
Mendadak suasana di dalam ruang inap sekarang ini menjadi terasa hening. Hanya ada aku, Mama Maya, dan juga Tari yang ikut menjaga Cheery setelah Papa Adi dan Ibu memutuskan untuk pulang lebih dulu. Tari di perbolehkan untuk tetap berada disini karena Cheery. Ya, sebelum di pindahkan ke dalam ruang inap, Cheery sempat memanggil nama Tari meski dalam keadaan mata tertutup.
Tak ada percakapan di antara kami bertiga selain menatap sendu pada gadis kecil yang terbaring lemah di atas kasur dengan selang infus yang menancap di tangan mungilnya itu.
Rasa bersalahku pun belum juga hilang meskipun Raffi sudah mengatakan kalau Cheery akan baik-baik saja. Pun dengan Mama Maya dan juga Papa Adi yang ikut menenangkanku, bersyukur karena mereka tidak menyalahkanku. Mereka bedua masih tetap bersikap baik meskipun aku telah membuat cucu kesayangannya itu celaka.
"Itu hanya kecelakaan."
Meskipun demikian, tetap saja rasa bersalah itu masih ada dalam benak. Apalagi saat melihat napas Cheery yang sesak dan tidak beraturan, serta wajahnya yang pucat membuat rasa bersalahku itu pun semakin besar.
"Naya ..." Wajahku yang semula menunduk seketika mendongak saat mendengar suara Mama Maya. Beliau tersenyum tipis.
"Ada apa, Ma?"
"Lebih baik kamu makan dulu, dari tadi kamu disini dan belum makan kan?" Meskipun sama-sama lelah, Mama Maya tetap mencemaskan aku.
Aku tersenyum seraya menggeleng pelan. "Naya, belum lapar, Ma."
"Nak ..." Mama Maya menggenggam tanganku. "Makanlah dulu, Mama gak mau kamu sakit. Biar Mama yang jaga Cheery disini." Mama Maya menatap Tari yang duduk di kursi tunggal. "Kamu juga, sekarang Cheery sudah tidur. Kalau kamu mau pulang, silahkan! Biar saya dan Naya yang jaga Cheery."
"Tidak Tante." Buru-buru Tari menggeleng. "Aku mau tetap disini. Jagain Cheery." imbuhnya yang membuat Mama Maya menghela napas berat.
"Cheery tidak butuh kamu, karena ada saya Neneknya, dan juga Naya disini." Mama Maya menekankan setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya itu.
"Cheery butuh aku, Tante. Dia anakku, dia putriku." balas Tari tak mau kalah.
"Cih ..." Mama Maya berdecih. "Dia bukan anak kamu lagi setelah kamu pergi meninggalkannya dulu."
"Ma ..." Aku berusaha menarik perhatian Mama Maya dari Tari yang sepertinya tersulut emosi.
Pun dengan Tari yang diam membeku dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Aku memang salah Tante. Tapi aku melakukannya demi Tian dan juga Cheery. Aku pergi meninggalkan mereka karena mendapat tekanan dari suami anda.!"
"Diam kamu." Sentak Mama Maya. "Suami saya melakukan itu karena kamu memang tidak pantas untuk anak saya."
"Kenapa? Apa karena kesalahan kedua orang tua saya dulu? sehingga Tante dan Om Adi membenci saya?"
"Ya." Mama Maya menjawab lantang. "Kamu sudah tahu alasannya apa, seharusnya kamu pergi sekarang dan jangan pernah temui Tian dan Cheery lagi."
"Tapi maaf Tante. Saya tidak bisa melakukan itu. Saya akan tetap ada disini karena saya Mamanya Cheery."
"Kamu ---" Belum sempat Mama Maya berucap, tiba-tiba saja suara pintu di depan sana terbuka lebar. Baik aku, Mama Maya dan Tari ikut menoleh, kami semua sempat terkejut karena Tian sudah berdiri dengan pandangan tak terbaca. Pun dengan Rama yang berdiri di belakang tubuh jangkung Tian, laki-laki itu menatap kami semua dengan pandangan menelisik.
"Tian ..." Seru Mama Maya menghampiri Tian yang masih bergeming disana. "Kamu pulang, Nak?"
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Pandangan Tian saat ini hanya tertuju pada Cheery. Dengan wajah lelah dan baju yang tinggal menyisakan kemeja itu terlihat sangat berantakan. Aku yakin Tian dan Rama baru saja sampai dan langsung datang ke rumah sakit.
Saat Tian berjalan, lelaki itu melewatiku begitu saja. Tian tak menatapku sama sekali, padahal aku yakin kalau Tian menyadari keberadaanku disana. Dengan sikap dinginnya yang seperti itu membuat rasa bersalahku pun menyeruak kembali.
"Nona ... bisa ikut saya sebentar." Ujar Rama saat ia sudah berdiri di dekatku.
Kepalaku mengangguk. "Baik."
Saat aku hendak menghampiri dan meminta izin untuk keluar, aku melihat Mama Maya mengangguk. Meskipun tak bicara, tapi aku tahu kalau Mama Maya melarang aku untuk mendekati Tian saat ini. Lelaki itu butuh waktu untuk sendiri. Apalagi saat ini aku melihat Tian begitu terluka, tangan besarnya itu tak mau melepaskan tangan Cheery dari genggamannya. Tian terus mengecup tangan mungil itu berkali-kali, dan sesekali aku melihat Tian menelungkupkan wajahnya di atas tangan Cheery.
"Tian ... " Mama Maya menghampiri dan berdiri di samping Tian saat ini. "Kamu jangan khawatir, Nak. Cheery akan baik-baik saja."
Sama seperti tadi, Tian sama sekali tak mau bicara meskipun pada Mamanya sendiri.
Aku mengerti, saat ini mungkin Tian butuh waktu untuk sendiri. Aku akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya nanti setelah perasaan Tian mulai membaik.
******
"Makanlah Nona." Rama menatapku dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Kata Nyonya anda belum makan apapun dari tadi."
"Aku belum lapar." Jawabku singkat sambil meletakkan sendok di atas makanan yang belum tersentuh sama sekali.
"Anda akan sakit jika tidak makan!"
Aku tersenyum kecut, menatap Rama saat ini. Sementara Tari, wanita itu sesekali melirik ke arahku dan juga Rama secara bergantian.
Ya, sebelumnya Rama tidak hanya mengajak aku, ia pun meminta pada Tari untuk ikut bersamanya. Entah apa yang ingin Rama bicarakan denganku dan Tari, tapi aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan kami saat ini. Sebagai asisten Tian, aku yakin Rama di perintahkan oleh Tian untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Cheery.
Dan sekarang disinilah kami semua berada, selain mengajak aku dan Tari makan, Rama pun meminta penjelasan tentang kejadian yang menimpa Cheery.
Aku mengatakan semuanya pada Rama tanpa ada yang aku tutupi sama sekali di hadapan Tari. Lelaki itu hanya diam dengan sesekali menghela napas panjang saat mendengarkan penjelasanku.
"Apa Tian marah padaku.?" Entahlah, untuk saat ini aku ingin mendengar secara langsung dari orang terdekatnya.
"Pak Tian tidak marah, Nona." Rama menarik napas lebih dulu sebelum kemudian ia berujar. "Hanya saja ... Pak Tian sangat kecewa dengan anda."
Bahuku merosot lemah seketika. Mendengar dari cerita Rama bagaimana keadaan Tian saat mendengar Cheery yang hampir tenggelam membuat aku semakin merasa bersalah. Wajar jika sekarang Tian sangat kecewa padaku. Aku tak menyalahkan sikap dinginnya padaku, tapi apakah aku tak pantas jika ingin membela diriku sendiri?
__ADS_1
Semua yang terjadi pada Cheery bukanlah keinginanku. Semua itu murni kecelakaan meskipun akulah yang menyebabkannya.
******
Sudah dua hari Cheery dirawat dan belum di perbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya yang masih belum stabil. Selama dua hari itu sikap Tian masih sama saja. Meskipun tak sedingin saat pertama kali ia datang, tapi tetap saja Tian lebih sering mendiamkanku.
Kadang aku ingin menyerah, entah apa yang harus aku lakukan lagi untuk membuat Tian kembali seperti dulu. Segala cara telah aku coba, namun sepertinya Tian masih enggan bicara padaku. Bahkan disaat aku sedang menyuapi Cheery pun sama sekali tak menarik perhatiannya sedikitpun.
Sampai saat dimana aku memutuskan untuk pergi.
Aku yang baru saja datang dengan membawa masakan buatan Ibu di tangan lantas mundur satu langkah ke belakang.
Awalnya aku ingin memberi kejutan, namun entah kenapa niatku itu aku urungkan begitu saja ketika mataku melihat pemandangan yang membuat kedua bola mataku seketika berkaca-kaca. Seharusnya aku bahagia melihat Tian dan Cheery bisa tertawa lepas seperti itu. Namun, entah kenapa sudut hatiku terasa mencelos saat melihat Tian bisa tertawa bersama Tari disana.
Aku melihat mereka bertiga begitu dekat. Bahkan saat ini mereka seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Tak ada raut marah disana, tak ada sikap dingin yang Tian tunjukkan saat bersama Tari.
Aku tersenyum miris, mengusap sudut mataku yang tiba-tiba berair. Tak ingin merusak kebahagiaan mereka dengan kehadiranku, maka aku memutuskan untuk pergi.
Namun saat tiba di parkiran, tiba-tiba aku melihat Rama baru saja keluar dari mobilnya. Tak ingin Rama melihat keberadaanku disini, buru-buru aku masuk ke dalam mobil.
"Nona Naya ...!"
Aku mendengar sepertinya Rama tengah memanggilku, mungkin Rama sempat melihatku, namun aku tak peduli dan tak menghiraukannya. Yang sekarang aku inginkan hanyalah pergi dari tempat ini secepatnya, sebelum Rama memberitahu Tian.
******
"Ini berkas yang Pak Tian minta."
Rama menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Tian yang langsung di raih oleh lelaki itu. Tanpa menunggu lama, Tian membuka satu per satu berkas-berkas itu, memeriksanya sebelum ia melabuhkan tanda tangan di atasnya.
Meskipun tidak berangkat ke kantor, tapi Tian masih tetap bekerja walaupun di rumah sakit sekalipun. Seperti itulah kegiatan Tian saat ini, ia tidak bisa meninggalkan Cheery begitu saja meskipun kedua orangtuanya itu ikut menjaga Cheery secara bergantian. Pun dengan Tari.
Sebenarnya Tian sudah melarang Tari, namun karena Cheery yang merengek akhirnya Tian mengalah dan membiarkan Tari untuk menemani Cheery sampai anak itu benar-benar sembuh dan pulang ke rumah.
Setiap hari selama Cheery di rawat Tari selalu datang. Tian merasa risih saat berada satu ruangan bersama Tari. Maka dari itu Tian selalu pergi keluar dengan alasan ingin pergi makan pada Cheery. Tapi bukan alasan itu saja yang membuat Tian selalu menghindari Tari, alasan Tian yang sebenarnya adalah karena Nayara.
Meskipun masih marah dan kecewa pada Naya, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia telah memaafkan Naya. Sebenarnya Tian rindu, ia ingin sekali memeluk Naya dan meminta wanita itu untuk menemaninya disini.
Namun, Ego.
Lagi-lagi egolah yang menguasai dirinya saat ini. Tian masih kesal bukan karena Cheery yang terjatuh ke dalam danau, melainkan karena ia tahu kalau saat itu Naya sedang bersama dengan Raffi. Laki-laki sialan yang sekarang telah membuatnya jauh dari Nayara.
Beberapa hari Tian mendiamkan Naya membuatnya tersiksa. Namun ia menahannya. Setiap kali Naya datang menjenguk, sebenarnya Tian ingin sekali memeluk gadis itu. Apalagi saat melihat wajahnya yang sendu, Tian selalu merasa tak tega.
Tian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sesekali lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak ada jawaban dari Tian selain pandangannya yang tajam. Sesekali Tian menatap ke arah pintu masuk di depan sana. Berharap seseorang masuk dengan senyum mengembang yang selalu membuatnya hangat.
"Apa anda sedang menunggu seseorang?"
Tian mendengus kesal.
"Bukankah tadi Nona Naya sudah kesini?" Meskipun tak bicara, Rama tahu kalau Tian sedang menunggu kedatangan Nayara.
Seketika Tian menatap Rama. "Naya kesini? kapan?"
Rama mengernyit bingung, "Saya sempat melihatnya di parkiran sebelum kesini, Pak."
"Tapi dia gak ada. Naya gak kesini."
Jelas Tian yang membuat Rama semakin bingung. Apa Rama salah orang? jelas-jelas tadi Rama melihat Naya, apa mungkin matanya yang salah melihat?
"Cepat kamu hubungi dia sekarang.?" Titah Tian yang langsung mendapatkan anggukkan dari Rama.
"Gak di angkat, Pak."
"Coba terus sampai Naya angkat teleponnya."
Hingga panggilannya yang kedua puluh tak mendapatkan jawaban dari Naya membuat Tian merasa tak tenang.
******
"Papa, Tante Naya mana?" Tanya Cheery, karena seharian ini Cheery tak melihat keberadaan Nayara. "Kenapa Tante Naya gak ada disini, Pa?"
Tian tersenyum sambil mengusap kepalanya lembut. "Sebentar lagi juga Tante Naya kesini." Bohongnya.
"Disini kan ada Mama, sayang."
Tian yang mendengar pun menatap Tari dingin. Tian selalu tak suka dengan sikap Tari yang semakin berani akhir-akhir ini. Meskipun sekarang di antara mereka berdua sudah melakukan perdamaian.
Tian dan Tari sudah sepakat untuk saling memaafkan demi Cheery. Pun dengan kedua orangtuanya Tian. Tak ada rasa bahagia yang Tari rasakan saat Tian dan keluarganya mau memberinya kesempatan untuk menjaga Cheery secara bersama-sama. Awalnya Tari yang egois karena sempat memiliki keinginan untuk merebut Tian kembali, namun seketika urung saat melihat batapa Tian mencintai Nayara sekarang. Pun dengan Cheery yang sepertinya sangat menyukai Nayara.
Tari sadar, dan Tari tahu kalau Nayara adalah wanita yang sangat baik. Naya juga pantas untuk menjadi Ibu sambungnya Cheery.
"Cheery kangen sama Tante Naya?" Suara Tari membuyarkan lamunan Tian.
__ADS_1
"Iya, Ma." Jawabnya gemas.
"Pa, jangan marah sama Tante Naya, ya?" Kini Cheery menatap Tian. "Tante Naya gak salah, Cheery yang gak bilang sama Tante Naya saat mau ambil bola di danau."
"Iya, sayang. Papa gak marah kok."
Cheery tersenyum lebar, pun dengan Tari.
"Kalo gitu, Papa pergi dulu ya?"
"Papa mau kemana?"
"Papa mau jemput Mama Naya."
"Ma - Mama?" Cicitnya.
"Iya sayang, karena sebentar lagi Tante Naya akan jadi Mamanya Cheery juga."
"Jadi ... Cheery nanti punya dua Mama?"
Tian yang mendengar pun terkekeh kecil. Karena rasa rindunya yang tak bisa di tahan lagi dan terus menyiksa, akhirnya Tian memutuskan untuk menjemput Naya dan meminta maaf karena sudah mengabaikannya beberapa hari terakhir ini.
Hari ini, Tian memutuskan untuk melamar Nayara. Tian ingin segera menikahi wanita yang selama ini membuatnya tak bisa berpaling sedikitpun pada perempuan lain.
Tian ingin menikahinya, Tian ingin memilikinya.
Namun saat Tian sudah berada di depan pintu gerbang rumah gadis itu, tiba-tiba perasaannya mendadak menjadi tak tenang. Dan benar saja, bahunya merosot lemah seketika saat Mang Rahmat, penjaga rumah Naya mengatakan jika Naya dan Ibunya baru saja pergi ke bandara.
Tian tak sempat lagi mendengar penjelasan dari Rahmat, karena Tian masuk kedalam mobilnya begitu saja. Ia ingin menyusul Naya sebelum terlambat.
Tian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, pun dengan ponselnya yang terus menghubungi Naya, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Arrgghh ..." Geram Tian saat panggilannya lagi-lagi tak dapat jawaban. "Kamu mau pergi kemana sih, Nay? Kenapa gak bilang?"
Butuh waktu cukup lama untuk sampai Bandara apalagi saat ini jam pulang kantor. Tian benar-benar takut jika sampai telat dan ia tidak bisa bertemu dengan Naya. Begitu sampai, Tian langsung keluar dan lari menuju terminal keberangkatan domestik dan melihat jadwal penerbangan ke Surabaya.
Surabaya, Kota itulah yang terakhir Tian dengar dari mulut Rahmat.
"Pak, tolong izinkan saya masuk?"
"Maaf, Pak. Tidak bisa."
Sia-sia saja usaha Tian membujuk para petugas disana. Tian sama sekali tak bisa berbuat apa-apa selain menyesali semua perbuatannya pada Naya.
"Arrgghh ... berengsek.!" umpatnya marah. Tian mengambil ponsel dalam saku celananya, ia coba untuk menghubungi Naya kembali, namun hasilnya masih tetap sama.
"Sialan! benar-benar sialan kamu, arrgghh ..."
"Kamu ngatain aku, Mas?"
******
Tian tersentak kaget saat mendengar suaraku. Ia menoleh, dan semakin terkejut saat melihat aku berdiri di sampingnya. Untuk memastikan kalau aku benar-benar ada, Tian dengan segera menangkup kedua pipiku.
"Kamu kemana aja sih? kenapa telepon ku gak di angkat?"
"Aku silent, Mas." Jawabku acuh seraya melepaskan tangannya dari pipiku.
"Jadi kamu mau pergi tanpa memberitahuku? Kamu mau ninggalin aku?" Cecar Tian.
"Aku gak ninggalin kamu, Mas. Justru kamu yang akan ninggalin aku."
Tian mengernyit dengan dahi mengkerut. "Maksud kamu?"
Aku menatap Tian. "Kamu gak marah lagi sama aku, Mas?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Maafin aku, Mas." Aku menunduk seraya meremat tali tas yang tersampir di bahu. "Aku minta maaf karena udah bikin Cheery hampir tenggelam."
Seketika itu juga Tian menarik tubuhku dalam pelukannya. Lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di keningku dengan sangat lama. Saat aku masih berada dalam pelukannya, entah kenapa air bening itu mengalir begitu saja keluar dari kedua mataku. Apalagi saat Tian meminta maaf karena beberapa hari ini telah mendiamkanku. Aku menangis sekaligus bahagia saat Tian mengatakan kalau ia tersiksa karena merindukanku. Aku pikir karena kejadian itu Tian akan meninggalkanku dan kembali pada Tari. Namun ternyata salah. Tian masih mencintaiku sampai saat ini.
******
Aku menatap penampilanku sendiri dalam pantulan cermin. Menilik kembali riasan wajahku yang sudah dirias dengan makeup. Tak terlalu tebal memang, tapi aku terlihat sedikit berbeda dengan wajahku sekarang. Sebuah mahkota kecil telah terpasang indah di atas kepalaku, pun dengan pakaian adat yang sekarang telah membungkus sempurna di tubuhku.
Aku merasa menjadi wanita yang paling cantik untuk saat ini.
Ya, pada akhirnya aku menerima lamaran dari Tian. Setelah kepulanganku dari Surabaya beberapa hari yang lalu, Tian dan keluarganya datang kerumah. Lelaki itu melamarku dan meminta izin serta restu pada Ibu untuk menikahiku. Ibu pun merestui kami berdua, beliau sangat bahagia ketika aku akan kembali menikah dengan Tian.
Satu minggu setelah lamaran, maka di minggu berikutnya aku dan Tian akan melangsungkan pernikahan. Meskipun bukan yang pertama kali untuk kami, tapi entah kenapa aku kembali merasakan kegugupan yang luar biasa saat Tian akan mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu dan para saksi.
Dengan satu tarikan napas dan suaranya yang tegas, akhirnya aku telah resmi menjadi istrinya sekarang.
Tangis haru kini mulai menghampiriku, apalagi saat aku ciumi punggung tangan lelaki yang kini telah resmi menjadi suamiku. Lagi.
"Alhamdulillah ... terima kasih sayang."Bisiknya saat Tian hendak melabuhkan sebuah kecupan di kening.
Banyak doa yang aku panjatkan untuk pernikahanku ini. Meskipun pernah mengalami kegagalan tapi tak membuatku takut sekarang. Aku yakin keputusanku kali ini sudah benar. Aku juga yakin jika Tian akan menjadi imam yang baik untukku. Dan semoga Tian menepati janjinya yang akan setia sampai nanti salah satu diantara kami tiada.
__ADS_1
~ **END**~