Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Bukan Milikku


__ADS_3




"Tian, Mama benar-benar gak nyangka bisa ketemu lagi sama Naya dan Ibunya."


Aku yang sedang menyetirpun hanya fokus menatap jalanan. Lalu, pandanganku beralih menatap Cheery dari dalam kaca spion. Ternyata, Cheery sudah tertidur pulas di atas pangkuan Asih, pengasuhnya.


"Akhirnya, Mama bisa hidup dengan tenang sekarang." Ujarnya lagi yang membuat aku meliriknya sekilas.


"Sebenarnya tadi Mama merasa malu saat bertemu dengan mereka, tadi kamu lihat sendiri kan, bagaimana Naya sama Ibunya masih bersikap baik pada kita?"


Akupun menoleh, lalu mengangguk sembari melempar senyum tipis. Apa yang Mama katakan memang benar. Tapi itu hanya berlaku pada Mama, tidak padaku. Aku melihat Ibu masih bersikap ramah sama seperti dulu, saat aku masih menjadi menantunya. Tapi tidak dengan Nayara, untuk kali keduanya kami berdua bertemu, Naya masih tetap saja menunjukkan wajah dan sikap tak bersahabat denganku.


Jangankan untuk menyapa, tersenyum atau melihatku saja rasanya sangat enggan untuk gadis itu lakukan.


Jujur, beberapa kali aku memang sempat memperhatikannya secara diam-diam. Gadis itu selalu tersenyum lebar, bahkan bersikap ramah pada Mama. Tapi saat tanpa sengaja mata kami berdua bertemu, Nayara berubah menjadi gadis yang ketus dan juga dingin.


Meskipun sudah lima tahun kami tak bertemu, tapi aku tahu siapa Nayara. Meski disaat gadis itu masih menjadi istri yang aku abaikan, tapi aku sudah mengenalnya sedikit demi sedikit. Aku melihat tak ada yang berubah sedikit pun dari Nayara. Gadis itu masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang tubuh Nayara terlihat lebih kurus. Berbeda dengan saat kami bertemu di klub malam waktu itu, aku melihat Nayara benar-benar berbeda, tidak seperti tadi saat kami semua makan siang bersama.


Hari ini aku kembali melihat Nayara yang dulu, gadis sederhana yang tak pernah memakai makeup tebal. Ia hanya mengoleskan sedikit riasan pada wajah dan pewarna di bibir. Dan lagi, pakaian yang digunakannya pun tak seperti saat ia bekerja sebagai seorang DJ.


Akupun tak pernah mengira, jika aku dan Naya akan kembali di pertemukan.


"Naya masih tetap cantik, dan sepertinya Cheery juga menyukainya." Aku diam, tak sedikitpun mau membahas apa yang seharusnya tak kami bahas.


"Seandainya, Naya ----"


"Ma ..." Selaku cepat. Aku tahu kemana arah pembicaraan Mama. Aku hanya tak ingin Mama membahas sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena aku tahu kalau sekarang Nayara membenciku.


Mama mendesah, wajahnya terlihat sangat kesal saat ini.


"Oh iya." Mama tiba-tiba merubah posisi duduknya, memiringkan badannya untuk berhadapan denganku. "Kamu gak lupa kan, kalo nanti malam kita akan makan malam bersama."


Aku menoleh sekilas sebelum kemudian kembali menatap jalanan. "Sepertinya aku gak bisa, Ma."


"Kenapa?"


"Karena nanti malam aku harus ke puncak."


"Puncak? ngapain? urusan pekerjaan?"


Kepalaku menggeleng, "Nggak, Ma."


"Lalu?"


"Teman aku baru saja pulang dari Amrik, dia mengadakan pesta kecil-kecilan disana."


"Kamu bisa batalin, Tian." Pinta Mama memelas.

__ADS_1


"Tapi aku udah janji, Ma." Kekeuhku.


"Terus makan malamnya gimana?"


"Tanpa adanya aku bisa kan, Ma."


"Tapi, Bella? Mama udah janji mau kenalin kamu sama dia."


Seperti biasa, Mama selalu menjadi orang nomor satu dalam hal mengenalkan aku pada wanita. Bukannya aku tak menghargai keinginan dari kedua orangtua-ku. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin sendiri, dan aku belum bisa membuka hati untuk wanita lain. Entah sampai kapan, karena aku sendiri pun tak tahu dengan pasti.


Aku tahu apa kesalahanku di masa lalu, menyakiti orang-orang yang tak seharusnya aku sakiti.


Menyesal?


Tentu, karena kebodohan dan keegoisanku dulu aku sampai kehilangan kepercayaan dari kedua orangtua-ku. Dan kesalahan terbesarku saat itu adalah mengabaikan gadis sebaik Nayara karena wanita itu. Mungkin saat itu Tuhan marah, dan memberiku hukuman dengan caranya sendiri.


Dan sekarang aku mulai sadar, aku banyak belajar dari kesalahanku di masa lalu. Aku hanya manusia biasa, aku bukan lelaki sempurna sama seperti yang lain, dan aku juga adalah seorang pendosa. Apa salah jika aku ingin berubah menjadi lebih baik?


Aku hanya tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku punya sekarang. Hanya ada Cheery, Mama dan Papa.


Setibanya dirumah, aku langsung menidurkan Cheery di dalam kamarnya. Setelah itu aku bergegas masuk ke dalam kamarku sendiri, merebahkan tubuh di atas kasur sambil menatap langit-langit ruangan dalam kamar.


Ku tutup mataku rapat-rapat, dan aku begitu terkejut. Aku yang semula merebahkan tubuh di atas kasur, tiba-tiba saja terbangun dan langsung menyandarkan tubuhku pada kepala ranjang. Aku menggeleng, tak percaya dengan apa yang aku lihat saat memejamkan mata.


"Apa yang aku pikirkan?" Gumamku seraya mengusap wajah kasar.


Bagaimana bisa wajah Nayara tiba-tiba muncul disaat mataku sedang terpejam?


"Tidak mungkin." Lagi, kepalaku menggeleng, "Itu tidak mungkin." Lalu, mataku beralih pada meja nakas di samping tempat tidurku itu sekarang. Aku melihat buku diary itu, menatapnya lama-lama disana. Dan entah kenapa tanganku bergerak sendiri untuk meraih buku diary itu.


Apa yang tak kuinginkan, tapi kini justru aku ingin melihat dan membacanya lagi.


******


"Ya Tuhan ... apa yang aku pikirkan?" Aku memekik tak percaya. Kepalaku menggeleng seketika. Membuat seseorang yang sedang duduk di atas sofa dalam kamarku pun mengernyit bingung menatapku.


"Kenapa, lo?" Tanyanya curiga.


"Nggak papa." Buru-buru aku turun dari ranjang, menghampiri Geril dan asisten ku disana.


"Siap-siap dari sekarang, Ra. Bentar lagi kita berangkat ke puncak." Ujar Geril dengan mata pokus pada layar ponsel.


Sementara aku,


Aku masih diam dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Aku bergidik saat wajah Tian, lelaki yang baru saja bertemu denganku beberapa jam yang lalu itu terlintas di kepala.


"Ra?"


Panggil Geril kembali, laki-laki itu sepertinya curiga dengan keterdiamanku.


"Lo sakit?"

__ADS_1


"Ya." Aku menggeleng. "Nggak." Jawabku kemudian sambil tersenyum kaku.


Geril dan asistenku itu saling melempar tatapan, melihat aku seperti itu tentu membuat keduanya merasa aneh. Tapi itu tak berlangsung lama saat aku mengalihkan pembicaraan.


Hingga di beberapa menit kemudian, aku dan Geril menyiapkan diri untuk berangkat ke puncak sore ini juga.


Perjalanan dari Jakarta menuju puncak biasanya hanya memerlukan waktu kurang lebih dari dua jam, tapi karena padatnya lalu lintas, apalagi diakhir pekan seperti ini membuat perjalanan itu terasa hampir lama.


Aku yang duduk di depan pun, merasa kesal karena terjebak dalam kemacetan yang sangat panjang seperti ini.


Setelah menunggu lama, akhirnya mobil yang kami tumpangi pun bisa melaju kembali. Tapi ... saat dalam perjalanan menuju ke lokasi, tiba-tiba saja mobil Geril itu berhenti di tengah jalan yang sepi seperti ini.


"Sial ...!" Geril memukul setir itu berulang-ulang. "Pake acara mogok lagi." Ujarnya kesal. Aku yang duduk di sampingnya pun segera keluar saat Geril dan asistenku Nenci, keluar.


"Gimana?" Tanyaku pada Geril yang sedang mengotak-ngatik mesin mobilnya.


"Kayaknya gue bakalan minta bantuan dari mereka buat jemput kita disini."


"Mobilnya beneran mogok?"


"Hem ..." Jawabnya bersama kepala yang mengangguk.


Sementara Geril dan Nenci masih mencoba menyalakan mesin mobilnya, aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu tak jauh dari tempat mereka. Aku yang sedang memainkan ponsel pun sampai tak menyadari dengan adanya sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di belakang mobilnya Geril.


"Ra ..." Nenci memanggilku.


Aku menoleh, buru-buru berjalan menghampiri mereka.


"Buruan masuk, kita ikut mobil mereka."


Mereka?


Akupun melihat ada Revan disana, lelaki itu tersenyum padaku. Sementara di tempat yang sama dengan Geril, aku melihat seseorang yang sepertinya tak asing dimataku. Lelaki itu sedang membantu Geril menyalakan mesin mobilnya yang rusak itu.


"Gue udah nyuruh orang buat bawa mobil lo ke bengkel, Ril." Ujar Revan saat ia mematikan panggilannya.


"Sory, Van. Gue jadi ngerepotin."


"Ck, basi lo.!" Lelaki itu terkekeh. Tapi matanya tak sedikitpun berpaling dariku.


Aku yang merasa risih karena terus di perhatikan seperti itu, buru-buru membuang pandangan. Dan di detik selanjutnya, mataku melebar sempurna dengan mulut menganga tak percaya. Ternyata orang yang sedang bersama Geril itu adalah Tian. Lelaki yang sudah ketiga kalinya aku temui


Kenapa bisa ada dia? kenapa bisa kebetulan seperti ini?


Aku sedikit terkejut, tapi tidak dengan lelaki itu. Sepertinya Tian sudah tahu kalau aku ada di mobil yang sama dengan Geril.


Untuk sesaat mata kami berdua bertemu. Dan aku lihat, bibir lelaki itu melengkung membentuk sebuah senyuman. Senyuman itu yang ingin aku lihat sejak masih menjadi istrinya. Tapi aku tak pernah mendapatkannya. Karena pemilik senyuman itu adalah Mentari, bukan aku.


Tapi sekarang, aku tak ingin melihat senyum itu. Maka disaat Tian semakin mendekat, seperti biasa aku selalu memasang wajah tak bersahabat. Entah kenapa aku selalu ingin bersikap seperti itu saat bertemu dengannya. Aku membuang pandangan, tak ingin lama-lama saling menatap, lalu masuk ke dalam mobil yang entah milik siapa.


Karena aku takut, jika tembok yang sudah aku pasang tinggi-tinggi akan runtuh kembali hanya karena sebuah senyuman yang Bukan miliku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2