Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Diam-diam menyukaiku


__ADS_3




"Ra ..."


Aku mendongak, menatap lelaki yang saat ini tengah duduk berhadapan denganku.


"Aku serius sama ucapanku, Ra."


"Tapi, Fi." Aku menggeleng pelan. "Aku ..."


"Aku gak peduli apapun masa lalu kamu, aku gak peduliin tentang perbedaan usia kita. Aku hanya ingin kamu percaya, kalo aku benar-benar cinta dan tulus sayang sama kamu."


"Fi ..."


Entah kenapa aku selalu kehabisan kata-kata setiap kali berhadapan dengan Raffi Abrar Dharmendra. Sejak dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku kembali di pertemukan dengan adik kelas semasa sekolahku dulu. Pertemuan kami pun terjadi secara tak sengaja. Aku dan laki-laki yang biasa di panggil dengan Raffi itu bertemu di salah satu club malam di saat aku sedang menjadi DJ disana, sementara Raffi sendiri sedang menghadiri acara ulang tahun salah satu temannya. Belum lagi, rumah Raffi dan Geril yang ternyata berdekatan.


Raffi, lelaki yang sudah hampir dua tahun terakhir ini dekat denganku. Meskipun usia kami berdua berdeda beberapa tahun, tapi sama sekali tak membuat lelaki itu menyerah. Sudah kesekian kalinya Raffi selalu mengungkapkan perasaannya padaku, lelaki itu mengatakan ingin menikah denganku, tapi lagi dan lagi aku selalu menolaknya dengan alasan yang sama.


Aku merasa tidak pantas untuk Raffi.


Selain karena usiaku lebih tua darinya dua tahun, aku juga seorang janda. Dan aku tahu siapa Raffi Abrar Dharmendra sebenarnya.


Lelaki muda dan tampan, juga seorang dokter spesialis bedah. Anak pertama dari pasangan selebriti tanah air.


Raffi adalah laki-laki baik dan ramah. Hampir setiap wanita begitu mengaguminya. Pun dengan Alexa Sadrina, seorang model terkenal dan juga putri dari pemilik rumah sakit tempat Raffi bekerja saat ini.


Maka dari itu, aku merasa minder dan tak pantas untuk menjadi kekasih dari Raffi Abrar Dharmendra.


"Ra ... Tolong kasih aku kesempatan."


Aku tahu Raffi bersungguh-sungguh, lelaki itu terlalu baik untukku selama ini. Meskipun aku selalu menolak dan menghindarinya, tapi sama sekali tak membuat Raffi patah semangat. Sama halnya seperti saat ini, Raffi kembali mengutarakan kembali perasaannya padaku. Tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Jujur, sampai saat ini aku belum memikirkan untuk menikah kembali, aku lebih suka menikmati kesendirianku ini hingga nanti waktu itu tiba. Dimana aku bisa membuka pintu hatiku kembali untuk laki-laki lain.


Melihat aku yang hanya diam saja, maka Raffi pun kembali mengalah.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan tetap menunggu, sampai kamu benar-benar menerima cintaku."


Aku kembali membuatnya kecewa. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu pada Raffi. Tapi entah kenapa Raffi begitu keras kepala, lelaki itu tak pernah menyerah meskipun aku sudah menolaknya beberapa kali. Dan Raffi, lelaki itu masih bisa tersenyum. Meskipun di balik senyuman itu ada kekecewaan yang sedang ia sembunyikan.


Hampir dua jam lamanya aku dan Raffi menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe. Lelaki itu tak pernah berhenti membuat aku tersenyum. Tetapi saat itu juga, entah kenapa perasaanku mendadak menjadi tak tenang.


Aku tiba-tiba memikirkan Ibu.


"Ada apa?" Tanya Raffi, seperti biasa lelaki itu sepertinya sudah bisa membaca isi pikiranku.


"Aku ingat Ibu."


"Apa Ibumu sedang sakit?"


"Nggak." Jawabku sambil menggeleng. "Entah kenapa tiba-tiba aku ingat Ibu aja."


"Ya sudah, kalo gitu kita pulang sekarang."


"Kamu gak papa?"

__ADS_1


Raffi terkekeh kecil, "Aku gak papa, aku antar kamu pulang ya?"


Kepalaku mengangguk.


Selama dalam perjalanan, beberapa kali aku mencoba untuk menghubungi Ibu, tapi nomornya tetap tidak aktip. Akhirnya akupun memutuskan untuk menghubungi Lani, dan aku merasa sedikit tenang saat Lani memberitahuku kalau Ibu sedang pergi ke restoran milik keluraga Geril.


Begitu kami tiba di depan rumah, aku sedikit terkejut saat melihat ada sebuah mobil sedan hitam terparkir disana. Mobil itu sangat asing untukku, akupun tak tahu jika sekarang ada orang yang sedang bertamu kerumah.


Tak ingin menerka-nerka, maka aku memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat siapa pemilik mobil sedan hitam yang terparkir di halaman rumahku itu.


Saat masuk ke dalam rumah, aku begitu terkejut dengan kedua bola mata membulat saat melihat Tian dan Cheery ada di dalam rumah, dan mereka berdua ada di rumah sedang bersama Ibu.


Apa yang sedang Tian lakukan disini?


Kenapa mereka berdua bisa bersama Ibu?


Disaat aku masih menatapnya tak percaya, disaat itu juga aku mendengar suara yang terdengar begitu melengking di telinga memanggil namaku.


"Tante cantik ..."


Aku segera tersadar, lalu menatap wajah polos dan lucu itu sambil tersenyum. Buru-buru aku melangkah menghampiri Ibu, di ikuti oleh Raffi yang berjalan di belakangku. Setelah Raffi mencium tangan Ibu, akupun mengenalkan Raffi pada Tian dan juga Cheery.


"Fi ... kenalkan, ini Mas Tian dan juga putrinya, Cheery."


Raffi mengulurkan tangannya, pun dengan Tian. Mereka berdua saling berjabat tangan dengan tatapan masing-masing yang tak bisa aku baca. Tapi aku melihat Raffi sepertinya meminta penjelasan, menanyakan siapa mereka padaku lewat tatapan matanya.


"Mereka ... mereka." Aku melirik Tian, yang sialnya lelaki itupun sedang melihatku, Cheery dan juga Ibu secara bergantian. "Mas Tian ini temanku." Aku melihat Tian sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian lelaki itu tersenyum tipis.


Ya, sebaiknya aku mengenalkan Tian sebagai temanku saja. Belum saatnya Raffi mengetahui tentang siapa Tian sebenarnya. Entahlah, kenapa rasanya sangat sulit untukku mengenalkan Tian sebagai mantan suamiku. Meskipun cepat atau lambat, mungkin Raffi akan mengetahui siapa lelaki yang pernah menjadi suamiku itu.


******


"Hati-hati, Fi."


Aku mengantarkan Raffi sampai masuk ke dalam mobil, lelaki itu pergi setelah ia mendapat telepon dari rumah sakit, dan tentunya setelah memeriksa keadaan Ibu.


Ya, Ibu.


Aku baru sadar saat melihat tangan Ibu yang sedikit terluka. Pantas saja perasaanku tak tenang seharian ini, pantas saja aku ingin segera pulang dan bertemu dengan Ibu, ternyata Ibuku mengalami musibah kecil.


Aku kembali masuk kedalam rumah setelah mobil yang Raffi tumpangi sudah tak terlihat lagi.


Langkah kakiku berhenti saat aku melihat Ibu dan Cheery sedang tertawa bersama. Aku melihat keduanya begitu sangat dekat, bahkan Cheery selalu memeluk Ibu dengan mulut mungilnya yang tak pernah berhenti mengoceh. Tanpa aku sadari, akupun ikut tersenyum.


Tapi senyumanku itu tak berlangsung lama saat mataku tak sengaja bertubrukan dengan mata kelam milik lelaki itu. Ternyata, Tian sedari tadi sedang melihatku. Untuk beberapa detik kami berdua saling beradu tatapan sebelum kemudian aku teringat sesuatu yang membuatku merasa kesal sekaligus malu.


Buku diary.


Buru-buru aku membuang muka. Dan Tian, aku bisa melihat lelaki itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa masih berdiri disana, Sayang?"


Suara Ibu seketika mengalihkan pandanganku padanya. Aku tersenyum dan ikut duduk bersebelahan dengan Ibu.


"Sekali lagi, Ibu mau mengucapkan terimakasih pada Nak Tian dan juga Cheery, karena sudah mau menolong dan mengantarkan Ibu sampai rumah."


"Tidak apa-apa, Bu. Aku senang bisa membantu Ibu."

__ADS_1


"Iya, Nenek. Cheery juga senang bisa nolongin Nenek tadi."


Ya ampun ... anaknya siapa sih dia?


"Makasih ya sayang." Ibu memeluk Cheery kembali. "Kamu sudah makan?"


Kepala mungil itu mendongak, menatap Ibu dari bawah sambil menggeleng. "Belum, Nek. Aku dan Papa belum makan siang sejak tadi." Cicitnya sembari melirik pada Tian. Aku dan Ibu saling menatap.


"Ya ampun sayang ... ya udah, kita makan siang bersama disini, gimana?"


"Tidak usah, Bu." Sela Tian cepat. "Kami bisa makan nanti."


"Nak Tian." Ibuku memelas, sementara aku hanya menatapnya datar. "Gak baik menolak. Anggap saja makan siang kali ini sebagai ungkapan rasa terima kasih Ibu pada kamu dan juga Cheery, ya?"


"Tapi, Bu ..."


"Ya, Pa. Kita ikut aja makan sama Nenek dan juga Tante cantiknya. Iya kan Tante, aku boleh makan disini?"


Seketika aku menoleh, menatapnya gemas sambil tersenyum lebar.


"Boleh dong sayang."


Tanpa melihat Tian yang masih menatapku, aku langsung membawa Cheery untuk ikut bersamaku ke dalam ruang makan.


"Kamu duduk manis disini ya, biar Tante sama bibi Lani siapin dulu makanannya."


"Oke, Tante."


Aku tersenyum, mencubit pelan pipi gembil itu dengan gemas.


Setelah beberapa menit, aku yang di bantu oleh Bi Lani sudah menyiapkan beberapa menu makanan untuk makan siang hari ini.


Dan disinilah sekarang kami semua berada,


Aku, Ibu, Tian dan juga Cheery berada di tempat dan meja yang sama. Suasana mendadak menjadi canggung untukku dan juga Tian, tapi tidak dengan Ibu dan juga Cheery. Hanya mereka berdua lah yang membuat suasana di dalam ruang makan itu berubah menjadi hangat.


"Nak Tian, kenapa belum menikah lagi?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari bibir Ibu, membuat Tian sedikit menghentikan kegiatannya yang sedang melahap makanan itu dalam mulutnya.


Sebelum menjawab, lelaki itu menatapku lebih dulu.


"Belum, Bu."


"Kanapa? padahal Ibu yakin di luaran sana itu banyak sekali wanita yang mau sama, Nak Tian."


"Aku belum memikirkan untuk menikah lagi, Bu. Aku hanya ingin sendiri dulu dan fokus mengurus Cheery."


Ibu tersenyum hangat. "Cheery juga butuh sosok seorang Mama disisinya." Ibu menatap Cheery yang masih menyuapkan makanan itu ke dalam mulut mungilnya. "Dia membutuhkan kasih sayang dari sosok seorang Mama, kamu jangan lupa itu.!"


Tian hanya tersenyum dan mengangguk, lalu mata lelaki itu beralih pada Cheery. "Aku masih takut, Bu."


"Takut?" Tanya Ibu, beliau merasa heran dengan apa yang Tian katakan barusan. "Takut kenapa?"


Tian menatap Ibu.


"Aku takut membuat kesalahan lagi, aku takut menjadi pria bodoh lagi. Bu." Tian diam sejenak, entah kenapa lelaki itu menatapku sekarang. Dan sialnya, aku tak bisa membuang pandanganku kali ini. Aku ingin tahu apa yang akan Tian katakan setelah ini.


"Karena kebodohanku, aku sampai tak menyadari kalau ternyata ada orang yang secara diam-diam menyukaiku."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2