
•
•
•
"Apa kabar, Ra?"
"Baik ..." Balasku sambil tersenyum, aku menerima uluran tangan dari Arga Devano - mantan kekasihku dulu.
"Aku gak nyangka kita bakal ketemu lagi?"
"Iya, aku juga." Arga, lelaki itu berdehem. Mengalihkan pandangannya ke segala arah. "Kamu disini sama Sebastian?"
Tanya Arga kemudian, ia memang sudah mengenal Tian sejak lama. Sejak kedua perusahaan besar itu saling bekerja sama. Mereka berdua adalah dua pengusaha muda yang namanya sudah sangat tidak asing lagi di kalangan pebisnis. Selain sukses, Arga dan Tian pun sudah sama-sama telah memiliki beberapa cabang anak perusahaan yang terletak di seluruh kota maupun luar kota.
Kepalaku mengangguk singkat, "Iya, sama Mas Tian." Jawabku seraya tersenyum.
Sejak kejadian tadi, saat Arga hendak menolongku, tiba-tiba saja Tian datang. Lelaki itu segera membantu aku berdiri dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Arga.
Dan tanpa aku duga, Tian pun segera mengenalkan dirinya sebagai suamiku di hadapan Arga Devano. Aku sedikit terkejut, tapi keterkejutanku itu tak berlangsung lama saat Tian membisikkan sesuatu pada telingaku. Lelaki itu meminta agar aku berhati-hati dan jangan mempermalukan dirinya dengan tingkahku yang menurutnya sangat memalukan.
Dasar Tian, satu-satunya laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku temui.
"Jadi ... Tian itu suami kamu?"
Kepalaku kembali mengangguk. "Iya, dia memang suami aku."
"Aku gak tahu, kalo kamu sudah menikah, Ra? Dan aku juga gak tahu kalo yang menjadi suami kamu itu adalah Sebastian." Karena pada saat aku dan Tian menikah, Arga memang sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Entah kenapa aku merasa raut wajah Arga berubah seketika. Hampir satu tahun aku dan Arga tak pernah bertemu setelah lelaki itu menikah bersama perempuan lain, dan itu yang membuat aku merasa sedikit canggung ketika kami kini hanya duduk berdua. Aku memang meminta izin pada Tian untuk berbicara dengan Arga. Karena aku mengenalkan Arga sebagai temanku sewaktu kita kuliah dulu. Dan Tian pun mengijinkan karena ia harus kembali bercengkrama bersama beberapa kenalannya disana, tak lupa dengan wanita yang sedari tadi tak jauh berada di sampingnya itu.
Aku jadi penasaran dengan wanita itu. Siapa dia? dan kenapa mereka berdua terlihat begitu dekat sekali.
"Kamu gak berubah, Ra. Kamu masih sama seperti dulu."
"Masih tetap cantik kan?" Kelakarku untuk mencairkan suasana agar tidak canggung seperti ini.
__ADS_1
"Iya, malah sekarang kamu makin cantik."
"Kamu bisa aja?" Ujarku sambil terkekeh. Aku tahu Arga pun sedang berusaha untuk mencairkan suasana. Arga memang tidak banyak berubah, lelaki itu masih sama seperti Arga yang dulu sewaktu ia masih berstatus sebagai kekasih-ku.
"Ra, apa kamu bahagia?" Tanyanya kemudian yang berhasil membuat aku menoleh seketika.
"Maksud kamu?"
Arga tertawa kecil. "Maaf, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu."
Ya, seharusnya.
Tapi melihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Arga membuat aku sedikit menaruh curiga. Apalagi di saat ia mengatakan tentang gadis yang sekarang sedang bersama Tian. Sepertinya Arga mengetahui sesuatu, tapi laki-laki itu berusaha untuk menutupinya.
Hubungan aku dan Arga memang tidak baik saat aku tahu kalau lelaki itu telah mengkhianati-ku. Tapi seiring berjalannya waktu, lukaku yang basah perlahan mulai mengering meskipun tak sepenuhnya luka itu kering. Dulu aku memang marah, kesal, bahkan benci. Tapi itu hanya dulu. Sebelum Arga meminta maaf atas kesalahannya pun, aku telah lebih dulu memaafkannya. Yang aku inginkan sekarang hanyalah bisa berdamai dengan masa lalu dan juga keadaan.
Dan aku memutuskan untuk kembali menjalin hubungan bersama Arga. Bukan sebagai kekasih, tapi aku memutuskan untuk menjalin hubungan baik hanya sebatas teman saja. Tak lebih dari itu. Meskipun aku tahu, arah pembicaraan lelaki itu menjurus kemana.
Arga Devano, adalah laki-laki yang tidak suka berbasa-basi. Akupun sempat terkejut saat Arga mengatakan kalau ia sudah berpisah dengan istrinya satu tahun yang lalu. Dan sekarang, untuk yang pertama kalinya aku dan Arga bertemu kembali setelah sekian lama tak pernah bertemu, lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuat aku menganga tak percaya.
"Aku masih mencintai kamu sampai detik ini."
******
Tian memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong celana setelah tadi ia memutuskan panggilannya bersama dengan Rama - asisten pribadi sekaligus kaki tangannya di kantor. Sudah dua hari Tian tidak masuk kantor dan meninggalkan pekerjaannya, karena ia masih berada di rumah kedua orangtuanya. Maka dari itu, Rama lah yang Tian tugaskan untuk menggantikan posisinya selama ia cuti.
Tian yang sedang berada di taman samping rumahnya, seketika melihat jarum jam yang melingkar di tangan. Tak terasa sudah hampir satu jam lamanya ia berada disana sejak kepulangannya dari acara makan malam bersama itu. Tian yang belum mengganti pakaiannya pun segera masuk ke dalam rumah menuju ke lantai dua, dimana kamarnya itu terletak.
Lelaki itu mengernyit saat mendapati pintu kamarnya yang tak tertutup rapat, di saat ia hendak membuka pintu kamar itu tiba-tiba tangannya berhenti. Tian membeku dengan pandangan lurus ke depan. Dimana disana, di dalam kamarnya ada seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Tian tersentak begitu melihat tubuh gadis itu yang hanya mengenakan handuk di atas lutut.
Ia pun tak menyangka, jika Naya bisa memiliki kulit yang mulus dan putih seperti susu. Tian menelan ludahnya kelat. Ia melupakan Nayara yang ada disana. Tian lupa, kalau untuk saat ini ia dan Nayara menggunakan kamar yang sama. Tian pun termangu beberapa detik, masih memandangi tubuh Nayara dari belakang. Matanya pun menjelajah pada leher, bahu dan pahanya yang jelas-jelas terbuka. Sebagai seorang lelaki, tentu Tian sedikit tergoda. Meskipun Nayara bukanlah tipe dan gadis yang ia cintai.
Tetapi melihat gadis itu hanya mengenakan handuk, Tian mengakui, kalau ternyata Nayara mempunyai tubuh yang sangat indah.
Namun segera tersadar saat gadis itu hendak membuka handuknya, Tian berpaling. Tapi sedetik kemudian, ia pun membuka pintu kamarnya itu lebar-lebar.
******
__ADS_1
"Ya ampun ... Mas, kenapa kamu ada disini?" Pekikku saat melihat Tian yang tiba-tiba saja berada di dalam kamar. Buru-buru aku menutup bagian dada yang sedikit terbuka itu dengan kedua tanganku.
"Mas ... sejak kapan kamu berdiri disitu?" Tanyaku kembali yang tetap membuat lelaki itu diam seraya menatapku.
Aku yang di tatap seperti itu pun mendadak salah tingkah. Apalagi dengan keadaanku sekarang yang baru saja selesai mandi. Seharusnya aku segera masuk kembali ke dalam kamar mandi, atau bersembunyi dimanapun asal Tian tak melihatku dalam keadaan setengah telanjang seperti ini. Alih-alih ingin melarikan diri, nyatanya tubuhku sama sekali tak mau bergerak. Aku masih saja diam mematung.
"Memangnya kenapa? Kamu lupa, ini kamar siapa? apa kamu juga lupa, kita lagi ada dimana sekarang?" Lelaki itu mendengkus. Seperti itulah Tian, lelaki sombong yang sangat menyebalkan.
"Astaga ... kenapa aku bisa lupa?" gumamku pelan seraya menatap lelaki itu yang sekarang sedang mengambil kaos di dalam lemari.
Aku yang masih betah berdiri, seketika melangkah mundur saat Tian mendekat ke arahku dengan pandangan tajam serta tersenyum sinis.
"Mas ... mau apa?" Tanyaku takut-takut. Seolah ada yang aneh pada tubuhku, Tian menatapku dari atas sampai bawah. Lantas, ia pun menyeringai.
"Sekalipun kamu telanjang di depan aku, jangan pikir aku akan tergoda sama kamu." Bisiknya tepat di sebelah telingaku. Akhirnya aku pun bisa bernapas lega saat lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi. Tapi entah kenapa, kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi sedikit membuat hatiku berdenyut nyeri.
Dasar Tian menyebalkan.
Selesai mengenakan pakaian, aku yang sedang duduk di atas sofa pun sedikit melirik ke arah Tian yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan sangat segar. Memakai setelan kaos dan celana bahan selutut, serta rambutnya yang basah membuat lelaki itu sedikit berbeda. Meskipun tak mengenakan setelan jas, tetap saja tak mengurangi kadar ketampanannya sedikitpun.
"Mas ... " Panggilku. Lelaki itu menoleh.
"Ada apa?"
"Keadaan Mama sepertinya sudah membaik." Ujarku sambil menatap lelaki itu sekarang. Tian mengernyit, menatapku penuh tanya. "Keputusanku sudah bulat, aku ingin mengatakan tentang perpisahan kita pada Mama dan Papa kamu besok."
"Tidak semudah itu." Tukasnya.
"Tapi kenapa, Mas?"
"Aku bilang, tunggu sampai semuanya membaik."
"Mama sudah sehat, dan bukanya ini keinginan kamu, berpisah sama aku."
"Iya, aku memang ingin berpisah sama kamu. Tapi tidak sekarang."
"Lalu sampai kapan?" Tanyaku dengan nada sedikit meninggi. "Aku capek, Mas." Ya, karena sekarang aku mulai lelah. Aku sudah tak kuat, dan akupun sudah tak sanggup lagi untuk hidup bersama dengan laki-laki yang tak pernah menginginkan aku.
__ADS_1
Rasanya sangat sakit.
...****************...