Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Wanita spesial


__ADS_3

Hari-hari berikutnya pun masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Sekarang, Tari bisa lebih leluasa bertemu dengan Cheery meskipun waktu pertemuan mereka masih di batasi oleh Tian. Tian juga tak mengijinkan Tari untuk menemui Cheery dirumah maupun rumah kedua orangtuanya. Tari hanya boleh menemui Cheery di luar, itupun harus dengan pengawalan yang ketat.


Hari ini, Tian tidak bisa mengantarkan Cheery bertemu dengan Tari karena ia akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama beberapa hari bersama dengan Rama. Maka, disinilah sekarang Tian berada. Ia datang kerumah untuk berpamitan padaku dan juga Ibu sebelum keberangkatannya ke beberapa negara tetangga tersebut, sekalian Tian menitipkan Cheery, meminta aku untuk menjaga Cheery selama lelaki itu berada di luar negeri.


"Aku harus berangkat sekarang." Ujar Tian sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Selain karena jadwal keberangkatannya yang tinggal satu jam lagi, Rama pun sudah mewanti-wanti agar Tian tak terlambat. Rama sudah tahu kebiasaan Tian yang suka mengulur waktu jika sudah bersama dengan Nayara. Maka dari itu meskipun mendapat gerutuan dari Tian, Rama memutuskan untuk ikut bersama atasannya itu, laki-laki itu memilih untuk menunggu Tian dari dalam mobil.


"Sekarang, Mas?"


Tian tersenyum penuh arti. "Kenapa? gak mau aku tinggal, nih?"


"Eh ... Apa?" Aku gelalapan. Lantas tertunduk malu.


"Kalo kamu minta aku gak pergi, aku gak bakalan pergi."


"Ish ... mana bisa gitu sih, Mas.!" Aku memukul dadanya pelan.


"Cuma dua minggu kok." Tian menarik tubuhku, lalu memelukku erat. "Ada kerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya sebelum aku melamar kamu."


Aku mendongak, menatap Tian dari bawah karena lelaki itu memang mempunyai tubuh yang tinggi melebihi aku.


"Aku janji akan segera pulang kalo pekerjaanku sudah beres."


Tian mengecup keningku. "Aku akan sangat merindukanmu."


"Aku juga, Mas." Entah kenapa untuk kali ini aku merasakan perasaan yang tak biasa seperti ini. Jujur, aku merasa tak ingin jauh dari Tian.


"Titip Cheery, ya?"


"Iya, Mas."


Tian mengurai pelukannya dari tubuhku, lalu menatapku dalam seraya mengusap wajahku dengan lembut. "Ingat semua pesanku. Jangan kemana-mana atau bertemu dengan siapapun tanpa sepengetahuanku."


"Iya, bawel.!" Sungutku kesal karena entah sudah yang keberapa kali Tian mengatakannya. Selain aku yang tak di perbolehkan untuk bertemu dengan siapapun, termasuk Raffi. Tian juga tak mengijinkan Cheery untuk bertemu Tari tanpa izin darinya.


"Apalagi, Mas?"

__ADS_1


"Em ..." Tian seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku mau setiap waktu kamu hubungi aku."


"Nggak, nggak, nggak." Kepalaku menggeleng. "Gak bisa gitu, Mas. Kamu kan kerja. Aku gak mau ganggu kamu, entar pekerjaannya gak beres-beres. Kalo gak beres, kamu akan lama disana kan, Mas.?"


Tian terkekeh melihat aku yang banyak bicara seperti ini.


"Aku seneng liat kamu yang seperti ini." Bisiknya pelan.


"Aku memang seperti ini, cuma kamu aja yang gak tahu, Mas." Tian menatapku. "Karena dulu kamu terlalu sibuk pada Tari."


"Haiss ..." Tian meringis. Antara iya dan menyesal. "Iya, dulu aku terlalu bodoh karena cinta. Sampai lupa kalo Tuhan telah menghadirkan wanita yang lebih spesial di hidupku."


Ucap Tian sambil menyatukan kening kami berdua. Terasa berat memang harus berpisah disaat aku baru saja merasakan jatuh cinta lagi pada Tian. Tapi semua itu tidak akan lama, karena Tian hanya pergi untuk urusan pekerjaannya saja. Dan Tian berjanji, ia akan segera pulang untuk melamarku. Meskipun aku belum memberi jawaban karena Cheery.


"Pak ... sudah waktunya kita berang ---"


Aku dan Tian terkejut, buru-buru melepaskan tautan bibir kami saat mendengar suara Rama yang berdiri di depan pintu masuk yang terbuka dengan wajah datar.


"Kalo mau bermesraan, tolong, pintunya di tutup. Karena bukan cuma saya saja yang bisa lihat, tapi ada calon Ibu mertua anda juga kan, Pak." Ujarnya datar sambil berlalu pergi meninggalkan kami berdua.


Cepat kembali, Mas.


******


"Maaf Naya, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"


"Tentang apa.?" Tanyaku penasaran.


"Em ..." Tari melipat bibirnya itu. "Maaf, kalo aku lancang. Aku hanya ingin tahu, apa kamu dan Tian memiliki hubungan lagi?"


Lagi?


"Hh ..." Aku mendesah, hampir lupa kalau dulu kami bertiga pernah hidup bersama walau tidak satu atap.


"Aku tahu kesalahanku dulu yang meninggalkan Tian dan juga Cheery tak akan pernah termaafkan. Tapi itu semua bukan kesalahan aku sepenuhnya." Jelas Tari yang entah kenapa aku hanya diam saja. Menunggu apa yang akan Tari katakan selanjutnya.

__ADS_1


"Papanya Tian yang memaksa aku untuk pergi, Naya."


"Lalu? untuk apa kamu menjelaskan semuanya padaku?" Tanyaku yang tiba-tiba saja merasa aneh dengan sikap Tari. Sepertinya Tari mempunyai niat lain. Tapi ... entahlah, aku juga tak tahu apa maksud Tari sebenarnya.


"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku gak salah."


"Bukannya kamu pergi bersama selingkuhan kamu, Tari?"


Tari mengernyit dengan dahi mengkerut. "Bukan selingkuhan, dia hanya teman aku."


"Lebih tepatnya, mantan pacar kan?" Telakku yang membuat Tari diam membisu.


Entah apa tujuan Tari yang meminta aku untuk menemuinya sekarang. Setelah meminta izin pada Tian, akhirnya aku setuju untuk bertemu dengan Tari. Meskipun sempat terjadi perdebatan sebelum akhirnya Tian pun mengalah demi aku.


Beberapa menit saja bersama Tari sudah membuatku merasa tak nyaman. Aku pikir Tari masih sama seperti dulu, tapi ternyata setelah aku berbicara lama dengannya, Tari berubah.


Karena sudah bosan dengan Tari yang bicara basa-basi tak tentu arah, akupun memutuskan untuk pergi. Namun, Tari kembali menghentikan langkahku saat kalimat demi kalimat itu terlontar dari bibirnya. Aku kembali duduk, dan menatap Tari dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksud kamu, Tari?"


"Iya, Cheery butuh aku dan Tian. Jadi ... kalau pun aku gak bisa bersama Tian, maka aku putuskan untuk membawa Cheery pergi."


Aku berdecih, menatap tak percaya pada wanita yang sudah jelas-jelas dulu pergi meninggalkan Cheery demi laki-laki lain. Dan sekarang apa katanya? mau membawa Cheery pergi?


Astaga ... Dinama letak otaknya Tari saat ini?


Tak ingin membuang waktuku lagi, aku memilih untuk tak mendengarkan keinginan gilanya itu lagi.


Bisa-bisanya Tari meminta sesuatu yang membuatku semakin yakin, jika Tari bukan wanita yang aku pikirkan selama ini.


Tari yang dulu aku kenal begitu baik dan lembut, sekarang berubah menjadi Tari yang egois.


"Aku pikir kamu masih pantas untuk menjadi Mama dan istri bagi Tian. Tapi setelah aku tahu kamu seegois ini, jangan harap Cheery dan Tian bisa kamu miliki kembali."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2