Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Kesempatan kedua


__ADS_3

"Ra ... itu mantan suami lo, kan?"


Aku melihat kemana mata Geril tertuju, dan benar saja, ternyata Tian sedang berdiri di depan mobilnya. Tubuhnya bersandar pada bagian pintu mobil dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana. Aku pikir lelaki itu hanya bercanda ingin bertemu denganku. Tapi ternyata Tian benar-benar ada. Lelaki itu bahkan rela menunggu di depan club malam selarut ini.


"Untuk apa dia kemari, sih?" Gumamku pelan.


"Mana gue tau.!" Balas Geril sambil mengedikan bahunya acuh. "Gue balik duluan."


"Tapi, Ril."


"Udah, lo pasti di anterin sama dia kok."


"Sok tahu.!"


"Ngomong-ngomong ..." Nenci mendekat, laki-laki setengah wanita itu berbisik pelan. "Kalo lo gak mau sama dia, bilangin, gue siap kok gantiin."


Aku melirik sinis, membuat keduanya cekikikan sambil berlalu.


Setelahnya, Geril dan asistenku Nenci pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berdiri mematung di tempat. Sebelum masuk ke dalam mobil, Geril lebih dulu menghampiri Tian. Aku melihat mereka berdua berbicara, dan entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai aku melihat Geril dan Nenci masuk kedalam mobil lalu mereka pergi.


Tian datang menghampiriku.


"Kenapa kamu ada disini, Mas?"


"Aku mau ketemu kamu." Jawabnya, Tian memindai aku dari atas sampai bawah. Di tatap seperti itu tentu membuatku risih. Aku melihat Tian segera melepaskan jas yang masih melekat pada tubuhnya itu. "Pakai ini." Ujarnya kemudian sambil memasangkan jas kerjanya itu pada bagian belakang tubuhku. Pria itu menyampirkannya pada bahuku. Menutup bagian punggung dan bahu yang terbuka. "Kamu gak risih pakai pakaian kekurangan bahan seperti ini?"


Aku melirik sinis, "Gak." Jawabku ketus. "Biasa aja.!"


Tian terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya samar. "Lihat mereka." Aku mengikuti kemana arah mata Tian tertuju. "Apa kamu suka tubuhmu di liatin orang-orang kayak gitu?"


Entah kenapa tiba-tiba bibirku terasa kelu. Aku melihat mereka, ada empat orang laki-laki hidung belang yang menatapku seperti orang kelaparan. Sebenarnya aku sudah terbiasa memakai pakaian seperti ini saat sedang bekerja, tapi untuk kali ini entah kenapa rasanya sangat berbeda.


Apa aku terlihat seperti wanita panggilan?


Melihat aku yang diam saja, Tian pun tersenyum tipis.


"Ayo pergi, aku gak mau kamu jadi pusat perhatian mereka."


Tanpa menjawab, aku menurut, membiarkan Tian menggenggam tanganku dan mengikutinya masuk kedalam mobil setelah laki-laki itu membukakan pintu untukku terlebih dulu.


Berada di dalam mobil, entah kenapa suasana mendadak menjadi hening seperti saat ini. Aku lebih banyak diam, mendadak melihat penampilanku sendiri yang sebenarnya memang terlihat sedikit terbuka. Sementara Tian fokus mengendarai mobilnya. Sesekali aku melihat Tian melirik ke arahku. Lelaki itu menghela napas panjang sebelum kemudian ia berujar.


"Apa sebaiknya kamu berhenti saja dari pekerjaan kamu itu, Nay?"


"Itu pekerjaanku, dan aku menyukainya." Jawabku tanpa menoleh pada Tian. Pandanganku masih tetap, menatap lurus ke depan.


"Kamu bisa cari pekerjaan yang lain, selain jadi Dj."

__ADS_1


Aku memiringkan badan, menghadap pada laki-laki itu dan menatapnya tak suka. "Apa kamu berpikir menjadi seorang Dj itu kotor, Mas?!"


"Bukan seperti itu." Kilahnya.


"Lalu kenapa?" Sungutku sedikit kesal.


"Aku hanya --- aku ---"


Tian menatapku, lelaki itu sepertinya tidak ingin memperkeruh suasana menjadi lebih buruk lagi. Maka, kata maaf lah yang kembali aku dengar keluar dari bibirnya itu. Posisi dudukku kembali ke semula. Lama kami berdua saling terdiam hingga Tian lah yang memecah keheningan itu kembali.


"Aku sudah bertemu dengan Tari."


Sempat sedikit terkejut, tapi aku tetap bertahan pada posisiku. Menunggu apa yang akan Tian katakan selanjutnya.


"Tari meminta aku untuk mempertemukannya dengan Cheery."


"Dia ibunya, dan Cheery berhak tahu. Mas." Kataku yang membuat Tian seketika menoleh.


"Tapi aku yang belum siap, Nay." Tian mengusap wajahnya kasar. "Terlalu sulit buat aku mengenalkan Tari pada Cheery."


Aku melihat gurat lelah dan gusar tercetak jelas di wajahnya itu.


"Apa yang membuatmu sulit?"


"Aku belum bisa memaafkannya." Jelas Tian.


"Sesulit itukah untuk kamu memaafkan, Mas? Tari pasti mengatakan alasan kenapa dulu dia ninggalin kamu dan Cheery, kan?"


Tian melihatku sejenak, sebelum kemudian ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan sepi yang tidak terlalu ramai kendaraan. Sebenarnya aku ingin protes, tapi Tian lebih dulu menempelkan jari telunjuknya di depan bibirku. "Sebentar, aku ingin cari udara segar dulu." Tian keluar dari dalam mobil, lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada bagian depan mobil kemudian mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Aku melihat Tian sedang menyalakan barang bernikotin itu.


Ku putuskan untuk keluar menemaninya.


"Kenapa dulu aku begitu buta?"


Katanya lagi setelah aku ikut duduk di sampingnya. Aku menoleh sekilas sambil tersenyum tipis.


"Kamu buta karena kamu mencintainya, Mas."


"Iya, dulu memang aku sangat mencintainya." Lelaki itu mendesis. Lalu membuang rokok yang tinggal sedikit itu ke tanah. "Sampai aku di buat bodoh karena cinta itu sendiri."


"Gak baik bicara seperti itu, Mas." Tian menatapku, pun dengan aku. Lama kami berdua saling berpandangan dalam diam sebelum kemudian akulah yang memutuskan pandangannya. Udara yang begitu dingin pada malam ini tak membuat kami ingin segera berlalu, justru aku sangat menikmati meskipun membuat seluruh tubuhku merasa kedinginan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Suaranya lirih. Matanya masih inten menatapku.


"Kenapa kamu bertanya padaku, Mas.? kamu yang lebih tahu gimana isi hati kamu sendiri." Jawabku sambil menatapnya kembali.


"Aku masih ragu." Akunya sambil berpaling.

__ADS_1


"Apa kamu masih mencintainya, Mas?"


Seketika itu juga Tian menatapku. "Apa aku terlihat seperti masih mencintainya?"


Aku diam, dan entah kenapa tatapan Tian begitu mengunci.


"Lihat mataku, Nay." Pintanya. "Dengan melihat mataku, kamu akan tahu siapa yang aku cintai sekarang."


"Mas ..."


"Apa kamu masih meragukanku?"


Aku diam.


"Aku serius dengan perasaanku. Aku mencintai kamu."


"Sudahlah Mas, lebih baik kita pulang sekarang."


"Naya ...!" Tian menarik tanganku saat aku hendak pergi meninggalkannya untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"Mas ... sudah malam! Kita harus pulang sekarang."


"Beri aku kesempatan, Naya."


Pintanya dengan mata memohon. Aku bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Ingin aku mengatakan 'tidak' tapi entah kenapa bibir ini terlalu sulit untuk mengucapkannya.


"Beri aku kesempatan kedua."


Aku menggeleng, "Tidak Mas. Aku ---" ku gigit bibir bawahku.


Tian menyeringai, "Tatap mataku, Naya." Lelaki itu mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk. "Lihat aku sekarang, dan katakan kalo kamu gak bisa."


Sesuai dengan permintaannya, maka akupun menatapnya.


"Katakan."


"M - Mas."


"Katakan kalo kamu gak bisa." Ulangnya.


Lagi, aku seperti terhipnotis oleh tatapannya. Tatapan teduh dan lembut yang membuatku tak bisa berkutik. Melihat aku yang hanya diam saja membuat lelaki itu tersenyum tipis, lalu menarik tubuhku dalam pelukannya. Tian memelukku.


"Aku tahu jawabannya sekarang."


Ujar Tian sambil mengeratkan pelukannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2