
•
•
•
Beberapa jam setelah pemakaman Ayah,
Aku yang masih terpukul dan sangat kehilangan sosok Ayah membuat aku enggan untuk melakukan apapun. Luka yang belum sepenuhnya kering karena telah mengetahui Tian yang sudah menikah lagi, kini bertambah menganga setelah Ayah pergi. Aku hanya ingin sendiri. Sama halnya seperti apa yang aku lakukan sekarang, aku masih betah berada di kamar Ibu dan Ayah sambil memeluk potonya dengan erat. Ku pandangi poto itu lama-lama, hingga tak terasa cairan bening seperti krystal itu terus berjatuhan di saat semua kilasan tentang Ayah berputar di kepalaku.
Di saaat ia tertawa, di saat ia memelukku, di saat ia menasehatiku, dan masih banyak lagi kenangan yang Ayah tinggalkan.
Jujur, baru beberapa jam saja Ayah pergi, aku sudah sangat merindukannya.
"Ayah ..." Aku melirih bersama dengan suara tangisanku yang kembali pecah. Ku peluk erat serta kuciumi poto itu berkali-kali hingga tanpa sadar Ibu telah duduk di sampingku. Beliau pun mengusap lembut kepalaku seraya berkata.
"Sayang ... tidak baik jika kamu terus bersikap seperti ini. Ibu yakin jika Ayahmu tahu, dia akan sedih, Nak."
Aku menoleh, menatap wajah teduh itu yang perlahan mulai tersenyum. Aku tahu Ibupun masih sama seperti aku. Ibu sedih, ia juga sangat kehilangan Ayah, tapi sebisa mungkin Ibu menyembunyikannya agar tak membuatku semakin sedih.
"Bu ...!" Aku menghambur memeluknya.
"Ayah mu sudah tenang disana. Dia akan sedih jika melihat kamu menangis seperti ini." Ujar Ibu sembari memelukku erat. "Kita ikhlaskan, kita doakan Ayah disini, ya?"
Kepalaku mengangguk, aku benamkan wajahku pada pelukan Ibu. Kalau tidak ada Ibu, mungkin aku tak akan sekuat sekarang.
"Nak, cepat kamu temui suami mu. Kasihan dia pasti belum makan dan mandi dari semalam. Suami mu pasti lelah."
Suami? Ya Tuhan ...
Kenapa aku melupakan Tian?
Aku mendongak, menatap Ibu dari bawah. "Nak Tian ada di ruang tamu. Dia menunggumu."
Ku urai pelukanku, lalu menyeka sudut mataku yang sedari tadi terus mengeluarkan air mata. Sungguh, kalau bukan karena Ibu yang mengingatkan, aku lupa kalau Tian juga ada disini. Aku tak menyadari keberadaannya, padahal semalam Tian yang mengantarkanku sampai rumah. Meskipun aku sempat menolak, tapi lelaki itu bersikikuh. Dan lagi tak ada alasan untuk aku melarangnya, karena bagaimana pun dia masih suamiku dan menantu di rumah ini.
"Bu, aku ..."
"Temui dulu Nak Tian, bawa dia ke kamarmu untuk istirahat. Dari semalam, Ibu melihat Nak Tian belum tidur sampe sekarang."
Akupun mengangguk, terpaksa memenuhi perintah Ibu untuk menemui Tian. Aku yakin lelaki itu pasti sangat lelah. Apalagi semalam aku melihat Papa dan Mama Maya meminta Tian untuk mengurus segala keperluan, membayar biaya rumah sakit sampai biaya pemakaman.
Begitu tiba di ruang tamu, ku lihat lelaki itu sedang menyandarkan kepalanya pada punggung sofa dengan mata yang terpejam. Benar kata Ibu, kalau sepertinya Tian benar-benar kelelahan sekarang.
Melihat Tian seperti itu, membuatku merasa tak tega. Apalagi sepertinya Tian masih mengenakan pakaian yang sama saat kami berangkat kesini dengan tergesa-gesa.
Aku mendekatinya, dan sepertinya Tian menyadari kehadiranku sekarang.
"Naya ..." Tian beringsut bangun. Akupun melihat lelaki itu memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak pulang?"
"Maksud kamu?" Lelaki itu menatapku sambil mengernyit.
Tak banyak bicara, aku memutuskan untuk membawa Tian ke dalam kamarku. Untuk kali ini, aku akan biarkan lelaki itu beristirahat di kamarku, setelah itu, barulah aku akan memintanya untuk pulang.
Begitu aku dan Tian tiba di dalam kamar, kami berdua sama-sama terdiam membisu dengan pikiran masing-masing. Aku diam, pun dengan Tian yang sekarang sedang berdiri di hadapanku sambil menatapku lekat. Tak ada percakapan yang terjadi di antara kami.
Merasa risih karena Tian terus memperhatikanku, maka akupun memutuskan untuk menyuruhnya mandi terlebih dulu, sementara aku akan membawakan baju ganti untuknya dan menyiapkan makan malam.
" ... Tapi aku masih disini."
"... Aku tidak mungkin pulang sekarang."
"... Kamu baik-baik disana, ya? nanti aku hubungi kamu lagi."
"... bye. Aku juga sayang kamu."
Tubuhku membeku di balik pintu, tak sengaja mendengar percakapan antara Tian dan seseorang di balik telepon itu. Aku sampai lupa kalau bukan hanya ada aku di hidup lelaki itu sekarang, tapi ada seseorang yang mungkin sedang menunggunya untuk pulang.
Ku buka pintu kamar itu, lalu masuk dan mendapati Tian yang sudah selesai mandi. Ia masih berdiri sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Meski risih karena Tian hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja, aku pun mendekat, dan memberikannya baju ganti yang ku ambil dari dalam mobil miliknya.
"Makasih."
"Ini makanannya, kamu belum makan kan?" Aku meletakkan piring berisi nasi dan lauknya serta segelas air putih itu di atas meja. Sambil menunggu Tian yang sedang memakai baju di dalam kamar mandi, aku duduk dan kembali mengambil poto. Ku usap kaca bingkai pada poto Ayah.
"Nay..."
Tian termangu, menatapku yang menangis tanpa suara. Mendengar lirihku, lantas Tian duduk di sampingku. Aku segera mengusap jejak cairan itu dari pipiku.
"Kamu makan dulu, Mas. nanti keburu dingin."
"Kamu sudah makan?'
Kepalaku menggeleng.
"Kamu juga harus makan, Naya. Biar kamu gak sakit." Aku menatapnya tak percaya, benarkah Tian mengatakan kalimat itu untukku?
Lelaki yang biasanya mengabaikanku, entah kenapa akhir-akhir ini Tian sedikit berubah.
"Aku belum lapar, Mas."
Tian pun mengangguk, mungkin ia mengerti karena aku masih dalam keadaan berduka. Dalam keheningan, aku memperhatikan Tian yang sedang memasukkan makannya itu ke dalam mulut dengan sangat lahap, sepertinya Tian memang lapar karena dari kemarin malam mungkin ia lupa untuk mengisi perutnya. Aku membiarkan Tian untuk menghabiskan makanannya, meskipun sesekali lelaki itu melirik ke arahku.
"Mas ..." Tian yang baru saja selesai makan, dan menyimpan piring itu kembali ke atas meja. Lantas menoleh.
"Ada apa?"
"Makasih, kamu udah repot-repot mau nganterin aku kesini." Ia menatapku, sambil meletakkan kembali gelasnya di atas meja. "Untuk pembayaran rumah sakit, dan biaya pemakaman Ayah, nanti aku ganti."
__ADS_1
"Apa maksud kamu? aku gak akan meminta uang ganti sama kamu. Gak perlu. Aku ikhlas kok, karena Ayahmu Ayahku juga, kan?"
Seketika aku menoleh, menatapnya dengan raut tak percaya. Tangisku kembali pecah saat aku ingat kembali dengan kata-kata terakhir dari Ayah. Beliau meminta agar aku menjadi istri yang baik dan nurut pada suami. Ayah pun meminta aku untuk menjaga kehormatan pernikahan kami. Ayah sangat berharap, jika aku dan Tian akan hidup bahagia selamanya bersama cucu-cucunya nanti.
Tanpa Ayah tahu, kalau aku sendiri sudah mempersiapkan perpisahan dengannya.
"Mulai besok, kamu boleh pergi. Mas." Seketika lelaki itu menoleh cepat menatapku. "Aku akan disini, dan mempersiapkan perpisahan kita setelah empat puluh hari kepergian Ayah."
"Maksud kamu?" Tanya Tian, matanya masih pokus menatapku.
Aku menatapnya sekarang. "Kamu harus kembali, karena seseorang sedang menunggu kamu disana kan?" Entah kenapa aku kembali merasakan nyeri pada ulu hati. Apalagi setelah tadi secara tak sengaja aku mendengar percakapan mereka berdua di telepon.
"Naya ... aku." Tian mendekat.
"Lebih baik kamu pulang, Mas. Dia lebih membutuhkan kamu di banding aku."
"Aku tidak akan pulang, aku akan tetap disini." Jawabnya yakin.
"Untuk apa, Mas?"
"Untuk menemani kamu, karena bagaimana pun aku masih suami kamu."
"Suami?" Aku berdecih, "Sejak kapan kamu mengakui kalo kamu itu suami aku?" Aku memalingkan muka saat ingat kalau Tian sudah menikahi wanita lain selain aku.
"Keputusanku sudah bulat, Mas. Aku menyerah, dan aku akan mundur dari hidup kamu."
"Naya, aku minta maaf karena telah menikahi Tari. Tapi ada alasan lain kenapa aku menikahinya." Tak ku sangka Tian sampai berlutut di hadapanku. "Aku tidak akan menceraikanmu, aku janji akan berbuat adil pada kalian."
"Adil?" Aku menggeleng tak percaya, dimana letak hati nurani lelaki itu. Kami menikah memang bukan atas dasar cinta, tapi aku juga seorang wanita. Wanita mana yang mau berbagi meskipun tanpa saling mencintai. Tidak, aku tidak mau.
"Kamu bilang mau bersikap adil?" Tanyaku.
"Iya." Jawabnya bersama kepala yang mengangguk.
Aku tersenyum miris, "Bersikap adil bagaimana? sementara kamu gak menyukai aku, Mas?"
"Aku akan berusaha untuk mencintai kamu, Naya."
"Mas ...?!" Aku berdiri, pun dengan Tian yang ikut berdiri.
"Kamu mencintai perempuan itu. Apa kamu pikir dia juga mau berbagi sama aku, hah?" Mataku berpendar melihat sekeliling, aku takut jika sampai Ibu mendengar percakapan kami.
Aku lihat Tian pun menutup matanya rapat-rapat. "Tari mau berbagi sama kamu. Bahkan dia rela menjadi istri kedua."
"Tapi aku yang gak mau, aku gak siap Mas." Kepalaku menggeleng. "Maka dari itu, aku ingin kamu segera jatuhkan talak sama aku." Napasku tercekat. Tanpa terasa air bening itu pun kembali jatuh. "Aku mau pisah, Mas.!"
"Siapa yang akan pisah?"
Deg,
__ADS_1
Baik aku ataupun Tian, kami berdua sama-sama terkejut dengan dada yang berdebar kencang saat suara milik Ibu terdengar.
...****************...