Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Keputusan


__ADS_3




"Mas ..." Aku mendorong tubuh Tian dengan keras saat mendengar suara Bik Lani dan juga Cheery yang memekik kaget di ujung sana.


Tian segera bangun, pun dengan aku yang langsung duduk di tempat tidurku itu.


"Maaf, Non. Bibi ---" Wanita setengah baya itu melirik Tian sebentar.


"Bi, kejadian tadi tidak seperti yang Bi Lani pikirkan." Tukasku cepat. Aku tidak ingin jika sampai Bi Lani menceritakan kejadian tadi pada Ibu.


"I - Iya, Non." Jawabnya terbata. Buru-buru Bi Lani membersihkan pecahan mangkuk berisi bubur yang sempat terjatuh tadi di atas lantai. Wanita setengah baya itu menjadi salah tingkah. Sedangkan Cheery, gadis kecil itu segera berlari kecil menghampiri kami.


"Papa lagi ngapain sama Tante Naya?" Tanya Cheery begitu polos.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu seketika membuat aku dan Tian saling melirik sebelum kemudian lelaki itu menjawabnya.


"Tadi ... Tadi Papa lagi ---" Aku melihat Tian sedikit kebingungan. Tapi bukan Tian namanya kalau laki-laki itu tidak bisa mengalihkan pembicaraan. Tian dengan sangat santainya mengajak Cheery untuk naik ke atas ranjang, lalu meminta aku untuk menceritakan sebuah cerita kepada Cheery. Tentu saja dengan cara seperti itu membuat Cheery melupakan apa yang sempat dia lihat tadi.


Meskipun aku sendiri sempat bingung, terpaksa aku membawa tubuh Cheery untuk duduk di sampingku lalu menceritakan sebuah dongeng untuknya. Sementara Bik Lani, setelah selesai membersihkan lantai wanita itu langsung meminta izin untuk membuatkan buburnya kembali.


"Ini Non, buburnya." Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Bi Lani pun kembali dengan membawa semangkuk bubur baru di tangannya.

__ADS_1


"Makasih ya Bi."


Aku meraih mangkuk bubur itu, lalu mulai memasukkan sedikit demi sedikit kedalam mulut. Aku sengaja tak membiarkan Bi Lani untuk keluar dari dalam kamarku, karena aku tak mau berada berdua di ruangan yang sama bersama Tian. Maka aku menyuruh wanita paruh baya itu untuk menemani Cheery bermain dulu.


"Daripada kamu terus liatin aku, mending kamu temenin Cheery disana, atau kamu bisa keluar. Mas?" Kataku tak suka. Aku risih saat Tian terus memperhatikanku seperti itu.


"Apa aku ganggu kamu.?" Aku menoleh, menatap Tian yang sedang menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Iya." Jawabku ketus seraya melengos.


Tian terkekeh. "Tapi aku ingin memastikan kamu memakan bubur itu sampai habis."


Aku memicing, menatap lelaki itu malas. Ada apa sih dengan Tian? kenapa akhir-akhir ini sikapnya selalu menyebalkan. Dan lagi aku sering melihat Tian banyak tersenyum sekarang.


Tak ingin terus di perhatikan oleh Tian seperti itu, akupun segera menghabiskan buburnya lalu meminum obat yang telah di sediakan oleh Bi Lani sebelumnya.


"Bicaralah." Jawabnya santai, tak luput mata Tian terus memperhatikanku.


Aku melihat ke arah Bi Lani dan juga Cheery yang sedang bermain boneka disana. Rasanya tidak mungkin jika aku berbicara dengan Tian di hadapan mereka berdua. Maka aku putuskan mengajak Tian untuk ke balkon, mungkin bicara disana akan lebih baik daripada bicara di dalam kamar.


"Ada apa?" Tanya Tian saat melihat aku hanya diam saja. Lelaki itu berdiri di sampingku. Menatapku sekarang dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


Ku tarik napas pelan sebelum kemudian berujar. "Mas ... aku harap ini yang terakhir kamu ada disini."

__ADS_1


Tian diam. Dan sepertinya lelaki itu sama sekali tak terganggu dengan apa yang aku katakan barusan. Wajah yang biasanya terlihat selalu dingin itu, kini sama sekali tak nampak sedikitpun. Bahkan disaat aku sedang serius dengan ucapanku, Tian malah menanggapinya dengan santai serta memberikan sebuah senyuman tipis yang membuatku bergidik ngeri.


"Kamu denger aku ngomong kan, Mas?"


"Menurut kamu?"


"Aku serius sama ucapanku," Aku melirik Cheery, gadis kecil itu menatap kami berdua sekarang. Sepertinya Cheery mendengar percakapan kami karena suaraku yang sedikit meninggi.


"Aku gak bisa terus berdekatan sama kamu, Mas." Ujarku pelan.


"Kenapa?" Tanya Tian, sepertinya lelaki itu sengaja sedang menantangku.


"Pokoknya aku minta, jangan pernah datang atau temui aku lagi."


"Baiklah." Tian menatapku, pun dengan aku yang langsung menatapnya sekarang. "Jika itu yang kamu mau, aku tidak akan menemui kamu lagi." Tian kembali tersenyum.


Lama kami berdua saling menatap, hingga suara dering ponsel milik Tian lah yang membuat aku dan Tian sama-sama memutuskan pandangan.


"Aku dan Cheery harus pulang sekarang. Kamu istirahat, dan jangan lupa minum obatnya lagi." Ujar Tian setelah selesai menerima panggilan telepon. Tak lupa, Tian juga menyempatkan diri untuk mengusak ujung kepalaku sambil tersenyum manis.


"Cepat sembuh."


Aku hanya diam, menatap punggung Tian dan juga Cheery yang hampir saja menghilang dari balik pintu. Tapi sebelum itu terjadi, Tian menghentikan langkahnya, lalu lelaki itu menatapku.


"Aku memang tidak akan menemuimu lagi. Tapi kalau Cheery yang ingin bertemu denganmu." Tian mengedikan bahunya. "Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginannya."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2