Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Masa lalu


__ADS_3




"Udah, Nay. Mama udah kenyang."


"Sedikit lagi, Ma."


Kepala wanita setengah baya itu menggeleng. Dan aku hanya tersenyum saat melihat Mama Maya bertingkah layaknya seperti anak kecil. Di dalam kamar itu, sesekali aku tertawa saat mendengar semua ocehan Mama Maya yang menceritakan bagaimana ia dan Papa Adi bertemu dulu, hingga mereka berdua memutuskan untuk menikah, sampai akhirnya memiliki Tian.


Aku begitu senang, ternyata Mama Maya adalah orang yang sangat baik. Aku seperti melihat Ibuku sendiri di dalam diri wanita itu. Mungkin, kalau saja pernikahanku bersama Tian baik-baik saja, maka aku adalah salah satu gadis paling beruntung karena memiliki mertua yang begitu baik dan menyayangi aku seperti putrinya sendiri.


"Mama berharap, kamu dan Tian bisa menjadi keluarga yang bahagia selamanya."


Tangan yang sedang memijit kakinya pun tiba-tiba berhenti saat Mama Maya melontarkan kalimat yang membuatku sedikit meringis. Aku tatap wajah yang masih terlihat cantik itu walau usianya sudah tak muda lagi, ku amati dalam-dalam wajahnya yang berbinar serta senyum mengembang dari bibirnya.


Ya Tuhan ... apa aku sanggup?


Kepalaku menunduk, aku meremat jari-jari tanganku untuk menyembunyikan rasa gugup sekaligus rasa bersalah padanya. Lalu, saat aku hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Tian datang. Lelaki itu menghampiri aku dan Mamanya dengan keadaan yang berbeda. Lagi, aku melihat ada yang berbeda dari laki-laki itu belakangan ini. Wajah yang biasanya datar, kini tak nampak sedikit pun. Bibir yang tak pernah sekalipun tersenyum itu, kini aku melihat bibir itu melengkung membentuk sebuah senyuman. Dan mata itu, mata yang biasanya selalu menyorotiku tajam, kini menatapku dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.


"Tian ... ada apa, Nak?"


"Aku mau mengajak Naya untuk siap-siap, Ma." Jawabnya sambil melirik ke arahku. Aku menatapnya penuh tanya. "Papa menyuruh kita berdua untuk menggantikannya makan malam bersama beberapa koleganya."


"Ya udah, kalau begitu sekarang kalian berdua pergi ya? sekalian kamu kenalin Naya sama teman-teman bisnisnya Papa." Ujar Mama Maya sambil tersenyum. "Ayo, sayang. Kamu temenin Tian ya?"


"Tapi, Ma. Aku ---" Aku ingin menolak, tapi suara lelaki itu telah lebih dulu menyerobot.


"Ayo, Naya. Kita harus siap-siap sekarang." Dan untuk pertama kalinya setelah hampir dua bulan kami menikah, lelaki itu menyebut namaku. Ya, nama yang sepertinya sangat sulit untuk di ucapkan. Aku segera menoleh, menatapnya tak percaya yang di balas senyuman tipis dari Tian.


"Ayo sayang, nanti kalian berdua bisa terlambat."


"Baiklah, Ma. Kalo gitu Naya siap-siap dulu."


******


Dua puluh menit berlalu,


Ku tatap wajah dan tubuhku di dalam cermin setelah beberapa menit yang lalu aku baru saja selesai mengenakan pakaian dan mengoleskan beberapa alat makeup pada wajahku yang di bantu oleh Rania, asisten Mama Maya yang bekerja di butik pribadinya. Aku memang bukan gadis yang pandai merias diri, suka memakai makeup tebal seperti kebanyakan orang, tapi aku selalu bangga dengan diriku sendiri yang ingin selalu terlihat apa adanya.


Karena aku memang gadis yang menyukai kesederhanaan.


Tapi tidak untuk malam ini, aku kembali seperti bukan diriku sendiri saat melihat wajahku di dalam cermin. Apalagi dengan gaun berwarna merah terang yang ku kenakan sekarang membuat aku terlihat sangat cantik dan juga anggun.

__ADS_1


Aku tersenyum, memperhatikan diriku malam ini yang seperti bukan Nayara, seorang gadis yang selalu berpenampilan sederhana. Tetapi dengan penampilanku yang seperti ini, tentu tak akan membuat Tian merasa malu saat nanti lelaki itu mengenalkanku pada teman-teman Papanya.


"Neng ..." Aku menoleh, mengalihkan pandangan dari cermin begitu suara Bik Idah terdengar. "Ya ampun ... " Wanita setengah baya itu berseru heboh. "Neng Naya cantik sekali." Pujinya sambil berjalan mendekat ke arahku. "Bibik sampe pangling lihat Neng Naya kayak gini."


"Bibik bisa aja." Balasku sambil tersenyum.


"Gak salah Den Tian nikah sama Neng Naya yang cantik seperti ini. Daripada sama Non Tari." Cerocosnya seraya terus menatap penuh kagum ke arahku.


"Tari?" Dahiku mengkerut. "Tari siapa, Bik.?" Tanyaku kemudian dengan penasaran.


"Itu loh ---"


Suara Bik Idah tertahan di lidah begitu Mang Udin mengetuk pintu kamarku. Supir pribadi dari Papa Adi itu meminta aku untuk segera turun ke bawah atas perintah dari Tian. Tak ingin membuat Tian kesal, maka akupun memutuskan untuk segera turun, meskipun sebenarnya aku begitu penasaran dengan perempuan bernama Tari itu.


Siapa Tari?


Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu.


Tak ingin menerka-nerka, setelah berpamitan dengan kedua mertuaku, maka akupun segera menghampiri Tian yang sudah menunggu di dalam mobil. Aku berjalan sedikit lebih cepat saat mendengar suara klakson mobil yang berbunyi berkali-kali. Aku yakin itu adalah ulah dari lelaki dingin itu.


Ku buka pintu belakang, lalu masuk dan duduk di samping lelaki yang sedang fokus menatap layar ponselnya itu. Aku berdehem pelan, berharap agar laki-laki itu menyadari kehadiranku di dalam mobil ini.


"Mas ..."


"Kenapa lama sekali. Kamu pikir aku ---" Suaranya tertahan di kerongkongan saat ia menoleh. Entah karena terkejut atau merasa aneh dengan penampilanku, lelaki itu diam seraya menatapku dengan tatapan yang tak seperti biasanya.


Apa aku berdandan terlalu norak? atau makeup ku terlalu tebal?


"Mas ... kenapa?" Barulah setelah aku kembali bertanya, Tian sedikit terkejut, lelaki itu berdehem sambil membenarkan posisi dasinya yang mungkin saja membuatnya sedikit sulit untuk bernapas.


"Pantes saja lama, ternyata kamu dandan kayak gitu?"


"Kenapa? Apa makeup ku ketebalan ya?"


Tian hanya melirik tanpa bicara lagi. "Ya udah kalo gitu aku hapus dulu."


"Ngapain sih?" Dengusnya kesal. "Ini udah telat, kamu mau kita semakin telat?"


"Terus bagaimana?" Tanyaku polos.


"Ya udah biarin aja."


Setelahnya, tak ada lagi percakapan di antara kami berdua setelah Mang Udin melajukan kendaraan beroda empat itu atas perintah Tian. Kami yang duduk saling bersebelahan pun hanya diam membisu. Tian sesekali melirik ke arahku. Pun dengan aku.


Aku merasa risih saat tanpa sengaja mata kami berdua bertemu. Buru-buru aku dan Tian saling membuang muka ke samping. Jujur, aku akui ketampanan lelaki itu. Tian adalah laki-laki yang mendekati kata sempurna. Selain tampan, memikat dan berkharisma, lelaki itu juga kaya raya. Jadi, siapa wanita yang tak akan jatuh cinta pada sosok laki-laki seperti Tian?

__ADS_1


Seandainya lelaki itu baik dan tak menyebalkan, mungkin aku akan sedikit bangga karena bisa menjadi istrinya. Aku akan bangga bisa mempunyai suami tampan sepertinya. Tapi ...


Ih ... apa yang aku pikirkan?


Aku bergidik, membuat lelaki itu menoleh seketika.


"Kenapa?"


"Gak papa." Jawabku tanpa mau melihatnya. Aku mengelus bahuku yang sedikit terbuka dengan gerakan lembut. Sepertinya bulu-bulu halusku berdiri saat kilasan wajah dingin lelaki itu tiba-tiba saja terlintas.


Tidak ... aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh tentang laki-laki menyebalkan seperti dia.


******


Tiba di ballroom hotel yang menjadi tujuan kami berdua, aku begitu terkejut saat Tian menggandeng tanganku, lalu mengenalkan aku kepada rekan-rekan bisnis Papanya itu. Ada banyak para eksekutif muda yang hadir disana, saling bercengkrama untuk sebuah bisnis.


Tak lepas wajah terkejut itu aku tebar selama berdiri di samping lelaki itu. Aku berusaha untuk melepaskan tanganku dari genggamannya, tapi sayangnya, Tian malah semakin erat menggenggam hingga aku kesulitan untuk melepasnya.


"Diam, dan senyumlah." Bisiknya pelan, "Kamu jangan bertingkah kampungan disini."


Apa? apa katanya? Kampungan?


"Kamu ngatain aku kampungan, Mas?"


"Aku bilang diam.!"


"Lepas, Mas ..." Kalimatku tertahan saat seorang kenalan Tian datang menghampiri. lalu bercengkrama yang terpaksa membuat aku harus tersenyum.


Lama kami berbincang, hingga kemudian ada seorang wanita cantik yang berjalan begitu anggun ke arah aku dan juga Tian. Sepanjang kakinya melangkah, bibir merah yang terlihat seksi itu tak lepas memberi senyum. Senyuman yang menurutku terlihat begitu manis.


"Hai ..." Sapa wanita itu saat ia sudah berdiri di hadapan kami berdua. Seketika Tian melepaskan tanganku dari genggamannya. "Apa kabar, Bas?" Tanyanya lagi seraya mengulurkan tangan yang di balas oleh lelaki itu.


Aku yang di acuhkan oleh Tian, seketika memisahkan diri dari mereka yang sedang berbincang. Aku melihat Tian dan wanita yang entah siapa namanya itu terlihat begitu dekat dan kelihatan sangat akrab, bahkan ada sesuatu yang belum pernah aku lihat selama dua bulan hidup bersama dengannya.


Melihat lelaki itu tertawa.


Aku yang memilih menghindar dan tak memperhatikan sekeliling, maka pada saat itu pula ada seorang pelayan yang datang tanpa melihatku, tak sengaja menabrak hingga membuat aku terjatuh ke atas lantai, dan menumpahkan seluruh minuman itu mengenai wajah dan juga gaunku. Bukan hanya itu saja, bahkan semua gelas yang ada di atas nampan pun semuanya jatuh ke atas lantai hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.


Semua menoleh, menatap ke arahku dengan pandangan yang berbeda-beda. Pun dengan Tian, saat aku melihatnya, lelaki itu hanya diam dengan pandangan tajam. Aku menjadi pusat perhatian disana karena wajah dan juga gaun yang ku kenakan hampir basah semua. Aku kira, Tian akan menolongku. Tapi nyatanya ...


"Bangun, Ara."


Ara?


Aku menoleh, menatap sebuah tangan yang terulur ke arahku sebelum kemudian aku membelalakan mata tak percaya saat tahu siapa orang yang tengah berdiri di hadapanku saat ini.

__ADS_1


"Ar -- Arga?!"


...****************...


__ADS_2