
•
•
•
Meskipun ragu, tapi keputusanku sudah bulat.
Aku berdiri tepat di depan pintu yang terbuat dari kayu jati itu dengan perasaan tak menentu. Mataku berpendar melihat ke sekeliling yang tampak sepi dari luar itu. Ku yakin disini tidak banyak orang yang tinggal. Setelah cukup lama aku berdiri, maka akupun memutuskan untuk mengetuk pintunya sekarang.
Satu kali ku ketuk pintu itu namun tak ada jawaban. Hingga di ketukan yang ketiga, barulah aku mendengar suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut dan mendayu dari dalam rumah.
Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debaran jantungku yang berdebar tak beraturan. Hingga pintu di depanku itu terbuka, munculah seorang wanita yang sangat cantik. Baik aku dan wanita itu, kami berdua menunjukkan reaksi sama-sama saling terkejut.
Aku menatapnya sekarang, pun dengan wanita yang sekarang berdiri di hadapanku itu dengan wajah pucat dan tubuh yang menegang kaku.
"Ca-ri siapa ya?"
"Kamu Mentari, kan?" Meskipun di dalam poto dan pada saat bertemu di acara makan malam itu sangat berbeda, tapi aku yakin kalau wanita ini adalah Mentari.
"I - iya." Jawabnya terbata. "Kamu ... sendiri?" Akupun yakin kalau sebenarnya dia sudah tahu siapa aku.
"Boleh aku masuk?" Lagi, aku mengabaikan pertanyaannya.
"Oh ..." Aku melihat wanita itu sedikit gelisah. "Boleh, silahkan masuk." Titahnya kemudian yang membuat aku tak tinggal diam lagi.
Begitu masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup besar itu, aku berdecak penuh kagum. Semuanya nampak bersih dan barang-barang yang aku yakini mempunyai harga fantastis itu tersusun begitu rapi di atas meja maupun dalam lemari. Tapi bukan itu yang sekarang menjadi pusat perhatianku, di antara beberapa poto yang tertata rapi disana, ada satu poto yang membuat mataku membulat sempurna, akupun membelalak tak percaya. Aku semakin mendekat, ingin melihat dengan jelas apa yang sekarang sedang aku lihat itu. Jangan tanyakan dengan dadaku yang berdebar kencang melebihi batasnya sekarang.
"Ya Tuhan ..." Ku tutup mulutku dengan kedua tangan. Bahuku merosot lemah. Jantungku seakan berhenti berdetak, dan hatiku seperti di remas kuat dari dalam sana saat aku mengetahui kalau ternyata suamiku telah menikahi wanita lain selain aku.
Tubuhku lemas, dan aku seperti tak memiliki kekuatan lagi sekarang.
"Mbak ... Aku bisa jelasin semuanya." Aku mendengar suara wanita itu bergetar.
"Sejak kapan?" Tanyaku masih tak percaya, pandangan ku tak lepas dari dua insan manusia yang sedang tersenyum bahagia di dalam poto itu. "Sejak kapan kalian menikah?" Ku tutup mataku rapat-rapat seraya mengepalkan kedua tanganku erat.
"Mbak ..."
__ADS_1
"Jawab aku?" Bolehkah aku berteriak? Bolehkah aku mencaci? Bolehkah aku marah? Karena bagaimana pun aku juga istrinya - Istri yang tak pernah di anggap.
Ku putar badanku, lalu pandangan kami berdua pun bertemu.
"Jawab aku, sejak kapan kalian berdua menikah?" Ulangku lagi, tapi kali ini dengan suara yang melirih.
"Dua bulan yang lalu, Mbak." Jawabnya sembari menunduk.
Dua bulan yang lalu?
Satu bulan setelah menikah denganku, Tian sudah menikahi wanita lain selain aku?
Ya Tuhan ... Ku remat dadaku yang terasa sesak, meski aku tahu pernikahan kami bukanlah atas dasar cinta, tapi setidaknya Tian menghargai aku yang masih berstatus sebagai istrinya. Istri yang sah dimata agama maupun hukum.
Belum hilang rasa sesak di dadaku, aku harus kembali mendengar kenyataan pahit tentang alasan mereka berdua memutuskan untuk menikah.
"Kami berdua saling mencintai, jauh sebelum Mbak Naya hadir."
"Dari pada kami berbuat dosa, maka menikah adalah keputusan kami."
"Maafkan aku dan Mas Tian, Mbak."
Aku tersenyum meski hati ini sedikit berdenyut nyeri. Aku iri pada wanita cantik yang sekarang sedang berhadapan denganku saat ini. Tian menikahi ku karena terpaksa, sedangkan Mentari, lelaki itu menikahinya atas nama cinta. Mungkin, disini lah aku yang menjadi orang ketiga. Akulah yang membuat mereka berdua berpisah, Akulah yang telah menghancurkan hubungan yang sudah bertahun-tahun lamanya itu terjalin. Dan akupun hadir di kehidupan Tian, di saat laki-laki itu mencintai wanita lain.
Ya, akulah orang ketiga itu.
******
"Ada apa, Pak?" Tanya Rama begitu ia melihat Tian menyimpan ponselnya di atas meja dengan sentakan kasar.
"Pak ...?" Melihat dari raut wajah Tian yang berubah, ia sudah bisa menebak ada sesuatu yang tidak beres saat ini.
"Dia sudah tahu." Ujar Tian tiba-tiba seraya mengusap wajahnya kasar. Lelaki itu memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing.
Rama mengernyit, menatap Tian penuh tanya. "Maksud, Pak Tian?"
"Naya tahu kalo saya sudah menikah dengan, Tari." Jawabnya frustrasi. Lelaki itu berdecak seraya tersenyum miris. "Semuanya sudah terbongkar."
__ADS_1
Rama hanya terdiam membisu saat Tian menceritakan tentang kedatangan Naya ke rumah Mentari tanpa sepengetahuannya. Tian pun mengatakan kalau Nayara, gadis itu sepertinya sangat kecewa dan terluka, gadis itu pun sempat menangis sebelum pergi dari rumah Tari, istri keduanya.
Tian yang merasa keberengsekannya itu sudah mulai terbongkar, ia pun pasrah dengan apa yang akan Naya lakukan. Tian juga harus menanggung semua akibatnya. Ia pun harus bersiap-siap menerima amukan dari sang Papa nantinya.
Tian yakin jika saat ini juga Nayara akan meminta berpisah darinya. Lalu, jika itu benar-benar terjadi, bagaimana nanti pernikahannya bersama Tari. Tian takut Papanya itu akan benar-benar memisahkan Tari darinya, atau mencoret namanya dari keluarga Aydan.
"Ram ..."
"Iya, Pak?"
"Batalkan semua meeting kita hari ini." Perintah Tian yang langsung di sanggupi oleh Rama. "Saya harus pergi sekarang."
Setelah itu, Tian pun merampas ponsel serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya sebelum kemudian ia keluar dari dalam ruang kerjanya itu. Tian membatalkan semua pertemuannya hari ini karena ada sesuatu yang di anggapnya lebih penting daripada pekerjaan.
Nayara,
Ya, gadis itulah yang kini membuat isi kepalanya terasa hampir mau meledak. Tian tahu cepat atau lambat, Naya pasti akan mengetahuinya. Meskipun tak ada cinta untuk gadis itu, tapi Tian tetap saja merasa bersalah karena ia telah menikahi Mentari tanpa ijin dan sepengetahuannya.
Lalu, kenapa Tian harus meminta izin pada Naya jika pernikahan mereka pun tak berarti apa-apa untuknya?
Bukankah menikah itu lebih baik daripada berselingkuh atau berbuat dosa nantinya.
******
"Mbok ... lihat Naya dimana?" Tanya Tian pada wanita paruh baya itu saat ia sudah masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu terlihat sedikit kusut tak seperti biasanya.
Setelah memutuskan pulang dari kantor lebih awal, Tian lebih dulu menemui Tari. Lelaki itu ingin bertanya dan mendengar secara langsung tentang kedatangan Nayara yang secara tiba-tiba ke rumahnya itu. Ada banyak hal yang Tian tanyakan pada Tari, dan yang membuat Tian tak percaya adalah dengan apa yang di katakan Nayara pada Tari.
"Kamu beruntung karena menjadi satu-satunya wanita yang di cintai oleh suamiku. Dan kamu harus bersyukur, karena Mas Tian adalah laki-laki setia. Meskipun ada aku, tapi di hatinya cuma ada kamu."
"Maaf, Pak. Sepertinya ... Bu Naya belum kembali." Jelas Mbok Iyam. Wanita paruh baya itu merasa aneh dengan kedatangan Tian yang langsung menanyakan tentang istrinya. Padahal, Tian tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"Memangnya, ada apa, Pak?" Kemudian rasa cemas pun menghampiri wanita paruh baya itu.
Tian menatap wanita paruh baya itu sekilas sebelum kemudian ia mengusap wajahnya gusar saat panggilannya yang kelima tak kunjung mendapatkan jawaban. Lelaki itu pun mendesah frustrasi sebelum kemudian ia melihat pada jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Sudah hampir jam sembilan malam, dan Nayara belum juga kembali.
Apa jangan-jangan gadis itu sudah pergi dari rumah ini?
__ADS_1
Di saat ia sedang bertarung dengan pikirannya, di saat itu pula Tian mendengar suara derap langkah kaki seseorang memasuki ruangan. Tian hanya memandang dalam diam ketika melihat Naya sudah ada di hadapannya saat ini, berbeda dengan Mbok Iyam, wanita paruh baya itu merasa lega ketika melihat majikannya itu baik-baik saja.
...****************...