
•
•
•
"Katakan, siapa yang mau pisah?" Tanya Ibu penuh selidik.
Aku dan Tian, kami berdua sama-sama saling menatap.
"Bu ... aku ---" aku melirik ke arah Tian sebelum kemudian kembali menatap Ibu. Apakah aku harus mengatakannya sekarang? apakah aku sanggup melihat wajah teduh itu kembali bersedih? Baru saja kami berdua kehilangan Ayah, apa aku harus kembali membuat Ibu kecewa dan terluka?
"Kenapa kalian diam? katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Rahangku yang sebelumnya hendak terbuka, tiba-tiba saja mengatup kembali saat melihat Ibu meringis kesakitan seraya memegang sebelah dadanya.
"Ibu?" Buru-buru aku menghampirinya, pun dengan Tian. "Ibu kenapa?" Tanyaku cemas, aku memeluk tubuh Ibu dari samping. "Bu ... Ibu kenapa?" Ulangku kembali.
Ibu hanya menggeleng pelan, wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya pun terasa panas. Tentu saja itu membuatku semakin khawatir. Aku dan Tian, kami berdua memutuskan untuk membawa Ibu ke rumah sakit terdekat karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada kesehatan Ibu.
Setelah menempuh dua puluh menit perjalan, kami tiba di rumah sakit dan Tian langsung meminta petugas IGD disana untuk segera menangani Ibu mertuanya itu. Beruntung, Ibu sudah di tangani oleh tenaga medis disana dan langsung di bawa ke ruangan yang tak boleh siapapun ikut masuk.
Aku yang sedang berdiri menyandar pada tembok seraya memeluk lengan, tiba-tiba saja terkejut saat Tian ikut berdiri di sampingku.
"Ibu tidak akan apa-apa. Aku yakin Ibu akan baik-baik saja."
Itulah kata-kata yang terucap dari bibir Tian, mendengar kalimat itu entah kenapa aku sedikit merasa tenang sekarang. Sebelumnya aku merasakan ketakutan yang luar biasa, aku takut terjadi sesuatu yang tak aku inginkan pada Ibu. Aku takut Ibu kenapa-kenapa, dan aku juga takut jika sampai Ibu pergi meninggalkan aku.
Tidak, aku tidak mau itu terjadi. Aku belum siap jika harus kehilangan kembali orang-orang yang aku sayangi.
"Aku ... aku takut." Lirihku. Tangisku pun kembali pecah.
"Ibu akan baik-baik aja, Naya." Aku merasakan tangan Tian yang bergerak, ternyata Tian membawa aku ke dalam pelukannya. Lagi, dia kembali memelukku seraya menepuk-nepuk bahuku pelan. Aku pun tak menolak, aku hanya diam dan semakin menenggelamkan wajahku pada dadanya.
"Ibu ..." Aku meraung, dan Tian semakin memelukku erat.
Lama kami saling berpelukan, sampai akhirnya akupun baru menyadari dan segera mengurai pelukanku saat pintu ruangan di depan sana terbuka. Aku dan Tian segera menghampiri dokter dan dua orang perawat yang juga ikut keluar secara bersamaan.
"Dok, bagaimana keadaan Ibu saya?" hal pertama yang aku tanyakan. Sungguh, aku sangat ketakutan sekarang.
"Ibu anda masih lemah karena jantungnya sempat bermasalah. Tapi keadaannya kini sudah mulai membaik. Kita akan pindahkan Ibu Nurma ke ruang rawat inap sekarang."
"Apa saya sudah bisa melihatnya, dok?"
"Boleh, tapi setelah di ruang inap. Tapi tolong, jaga Ibu anda dengan baik Nona. Jangan biarkan beliau stres ataupun kelelahan."
Kepalaku mengangguk, Aku dan Tian segera mengikuti beberapa perawat yang akan membawa Ibu ke ruang inap. Begitu kami tiba disana, aku langsung menghampirinya. Duduk di sampingnya seraya menatap wajah Ibu yang pucat.
"Ibu ..." Aku melihat Ibu terbaring lemah dengan beberapa selang infus di tangan.
Ya Tuhan ... cobaan apa lagi ini? baru saja aku kehilangan Ayah, dan kini aku juga harus kembali melihat Ibu tak berdaya seperti ini.
******
__ADS_1
Pagi harinya, aku yang masih menemani Ibu di rumah sakit seketika menoleh saat mendengar suara pintu yang terbuka. Seketika itu pula aku berdiri dengan raut tak percaya dan kedua bola mataku yang membulat sempurna.
"Naya ..." Tian berdiri disana dengan seorang perempuan cantik berdiri di sampingnya. Aku melihatnya, dan melirik ke arah perempuan yang sedang tersenyum lebar itu.
"Hai, Mbak." Sapanya lembut.
Aku tak menjawab juga tak membalas senyumannya itu. Aku hanya diam mematung karena masih tak mempercayai dengan apa yang aku lihat sekarang. Tari ada disini. Perempuan itu ada disini bersama dengan Tian.
"Mbak?" Tari memanggilku kembali. "Mbak ... maaf, kedatanganku kesini hanya ingin menjenguk Ibu."
Menjenguk Ibu?
Aku yakin Tian lah yang memberitahunya. Apa mungkin lelaki itu juga yang meminta Tari untuk datang kesini dengan alasan menjenguk Ibu?
"Maaf, Mbak. Mas Tian memang ngasih kabar ke aku kalau Ibunya Mbak lagi di rawat. Aku kesini atas keinginanku sendiri, Mas Tian juga tidak tahu kalau aku akan datang kesini, Mbak." Ujar Tari seolah bisa membaca isi pikiranku.
"Naya, apa yang di katakan Tari memang benar. Aku baru tahu saat Tari sudah ada di parkiran." Entah kenapa aku melihat Tian seperti orang yang ketakutan. Padahal, tanpa mereka menjelaskannya pun aku tak peduli.
Aku berdehem, melihat ke arah mereka dan Ibu - yang untungnya sedang tidur itu secara bergantian. Aku tak mau jika sampai Ibu melihat Tari ada disini.
"Makasih sudah datang." sebisa mungkin aku bersikap tenang.
"Mbak Naya, apa boleh kita bicara?" Pintanya memelas.
Aku kembali melihat Ibu dan Tian yang berdiri disana dengan wajah pias. Entah apa yang ingin Tari bicarakan padaku. Aku yang tak mau mengganggu Ibu, maka kami bertiga pun memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempat Ibu di rawat.
Dan disinilah sekarang aku, Tian dan Tari berada.
Hening, itulah yang terjadi saat kami bertiga sudah menempati tempat duduk masing-masing dengan perasaan tak menentu. Aku diam, sementara Tari dan Tian, mereka terlihat saling melempar lirikkan.
"Em ... Mbak."
"Jangan panggil aku Mbak, panggil aku Naya saja, karena sepertinya kita seumuran kan?" Tebak-ku yang entah itu benar atau tidak. Tapi aku yakin kalau Tari seumuran denganku. Tari adalah perempuan yang mendekati kata sempurna. Tari sangat cantik, dan aku akui itu. Tari juga sepertinya baik, lemah lembut dan tentunya menarik. Maka tak heran jika Tian memang mencintainya.
"Em .. iya, Mbak - eh, Naya." Aku kembali melihat Tari melirik ke arah Tian.
"Naya, sekali lagi aku mau minta maaf sama kamu." Ada jeda di sela kalimatnya. Dan aku masih diam seraya menatapnya. "Maaf, kalo aku sudah masuk kedalam pernikahan kalian. Aku ... aku dan Mas Tian, kami berdua ---"
"Saling mencintai." Selaku. Aku mendesis seraya membuang muka ke samping.
"Maafkan aku." Tari pun menunduk. Dan aku lihat tangan Tian bergerak menyentuh tangan perempuan itu.
Ck, kenapa aku merasa tidak suka?
"Tidak usah minta maaf, karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri satu-satunya Mas Tian."
"Apa maksud kamu?"
Aku menatapnya sekarang, sesekali melirik ke arah Tian yang tak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Ia bungkam. Mungkin berada dalam situasi seperti ini membuatnya sedikit serba salah.
"Kami akan berpisah."
"Tapi aku tidak meminta kamu untuk berpisah dari Mas Tian."
__ADS_1
Aku mengernyit, menatap perempuan yang ada di hadapanku itu tak mengerti.
"Walaupun kami saling mencintai, tapi aku rela menjadi istri keduanya. Aku rela berbagi suami sama kamu. Kamu akan tetap jadi istri pertamanya, dan kita berdua bisa menjadi teman yang baik."
"Apa maksud kamu? seharusnya kamu itu senang kalo aku dan Mas Tian berpisah."
"Nggak." Kepalanya menggeleng. "Aku mohon, aku yakin kita berdua bisa menjalani pernikahan ini tanpa menyakiti satu sama lain, dan Mas Tian ..." Tari melihatnya. "Dia berjanji akan berbuat adil pada kita."
Aku menghela napas pelan, "Tapi maaf, sepertinya aku gak bisa."
"Naya ..." Setelah sekian lama bungkam, akhirnya aku bisa mendengar suara lelaki itu. "Naya ... aku---!"
"Kalo saja Ibu tidak masuk rumah sakit, aku sudah meminta Mas Tian pergi." Aku diam sesaat. "Tapi kamu tenang saja, setelah Ibu sembuh kami tetap akan berpisah."
"Naya, berarti itu pertanda kalo kamu sama Tian tidak bisa berpisah."
"Apa maksud kamu?" Tanyaku tak mengerti.
Aku melihat Tari mengulas senyum, dia menatapku sebelum kemudian berkata. "Bukankah setiap kali kamu meminta pisah selalu ada saja halangannya?"
Aku kembali mengernyit. Dan benar apa yang Tari katakan, sudah berapa kali aku memutuskan untuk berpisah, entah kenapa selalu saja ada alasan yang membuat aku kembali mengurungkan keinginanku itu.
"Pikirkan lah, Naya. Aku janji akan menjadi teman yang baik untukmu."
Aku diam, dan memikirkan apa yang Tari katakan. Tetapi ... keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap berpisah. Mungkin tidak untuk sekarang karena Ibuku yang sedang sakit, tapi suatu hari nanti, aku pastikan perpisahan itu pasti ada.
Bersambung ...
...****************...
Hai ... aku mau kasih visual buat ceritanya "AKUPUN MENYERAH"
Sebastian Aydan
Nayara Syila
Mentari Anastasya
Ingat, para visual di atas hanyalah alat yang di gunakan untuk menarik para pembaca. Jika kalian tidak suka, boleh menentukan siapa saja yang pantas menurut pendapat kalian masing-masing.
Terimakasih aku ucapkan untuk kalian yang sudah mampir membaca ceritanya aku ...
Jangan lupa untuk tetap tinggalkan like, komen, vote dan share juga setelah membaca ya?
Semoga suka dan gak bosen sama cerita aku ..
Sehat selalu buat kalian ...
__ADS_1
Makasih semua ... ❤❤❤