk bekerja. Meskipun sebenarnya ijinnya itu tak penting buatku, karena Tian pasti takkan peduli.

__ADS_1


Ku rebahkan tubuh di atas kasur seraya memikirkan kembali permintaan Arga. Ya, beberapa jam yang lalu, temanku yang bernama Raya menghubungiku setelah aku memintanya untuk mencarikan pekerjaan. Dan aku sangat senang saat Raya memberitahuku tentang lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Awalnya aku tidak tahu kalau Raya, ternyata gadis itu bekerja di perusahaan milik Arga Devano - mantan kekasihku itu.


Aku sempat menolak saat Raya meminta aku untuk menjadi sekretarisnya Arga. Tapi karena aku ingin dan membutuhkan pekerjaan itu, maka pada saat Arga menghubungiku secara pribadi, akhirnya akupun setuju. Dengan syarat, tidak boleh mencampurkan urusan pribadi di antara kami saat sedang bekerja. Dan Arga pun setuju.


Aku tahu, seharusnya aku tidak boleh berhubungan lagi dengan Arga meskipun hanya sebatas teman sekalipun. Harusnya aku menjauhinya, seharusnya aku menghindari lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku itu. Apalagi sekarang dengan status Arga yang seorang duda. Alangkah tidak baiknya jika aku kembali berdekatan dengan laki-laki itu. Bisa-bisa nanti aku di gosipkan yang tidak-tidak. Tapi ...


"Bagaimana ini?" Tanyaku dalam hati.


******


Pagi-pagi sekali aku sudah berdiri di depan cermin yang memantulkan diriku di dalamnya. Aku melihat penampilanku sendiri yang sudah bersiap dengan setelan kerja. Aku tersenyum, karena hari ini aku akan kembali bekerja. Setidaknya dengan aku kembali bekerja, bisa menghilangkan rasa bosanku selama tinggal di rumah Tian. Sampai nanti waktunya tiba. Dimana aku dan Tian akan berpisah.


"Cantik." pujiku pada diri sendiri.


Setelah selesai merapihkan pakaian dan wajah, akupun bergegas untuk segera turun ke lantai bawah. Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku itu sambil tersenyum, ternyata masih ada waktu untuk aku sarapan. Aku tidak ingin terlambat di hari pertama aku bekerja.


Aku yang baru saja keluar dari dalam kamar, tiba-tiba pintu kamar Tian pun terbuka. Kami berdua terdiam, dan untuk beberapa saat aku dan Tian saling menatap. Entah kenapa aku kembali di buat kagum oleh penampilan lelaki itu setiap hari, apalagi dengan setelan jas seperti ini. Jujur, Tian benar-benar tampan.


*Apa yang aku pikirkan?


Hingga* di beberapa detik kemudian lelaki itu memutuskan pandangannya.


"Mau kemana?" Tanyanya, Tian menatap aku dari atas sampai bawah. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan pula lelaki itu memperhatikan penampilanku akhir-akhir ini.


"Mau kerja."


"Kerja?" Dengan pakaian ketat dan dandanan yang membuat gadis itu terlihat sedikit - Menarik.


Lelaki itu tersenyum miring sambil membenarkan posisi dasinya yang tiba-tiba saja terasa mencekik - mungkin.


"Dengan penampilan kamu seperti itu?"


"Penampilan seperti itu bagaimana?" Protesku. Aku memperhatikan diriku sendiri, menurutku ini sudah baik. Lalu apa yang salah?


Lelaki itu mendekat, mengikis jarak di antara kami. Lagi, pandangan kami berdua bertemu, dan untuk kali ini dalam jarak yang begitu dekat. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang terasa hangat menerpa permukaan wajahku. Serta wangi mint yang keluar dari bibirnya itu membuat aku sedikit menyukainya. Tapi ... aku menutup mata sesaat sembari menggeleng sebelum kemudian Tian membisikkan sesuatu pada telingaku.


"Semua orang pasti bertanya, kamu ini mau kerja atau mau menggoda laki-laki di tempat kerja kamu itu?"


"Apa maksud kamu, Mas?"


Aku mendelik, menatap lelaki itu kesal. Tak butuh waktu lama untuk aku mengerti, kalau sebenarnya Tian sedang meledekku.


"Penampilan kamu seperti seorang penggoda."


"Terserah kamu, Mas." Kesalku pada Tian.


Tanpa berbicara lagi, akupun berjalan lebih dulu meninggalkan Tian yang masih berdiri di sana sambil menyeringai puas. Semakin lama aku hidup bersamanya, maka akan semakin cepat pula wajahku berubah menjadi tua sebelum waktunya.


"Dasar Rese.!"


"Nyebelin.!"

__ADS_1


Gerutuku kesal. Ku langkahkan kaki menuju meja makan, tapi sebelum itu terjadi, aku mendengar suara bel yang di tekan berkali-kali dari luar.


"Biar Bibik yang buka, Bu." Mbok Iyam tiba-tiba saja muncul dari dalam dapur.


"Gak usah, Bik. Biar aku aja yang buka pintunya. Bibik lanjutin aja pekerjaannya ya?"


"Baik kalo begitu, Bu." Ujarnya sambil masuk kembali ke dalam dapur.


Akupun bergegas menuju ke pintu utama rumah ini. Saat pintu di depanku itu terbuka, aku melihat ada seorang kurir yang berdiri disana sambil memegang sebuah amplop di tangannya.


"Pagi, Bu."


"Pagi." Balasku sambil tersenyum tipis.


"Apa benar ini rumahnya, Pak Tian.?"


"Iya." Jawabku seraya mengangguk. "Ada apa ya, Pak?"


"Ini, Bu. Saya cuma mau mengantarkan ini kepada Pak, Tian." laki-laki itu menyodorkan amplopnya ke hadapanku, akupun menerimanya dengan alis terangkat.


"Ini, apa ya?"


"Itu kwitansi Bu, bukti pembelian dan pembayaran perabot rumah." Jawab kurir tersebut.


"Oh ... ya sudah, Makasih ya. Pak."


"Sama-sama."


Setelah kurir itu tak terlihat lagi, akupun membuka isi dari dalam amplop tersebut, kulihat ada selembar kwitansi disana. Dan akupun tertarik untuk membacanya, dimana di dalam kertas itu ada beberapa barang yang Tian beli. Dan yang membuat aku bingung semua barang yang di beli atas nama Tian itu adalah perabotan rumah. Dan jangan dikira, berapa jumlah uang yang Tian keluarkan untuk membeli semua keperluan rumah itu.


"Kanapa Tian membeli semua ini?" Gumamku seraya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Yang aku lihat semua isi di dalam rumah ini masih terlihat sangat baru, tapi kenapa Tian mau menggantinya? atau jangan-jangan lelaki itu membeli rumah baru?


Ah ... sudahlah, namanya juga orang kaya. Mungkin Tian bosan dengan semua furniture di dalam rumah ini.


"Mas ...?" Aku berdiri di samping Tian yang sudah menempati tempat duduknya di meja makan. Aku sodorkan selembar kertas itu kehadapannya.


"Apa, ini?"


"Tadi ada kurir yang mengantarkan itu." Tian menatapku. "Mas ... belanja perabotan rumah sebanyak itu untuk apa?"


"Oh ..." Buru-buru Tian mengambil kertas itu, lalu dimasukkannya ke dalam saku jas yang di kenakannya.


"Mas ... beli rumah baru ya?"


Entah kenapa aku begitu penasaran. Tak seharusnya aku bertanya yang bukan menjadi urusanku, kan?


Lelaki itu berdehem. "Itu ... punya teman." Akunya yang justru membuat aku sedikit meragukannya. Apalagi melihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Tian, meskipun tak terlalu terlihat, tapi aku melihat lelaki itu sedikit gelisah.


Sepertinya Mas Tian sedang menyembunyikan sesuatu.


Atau ini hanya perasaan aku saja ya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2