
•
•
•
Sebastian Aydan,
Aku sedikit terkejut saat melihat gadis yang selalu aku abaikan selama ini ada di dalam kamarku. Gadis yang semalam aku bentak, gadis yang semalam menangis karena aku, kini ia tertidur pulas di atas kursi samping ranjangku.
Apa semalaman Naya menemaniku disini?
Aku mencoba untuk duduk, menyandarkan tubuhku pada kepala ranjang. Dan kini perhatianku beralih pada kain handuk yang menempel di atas keningku.
Mungkin semalam Naya telah mengompresku.
Sedikit rasa bersalah, aku memperhatikan gadis yang sekarang sedang tertidur pulas itu, Naya tidur dalam keadaan damai meskipun semalam ia telah menangis. Dan untuk kali kedua aku bisa melihat wajah Naya dari jarak yang begitu dekat seperti ini. Selain baik, aku akui kalau ternyata Nayara mempunyai wajah yang cantik.
Melihat Nayara yang sedang tertidur seperti ini membuat rasa bersalahku itu semakin menggunung. Aku adalah laki-laki berengsek dan egois yang selalu menyakiti hatinya, mengabaikan, bahkan tak pernah menganggapnya ada, apalagi menganggapnya sebagai istri.
Akupun tahu, kalau selama ini Nayara selalu berusaha untuk mengambil sedikit perhatian dariku, ia selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untukku. Tapi lagi dan lagi, karena keegoisanku dan rasa cintaku yang terlampau besar pada seseorang, menjadikan aku lupa akan kebaikan dan kehadirannya di dalam rumah ini. Apapun yang gadis itu lakukan, sedikitpun tak pernah menarik perhatianku.
Berengsek bukan?
Ya, aku memang laki-laki berengsek. Seharusnya aku menerima kehadiran Nayara di rumah ini, seharusnya aku tak menyakiti gadis itu, seharusnya aku bisa lebih baik dan tak mengabaikan keberadaannya, seharusnya aku segera mengabulkan permintaannya saat Nayara meminta berpisah dariku. Tapi demi seseorang dan egoku yang tinggi, akupun kembali menepis semua itu.
Demi aku, dia dan keluargaku, aku kembali membuat gadis itu semakin terluka dengan cara mempertahankan pernikahan bodoh ini.
Aku tak tahu sampai kapan aku bisa menyembunyikan semua keberengsekanku ini. Demi dia, wanita yang sangat aku cintai, aku rela jika harus berpura-pura menjadi suami yang baik untuknya. Meskipun sebenarnya, aku tak mau melibatkan Nayara dalam situasi rumit seperti ini.
Melihat wajah damainya yang sekarang ada di hadapanku, entah mengapa aku merasa menjadi manusia paling jahat di dunia ini. Nayara adalah gadis yang baik, ia pantas bahagia dan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku.
Tapi semalam aku kembali menjadi laki-laki kurang ajar, aku telah menciumnya. Aku akui, ini adalah kesalahan. Aku sadar aku menciumnya bukan karena cinta, melainkan karena terbawa suasana saja. Karena aku juga merindukan seseorang.
Aku dan Nayara, semalam kami berdua telah berciuman. Entah kenapa gadis itupun tak menolak saat bibirku menempel di atas bibirnya. Merasa mendapat persetujuan dari Nayara, maka akupun mulai berani ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Aku menggigit sedikit bibirnya, dan anehnya lagi gadis itupun menyambutnya, membuka bibirnya dan membiarkan lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya.
Jujur, aku terbuai. Aku takut lupa diri karena ciuman kami di lakukan dengan sangat lama. Aku menikmatinya, pun dengan gadis itu. Hingga di beberapa detik kemudian, aku melepaskan ciuman itu saat wajah seseorang terlintas di kepalaku. Aku menatapnya tak percaya, pun dengan Naya yang sepertinya terkejut karena aku melepaskan ciumannya begitu saja.
Astaga ... apa yang sudah aku lakukan?
"Mas ..."
__ADS_1
Aku tersentak saat gadis yang sedari tadi mengisi kepalaku itu tiba-tiba saja terbangun.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya lagi.
"Hem ..." Seperti biasa, itulah jawabanku. Aku tidak ingin membuat gadis itu berharap lebih dengan apa yang telah kami lakukan semalam.
"Maaf, aku ketiduran. Kenapa kamu gak bangunin aku, Mas?" Nayara tersenyum, dan senyuman itu makin membuat rasa bersalahku ini semakin dalam. Aku tak mau membohongi gadis itu dengan cara berpura-pura peduli. Aku takut jika suatu saat nanti, ia akan mengharapkan lebih pada pernikahan ini. Pun dengan aku.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Mas?" Aku sedikit menjauh saat Nayara ingin menyentuhku.
"Sudah baikan." Jawabku buru-buru seraya memalingkan wajah.
"Oh ... syukurlah kalo gitu, Mas." Lagi, aku melihat ia tersenyum meskipun aku telah membuatnya kecewa.
Dari ekor mataku, aku melihat pergerakan dari gadis itu. Nayara mengambil kain serta mangkuk yang semalam ia gunakan untuk mengompresku itu dari atas meja nakas. Sebelum Naya keluar, aku kembali membuat gadis itu kembali menghentikan langkahnya.
"Untuk kejadian semalam ... sebaiknya kamu lupakan saja."
"Baik, Mas." Jawabnya dengan suara yang lembut, meskipun aku tahu tubuhnya sempat menegang. Naya pun pergi tanpa mau menoleh lagi ke arahku.
"Brengsek!"
Ku pejamkan mata rapat-rapat seraya menyandarkan kembali kepalaku pada kepala ranjang. Entah kenapa rasa pusing yang sebelumnya sudah hilang kini mulai berdenyut nyeri kembali.
Aku tak ingin membuat gadis itu semakin Terluka.
******
Tiga hari berlalu,
Aku yang saat ini tengah menemani Arga makan siang bersama dua orang kliennya di salah satu Mall, tiba-tiba saja tersentak saat mataku menangkap siluet seseorang yang ku kenal berada di lantai dasar.
Untuk meyakinkan penglihatanku ini tidak salah, maka akupun meminta izin pada Arga untuk ke toilet. Setelah mendapat persetujuan dari lelaki itu, aku bergegas untuk mengejar Tian, sebelum laki-laki itu benar-benar menghilang dari penglihatanku.
Ya, aku melihat Tian ada di dalam Mall yang sama denganku. Bukan itu saja, yang membuat aku penasaran adalah, aku melihatnya tak sendiri, melainkan ada seorang wanita yang berjalan bersamanya.
Ku langkahkan kakiku lebar-lebar untuk mengejarnya. Seharusnya aku tak perduli, seharusnya aku diam saja saja. Tapi entah kenapa aku seperti mendapat dorongan untuk mengejar laki-laki itu. Entah karena apa, aku hanya ingin tahu siapa wanita yang sedang bersamanya itu. Mereka berjalan bersama dengan tangan saling menggenggam. Meskipun tak terlihat jelas, tapi aku yakin kalau lelaki itu adalah Tian, suamiku.
Apakah wanita itu yang bernama Mentari?
Ingin memanggil, tapi aku ingat kalau sekarang jarak kami sangat lah jauh. Aku yang berada di lantai dua, sedangkan Tian dan wanita itu berada di lantai dasar. Aku sedikit berlari untuk menuruni satu lantai dengan eskalator. Aku berusaha mengejarnya, mengelilingi dan memutari lantai dasar untuk mencari sosok lelaki itu. Tapi sayangnya aku tak dapat menemukan Tian disana.
__ADS_1
Apa mungkin aku salah lihat?
Memijat keningku yang tiba-tiba terasa pusing, aku memutar badan ke belakang, lalu terhenyak saat melihat sosok laki-laki yang sekarang ada di hadapanku.
"Sudah ketemu?" Tanyanya yang membuat aku seketika menyipitkan mata. "Apa kamu bertemu dengan suamimu itu?"
Jadi Arga tahu kalau aku kesini untuk mencari Tian?
"Apa maksud kamu?" Tanyaku pada Arga. Rasa penasaranku semakin banyak karena Arga sepertinya mengetahui sesuatu tentang Tian.
Arga tersenyum, perlahan melangkah mendekati aku yang masih berdiri mematung di tempatku berdiri saat ini. "Aku tahu kamu lagi cari Tian kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Karena tadi aku juga melihatnya." Jawabnya santai seraya mengulas senyum.
Ternyata bukan hanya aku, Arga pun melihat Tian ada disini. Jadi laki-laki tadi itu benar-benar Tian.?
******
"Mau sampai kapan kamu disini?" Ku remat jari-jari tanganku sendiri yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Perasaanku mulai tak menentu saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
"Mau turun? atau mau pergi?" Entahlah, ada apa denganku saat ini. Kenapa aku seperti tak memiliki kekuatan untuk mengetahui tentang sebuah kebenaran nantinya. Aku tahu, meski di antara kami berdua tidak memiliki perasaan apapun, aku hanya ingin memastikannya saja.
Benarkah ini rumah wanita itu?
"Sebaiknya kita pergi."
"Yakin?" Arga bertanya dengan dahi mengkerut.
Aku menatapnya sekarang, pun dengan Arga.
Ya, Arga Devano lah orang yang memberi tahuku tentang Tian dan wanita yang bernama Mentari itu setelah aku mendesaknya. Sebenarnya aku tak ingin mempercayainya, tapi ... untuk kali ini aku percaya pada laki-laki yang merupakan atasanku itu.
"Maafkan aku." Ujarnya penuh sesal. "Aku tidak bermaksud untuk mengatakannya."
"Nggak papa." Jawabku bersama kepala yang menggeleng.
"Kamu ingin pergi?"
Aku tak menjawab, tapi mataku beralih pada bangunan mewah di depan sana. Sedikit ku turunkan kaca jendela mobil, saat mobil yang aku kenali itu baru saja keluar dari pekarangan rumah mewah itu. Dan akupun tahu siapa pemilik mobil itu.
__ADS_1
Dengan menarik napas dalam-dalam seraya menutup mata sesaat, akupun memutuskan untuk menemuinya.
...****************...