
"Makasih, Mas."
"Sama-sama."
Kami berdua masih berdiri di depan pintu pagar rumah setelah Tian mengantarkanku pulang beberapa menit yang lalu.
"Kalo gitu aku masuk dulu ya, Mas.?"
"Hem ... salam buat Ibu." Ujarnya.
Kepalaku mengangguk, saat aku hendak membuka pintu pagar rumah tiba-tiba saja Tian menahannya. Aku menoleh, menatapnya penuh tanya. "Ada apa, Mas?"
Tak ada jawaban, Ia justru mendekat dan itu membuatku merasa tidak nyaman karena Tian semakin mengikis jarak di antara kami. Mungkin aku terlalu percaya diri, tapi aku tahu apa yang akan dilakukannya sekarang, ingin menghindar tapi semua sudah terlambat saat bibir kenyal yang terasa dingin itu kini telah menempel sempurna di atas keningku.
Entah kenapa aku hanya diam saja saat Tian kembali mencium keningku. Seharusnya aku menolak dan melarangnya, tapi hati tak membiarkan itu terjadi. Aku hanya diam seraya menerima apa yang Tian lakukan. Mungkin aku wanita bodoh dan tak punya harga diri. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, antara logika dan hati yang berperang, maka hatilah yang menjadi pemenangnya. Aku mulai merasakan kenyamanan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat sedang bersama Tian.
Aku biarkan Tian mengecup keningku dengan sangat lama, membiarkan rasa tak biasa yang tiba-tiba saja membuncah dalam dada, sehingga menimbulkan gelenyeran aneh yang menyerang menjalar keseluruh tubuh. Menerima dengan diam saat tangannya mulai beralih menyentuh punggungku. Pun dengan ciuman yang kini telah berpindah dari kening menuju kedua bola mataku yang tertutup.
Aku biarkan ia menyentuh dan menyapu wajahku dengan bibirnya, hingga aku sadar saat bibir itu hendak menyentuh bibirku. Buru-buru aku menghindar, menatapnya lekat seraya menggelengkan kepala pelan.
"Maafkan aku, Nay." Ucapnya penuh sesal.
Tian menarikku dalam rengkuhan. Ia kembali memelukku dengan sangat erat tanpa aku sadari kalau ternyata ada seseorang yang menatap ke arah kami berdua dengan pandangan sendu dan terluka.
Aku terkejut, buru-buru melepaskan pelukan Tian dan melihat Raffi yang masih bergeming disana. Tian pun ikut menoleh, menatap pria itu tanpa ekspresi.
"Sedang apa kamu disini, Fi?"
Pria itu mengulas senyum tipis, lantas mendekat ke arah kami berdua.
"Aku sengaja nungguin kamu, Ra." Ujar Raffi, matanya melirik ke arah Tian yang sedari tadi menatapnya tak suka.
__ADS_1
"Tadi aku coba hubungi kamu beberapa kali, tapi nomor hape kamu gak aktip, Ra. Maaf, aku gak tau kalo kamu lagi sama ---"
"Semalam ini?" Pangkas Tian dengan suaranya yang datar.
Raffi mengangkat sebelah alisnya tinggi. "Iya, memangnya kenapa? ada yang salah?" Balas Raffi tak mau kalah.
Tian berdecih jijik. "Udah tahukan dia gak ada. Nagapain di tungguin.?"
"Gue nungguin karena khawatir sama Ara. Gue takut dia kenapa-kenapa!"
"Buktinya dia baik-baik aja kan?" Sungut Tian kesal.
Raffi mengeratkan gigi. Kedua tangannya mengepal erat di samping. "Ya, gue senang lihat Ara baik-baik aja."
"Lo pikir Naya akan kenapa kalo sama gue?"
"Apa perlu gue bahas disini, gimana cara lo memperlakukan Ara dulu?" Raffi berdecak sinis. "Lo gak lupa kan pernah nyakitin Ara demi wanita lain."
Melihat kedua pria itu bersitegang, saling melempar tatapan dingin dan tajam membuatku meringis takut. Aku tahu kedua pria itu sama-sama keras kepala, maka aku menatap Raffi, memohon dengan sangat lewat sorot mata, dan beruntungnya lelaki itu mengerti. Raffi mengalah karena ia tahu aku sedang memintanya untuk mengerti. Tidak seperti Tian, lelaki itu masih saja mengutamakan keegoisannya.
Kepalaku mengangguk.
"Titip salam buat Ibu, dan kamu istirahat sekarang, jangan keluyuran lagi?" Ucapnya seraya melirik Tian yang memberinya dengusan sinis.
"Iya, hati-hati ya. Fi! Dan ... maafin aku."
Raffi tersenyum, sebelum pergi Raffi menyempatkan diri untuk mengusak ujung kepalaku gemas.
"Kita bicara lagi besok." Setelahnya, Raffi pun pergi tanpa memperdulikan Tian yang menatapnya garang.
Aku menunggu sampai mobil yang membawa lelaki itu hilang dari pandangan. Lantas menatap Tian yang entah kenapa tatapannya sekarang sangat berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu juga pulang, Mas."
"Apa yang kalian rencanakan besok?"
Aku mendelik, "Bukan urusan kamu."
Tian kembali menghalangi langkah kakiku saat hendak membuka pintu pagar. "Mas ..." Seruku malas.
"Baiklah, aku pergi." Tian tersenyum. "Kamu istirahat ya?"
Aku pikir Tian akan marah, nyatanya tidak sama sekali. Justru lelaki itu memberikan respon yang membuatku sedikit bingung.
"Jas nya?"
"Pakai saja."
"Ya udah, nanti aku balikin kalo udah ku cuci."
"Asal kamu yang cuci." Pria itu mengedipkan matanya genit.
Saat Tian kembali mendekat, aku langsung memasang gerakan defensif. Pria itu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tetapi hal itu tidak berlaku saat aku lengah, Tian tak ingin membuang kesempatan yang ada.
"Mas ..." Pekikku saat Tian berhasil mencuri kecupan di pipi.
Lelaki itu buru-buru masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangan. Tak lupa dengan bibirnya yang melengkung lebar menampilkan kedua lesung di pipinya sampai terlihat. Saking lebarnya ia tersenyum, matanya pun menyipit. Membuat lelaki itu semakin terlihat sempurna dan berbeda.
"*A**ku harus gimana, Mas?"
"Kenapa kamu buat aku jadi dilema seperti ini?"
"Kamu berhasil robohkan tembok yang ku pasang tinggi-tinggi dengan perlakuan lembut mu sekarang. Kamu berhasil membuatku goyah."
__ADS_1
"Kamu menang, Mas. Kamu menang. Kamu pemenangnya dan aku yang kalah*."
...****************...