Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Buku diary


__ADS_3




"Sudah siap, Sayang?"


Aku menoleh, mendapati Ibu yang sedang berdiri di depan pintu kamarku dengan pakaian yang sudah sangat rapi. "Sudah Bu." Aku menghampirinya seraya tersenyum. "Ayo, kita berangkat sekarang.!"


Pada akhirnya, akupun memutuskan untuk menemani Ibu. Meskipun sempat ragu, tapi aku tak akan membiarkan Ibu pergi sendirian. Aku akan menemani Ibu memenuhi undangan dari Mama Maya, mantan Mama mertuaku itu.


Setengah jam lamanya kami melewati jalanan Ibu kota setelah melewati sedikit kemacetan, kini kami berdua telah tiba di depan rumah yang nampak tak berubah sedikitpun itu. Rumah yang dulu pernah aku tinggali selama beberapa hari itu masih terlihat sama seperti dulu.


Aku dan Ibu memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, terlihat di depan maupun di dalam rumah itu sudah sangat ramai oleh beberapa orang yang ikut menghadiri acara tasyakuran tersebut.


Aku dan Ibu masuk kedalam rumah megah itu, dan beruntungnya Mama Maya melihat kedatangan kami. Dengan senyum mengembang, beliau menghampiri kami. Mama Maya memeluk Ibu dan aku secara bergantian. Tak lupa beliau mengucapkan banyak terima kasih karena aku dan Ibu berkenan untuk hadir pada malam ini.


Sepertinya tidak banyak tamu yang mereka undang, hanya beberapa kerabat serta tetangga dekat saja. Itu yang Mama Maya katakan padaku.


Mama Maya meminta aku dan Ibu untuk masuk kedalam ruangan dimana Papa Adi sudah menunggu kedatangan kami disana. Dan benar saja, saat melihat kami masuk Papa Adi langsung menghampiri. Aku sendiri pun merasa tak nyaman karena sikap keduanya yang terlalu baik memperlakukan kami berdua.


Pukul tujuh malam acara pun di mulai, aku dan Ibu duduk berdampingan dan di sebelah kananku ada kedua mantan mertuaku itu. Saat acara sedang berlangsung, aku bisa bernapas sedikit lega karena orang yang memang tidak ingin aku temui kebetulan tidak ada disini.


Kemana lelaki itu?


Bukannya di saat seperti ini seharusnya Tian ada disini?


Tapi sejak tadi aku sama sekali tak melihatnya? dan gadis kecil itu ... akupun tak melihatnya.


Ah ... apa peduliku? itu bukan urusanku.


Kepalaku menggeleng, dan hal itu tak luput dari perhatian Ibu. Beliau menggenggam tanganku lembut. Sepertinya Ibu mengetahui apa yang ada di dalam isi kepalaku.


Aku tersenyum, lalu meminta izin pada Ibu dan Mama Maya untuk ke kamar mandi.


Aku yang sudah mengenali isi dalam rumah ini, maka akupun memutuskan untuk memilih kamar mandi yang terletak di lantai dua.


Begitu aku keluar, aku sedikit terkejut saat ada sebuah boneka yang terlempar tepat di depanku berdiri saat ini. Aku menoleh, sedikit melihat pada pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup itu. Akupun mendekat, dan tak sengaja melihat seorang gadis kecil sedang menangis disana.


Cheery.


Entah apa yang membuat gadis kecil itu mengamuk seperti itu. Akupun melihat wanita setengah baya itu seperti kewalahan saat menghadapi anak yang sedang menangis dengan sangat kencang itu.


Melihat Cheery menangis seperti itu membuatku ingin menghampirinya. Akupun merasa kasihan saat mendengar suaranya sudah sangat parau, mungkin karena Cheery sudah lama menangis. Aku membuka pintu kamar itu, tak lama kemudian wajah mungil yang terlihat merah serta kedua bola matanya yang sudah sembab itu menatapku.


Detik berikutnya Cheery terdiam, gadis mungil berwajah cantik dan menggemaskan itu menatapku lekat. Pun dengan Asih, wanita setengah baya itu menatapku sekarang sambil melempar senyum.


"Kenapa dengan Cheery, Mbak?"


"Non Cheery marah, karena Papanya belum pulang. Nona." Jelas Asih yang membuatku kembali menatap gadis kecil itu sekarang.


"Kenapa kamu nangis?" Tanyaku berusaha untuk mendekatinya.


Kepala mungil itu menggeleng.


"Ini boneka punya Cheery kan?"


Gadis kecil itu masih diam, hanya Kepalanya saja yang mengangguk.


"Ini, tante kembaliin bonekanya." Aku menyodorkan boneka itu ke hadapannya.


"Makasih, Tante." Cicitnya yang membuatku gemas setelah ia mengambil boneka kesayangannya itu dari tanganku.

__ADS_1


"Sama-sama anak manis." Aku berjongkok di hadapannya. Mataku berpendar melihat sekeliling ruangan yang khusus di buat untuk anak-anak seusianya. Kamar yang bagus. "Kalo tante boleh tahu, kenapa kamu nangis sayang?"


"Papa." Ya ampun ... melihat bibirnya yang melengkung seperti ingin menangis kembali membuatku ingin sekali menciumnya.


"Papa?"


Lagi, Cheery mengangguk. Dan kedua bola mata bulat itu kembali menggenang. Aku mengulurkan tangan, dan tanpa aku duga, anak kecil itu menghambur memelukku.


"Papa, jahat. Papa pergi tanpa ngajak aku." celotehnya lagi.


"Mungkin Papa masih kerja sayang. Bentar lagi Papa juga pulang." Aku mengelus punggungnya lembut, membiarkan anak itu untuk menangis dalam pelukanku.


"Nona, saya permisi dulu mau buatkan non Cheery susu."


Aku mengangguk, Asih pun pergi meninggalkan kami berdua sekarang di dalam kamar.


"Sayang, mau tante bacain buku gak?"


"Buku apa?" Gadis kecil itu mengurai pelukannya. Ia menatapku seraya mengusap sisa cairan bening di pipi gembilnya itu.


"Buku cerita itu." Aku menunjuk pada sebuah buku cerita yang tergeletak tak jauh dari tempat kami duduk sekarang.


"Mau." Jawabnya bersama kepala mungilnya yang mengangguk.


"Oke, Tante bakal bacain buku cerita itu, tapi Cheery harus janji sama Tante, gak boleh nangis lagi. Gimana?"


"Iya, Tante. Aku janji gak bakal nangis."


Dengan senang hati aku menggiring Cheery untuk naik ke atas tempat tidur, lalu mengambil buku itu dan membacakan sebuah dongeng tentang Kancil dan kawanan buaya kepadanya. Aku senang karena sekarang Cheery tidak lagi menangis, bahkan Asih pun masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.


Kata Asih, tidak ada yang bisa membujuk Cheery saat gadis kecil itu menangis. Bahkan Nenek dan Kakeknya pun selalu kewalahan dan angkat tangan. Hanya Tian, hanya Papanya lah yang bisa membuat Cheery berhenti menangis seketika. Dan sekarang melihat Cheery begitu menurut pada Nayara, semuanya terasa seperti mimpi bagi Asih.


Padahal, Nayara adalah orang asing menurut Asih.


Samar-samar aku mendengar suara seseorang, aku menoleh menatap ka arah pintu kamar yang terbuka itu. Lalu, betapa terkejutnya aku saat melihat Mama Maya dan Tian sedang berdiri disana sambil melihatku. Buru-buru aku membereskan buku cerita itu dan segera turun dari ranjang. Beruntung, Cheery sudah tertidur sangat pulas.


"Maaf, Ma. Tadi Aku ..."


"Gak papa sayang." Mama Maya mendekat ke arahku, pun dengan Tian. Lelaki itu masih mengenakan pakaian kerja, aku yakin kalau Tian baru saja tiba di rumahnya.


"Justru Mama yang minta maaf, karena Cheery udah ngerepotin kamu." Ujar beliau seraya tersenyum. Mama Maya mendapatkan laporan dari asisten rumah tangganya itu.


Tanpa mau berlama-lama berada di tengah-tengah mereka, aku berpamitan pada Mama Maya untuk menemui Ibu yang mungkin saja sedari tadi sedang menungguku.


"Naya, tunggu."


Aku yang baru saja keluar dari dalam kamar tiba-tiba berhenti saat mendengar suara parau itu.


"Terimakasih." Meskipun pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.


Tanpa mau menoleh kebelakang, akupun memilih untuk mengangguk, lalu pergi begitu saja meninggalkan Tian yang masih berdiri mematung disana.


******


Beberapa menit yang lalu, acara tasyakuran yang di buat oleh kedua mantan mertuaku itu sudah selesai. Semua tamu undangan yang turut hadirpun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan rumah sang pemilik acara. Dan hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk aku dan Ibu.


Aku dan Ibuku menghampiri kedua mantan mertuaku itu dan juga Tian. Kami berdua berpamitan untuk pulang. Meskipun Mama Maya sempat meminta kami untuk menginap di rumahnya, tapi aku dan Ibu memutuskan untuk tetap pulang meski hujan diluar sana mengguyur sangat lebat.


Begitu aku dan Ibu sudah berada di dalam mobil, tiba-tiba saja mesin mobilku tak menyala. Aku mencoba beberapa kali untuk menghidupkan kembali mobil tapi tetap tak berhasil, dan sepertinya mobil itu benar-benar mogok.


"Kenapa sayang?"


"Sepertinya mogok, Bu."

__ADS_1


Disaat aku akan menghidupkan kembali mesin mobilnya, disaat itu pula aku melihat Tian datang menghampiri kami. Lelaki itu memakai payung untuk menghalangi kepala dan tubuhnya dari guyuran air hujan.


"Kenapa, Bu?"


"Mobilnya mogok, nak Tian."


Seketika aku mengalihkan pandangan saat Tian menatapku. Meskipun Tian tahu aku hanya diam saat ia bertanya, tapi tak membuat lelaki itu berhenti.


"Naya, Ibu. Kalian bisa tunggu di luar, biar aku lihat mobilnya."


"Ayo sayang, kita turun dulu. Siapa tahu Nak Tian bisa bantu."


Aku mengangguk, dan memilih untuk keluar dari dalam mobil. Sementara Tian, lelaki itu masih mencoba menyalakan mesin mobilnya.


Aku dan Ibu yang menunggu diluar pun, tiba-tiba merasa tak enak saat Mama Maya dan Papa Adi kembali menghampiri kami. Mereka berdua meminta agar Tian yang mengantarkan kami berdua pulang.


"Tian, ayo antarkan Naya dan Ibu Ratna pulang."


"Tidak apa-apa, Ma. Kami bisa pulang sendiri." Tolakku.


"Gak bisa sayang, ini udah malam. Terus hujannya deras. Biar Tian yang antar kalian ya?"


"Untuk urusan mobil, biar besok orang suruhan Papa akan mengantarkannya ke rumah kamu." Akupun hanya bisa mengangguk karena tidak bisa menolak Papa Adi.


Maka, disinilah sekarang kami berada. Aku duduk di belakang, sementara Ibu duduk di depan bersama Tian. Dalam perjalanan menuju pulang, aku lebih memilih untuk diam. Tapi tidak dengan Ibu dan juga Tian yang sesekali terlibat dalam perbincangan hangat. Meskipun mereka hanya sebatas mantan Ibu mertua dan mantan menantu, tapi aku tidak melihat adanya kecanggungan sama sekali di antara keduanya. Bahkan aku bisa mendengar, sesekali Ibu memberi nasihat untuk lelaki itu.


Begitu tiba di depan rumah, aku sedikit terkejut dengan perlakuan Tian terhadap Ibu. Lelaki itu membuka payung lalu mengantarkan Ibu sampai ke depan pintu. Sementara aku, aku mengikuti dari belakang sembari berlari kecil karena hujan yang turun masih sangat deras.


"Nak Tian, mau mampir dulu?" Tanya Ibu saat kami semua sudah berada di teras rumah.


"Tidak usah, Bu. Aku langsung pulang aja."


"Tapi hujan makin deras, Ibu buatkan dulu minuman ya?'


"Jangan, Bu. Ini sudah malam, dan aku gak mau merepotkan." Tolaknya secara langsung.


Ibu tidak bisa memaksa. Beliau pun berpamitan untuk masuk kedalam rumah terlebih dulu setelah Tian meminta izin untuk berbicara denganku sebentar. Awalnya aku menolak, tapi Ibu. Seketika aku diam saat Ibu menatapku.


"Apa ini?" Tanyaku saat tiba-tiba saja Tian menyerahkan sebuah buku kecil kehadapanku.


"Bukankah ini milikmu?"


Aku menatap Tian dan buku itu secara bergantian, dan ...


Ya Tuhan ... buku diary ini kan memang punyaku?


Kenapa bisa ada di tangan Tian?


Lelaki itu tersenyum, dan senyuman itu lagi-lagi aku lihat. Tian sedikit berjalan ke arahku, lalu secara langsung dia mengatakan sesuatu yang membuat aku menganga tak percaya.


"Maaf, kalo aku sudah langcang membuka dan membaca isinya."


Apa maksudnya?


Jangan-jangan ...


Astaga ... !!!


Apa Tian sudah tahu tentang perasaanku dulu padanya?



...****************...

__ADS_1


__ADS_2