
•
•
•
"Selamat siang, Pak?"
Rama, sekretaris sekaligus asisten pribadiku itu masuk dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat itu di tangan.
"Ada apa?" Tanyaku tanpa melihatnya. Aku sendiri sedang fokus memeriksa beberapa dokumen di atas meja.
"Ini laporan dari orang suruhan kita, Pak." Lelaki itu menyodorkannya ke hadapanku.
Aku mengambilnya, lalu menatap Rama dan map itu secara bergantian. Aku segera membuka dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata, orang suruhan ku itu mengirim beberapa lembar poto serta laporan tentang Tari yang menghilang beberapa tahun lalu itu.
"Kamu hubungi mereka untuk berhenti.!" Ucapku kemudian seraya memasukkan kembali poto-poto itu ke dalam amplop berukuran besar itu.
"Maksud Pak Tian?" Rama mengernyit, menatapku tak percaya.
"Bayar mereka sesuai dengan yang aku janjikan."
"Jadi ... pencarian Nona Tari dihentikan?"
"Ya." Kepalaku mengangguk.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu bertanya?" Aku menatap laki-laki itu malas.
Rama tersenyum kaku, merasa tak enak saat aku menatapnya tak suka. "Maksud saya, bukannya selama ini Pak Tian ingin menemukan keberadaannya?"
"Sudah tak minat." Jawabku asal.
Rama pun mengangguk, dengan segera ia menelepon orang-orang suruhannya itu untuk menghentikan pencarian Tari.
"Sudah beres, Pak?"
"Bagus." Aku tersenyum, entah kenapa aku merasa menjadi laki-laki paling bodoh selama ini.
Bukan tanpa sebab, selama beberapa bulan kebelakang aku terus mencari keberadaan Tari demi Cheery. Ya, semua itu aku lakukan karena Cheery yang meminta.
Setelah usia Cheery memasuki tahun ke lima, aku memberitahu Cheery tentang Tari. Aku tidak ingin menjadi laki-laki egois dengan menyembunyikan siapa ibu kandung dari Cheery. Selama di sekolah, setiap pulang kerumah gadis kecil itu selalu marah-marah dan menangis. Cheery selalu mengadu kalau teman-temannya itu mempunyai seorang Ibu. Hanya Cheery yang tak memiliki Ibu seperti yang lainnya. Mendengar itu tentu membuatku selalu meringis.
Maka disaat itu juga, aku memutuskan untuk memberitahunya. Memberitahu tentang siapa Tari pada Cheery. Aku bisa melihat wajah polos dan tatapan mata itu penuh binar saat aku menunjukkan poto Tari padanya. Cheery tersenyum, lalu memeluk poto itu dan sesekali menciumnya. Aku yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum miris, dan entah kenapa saat melihat Cheery memeluk dan terus memanggil Tari dengan panggilan Mama, tak terasa air mataku luruh seketika.
Aku menangis.
Kapan terakhir kali seorang Sebastian Aydan menangis?
Sepertinya aku tak pernah menangis sebelumnya, bahkan disaat aku mengetahui Tari mengkhianati-ku dan pergi meninggalkan kami berdua, aku sama sekali tak menangis seperti saat ini.
"Papa, nangis?" Cicitnya yang seketika membuatku sadar dan gemas.
__ADS_1
Buru-buru aku mengusap cairan bening itu dari sudut mataku, aku tak ingin Cheery melihatku menangis, dan menganggap aku sebagai laki-laki yang lemah. Maka akupun tersenyum, menatap putri kecilku itu seraya mengusap kepalanya lembut.
"Papa, gak nangis sayang?" Aku meraih tubuh mungil itu, lalu membawanya ke dalam pangkuan.
"Papa, aku mau Mama."
"Aku mau bertemu, Mama."
"Bawa Mama, Pa. Bawa Mama pulang?"
Cheery terus merajuk, ia meminta aku untuk mencari keberadaan Mamanya. Ia ingin agar aku membawa Tari kembali. Melihat sikapnya yang membuatku gemas itu akhirnya aku mengangguk. Aku memenuhi permintaan Cheery meskipun saat itu aku juga enggan untuk melakukannya.
Demi Cheery,
Setiap hari disaat aku baru pulang dari kantor, hal pertama yang selalu Cheery tanyakan adalah Tari. Anak itu terus merengek dan menangis, dan untungnya aku masih bisa mengendalikannya. Meskipun aku, Mama dan Papa selalu memanjakannya, tapi tak menjadikan Cheery tumbuh menjadi anak pembamkang, ia selalu menurut dan takut hanya dengan aku menatapnya saja. Cheery termasuk salah satu anak yang pintar, akupun bangga bisa mempunyai Cheery dalam hidupku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah menghadirkan seorang malaikat kecil yang selalu membuatku tersenyum dan semangat untuk menjalani hidup.
Dan aku pastikan, Cheery tak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun. Aku akan membuat Cheery bahagia meskipun tanpa kehadiran sosok Ibu disisinya.
Tapi di hari-hari berikutnya, entah kenapa aku merasa Cheery berubah. Anak itu tak seceria dulu, aku selalu melihatnya sedang menangis dan berbicara dengan Tari meskipun lewat potonya saja.
Merasa tak tega, akhirnya aku memutuskan untuk mencari keberadaan Tari. Demi Cheery, demi melihat putri kecilku itu kembali tersenyum dan ceria, aku harus bisa menemukan dan membawa Tari kembali.
Mentari, mengingat nama itu tentu membuat hatiku kembali teriris. Bagaimana bisa aku mencintai wanita sepertinya?
Aku menyesal karena dulu aku begitu dibutakan oleh cintanya, sehingga aku tak bisa melihat adanya gadis lain dalam hidupku.
Tapi menyesal tak ada gunanya, meskipun perasaan itu masih ada, tapi secara perlahan rasa cintaku itu telah memudar begitu saja. Aku akan berusaha untuk tak lagi mencintainya.
Dan aku juga tak bisa membencinya karena Cheery. Meskipun suatu saat nanti Tari kembali, aku tidak akan melarangnya untuk menemui Cheery, karena bagaimana pun wanita itu adalah Ibunya. Wanita yang telah melahirkan Cheery kedunia ini. Dan aku sangat berterima kasih karena Tari meninggalkan Cheery untukku.
"Papa ...."
Aku mendongak, menatap putri kecilku yang sedang berlari ke arahku di temani Mama, Asih dan juga Rama yang mengikutinya dari belakang.
"Ada apa sayang?" Aku langsung berdiri dari kursi kebesaranku itu, merentangkan kedua tanganku untuk menyambut kedatangan Cheery sambil berjongkok. "Ada apa kamu kemari, huh?" Tanyaku kemudian setelah Cheery berhasil duduk di atas pangkuanku.
"Maaf, Mama bawa dia kemari. Karena Cheery merengek ingin ketemu sama kamu, Tian." Ujar Mama yang di balas anggukkan olehku.
"Gak papa, Ma."
Aku menoleh, menatap Cheery sambil merapihkan beberapa helai rambut pada balik telinganya.
"Aku pengen jalan-jalan, Pa." Cicitnya gemas.
"Jalan-jalan?"
"Iya." Kepala mungil itu mengangguk. "Kita pergi, Pa."
"Em ..." Aku melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tanganku, kebetulan ini adalah waktu istirahat, dan setelah ini jadwalku pun sepertinya kosong. "Kamu mau pergi kemana?"
"Aku mau pergi ke taman bermain, Pa?"
"Baiklah, tapi sebelum ke taman bermain kita pergi makan dulu, gimana?"
__ADS_1
"Boleh, Pa."
Setelah itu aku menuntun Cheery keluar dari dalam ruangan ku untuk membawanya pergi bermain hari ini. Sementara Mama, beliau meminta izin untuk pulang terlebih dulu, akupun meminta Asih untuk menemani Mama. Karena aku sendiri yang akan pergi berdua bersama Cheery.
Begitu Mama dan Asih pergi, aku lantas masuk ke dalam mobil yang sudah Rama persiapkan sebelumnya.
Selama dalam perjalanan, aku selalu tertawa saat Cheery tak berhenti mengoceh. Menceritakan tentang teman-temannya di sekolah, dan tak lupa ia juga menceritakan tentang filem kartun yang menjadi kesukaannya itu.
Putri kecilku itu terus mengoceh, sampai-sampai tak terasa jika kami berdua sudah tiba di salah satu resto cepat saji. Aku melepas seatbelt terlebih dulu, lalu segera keluar dari dalam mobil. Memutari mobil untuk membuka pintu dan membawa Cheery keluar.
Disaat aku dan Cheery hendak memasuki restoran cepat saji itu, disaat itu juga aku mendengar suara beberapa orang menjerit disana. Aku dan Cheery menoleh, menatap ke arah dimana ada seorang wanita yang sepertinya keserempet kendaraan beroda dua.
"Pa ... kasihan Nenek itu. Kita tolongin, Pa?"
Cheery mengayunkan-ngayunkan tanganku. "Ya udah, ayo kita kesana."
Aku dan Cheery pun sedikit melangkahkan kaki lebar-lebar untuk segera melihat wanita paruh baya itu, pun dengan beberapa orang lainnya yang juga ikut menghampiri.
Begitu tiba disana, betapa terkejutnya aku saat melihat wanita paruh baya itu adalah Ibu, mantan Ibu mertuaku itu.
"Ibu ..." Pekikku, aku segera menghampirinya, lalu berjongkok di sampingnya. Sementara Cheery, gadis kecil itu berdiri tak jauh dariku. "Ibu gak papa, kan?" Tanyanku cemas.
"Nak Tian." Ibu masih bisa tersenyum disaat ia sedang mengalami musibah seperti inipun. "Ibu gak papa, Nak."
"Ada yang luka? kita pergi kerumah sakit sekarang."
"Gak papa, Nak Tian. Ibu hanya terjatuh saja."
"Tapi, Bu ..." Suaraku tercekat saat ada beberapa orang yang ikut menghampiri kami, dan orang yang tak sengaja menabrak Ibupun ikut berjongkok dan meminta maaf secara langsung pada Ibu.
"Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar gak sengaja."
Beruntung Ibu tidak mengalami luka parah, beliau hanya terjatuh dan ada sedikit goresan kecil di tangannya saja. Setelah Ibu memaafkannya, aku bergegas untuk membawa Ibu ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaannya. Tak lupa aku dan Ibu mengucapkan banyak terima kasih pada orang-orang yang telah ikut membantu Ibu.
Akhirnya aku bisa bernapas lega saat dokter yang memeriksa Ibu mengatakan kalau tidak ada luka serius pada Ibu. Beliau hanya mengalami luka ringan di bagian tangannya saja. Setelah menebus obat, aku dan Cheery berniat akan mengantarkan Ibu sampai ke rumahnya.
"Ayo Nak Tian, ajak Cheery nya masuk." Ajak Ibu ketika asisten rumah tangannya itu sudah membuka pintunya lebar-lebar.
Kepalaku mengangguk, lalu kami berdua menuntun Ibu untuk duduk di sofa ruang tamu. Aku dan Cheery pun ikut duduk berhadapan dengan Ibu.
"Maaf ya, Ibu jadi merepotkan Nak Tian."
"Gak apa-apa, Bu."
Lalu, Ibu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum kecelakaan itu terjadi, beliau sempat berkunjung ke restoran milik saudaranya itu. Selain mengajakku bicara, Ibu juga mengajak Cheery mengobrol. Aku melihat Ibu dan Cheery tertawa bersama. Dan sepertinya, Cheery juga menyukai Ibu.
Untuk sesaat aku kembali memperhatikan seluruh ruangan dalam rumah itu. Rumah yang saat ini terlihat begitu sepi, hanya ada Ibu dan juga asisten rumah tangannya saja. Lalu, kenapa aku tak melihat keberadaan Nayara saat ini? dimana gadis itu sekarang?
Disaat aku memikirkan tentang Nayara, disaat itu juga aku mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Lalu, aku melihat Naya bersama seorang laki-laki masuk ke dalam rumah.
Aku menatapnya sekarang, pun dengan Naya yang sepertinya sangat terkejut dengan kehadiranku dirumahnya saat ini.
Kami berdua saling berpandangan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Nayara kembali memutuskan pandangannya terlebih dulu saat mendengar suara Cheery yang begitu melengking.
__ADS_1
"Tante Cantik ...!"
...****************...