
•
•
•
Ternyata, Arga Devano benar-benar menepati ucapannya yang tak akan melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaan di waktu kami sedang bekerja. Di hari pertama Aku bekerja sebagai sekretarisnya, Arga bersikap seperti kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Arga memperlakukan aku sama seperti ia memperlakukan pegawai yang lainnya.
"Ranti ..." Seru Arga. Ranti adalah sekretarisnya Arga yang mengajukan resign beberapa hari yang lalu. Dan mulai besok, Ranti sudah resmi berhenti bekerja. Tapi sebelum Ranti benar-benar keluar, wanita itu diminta oleh Arga untuk mengajarkan aku tentang banyak hal. Karena Arga tahu, kalau aku adalah gadis yang baru masuk ke dunia kerja seperti ini.
Ya, karena setelah lulus, aku justru memutuskan untuk menikah.
Ranti banyak mengajarkan dan memberitahuku tentang pekerjaannya selama ia bekerja di perusahaan Arga. Ia juga dengan sabar mau menjawab semua pertanyaan dariku. Aku banyak bertanya, dan Ranti dengan senang hati memberikan aku penjelasan tentang apa saja yang harus aku kerjakan sebagai seorang sekretaris. Tak lupa, dengan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan selama bekerja di perusahaan milik Arga Devano itu.
Begitu banyak pelajaran yang aku terima dari wanita yang sudah lebih dari lima tahun bekerja bersama Arga. Sedikit demi sedikit akupun mulai mengerti. Ranti menyerahkan semua tugasnya padaku, wanita itu percaya jika aku memang pantas untuk menggantikan posisinya. Selain cantik, aku juga gadis yang pintar. Itulah yang Ranti katakan padaku.
"Iya, Pak."
"Bagaimana Ara?" Tanya Arga tiba-tiba.
"Ara?" Ranti, wanita itu mengernyit dengan raut bingung.
"Oh ... " Arga berdehem pelan. "Maksud saya Nayara. bagaimana kinerja dia?"
"Oh ..." Ranti tersenyum kaku. "Nayara sangat pintar, Pak. Dia sudah bisa menyelesaikan semua tugasnya hari ini dengan baik. Jadi menurut saya, Nayara memang gadis yang tepat untuk menjadi sekretarisnya, Pak Arga."
Jelas Ranti yang membuat Arga tersenyum senang. Arga tahu kalau Nayara adalah gadis yang sangat pintar. Maka dari itu, Arga langsung menyetujui saat Raya, gadis yang merupakan sahabat dari Nayara itu meminta pekerjaan untuk Ara -nya.
Ara, Ya ... Ara.
Nama panggilan sayang Arga untuk Nayara ketika dulu mereka berdua masih berstatus sebagai pasangan kekasih. Hanya Arga Devano lah satu-satunya orang yang memanggil Nayara dengan panggilan Ara.
__ADS_1
Ara, sebuah nama yang sangat sulit Arga hapus dari hatinya sampai saat ini.
Arga Devano sangat mencintai Nayara, pun sebaliknya. Hubungan yang mereka jalin selama lima tahun lamanya itu harus berakhir karena kesalahan yang Arga buat. Kesalahan yang membuat Arga harus kehilangan cintanya demi wanita lain. Bahkan, dulu mereka berdua sudah merencanakan untuk menikah sebelum kejadian sialan itu merusak segalanya. Menghancurkan semua impiannya bersama Nayara.
Arga pun sangat menyesal, karena dulu ia pernah membuat Ara-nya terluka dan menangis.
"Baiklah ..." Arga tersenyum. "Kalo begitu, tolong panggil Nayara untuk menghadap saya sekarang."
"Baik, Pak." Ranti mengangguk, wanita itu pun pamit meninggalkan ruangan Arga setelah ia selesai menyelesaikan tugas terakhirnya hari ini.
Tak lama setelah itu, Arga tersenyum, dan entah kenapa ia merasa kalau sekarang dadanya itu tiba-tiba saja berdebar tak beraturan ketika terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar. Arga yakin, kalau yang mengetuk pintunya sekarang itu adalah Ara-nya.
"Masuk."
"Selamat siang, Pak." Sapaku sedikit membungkuk.
"Siang, Ara." Aku tak terkejut saat Arga masih memanggilku dengan nama itu. Karena sebelumnya, Arga pun masih memanggil aku dengan panggilan yang membuatku merasa risih saat mendengarnya.
"Silahkan duduk, Ara." Titahnya kemudian.
Arga Devano terlihat lebih dewasa, lelaki itu pun sangat berbeda dari biasanya.
Aku yang sadar dengan apa yang seharusnya tak aku pikirkan, buru-buru menggeleng. Tujuanku disini adalah untuk bekerja, bukan untuk kembali mengingat masa lalu yang jelas-jelas sudah aku lupakan. Apalagi dengan status kami berdua saat ini.
Aku kira Arga memanggilku keruangannya itu untuk membahas masalah pekerjaan, tapi nyatanya aku kembali salah. Aku justru tidak mengerti dan merasa tak nyaman saat Arga kembali menanyakan sesuatu yang seharusnya tak ia tanyakan. Tapi ... aku sedikit penasaran dengan apa yang sempat Arga katakan tadi. Aku ingin bertanya, tapi keadaan sangat tak memungkinkan karena kini Ranti ada bersama dengan kami.
Apa Arga mengetahui sesuatu tentang Tian?
******
Berada di tempat yang berbeda,
__ADS_1
"Kamu suka?"
"Baiklah, nanti aku hubungi kamu lagi."
Tian kembali menyimpan benda pipih itu ke atas meja setelah tadi ia memutuskan panggilannya dengan seseorang. Entah kenapa hari ini ia begitu merasa lelah, bukan karena pekerjaannya saja yang membuatnya lelah, tapi juga dengan keadaan yang membuat dirinya ada di posisi melelahkan seperti ini.
Sampai kapan?
Pertanyaan itulah yang Tian pikirkan saat ini. Sampai kapan ia harus terus bersembunyi? menyembunyikan sesuatu yang ia tutup-tutupi selama ini. Bukan karena ia pengecut, hanya saja untuk saat ini rasanya sangat tak memungkinkan untuk ia mengakui semuanya. Selain karena kesehatan sang Mama yang akhir-akhir ini menurun, ada alasan lain yang membuat Tian harus kembali menyimpan rahasianya itu.
Papanya.
Beberapa jam yang lalu sang Papa sempat menghubunginya kembali. Lelaki paruh baya itu meminta Tian agar segera menjauhi wanitanya itu. Bahkan, jika dalam waktu dekat Adi masih mendengar kabar tentang Tian dan wanita yang bernama Mentari itu masih berhubungan, Adi pun tak akan tinggal diam, Adi mengancam akan menjauhkan Mentari darinya. Suka atau tidak suka. Karena menurut Adi, tidak pantas seorang laki-laki yang sudah beristri masih berhubungan dengan wanita lain.
Ya, kalau pernikahannya bersama Nayara itu terjadi secara sehat.
Tian tak ingin membohongi kedua orangtuanya itu, ia juga tak ingin menjadi anak yang tak berbakti dan tak tahu balas budi. Tapi, untuk saat ini ia juga tak bisa melepaskan apa yang menjadi kebahagiaannya itu begitu saja. Semuanya sudah terjadi, dan Tian siap jika ia harus kehilangan segalanya.
Kehilangan kepercayaan kedua orangtuanya, kehilangan perusahaannya, dan kehilangan Nayara, gadis yang sudah hampir tiga bulan ini menjadi istrinya. Istri yang tak pernah ia anggap dan selalu Tian abaikan karena hatinya sudah di miliki oleh perempuan lain.
Dan Nayara? apa kabarnya gadis itu?
Kebetulan memang, baru saja Tian memikirkan tentang Gadis itu, tiba-tiba saja Rama datang. Laki-laki itu memberikan informasi yang membuat Tian merasakan sesuatu yang sulit untuk ia artikan sendiri.
"Siapa yang mengirimkan ini.?" Tanya Tian begitu Rama menyodorkan ponsel miliknya itu ke hadapan Tian.
"Teman saya yang bekerja di perusahaan milik Tuan Arga Devano. Pak." Rama diam sesaat, kemudian ia kembali berujar. "Sepertinya, Tuan Arga masih menyukai istri anda."
Tian yang sedang menatap layar ponselnya itu seketika menoleh cepat, ia menatap Rama dengan mata menyipit. Benar apa yang di katakan oleh Rama, siapapun orang yang melihat bagaimana cara laki-laki itu menatap Nayara, akan berpikiran sama dengannya. Termasuk Tian sendiri. Tian adalah seorang laki-laki, ia tahu apa arti dari tatapan laki-laki itu. Tatapan penuh damba kepada Nayara - istrinya.
"Kalo di lihat-lihat ternyata istri anda sangat cantik, apalagi saat sedang tersenyum seperti itu, Pak." Tanpa sadar Rama mengatakannya.
__ADS_1
Tian hanya diam seraya menatap layar ponsel yang masih menampilkan beberapa poto Nayara di dalamnya. Gadis itu sedang tersenyum lebar, senyuman yang tak pernah ia lihat selama hampir tiga bulan hidup bersama. Mungkin, karena selama ini ia selalu mengabaikannya, maka Tian tak pernah tahu kalau ternyata Nayara memiliki senyum yang sangat Manis.
...****************...