
Satu minggu berlalu.
Nyatanya, apa yang aku sampaikan waktu itu tidak berlaku untuk Tian. Lelaki itu tidak mau menyerah, Tian menggunakan segala cara hanya untuk bisa bertemu denganku. Termasuk dengan Cheery.
Ya, Cheery.
Tian menggunakan Cheery sebagai alat satu-satunya untuk menarik perhatianku. Sama halnya seperti sekarang, entah apa yang Tian katakan pada Cheery sehingga anak kecil itu merengek meminta aku untuk menemaninya jalan-jalan hari ini ke sebuah Mall.
Mau tidak mau akupun tak bisa menolak keinginan dari Cheery. Setelah beberapa kali bertemu, entah kenapa aku begitu menyukai anak kecil itu. Aku dan Cheery bahkan menjadi sangat dekat, dan kedekatan kami itu membuat Ibu, Mama Maya dan Tian sekaligus menjadi sangat senang.
Melihat bibir mungil itu tersenyum, melihat bagaimana cara Cheery berbicara, melihat bagaimana cara anak kecil itu menatapku, sungguh aku sangat menyukainya. Rasanya aku takkan sanggup jika melihat anak itu bersedih apalagi sampai menangis. Bukan karena Tian, aku hanya merasa iba saat ingatanku kembali lagi pada cerita Mama Maya tentang Tari. Aku yang bukan siapa-siapanya pun begitu menyayangi anak itu. Tapi Tari, bagaimana bisa wanita yang aku kenal sangat baik, dengan begitu teganya meninggalkan anak menggemaskan seperti Cheery.
Seandainya Tari tahu kalau anaknya itu telah tumbuh menjadi besar, menjadi anak yang pintar dan juga sangat cantik, apakah ia akan menyesal karena telah meninggalkan Cheery?
Oh tentu ... aku sangat yakin jika Tari akan sangat menyesal.
Aku pun ikut tersenyum melihat bagaimana cara Cheery yang tertawa lepas saat sedang bermain bersama Tian. Anak polos yang tertawa tanpa beban itu terlihat sangat bahagia. Pun dengan Tian, di balik tawanya yang menggema, aku melihat lelaki itu sedang berusaha menyembunyikan lukanya sendiri.
"Capek?" Tanyaku saat Cheery sudah duduk di atas pangkuan. Dahinya berkeringat di tambah dengan wajahnya yang memerah karena Cheery terlalu aktif dalam bermain. Di ikuti Tian yang menyusul di belakangnya.
"Aku haus, Tante." Cicitnya yang berhasil membuat aku tersenyum.
Aku memberikan minuman untuknya, dan Cheery langsung menenggak minuman itu.
"Ini, Mas."
Ku sodorkan minuman dingin dalam kemasan itu kehadapannya.
"Makasih." Ucapnya sambil memberi senyum. Tian menatapku, pun dengan aku.
Meskipun sedikit berpeluh, tak membuat ketampanannya itu berkurang sedikitpun.
Tak ingin berlama-lama Tian menatapku, maka aku putuskan untuk membuang pandangan terlebih dulu. Entah kenapa kejadian waktu di rumahku tempo hari itu kembali berputar di kepala. Bayang-bayang saat bibir kenyal dan basah itu kembali menempel di atas bibirku, membuat aku malu dan gugup.
"Kenapa?" Tanyanya dengan ujung bibir yang sedikit tertarik ke atas. Rupanya sedari tadi Tian masih memperhatikanku. "Apa yang kamu pikirkan?"
"Eng ... enggak.! aku gak mikirin apa-apa."
Tian tersenyum, lelaki itu kembali menatapku sekarang.
"Makasih." Untuk yang kedua kalinya Tian mengucapkan itu.
"Untuk?"
"Kamu bersedia menemani Cheery bermain hari ini."
"Aku melakukannya untuk Cheery." Kataku pelan.
"Hem ..." Kepala Tian mengangguk. "Meskipun begitu, aku tetap harus berterima kasih sama kamu. Karena kamu, lihatlah betapa bahagianya Cheery sekarang."
"Selama aku gak kerja, aku pasti akan sedikit meluangkan waktu untuk menemani Cheery."
"Naya ..." Panggil nya kembali. Aku hanya diam, menunggu apa yang akan Tian katakan Setelahnya. "Apa kamu gak berniat untuk berhenti bekerja menjadi DJ.?"
Aku menoleh, menatapnya dengan dahi mengkerut. "Maksud kamu, Mas?"
__ADS_1
"Berhenti menjadi Dj."
"Kenapa?"
"Pekerjaan itu terlalu berbahaya buat kamu." Aku melihat kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.
"Tapi aku menyukainya."
Pria itu menjadi bungkam saat aku menatapnya tak suka. Kemudian terjadi kecanggungan di antara kami berdua.
"Papa, aku lapar." Cicitnya sambil memegangi perut. Aku dan Tian sempat saling melirik sebelum kemudian menatap pada Cheery.
"Kamu mau makan?"
Kepala mungil itu mengangguk gemas.
"Baiklah, kita cari makan sekarang."
Tak banyak bicara, aku dan Cheery mengikuti kemana Tian melangkah. Lelaki itu membawa kami pada resto cepat saji yang ada di dalam Mall tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang kami pesan pun mulai tersaji di atas meja. Saat makan berlangsung, tak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Tian, bahkan aku lebih banyak diam karena rasa kesalku yang belum hilang pada laki-laki itu.
Apa haknya dia melarang aku bekerja?
******
Setelah selesai, akhirnya kami semua memutuskan untuk pulang. Suasana kembali mencair saat Tian kembali meminta maaf padaku. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini aku begitu menyukai kata 'maaf' yang keluar dari bibirnya.
Aku yang berjalan di depan bersama Cheery sedikit tersentak saat tanpa sengaja menabrak seseorang yang yang sedang berjalan di depanku. Kejadian itu membuat satu barang belanjaannya terjatuh di atas lantai begitu saja.
"Tidak apa-apa."
"Ini ---" Aku terkejut, tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Pun dengan orang itu, wanita itu sama terkejutnya seperti aku. Juga dengan Tian yang mendadak beku disana.
"Tari?"
"Ti -- Tian.!"
Aku mendengar suara itu. Suara Tian yang sedikit parau beradu dengan suara lembut dari wanita yang sekarang sedang menunjukkan wajah terkejutnya.
"Tian, kamu ...?"
Belum sempat Tari berujar, Tian telah lebih dulu memangkasnya.
"Ayo pergi."
Aku tersentak saat tiba-tiba saja Tian menarik tanganku dan Cheery. "Tapi, Mas?"
"Kita pergi dari sini."
Tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya mengikuti Tian yang sedikit menarik tanganku.
"Tian tunggu." Suara Tari yang sedikit berteriak.
Aku yang menoleh ke belakang, sementara Tian, lelaki itu sama sekali tak memperdulikan suara Tari yang terus memanggil namanya.
__ADS_1
Wajah yang semula menyejukkan kini berubah menjadi bengis. Sejak berada di dalam mobil lelaki itu sama sekali tak terlihat ramah. Bahkan celotehan yang keluar dari bibir mungil itu tak di hiraukan sama sekali.
"Papa, siapa Tante tadi?
"Tadi aku dengar Tante itu manggil-manggil nama Papa, kenapa Papa gak denger."
"Aku lihat Tante tadi sepertinya menangis."
"Papa ... Papa ..."
"Diam!." Sentaknya, membuat aku dan Cheery sampai berjengit kaget.
"Mas.!" Kesalku, aku memeluk Cheery yang ketakutan. Anak kecil itu menyembunyikan wajahnya di dadaku."Jaga suara kamu, Mas."
Tian diam seraya memejamkan matanya erat. Ia pegangi setir kemudi itu kuat-kuat. Entah apa yang membuat laki-laki itu menjadi menakutkan sekarang. Apa karena pertemuannya dengan Tari yang membuat Tian sampai membentak Cheery.
Di dalam perjalanan pulang, tak ada yang bersuara sedikitpun. Aku hanya diam sambil memeluk Cheery yang sudah tertidur dalam dekapan, pun dengan Tian yang tak banyak bicara. Lelaki itu sepertinya menyesal karena sudah berani membuat Cheery menangis ketakutan seperti itu.
Setelah sampai di basement gedung apartemen, Tian segera keluar dan membukakan pintu untukku.
"Biar aku yang bawa Cheery."
"Gak usah, Mas. Aku aja yang gendong dia." ketusku.
"Cheery berat, Nay."
"Aku kuat bawa Cheery sampai ke dalam."
Aku keluar begitu saja sambil menggendong Cheery, meninggalkan Tian yang masih berdiam diri disana dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Buruan, Mas.!"
******
"Aku harap kamu gak lupa minta maaf sama Cheery kalo nanti dia bangun."
Tian yang semula duduk sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa lantas menatapku. "Hem ... akan aku lakukan."
"Aku gak suka kamu bentak Cheery kayak gitu, Mas.."
"Iya, aku salah."
Mendengar dan melihat Tian tidak sebengis tadi membuatku merasa lega.
"Aku pulang. Tolong, jagain Cheery."
"Naya ..." Lelaki itu menarik tanganku. Menahanku agar aku tetap bertahan disana. Tian berdiri, ia mendekat dan tanpa aba-aba langsung menarik tubuhku dalam pelukannya.
"M - Mas."
"Sebentar." Lirihnya. "Sebentar saja, biarkan aku seperti ini."
Lalu, aku merasakan Tian menelungkupkan wajahnya di perpotongan leher. Lelaki itu memelukku sangat erat, tak peduli pada ketidaknyamananku sekalipun. Akan tetapi, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi sebuah rasa yang tak biasa saat setetes air bening itu menetes membasahi baju yang ku kenakan saat ini.
"Apa yang membuat kamu menangis, Mas?"
__ADS_1
...****************...