
Untuk kali pertama, akhirnya aku bisa melihat dengan langsung bagaimana seorang Sebastian Aydan saat sedang bekerja. Lelaki yang saat ini tengah sibuk dengan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya itu tidak seperti Tian yang aku kenal selama ini. Meskipun tegas dan dingin adalah sifat yang dimilikinya, namun di saat sedang bekerja seperti itu membuatnya sedikit berbeda. Diam-diam aku selalu mencuri pandang, memperhatikannya dengan seksama. Dan sialnya, entah kenapa rasa kagum itu muncul begitu saja dalam benak.
Namun, setelah aku perhatikan lebih lama lagi sepertinya Tian sedang gelisah. Mungkin tebakanku salah, tapi aku merasa Tian seperti sedang memikirkan sesuatu di sela-sela kegiatannya itu.
Apa Tian sedang memikirkan Tari?
Disaat pikiranku sedang menerka-nerka, disaat itu pula Rama membuka pintu setelah ia mengetuknya terlebih dulu. Laki-laki yang masih terlihat muda dan tampan itu tersenyum padaku sebelum menghampiri Tian.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Tian tanpa mengalihkan pandangannya itu dari berkas yang sedang ia periksa.
"Sudah, Pak.!"
"Bilang pada securuty disana, kalo dia datang lagi kesini jangan dibiarkan masuk." Titahnya tegas. "Kalo sampai gue lihat dia ada disini lagi, bukan hanya securuty itu saja yang gue pecat, tapi lo juga, Ram.!" Ancaman seperti itulah yang sering Tian berikan pada Rama jika laki-laki itu tak mendengarkan perintahnya.
"Baik, Pak." Jawabnya sambil mengangguk.
Sementara aku hanya tercengang, menatap interaksi keduanya yang membuatku menggeleng tak percaya. Aku melihat Tian dan Rama tidak seperti atasan dan bawahan pada umumnya.
Tian meletakkan pulpen di atas tumpukan kertas itu, lalu menatap Rama. "Apa lagi?"
"Ini ..." Rama menyodorkan secuir kertas ke hadapan Tian. "Sebelum pergi, Nona Tari sempat menitipkan ini untuk anda."
Aku yakin Tari menuliskan sesuatu disana.
Tian mengernyit, menatap kertas itu tanpa minat. Sementara Rama lebih memilih untuk meninggalkan ruangan atasannya itu sebelum ia terkena amukan kembali dari Tian.
Aku melihat Tian meremas kertas itu sampai tak berbentuk, lalu melemparnya begitu saja kedalam tempat sampah yang letaknya tak jauh dari meja kerja Tian.
Aku yang melihat pun buru-buru menghampiri. "Mas ... kenapa kamu buang?" Lalu berjongkok di hadapan kotak sampah untuk mengambil kertas itu kembali.
Tian menatapku, kemudian tersenyum. "Ya ampun ... hampir lupa kalo kamu ada disini." Ujarnya sambil menggeser kursi kerjanya itu kebelakang. "Apa yang kamu lakukan, Naya?"
Aku meliriknya sinis. "Apa kamu lupa siapa yang bawa aku kesini?"
"Maaf ..." Tian mendekat. Ia berdiri tepat di depanku saat ini. Pandangan kami berdua bertemu dan Tian kembali mengambil kertas lecek itu dari tanganku lalu melemparnya entah kemana.
"Mas ..."
"Maaf sudah membuatmu menunggu disini."
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mau bertemu dengan Tari, Mas?"
"Gimana? Apa kamu tertarik kerja di perusahaanku?" Tian mengabaikan pertanyaanku.
"Mas?" rengekku.
"Kamu bisa kerja di bagian apa aja yang kamu mau, Nay."
"Kenapa kamu buang? siapa tahu itu penting."
"Berhenti jadi Dj, Naya."
Aku menatapnya sinis sambil mendengkus kesal.
"Kenapa kamu maksa sih, Mas?" Sungutku sedikit kesal karena Tian lebih memilih mengalihkan pertanyaanku. "Aku gak suka kamu atur."
"Karena pekerjaan Dj itu terlalu beresiko buat kamu. Dan aku gak suka kamu bekerja di tempat seperti itu."
Aku mengernyit, "Tapi aku nyaman kok, kenapa kamu gak suka?"
"Karena aku mencintaimu, Naya. Aku gak mau kamu kerja jadi Dj. Apalagi dengan pakaian kamu yang terbuka, yang akan mengundang banyak bahaya buat kamu."
"Kenapa diam saja, hum?"
"Kenapa kamu mencintaiku, Mas?" Entahlah, sejak kehadiran Tari kembali aku merasa sedikit ragu. Ketakutan itu datang lagi.
"Apa yang kamu pikirkan.?" Tian menangkup kedua sisi wajahku. "Kamu takut kalo aku akan kembali pada Tari? Kamu takut aku akan kembali menyakitimu?"
Aku mengangguk pelan.
Tian tersenyum. "Harus dengan cara apalagi aku membuktikan kalo sekarang aku mencintai kamu, Naya? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
"Kalau gitu, berdamailah dengan Tari, Mas. Buktikan kalau kamu gak punya perasaan apapun lagi pada Tari."
"Aku belum bisa, jangan paksa aku."
"Dengan sikapmu yang seperti itu justru membuatku berpikir kalau kamu belum bisa melupakan Tari."
Sungutku sambil membuang muka ke samping.
__ADS_1
"Hei ..." Tian kembali menarik wajahku untuk mempertemukan pandangan kami berdua, ia belai lembut sebelah pipiku seraya berkata. "Dengarkan aku baik-baik." Tian menarik napas lebih dulu. "Aku tidak meminta kamu untuk percaya, tapi cukup kamu rasakan saja siapa pemilik hati ini sesungguhnya."
"Mas ...!"
"Aku belum bisa menerima Tari bukan berarti aku masih mencintainya. Tidak ada sedikitpun debaran yang aku rasakan disini." Tian menarik salah satu tanganku untuk ia letakkan di atas dada. "Jika berdamai dengan Tari bisa membuat mu percaya, akan aku lakukan. Tadinya Aku takut kamu akan berpikir macam-macam jika aku kembali dekat dengan Tari. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja, Naya. Aku gak mau membuat kamu terluka lagi."
"Kenapa Kamu berpikir seperti itu, Mas?"
"Karena aku tahu perasaanmu masih abu-abu. Aku tahu kamu masih ragu. Aku tahu itu."
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Aku hanya sedang mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Tian. Benar memang jika aku masih memiliki ketakutan saat ingin membalas perasaan Tian. Maka dari itu, sampai sekarang aku masih diam meskipun Tian sering kali meyakinkan aku. Meyakinkan kalau Tian benar-benar mencintaiku.
"Biarkan aku menyembuhkan luka yang pernah ku berikan dulu." Tian mengelus wajahku. Sentuhan yang begitu lembut itu mampu membuat kedua mataku terpejam erat.
"Menikahlah denganku, Naya. Jadilah istriku kembali dan Mama untuk Cheery." Tian kecup keningku dengan sangat lama. "Hiduplah bersamaku, temani aku dan Cheery selamanya."
Kubuka mataku perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah wajah Tian yang begitu dekat denganku. Pandangannya mengunci dan begitu teduh membuatku ingin masuk kedalamnya.
"Aku mencintaimu." Tian kecup bibirku sekilas. "Aku sangat mencintaimu."
Lalu, aku biarkan bibir kenyal dan basah itu menempel tepat di atas bibirku. Tian menciumku, dan aku hanya diam saat Tian ******* bibir atas dan bawahku secara bergantian dengan gerakan lembut. Namun, pertahananku mulai goyah saat bibir itu menggigit bibirku. Membuatku membuka bibir lalu membiarkan Tian dengan leluasa menelusupkan lidahnya di dalam.
Aku ikut terhanyut, dan mulai membalas ciumannya. Lenguhan yang tanpa sadar keluar dari bibirku itu membuat Tian semakin memperdalam ciuman kami.
"Maukah kamu menikah denganku, Naya?" Bisik Tian saat melepaskan tautan bibir kami. Napasnya masih memburu. Bahkan hidung kami berdua pun masih saling menempel.
Aku membuka mata, lalu menatap mata yang masih berkabut penuh hasrat itu dengan sayu.
"Aku ---" Kepalaku mengangguk. "Iya, Mas. Aku mau jadi istrimu kembali."
Mungkin, inilah saatnya aku kembali memberi kesempatan pada Tian. Tak peduli dengan apa yang akan orang lain katakan tentangku. Aku hanya mengikuti apa kata hatiku sendiri. Meskipun hati dan logika sempat berperang, namun lagi-lagi hatilah pemenangnya. Aku buang semua ketakutanku sendiri, aku buang semua pikiran-pikiran burukku tentang masa laluku.
Biarlah masa laluku dulu bersama Tian menjadi cermin dan kenangan. Aku hanya ingin menatap masa depan bersama orang yang sekarang sedang menitikkan air mata bahagianya.
Sebatian Aydan.
...****************...
...****************...
__ADS_1