
•
•
•
"Apa maksud Papa?"
"Jangan pikir Papa gak tau, Tian." Lelaki paruh baya itu menatap Tian tajam. "Kalau kamu menyakiti Nayara, Papa pun tak segan untuk membuat wanita itu pergi sejauh mungkin." Ancaman itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Tian pun tahu, kalau Papanya itu tak pernah bermain-main.
"Pa ... !"
"Berhenti berhubungan dengan wanita itu." Sentaknya keras yang membuat lelaki itu sedikit terkejut. "Papa gak suka kamu berhubungan dengan wanita lain di saat kamu sudah menikah."
"Tapi aku tidak mencintainya, Pa." Akunya kemudian.
Adi, lelaki paruh baya itu menutup matanya sekilas. Ia tak pernah mengira jika anak laki-lakinya itu masih berhubungan bersama wanita lain di saat Tian sudah menikah. Adi pikir selama ini Tian sudah menerima Nayara sebagai istrinya, nyatanya tidak. Kalau saja Mbok Iyam, wanita tua yang di pekerjakan khusus di rumah Tian itu tak memberitahunya, mungkin sampai kapan pun Adi tak akan mengetahui bagaimana hubungan antara Tian dan juga Nayara, pun ia tak akan mengetahui bagaimana sikap Tian selama ini yang memperlakukan Nayara dengan begitu buruk.
"Nayara baik, dia sangat lembut, Nayara juga cantik. Lalu, apa kurangnya dia dimata kamu?"
"Tapi aku gak cinta, Pa."
"Sampai kapan kamu akan mencintai wanita itu?" Entahlah, untuk menyebutkan namanya saja Adi tak bisa.
"Mentari, Pa. Dia punya nama, kalo Papa lupa."
"Siapapun dia, Papa gak peduli. Papa hanya ingin kamu memperlakukan Nayara dengan baik, terima dia sebagai istri kamu, Tian."
"Aku gak bisa, Pa. Aku mencintai Tari."
"Cukup Tian. Kamu jangan kenak-kanakan, Yang seharusnya kamu cintai itu Nayara, bukan wanita itu." Sentak Adi. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya. Adi tak ingin jika sampai istrinya itu mendengar ataupun mengetahui tentang masalah ini, cukup Adi dan Tian saja yang mengetahuinya. Apalagi akhir-akhir ini keadaan istrinya itu sangat lemah. Bukan tanpa alasan dulu Adi menjodohkan putranya itu bersama Nayara. Adi hanya menginginkan yang terbaik bagi Tian. Karena Adi yakin, jika Nayara lah gadis yang pantas menjadi istrinya, bukan Tari, ataupun gadis-gadis lain yang sering Tian kenalkan padanya dulu.
Adi memang tak menyukai saat Tian menjalin kasih bersama gadis yang bernama Mentari itu. Bukan karena dari kalangan biasa yang membuat Adi tak menyukainya, tapi karena gadis itu adalah anak perempuan dari musuhnya. Orang yang dulu pernah merebut jabatannya dan menyingkirkannya sewaktu mereka masih sama-sama bekerja di perusahaan milik orang lain.
"Kenapa Pa? kenapa Papa gak pernah suka sama perempuan pilihan aku?"
"Papa cuma ingin yang terbaik buat kamu."
"Jadi menurut Papa, gadis itu yang terbaik buat aku?"
"Iya." Jawabnya tegas sembari mengangguk. "Nayara memang yang terbaik."
"Enggak." Tian menggeleng samar. "Yang terbaik menurut Papa, belum tentu itu baik buat aku."
"Terserah." seolah tak ingin mendengarkan kata-kata putranya itu, Adi mengedikan bahunya acuh. "Papa hanya ingin Nayara yang menjadi istri dan menantu di rumah ini. Bukan wanita lain."
"Kalo gitu kenapa bukan Papa saja yang menikah dengannya?"
__ADS_1
"Tian ...!" Suara bariton itu terdengar menggelegar. "Jaga bicara kamu." Sentaknya lagi seraya menyentuh dadanya yang terasa sakit.
"Pa ..." Bagaimana pun Tian sangat menyayangi Papanya itu. Maka pada saat ia melihat Papanya seperti sedang kesakitan, buru-buru ia mendekatinya. "Papa gak apa-apa kan?" Tanyanya cemas. "Pa ...?"
"Kalau kamu tidak mau melihat Papa mati sekarang, jauhi wanita itu. Jadilah suami yang baik bagi Nayara."
Untuk sementara, aku akan bertahan.
Ya, bertahan dengan pernikahan yang sebenarnya tak aku inginkan. Demi, Papa dan Mama.
******
Nyatanya,
Aku kembali gagal saat ingin mengatakan tentang rencana perpisahan kami kepada kedua orangtuanya itu karena ulah Tian. Ya, Tian. Lagi dan lagi lelaki itu berhasil membuat aku bungkam dan tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut untuk kali ini.
Selain karena kondisi sang Mama yang masih belum sepenuhnya membaik, aku dengar juga kesehatan Papa Adi pun sedang tidak baik. Maka dari itu, aku kembali mengurungkan niatku. Tian pun meminta aku untuk memberinya waktu sebentar lagi. Setelah itu, jika memang perpisahan adalah jalan yang terbaik bagi kami, maka Tian pun tak akan lagi menghalanginya. Dan ia berjanji akan itu.
Dan untuk kali pertama, akhirnya aku bisa mendengar suara parau milik lelaki itu dengan jelas. Untuk kali pertama pula, lelaki itu mau berbicara denganku.
"Mau kemana?" Tanyanya seraya menatapku dari atas sampai bawah. Jangan lupakan kalau malam ini aku mengenakan baju tidur yang sedikit pendek dan terbuka pada bagian dada. Terserah dengan apa yang lelaki itu pikirkan sekarang. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksi Tian ketika melihat aku seperti ini. Aku hanya ingin membuktikan kata-kata yang sempat ia ucapkan pada gadis yang bernama Mentari itu, kalau ia tak akan pernah tergoda dan tak akan pernah menyentuhku.
Aku menoleh, menatap lelaki itu dengan dahi mengkerut. "Mau tidur." Jawabku seraya berjalan menuju sofa.
"Jangan tidur di sofa." Ujarnya lagi yang membuat aku semakin tak mengerti. Aku melihat Tian berubah menjadi salah tingkah.
"Kenapa?" Tanyaku seraya memutar badan. Lalu, pandangan kami berdua pun bertemu.
"Bilang aja aku udah terbiasa tidur di sofa." Ujarku asal.
"Kamu ..." Tian menatapku tajam bersama dengan rahangnya yang mengeras. Tapi sedetik kemudian, pandangan lelaki itu tiba-tiba saja berubah. Tak lagi tajam seperti tadi.
"Terus aku tidur dimana?"
"Disini, bisa kan?"
Seketika kedua bola mataku membulat sempurna, rahangku yang sebelumnya mengatup kini terbuka lebar ketika Tian mengajak aku untuk tidur di tempat dan ranjang yang sama dengannya.
Oh ... apakah aku sedang bermimpi?
Tidak, kepalaku menggeleng tak percaya. Seorang Sebastian Aydan, lelaki yang sangat dingin dan menyebalkan, yang tak pernah mau berbicara serta berdekatan denganku, sekarang meminta aku untuk tidur bersamanya.
Ya ampun ... sejak kapan setan berubah menjadi baik?
"Kenapa kamu masih berdiri disana? Jangan-jangan kamu memang tuli?"
Ku putar kedua bola mataku malas sembari mendengus kesal. Aku pikir setan itu telah berubah menjadi baik, nyatanya masih tetap saja sama.
__ADS_1
Ck, sama-sama Menyebalkan.
******
Satu menit,
Tiga puluh menit,
Hingga satu jam, mataku masih saja tak mau terpejam setelah aku memutuskan untuk tidur di atas ranjang yang sama dengannya, entah kenapa ruangan ini dan seluruh tubuhku mendadak berubah menjadi panas. Rasa risih pun menghinggapiku sekarang, dan rasa ketidaknyamananpun aku rasakan di saat aku dan Tian tidur saling berhadapan.
Walaupun ada bantal guling yang menjadi pembatas di antara kami, tetap saja tak membuat wajah kami sepenuhnya tertutup.
Untuk beberapa detik, baik aku ataupun Tian, kami berdua sama-sama terdiam. Aku menatapnya, pun dengan lelaki itu. Entah apa yang membuat kami tak buru-buru memutuskan pandangan, kami berdua masih saling menatap dalam diam. Hingga di beberapa menit kemudian, akupun memutuskan untuk mengalihkan pandangan serta merubah posisi tidurku menjadi telentang.
"Kenapa Papa dan Mama begitu menyukai kamu?"
Setelah lama saling diam, akhirnya Tian pun membuka suaranya terlebih dulu. Lelaki itu tak merubah posisinya. Tian masih saja menatapku.
"Maksud, Mas Tian apa?" Tanyaku kemudian sambil menoleh ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan pada mereka, apa kelebihan dari kamu?"
"Aku gak melakukan apa-apa."
Tian, lelaki itu tersenyum. Dan senyuman itu yang sering aku lihat akhir-akhir ini.
Berada dalam situasi seperti ini tentu membuat aku merasa tak nyaman. Apalagi di saat lelaki itu terus mengatakan sesuatu yang membuat aku semakin tak mengerti. Dan Entah kenapa aku merasa kalau sekarang Tian sedikit berubah. Tian yang irit bicara, maka pada malam ini bibirnya itu tak berhenti berceloteh. Tian yang jarang tersenyum, maka pada malam ini aku melihat bibir itu selalu tersenyum. Dan mata itu ... mata yang biasanya menatapku tajam, entah kenapa pada malam ini aku tak melihatnya.
Sungguh, aku tak tahu apa yang membuat lelaki itu berubah seketika.
Hingga tanpa terasa,
Aku merasakan sinar matahari pagi itu mulai masuk melalui celah-celah gorden, seketika tersadar saat ada sebuah tangan besar dan kekar yang melingkari perutku. Aku terkejut, dan langsung menoleh ke belakang. Ternyata, Tian lah yang sekarang sedang memelukku dengan sangat erat.
"Mas ..." Panggilku, mencoba melepaskan tangan lelaki itu dari perutku. "Mas ... lepas."
"Jangan bergerak." Ujarnya sambil menarik pinggangku, aku kembali terkejut, karena kini Tian semakin erat memelukku. "Aku mau tetap seperti ini." Bisiknya yang membuat aku sedikit meremang. "Aku sayang kamu."
"Mas ...?" Apa lelaki ini sedang bermimpi?
"Aku sangat mencintai kamu."
"Mas ... kamu ngomong apa?" Aku yakin ini tidak benar.
"Aku cinta kamu, Mentari." Dan benar saja tebakanku, kalau sepertinya Tian ini sedang bermimpi. Apa yang akan terjadi jika Tian tahu, kalau ternyata gadis yang sekarang sedang ia peluk itu adalah aku, bukan wanita bernama Mentari itu.
*Ck, Mentari.
__ADS_1
Seperti apa wanita yang membuat Tian begitu mencintainya*.
...****************...