
Satu minggu pun berlalu.
"Tante?"
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Papa, kapan pulang?" Tanyanya gemas.
"Sebentar lagi Papa pulang, sayang." Aku menatap Cheery yang sekarang duduk di sampingku. Beberapa menit yang lalu aku baru saja menjemput Cheery dari sekolahnya, meskipun saat itu Tari juga ada disana. Sempat terjadi perdebatan sebelum akhirnya Cheery memilih untuk pulang bersamaku.
Sikap Cheery yang demikian itu justru membuat Tari sepertinya tak terima. Aku sempat melihat Tari yang kesal dan juga marah. Bahkan, tak segan Tari menyalahkan aku. Namun, karena masih berada di tempat umum maka aku memilih untuk diam saja, dan memutuskan untuk bertanya langsung pada Cheery.
Sungguh di luar dugaan, aku pikir Cheery akan memilih untuk pergi bersama Tari karena wanita itu adalah Mamanya. Tapi ternyata anak itu memilih untuk ikut pergi bersamaku.
Bahagia?
Tentu saja, aku sangat bahagia saat Cheery lebih memilihku dibandingkan dengan Tari. Mamanya.
Begitu banyak waktu yang aku habiskan bersama Cheery selama beberapa hari terakhir ini di saat Tian tidak ada. Selain karena Tian yang memintaku untuk membantu menjaga Cheery, akupun menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Cheery dengan caraku sendiri. Perlahan, aku bisa mencuri perhatian Cheery meskipun harus di lakukan sedikit demi sedikit karena selalu ada Tari di antara kami berdua.
Selain aku sendiri, ada Papa dan Mama Maya yang juga ikut membantuku dalam memenangkan hati Cheery. Kedua mantan mertuaku itu masih memperlakukanku dengan begitu baik. Apalagi Mama Maya yang berharap agar aku dan Tian segera menikah kembali dalam waktu dekat ini.
"Gimana kalo sekarang kita pergi main ke taman dekat komplek yang ada danau nya itu. Kamu mau?" Tanyaku saat melihat Cheery sudah mandi dan berpakaian rumahan seperti biasa.
Kepala mungil itu mengangguk. "Iya, mau Tante." Serunya senang.
"Ayo?"
"Ayo, Tante." Melihat Cheery yang riang seperti itu membuatku tersenyum.
Aku dan Cheery pergi setelah mendapat persetujuan dari Mama Maya. Beliau tidak bisa ikut menemani kami karena masih dalam proses pemulihan setelah beberapa waktu yang lalu sempat di rawat karena penyakit asam lambungnya naik.
Begitu tiba di taman yang aku maksud, Cheery langsung berlari menuju tempat jajanan khas anak-anak disana. Gadis kecil itu meminta aku untuk membelikannya permen kapas dengan warna yang sangat lucu dan juga besar.
Disaat aku dan Cheery sedang menikmati permen kapas yang sempat di beli tadi, tak sengaja pandangan mataku tertuju pada sosok laki-laki yang aku kenal sedang bermain pula bersama seorang anak laki-laki seumuran Cheery. Aku memperhatikan dari kejauhan, namun sialnya, laki-laki itupun menatapku sekarang.
"Sedang apa kamu disini, Ra?"
__ADS_1
Aku melihat Cheery yang masih asik dengan permen kapasnya itu, lalu mengulas senyum lebar pada Raffi.
Ya, Raffi. Secara tidak sengaja aku kembali bertemu dengan Raffi setelah pertemuan kami yang terakhir satu bulan yang lalu itu.
"Kamu sendiri?" Aku menengok kebelakang tubuh Raffi, namun tak melihat keberadaan anak laki-laki tadi.
"Kebetulan aku habis dari rumah salah satu pasienku, terus lewat sini tadi, dan tak sengaja melihat anak laki-laki tadi jatuh dari sepedanya."
Ujar Raffi yang sepertinya mengerti dengan kebingunganku. "Kamu sama siapa, Ra?"
"Oh ..." aku melihat Cheery. "Dia putrinya, Mas Tian. Fi."
Raffi menatap Cheery sekilas sebelum kemudian matanya kembali menatap ku. Raffi tersenyum seraya mengangguk.
"Jadi ... kamu akan benar-benar kembali sama dia, Ra?" Raut kecewa itu tampak jelas di wajah Raffi sekarang.
Aku menatap Raffi seraya mengangguk pelan.
"Semoga kamu bahagia." Ucapnya dengan senyum mengembang namun palsu.
"Hai, cantiknya. Mama.!"
"Mama?" Cheery yang baru menyadari kehadiaran Tari pun seketika menaruh permen kapas yang tinggal sedikit itu di sampingnya, lalu turun dari atas kursi kayu panjang itu secepatnya. Cherry menghambur memeluk Tari erat.
"Siapa, Ra?" Tanya Raffi penasaran.
"Mamanya Cheery, Fi." Balasku singkat. Aku tahu Raffi masih terlihat bingung, namun sepertinya lelaki itu lebih memilih untuk diam tak meneruskan.
Aku pikir Raffi akan pergi setelah perkenalannya dengan Tari, namun ternyata Raffi malah betah. Raffi memilih untuk ikut bergabung bersama kami karena tugasnya di rumah sakit masih sekitar satu jam lagi.
Tari dan Cheery meninggalkan aku bersama dengan Raffi. Aku melihat Tari membelikan bola plastik untuk Cheery, lalu mereka berdua bermain bersama. Beberapa menit berlalu, aku melihat Tari menuntun Cheery, wanita itu meminta aku untuk menjaga Cheery sebentar karena ia harus menerima panggilan telepon yang entah dari siapa.
Tari sedikit menjauh, dan Cheery meminta izin untuk bermain sendiri disana. Akupun mengiyakan Cheery bermain sendiri karena menurutku aku masih bisa mengawasinya dari tempat dudukku saat ini.
Namun, ada sesuatu yang membuatku mengalihkan perhatian dari Cheery ketika melihat seorang gadis kecil jatuh dari atas ayunan. Buru-buru Raffi menghampiri dan membantunya untuk berdiri. Aku yang berdiri di sampingnya Raffi pun ikut meringis karena melihat luka yang cukup besar pada tangan dan kaki gadis kecil itu yang terus mengeluarkan banyak darah.
Karena ikut membantu Raffi membersihkan luka gadis kecil itu, sampai lupa kalau Cheery sudah tidak ada.
__ADS_1
Aku begitu terkejut saat mendengar suara seseorang yang memanggil nama Cheery disana.
"Cheery ... Tolong ... Tolong ..." Teriak Tari.
"Cheery ...!" Gumamku sedikit bergetar, buru-buru aku berlari ke tepi danau tanpa sadar telah menurunkan gadis kecil tadi dengan kasar. Tak peduli pada suara Raffi yang terus memanggil dan ikut berlari mengejarku, aku hanya memikirkan Cheery. Ketakutanku semakin bertambah saat melihat ada beberapa orang berkerumun disana.
"Ya Tuhan ... Cheery!!!" Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua telapak tangan. Tak menyangka jika Cheery dan Tari berada di dalam danau tersebut. Inginnya aku melompat ke danau saat itu juga, namun ada beberapa orang yang menghalangi termasuk Raffi.
******
"Apa yang terjadi, Naya? Kenapa Cheery bisa tenggelam disana?" Cecar Mama Maya begitu beliau sampai.
Aku yang sedang duduk di depan ruang IGD pun seketika berdiri dan menangis.
"Maafkan aku, Ma. Maafkan aku."
"Sudah ... Tenang dulu, Ma." Papa Adi menepuk pelan bahu istrinya itu. "Kasihan Naya. Kita tunggu penjelasan dari dokter."
Kepala wanita paruh baya itu mengangguk, "Iya, Pa."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Raffi dan dua orang perawat itu muncul dari balik pintu. Kami semua menghampiri.
"Fi, gimana keadaan Cheery?"
"Gimana keadaan cucu saya, dokter.?"
Tanya aku dan Mama Maya bersamaan. Raffi tersenyum.
"Alhamdulillah, Cheery atau cucu anda tidak apa-apa. Dia selamat. Hanya saja harus di rawat beberapa hari disini karena kondisinya sangat lemah."
Sedikit lega saat mendengar penjelasan dari Raffi, namun aku tetap saja merasa bersalah karena keteledoranku yang membuat Cheery hampir kehilangan nyawa. Sumpah demi apapun, aku merutuki kebodohanku sendiri. Seandainya aku menjaga Cheery dengan baik, mungkin saat itu Cheery tidak akan jatuh dan tenggelam. Seandainya aku terus menjaga Cheery, mungkin saat ini anak itu tidak akan terbaring lemah disana. Seandainya saat itu Tari tidak ada, entah apa yang akan terjadi pada Cheery.
Dan seandainya Tian tahu kalau aku tak menjaga Cheery ...
Ku tutup mataku rapat-rapat, membayangkan akan sekecewa apa Tian padaku. Aku tahu Tian marah, tapi lelaki itu menahannya dan memilih untuk mematikan panggilan teleponnya begitu saja.
...****************...
__ADS_1