Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Detak jantung


__ADS_3




Satu minggu pun berlalu,


Setelah Tian kembali mengungkapkan perasaannya padaku, entah kenapa aku selalu menghindarinya. Aku tak ingin bertemu dengan Tian sejak saat itu. Akupun terpaksa harus berbohong saat Cheery meminta untuk bertemu. Dan beruntungnya saat itu pun aku selalu disibukkan dengan pekerjaan. Bahkan dua hari yang lalu aku masih berada di Bali, dan pagi inipun aku baru saja tiba dirumah setelah kemarin malam aku bekerja di Bandung.


Aku sempat terkejut saat Ibu mengatakan kalau Cheery bersama dengan Mama Maya sempat datang ke rumah. Beliau mengatakan setelah kepulangannya dari rumah sakit, Cheery selalu merengek, bahkan anak kecil berwajah imut dan menggemaskan itu selalu merajuk setiap kali tak bisa bertemu denganku.


Bukan hanya itu saja, hari inipun aku kembali menolak permintaan Ibu. Dimana Ibu meminta aku untuk menemui Cheery walau hanya sebentar. Tidak ada alasan lain selain karena Ibu merasa kasihan pada Cheery. Dan alasanku kembali menolak adalah karena aku harus kembali bekerja nanti malam, pun alasan lainnya adalah karena Tian.


Sungguh, untuk saat ini aku tak ingin bertemu dengannya.


Aku ingat pada saat malam itu, dimana Tian secara terang-terangan kembali mengungkapkan perasaannya padaku, awalnya aku tak percaya, bahkan aku menganggap kalau Tian tidak bersungguh-sungguh. Tapi lelaki itu terus meyakinkan hingga akupun tahu kalau tidak ada kebohongan pada sorot mata Tian saat itu.


Aku sudah menolaknya. Aku mengatakan apa yang sebenarnya ingin aku katakan, tapi entah kenapa sepertinya Tian tidak mempercayainya begitu saja. Menurut lelaki itu, apa yang aku katakan tak seperti apa yang dia lihat dari sorot mataku.


"Bibir kamu bisa saja berkata seperti itu, tapi tidak dengan mata kamu, Naya. Aku tahu perasaan kamu masih sama seperti dulu."


Ck, sok tahu!


Begitulah yang Tian katakan waktu itu.


******


Sore harinya, disaat aku sedang tertidur pulas tiba-tiba saja Ibu masuk ke dalam kamarku. Beliau membangunkan aku dan mengatakan kalau Raffi ada di rumah, laki-laki itu ingin bertemu dan sekarang sedang menungguku di bawah.


Akupun mengangguk, meminta Ibu mengatakan pada Raffi untuk menunggu sebentar. Setelah selesai bersih-bersih, entah kenapa aku merasakan sedikit pusing pada kepalaku. Aku masih berdiri di depan cermin, memakai sedikit bedak serta pewarna bibir agar wajahku tak terlihat pucat. Dan setelah selesai, aku memutuskan untuk menemui lelaki itu.


"Silahkan diminum, Den."


"Makasih, Bik." Jawab Raffi setelah Bi Lani menaruh secangkir teh hangat beserta beberapa cemilan di atas meja.


"Maaf, aku jadi ganggu waktu tidur kamu."


Seperti itulah Raffi, meskipun usianya berada dua tahun dibawahku, tetapi laki-laki itu selalu bersikap lebih dewasa daripada aku sendiri. Raffi adalah sosok pria yang pintar, ceria dan juga sedikit humoris. Itulah yang membuat aku selalu merasa nyaman setiap kali sedang bersama Raffi.


Sama halnya seperti sekarang, disaat kami berdua sedang serius seperti inipun, membahas tentang kejadian beberapa hari yang lalu itu, sempat-sempatnya Raffi menyelipkan sebuah lelucon yang membuat aku akhirnya tak bisa menahan untuk tertawa.


Jujur, aku sangat menyukai Raffi yang seperti ini.


"Ra ... boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Fi.?" Aku tahu apa yang akan Raffi tanyakan padaku.


Dan ternyata benar,


Raffi bertanya tentang Tian. Meskipun ragu, dan dengan hati-hati Raffi menanyakan apa yang mungkin telah dia dengar selama ini. Dan ternyata Raffi sudah mengetahui tentang masa laluku dulu.


Sekarang Raffi sudah tahu kalau Tian adalah mantan suamiku dulu.


"Maafin aku, Fi. Bukan maksud aku untuk nutupi semuanya dari kamu."

__ADS_1


Raffi pun mengerti, dan lelaki itupun lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan kami. Bagi Raffi, apapun masa laluku dulu itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa untuknya. Lelaki itu mengatakan jika ia akan tetap menerima dan mencintaiku apa adanya.


Seharusnya aku senang bukan?


Tapi entah kenapa sampai detik inipun aku masih ragu dengan perasaanku sendiri.


******


"Nak... kamu sakit?" Tanya Ibu sedikit menelisik wajahku.


"Gak, Bu. Cuma sedikit pusing aja." Elakku, aku tak ingin membuat Ibu khawatir. Karena hari ini Ibu berencana akan mengunjungi saudaranya dari kampung halamanku dulu.


"Beneran?"


"Iya, Bu." Aku meraih tangan Ibu. "Aku gak papa."


Setelah aku meyakinkan keadaanku pada Ibu, akhirnya Ibu merasa tenang. Beliau pun pergi di antar oleh sopir.


Selang beberapa menit setelah Ibu meninggalkan rumah, aku yang masih duduk di sofa ruang tengah pun tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Begitu Bik Lani memberitahuku, rasanya saat itu juga aku ingin pergi.


"Baiklah, Bik Lani boleh kembali. Biar aku yang menemui mereka."


Kepala wanita paruh baya itu mengangguk. Setelah Bik Lani tak terlihat lagi, aku segera pergi untuk menemui Tian dan juga Cheery yang mungkin sedang menungguku di teras rumah.


"Tante Naya ..."


Suara melengking khas anak-anak itu terdengar begitu nyaring di telinga. "Tante, aku kangen." Cicitnya lagi sambil Melepaskan tangannya dari genggaman Tian. Gadis kecil itu berlari ka arahku.


Aku tersenyum, lalu berjongkok untuk meraih tubuh mungil itu.


"Baik Tante." Bibir mungil itu berujar. Entah kenapa Cheery begitu erat memelukku. "Tante kemana aja, kenapa gak pernah temui Cheery lagi."


"Tante kan kerja, sayang." Aku melihat ke arah Tian. Rupanya lelaki itupun sedang menatapku juga. Buru-buru aku mengalihkan pandangan.


"Tante?"


"Iya sayang."


"Tante sakit ya?"


Cheery mengurai pelukannya, lalu menatapku. Tanpa aku duga, tangan mungil itu menyentuh keningku yang sedikit berkeringat.


"Badan Tante kok panas."


"Masa sih.!" Ku sentuh keningku sendiri, dan ternyata apa yang Cheery katakan memang benar. Cheery turun dari pangkuanku, lalu disaat aku hendak berdiri tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Aku hampir saja terjatuh kalau saja Tian tidak segera menangkap tubuhku.


"Naya ... kamu kenapa?"


Aku menatapnya, menatap wajah Tian yang jaraknya begitu dekat denganku. "Aku gak papa, Mas." Jawabku sambil berusaha melepaskan tangan Tian dari bahuku. "Lepasin aku, Mas."


"Kamu sakit, badan kamu juga panas."


Akupun diam, dan tak menolak saat Tian memapah tubuhku masuk ke dalam rumah. Begitu aku duduk di atas sofa, dengan segera Tian memanggil Bik Lani, meminta wanita paruh itu untuk segera mengambil air hangat beserta handuk kecil.


Aku yang merasakan pusing seperti ini tak bisa berbuat apa-apa saat Tian dengan cekatannya mengompresku.

__ADS_1


"Mas ..."


"Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"


"Gak." Kepalaku menggeleng.


"Tapi badan kamu panas."


"Aku cuma perlu minum obat, setelah itu tidur."


"Ya udah, kalo gitu kamu istirahat sekarang." Titah Tian seolah-olah sedang memerintah.


"Iya." Aku berusaha bangun dan meminta Bik Lani untuk mengantarkanku ke dalam kamar, meninggalkan Tian dan juga Cheery yang masih berada disana. Entah karena apa, aku merasa terkejut saat tiba-tiba saja Tian mengangkat tubuhku dari belakang, lelaki itu menggendongku sekarang.


"Mas ..." Jeritku. "Kamu apa-apaan sih, turunin gak? aku bisa jalan sendiri."


"Bik, tolong jaga Cheery. Biar saya yang bawa Naya ke kamarnya."


"Baik, Pak." Jawab Bik Lani, aku tahu wanita paruh baya itupun sedikit terkejut dengan tindakan yang Tian lakukan.


"Mas, lepas."


"Kalo kamu gak diam, kita berdua bisa terjatuh."


Untuk sekarang percuma saja aku berdebat dengan lelaki keras kepala seperti Tian, meskipun aku menjerit meminta agar Tian menurunkanku tapi sepertinya Tian tetap mengabaikanku. Lelaki tak mendengar, bahkan ia tak merasa keberatan sama sekali saat aku secara berkali-kali memukul dadanya.


"Istirahatlah, sebentar lagi Bik Lani akan membawakan bubur untukmu.?" ujar Tian saat aku sudah berada di atas kasur.


Aku mendengus, merasa tak suka dengan sikap Tian yang memperlakukanku secara berlebihan.


Siapa dia?


Disaat aku masih merasa kesal pada lelaki itu, disaat itu pula aku tak sengaja melihat Tian, lelaki itu tersenyum sambil terus memperhatikan buku diary yang tergeletak di atas meja nakas samping ranjangku.


"Mas ..." Seketika aku berdiri, niatku yang ingin merebut buku diary itu dari tangan Tian, namun sepertinya aku terlalu keras menarik kemeja yang dikenakannya hingga membuat keseimbangan tubuhnya tak terkendali.


Dan Tian, lelaki itu terjatuh tepat di atas tubuhku.


Lama kami berdua saling menatap, aku bisa melihat wajah Tian dengan jelas saat ia berada di atas tubuhku. Pun dengan lelaki itu yang menatapku tak biasa. Jantungku berdebar keras, dan sepertinya Tian pun sama. Hingga di beberapa detik kemudian, aku yang tersadar segera meminta lelaki itu untuk menjauh dari tubuhku.


"Mas, bangun.!"


Tian diam, lelaki itu masih memperhatikanku lekat. Aku yang merasa risih ditatap seperti itupun segera memalingkan wajah ke samping. Sungguh, aku tak mau berlama-lama menatap mata itu.


"Apa arti dari detak jantungmu ini. Naya?"


"Apa maksud kamu?" Seketika aku menoleh, membuat hidung kami berdua bersentuhan. Aku sendiri bisa merasakan hembusan napas Tian yang terasa hangat menerpa permukaan kulit wajahku. Dan dari tatapan matanya itu, aku tahu kalau sesuatu yang sebenarnya tak aku inginkan akan terjadi.


Ku tutup mataku rapat-rapat saat benda lembut dan basah itu mulai menyentuh bibirku. Tapi setelah itu ...


Prang ...


"Astagfirullah ...."


"Papa ....!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2