
•
•
•
Sebastian Aydan,
Lima tahun berlalu, dan selama lima tahun itulah aku tak pernah mengira jika aku akan kembali bertemu dengan Nayara Syila - mantan istriku.
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah pukul lima sore dan aku masih berada di kantor. Aku memutuskan untuk segera pulang, lalu pulang ke apartemen untuk berganti pakaian, setelah itu aku akan datang menemui Revan dan teman-teman ku yang lain di klub malam milik sahabatku itu.
Tapi sebelum pulang, aku telah lebih dulu menghubungi Mama. Meminta pada beliau untuk menjaga Cheery, menitipkannya malam ini karena aku takut pulang terlalu malam.
Pukul delapan malam, dan aku baru saja tiba disana. Begitu aku masuk ke dalam ruangan yang minim akan pencahayaan itu, aku langsung menemui Revan dan juga yang lainnya. Ternyata benar, mereka semua tengah berkumpul disana. Menungguku.
"Wihh ... Akhirnya lo dateng juga." Sapa Irwan, salah satu teman kuliahku dulu.
"Lo, makin gagah aja, Tian."
"Iya dong ... duda jaman sekarang." Ledek Revan sambil terkikik geli.
Aku hanya tersenyum seraya menggeleng, tak menanggapi ocehan mereka semua. Aku lebih memilih untuk mengambil rokok lalu memantiknya dengan api. Lama kami semua saling berbincang hingga aku mendengar suara seseorang dari atas panggung memanggil nama sang DJ. Awalnya aku tak peduli, tapi di luar sana begitu bising. Aku sedikit penasaran saat orang itu kembali menyebut nama seseorang yang rasanya tak asing di telinga. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?
"DJ ... Ara!"
Lagi-lagi aku mendengar suara orang itu meneriakkan namanya. Aku menggeleng pelan, lalu mengambil minuman yang ada di atas meja, kemudian menenggaknya hingga tandas. Sudah lama aku tak pernah minum minuman haram seperti ini. Dulu sebelum menikah, aku memang sering datang ke klub seperti ini hanya untuk minum dan bersenang-senang bersama Tari. Tapi setelah menikah aku tak pernah menginjakkan kakiku lagi di tempat seperti ini.
Ku tuangkan kembali cairan memabukkan itu ke dalam gelas sebelum kemudian aku kembali menenggaknya. Lalu aku ikut menoleh saat Irwan dan Dery tak pernah berhenti berdecak penuh kagum pada orang yang sedang memainkan musiknya di atas panggung itu.
"Gila ... tuh cewek cakep banget.!"
"Anjir, seksi. Bro."
"Namanya, Ara. Dia DJ yang sedang terkenal, selain itu dia juga DJ tercantik sekarang." Revan yang duduk di sampingku mengenalkan gadis yang berprofesi sebagai DJ itu pada keduanya. Aku hanya diam, tapi diam-diam aku pun ikut mendengarkannya.
__ADS_1
"Bener-bener seksi tuh cewek." Aku melihat Dery tak berhenti memujinya. "Lo, kenalin tuh cewek sama gue dong?"
Revan tersenyum, lalu mengambil gelas berisi cairan memabukkan itu dari atas meja. "Coba aja kalo lo bisa."
"Lo ngeremihin gue?" Cowok itu berdecak sebal.
"Dia tuh salah satu DJ yang susah untuk di dekati." Jelas Revan yang membuat kedua laki-laki itu seketika tertawa. Aku hanya memperhatikan keduanya dalam diam, aku pun melihat mereka saling melempar senyum miring.
"Kita liat nanti, gue akan bayar dia sepuluh kali lipat."
"Jangan kurang ajar lo, dia itu sepupunya temen gue. Gue gak mau nyari masalah gara-gara lo berdua, Tayi."
Aku menggeleng, mendengar perdebatan mereka tentu membuatku ingin menyandarkan kepala pada punggung sofa. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mendengar nama itu berkali-kali disebut membuat hatiku sedikit berdesir hangat.
Kenapa?
Kenapa setiap kali nama Ara terdengar di telingaku, aku merasakan sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu, aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri yang secara tiba-tiba menjadi tak tenang seperti ini.
Aku membuka mata, masih dengan posisi yang sama. Menatap langit-langit ruang VIP di dalam klub ini dengan helaan napas panjang.
"Gak minat." Jawabku asal.
"Ini Ara, Tian. Ara.!" sewot Irwan.
"Coba lo liat dia sekarang. Lo pasti suka sama tuh cewek." Timpal Dery.
Aku menegakkan tubuh, seketika terduduk kaku saat mataku menangkap siluet seseorang yang selama ini aku cari.
"Nayara?" Aku mengernyit bingung.
Ketiga cowok itu saling melempar tatapan saat melihat aku berdiri.
__ADS_1
"Kenapa, lo?"
Ku usap wajahku dengan kasar. "Gue ... " Suaraku tercekat saat ada beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan.
Aku terkejut, dan aku sendiri pun tak percaya jika gadis yang berdiri di hadapanku saat ini adalah gadis yang tak pernah aku temui selama lima tahun ini. Aku tidak salah melihatnya kan? entah kenapa aku begitu yakin jika gadis yang sekarang sedang menatapku itu adalah Nayara, mantan istriku.
Meskipun aku melihatnya sedikit berbeda, meskipun aku sempat tak mengenalinya, tapi aku pastikan kalau dia adalah Nayara. Dan Nayara yang sekarang berdiri di hadapanku saat ini sama sekali bukan Nayara yang dulu.
Gadis itu ... aku menatapnya dari atas sampai bawah. Memperhatikan penampilannya sekarang yang menurutku sangat berbeda. Apalagi dengan pakaian minim yang ia gunakan sekarang. Sungguh, aku sampai dibuatnya menganga tak percaya.
Lama kami saling menatap, hingga aku menyadari kalau ternyata Naya telah lebih dulu membuang pandangannya itu. Aku segera tersadar, dan sedikit terkejut saat Naya melewati tubuhku begitu saja. Gadis itu sama sekali tak menoleh padaku. Bahkan di saat Revan mengenalkannya padaku, Naya bersikap dingin. Tak ada sedikit pun senyum dari bibirnya itu. Ia mengenalkan dirinya pun sebagai Ara. Naya pun bersikap seolah-olah kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Ternyata, Nayara benar-benar menepati ucapannya yang akan menganggap aku sebagai orang lain jika suatu saat nanti kami berdua bertemu kembali.
Dan itu, ia buktikan sekarang.
Aku tahu dan aku pantas mendapatkannya. Akupun terima jika Nayara membenciku sekarang. Karena dulu aku terlalu sering melukai perasaannya dan membuatnya menangis. Aku selalu mengabaikannya dan tak pernah menganggap kehadirannya ada sama sekali dalam hidupku.
Ya, aku akui itu.
\*\*\*\*\*\*
Berada di dalam satu ruangan seperti ini tentu membuatku merasa sedikit canggung, tapi tidak dengan Nayara. Aku melihat gadis itu sama sekali tak merasa terganggu dengan kehadiranku. Aku melihatnya sesekali tertawa bersama dengan Revan, Dery dan Irwan. Tapi dia tak melihat sedikitpun ke arahku. Setiap kali Revan mengajakku bicara, Naya hanya melihat sekilas, setelah itu ia kembali membuang pandangannya.
Aku benar-benar seperti orang asing dimatanya sekarang.
Aku akui, ada banyak perubahan yang terjadi pada Nayara setelah lima tahun tak bertemu. Aku juga baru mengetahui kalau ternyata selama lima tahun ini ia bekerja sebagai seorang DJ.
Nayara bekerja di tempat hiburan malam seperti ini, dengan mempertontonkan keahliannya dalam memainkan musik dan juga tubuhnya yang hanya terbalut pakaian kekurangan bahan seperti ini.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
DJ Ara
__ADS_1
