Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Menentukan pilihan


__ADS_3

"Kamu tunggu disini ya?"


Tian hendak keluar dari dalam mobil, namun aku menahannya. "Kenapa?"


"Aku ikut, Mas."


Tian tersenyum, "Cheery pasti akan senang lihat kamu ada disini, jemput dia."


"Hem ..." Kepalaku mengangguk. "Aku juga rindu Cheery, Mas."


Lalu, kami berdua memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Awalnya ingin memberi kejutan pada Cheery dengan menjemputnya usai pulang sekolah, namun saat hendak berjalan menuju gerbang, tiba-tiba langkah kami berdua berhenti saat Cheery keluar dari dalam gedung sekolah itu bersama dengan seorang wanita.


"Tari!" gumamku pelan.


Sementara Tian hanya menatap tajam kedepan. Rahangnya mengeras serta kedua tangannya sudah mengepal erat di samping.


Aku melihat wajah kecil itu terlihat begitu ceria saat tangan mungilnya di genggam oleh Tari. Mereka pun terlihat begitu dekat saat tertawa lepas bersama seperti itu.


Tian yang kesalpun ingin menghampirinya, namun aku cegah.


"Mas, kendalikan emosimu."


Aku melihat tatapan matanya yang tajam perlahan memudar saat menatapku. Aku menggeleng pelan, memohon lewat sorot mata agar Tian bisa mengendalikan emosinya di hadapan Cheery. Beruntung, Tian mau menurut.


"Papa ....!" Teriak anak kecil itu saat menyadari keberadaan kami. Cheery berlari riang sambil merentangkan kedua tangannya.


Tian berjongkok, siap menyambut kedatangan putri kecilnya itu.


"Papa jemput aku?" Cicitnya gemas saat sudah duduk di pangkuan Tian.


"Iya sayang, Papa sama Tante Naya mau jemput kamu." Tian sempatkan melirik padaku.


Anak kecil itu menoleh padaku, bibirnya pun melebar sempurna. "Asik ... Tante Naya jemput Cheery."


Akupun ikut berjongkok di sebelah Tian saat Cheery turun dari pangkuan Papanya itu. "Tante kangen banget sama kamu." Ku ciumi pipi gembilnya itu berkali-kali. Membuat Cheery tertawa karena kegelian.


"Cheery juga kangen sama, Tante." Anak kecil itu memelukku erat.


Tian hanya memperhatikan kami sambil mengulas senyum lebar.


Tanpa aku sadari, ternyata kedekatan kami bertiga membuat seseorang yang berdiri disana menatap kami dengan mata berkaca-kaca. Aku menatap Tari iba, sementara Tian tetap bersikap dingin dan tak menghiraukan keberadaannya itu sama sekali.


"Oh iya, Pa ... tadi aku ketemu sama Tante itu." Cicitnya sambil menunjuk pada Tari. "Katanya ..." Cheery melirik takut-takut pada Tari dan Tian bergantian. "Dia --- dia mamaku. Apa benar Tante itu Mamaku, Pa?" Tanyanya dengan tatapan begitu polos.


Seketika itu juga Tian menoleh, menatap berang pada Tari yang mulai berjalan menghampiri.


"Mas ... aku ---!" Tari kembali mengatupkan rahang yang sebelumnya hendak terbuka.


"Sayang, kamu sama Tante Naya masuk dulu ke dalam mobil ya?" Pangkas Tian.

__ADS_1


"Papa mau kemana?"


"Papa ada perlu sebentar." Tian mengusak ujung kepala Cheery gemas.


"Nay, tolong bawa Cheery."


Kepalaku mengangguk, "Mas ... jangan emosi." Bisikku.


"Iya, sayang."


Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan rona merah pada wajahku. Malu? tentu saja, karena sekarang bukan hanya Cheery yang menatapku heran, tapi juga Tari yang sepertinya terkejut dengan perlakuan manis Tian padaku. Sebelum memasuki mobil, aku dan Cheery berpamitan pada Tari meski Tian sendiri tak menyukainya.


"Tante, apa benar Tante Tari itu Mamaku?"


Pertanyaan Cheery membuatku mengalihkan perhatianku pada dua pasang manusia yang sepertinya sedang berdebat disana. Aku menoleh, menatap gemas pada Cheery yang duduk di sampingku.


Saat bertanya, mata bulatnya itu hanya pokus pada ponsel yang di pegangnya. Rupanya anak itu sedang menonton salah satu filem kartun kesukaannya.


"Nanti, Cheery sendiri yang tanyain sama Papa, ya?"


Cheery sempat menatapku sekilas sebelum kemudian matanya kembali menatap layar ponsel. Tak lupa dengan wajahnya yang ditekuk.


Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya lembut. Melihat Cheery yang menekuk wajahnya seperti itu membuat hatiku meringis pilu. Aku tahu bagaimana perasaan Cheery saat ini, seharusnya anak kecil seperti Cheery itu masih mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari kedua orangtuanya. Namun, karena kesalahan dan keegoisan dari Tian dan Tari membuat Cheery tak memiliki itu semua.


******


Berada di dalam mobil, entah kenapa suasana mendadak menjadi hening seperti ini. Tian menjadi diam dengan pandangan marah setelah pertemuannya dengan Tari beberapa menit yang lalu. Sementara Cheery, entah kenapa anak itupun seperti Papanya yang tidak lagi cerewet seperti biasanya. Matanya masih tertuju pada ponsel yang memutar filem kartun kesukaannya itu.


Ingin bertanya, tapi aku tak berani karena merasa itu bukanlah urusanku. Aku hanya akan menunggu Tian saja yang bicara. Sampai saat mobil memasuki halaman rumahnya pun Tian tak banyak bicara.


Begitu pintu rumah itu terbuka, hal pertama yang aku lihat adalah keterkejutan dari Mama Maya disusul dengan senyum mengembang dari bibirnya. Beliau menyambut kedatanganku, memelukku hingga akupun membalas pelukannya.


"Kenapa gak bilang kalau Naya mau kerumah, Tian?" Protes Mama Maya pada anak laki-lakinya itu.


"Sengaja, aku kan mau kasih kejutan buat Mama." Jawabnya santai sambil duduk di atas sofa bersama dengan aku yang menyusul duduk di sampingnya.


"Tadi, Tante Naya sama Papa jemput aku ke sekolah, Nek." Cicit Cheery.


"O ... ya!" Serunya heboh. Lantas menatap aku dan Tian bergantian. "Ada apa?" Tanya mantan Mama mertuaku itu penuh selidik. "Kabar apa yang ingin kalian sampaikan?"


Tian tersenyum, sementara aku hanya menunduk saat Tian menatapku dan menganggukkan kepalanya, lelaki itu seperti meminta izin padaku.


"Iya, Ma. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama Mama dan Papa."


"Tentang?" Tanya Mama Maya semakin penasaran.


"Nanti dulu, Ma. Setelah kita makan malam. Sekalian nunggu Papa pulang."


"Baiklah." Jawabnya dengan helaan napas panjang. "Semoga saja kabar baik yang mau kamu sampaikan."

__ADS_1


"Mas ... Apa yang ingin kamu bicarakan pada Mama?" Bisikku.


"Nanti juga kamu tahu."


"Apa?"


"Pernikahan kita."


"Apa?" Pekikku kaget, membuat Mama Maya dan Cheery menatapku.


"Kenapa, Naya?" Tanya Mama Maya.


"Nggak papa, Ma." Jawabku sambil mengulas senyum kaku.


"Kenapa secepat ini? aku belum putuskan untuk menikah lagi sama kamu, Mas."


"Itu sudah jadi keputusanku. Kamu diam saja, tunggu aku melamar mu kembali pada Ibu." Bisiknya lagi yang membuatku melirik sinis sambil mendengkus kesal.


Setelah berbincang sebentar, aku memutuskan untuk ikut membantu Cheery berganti pakaian bersama dengan Tian. Saat kami menaiki beberapa anak tangga, Cheery kembali berceloteh di atas gendongan Tian. Namun, entah kenapa saat Cheery bertanya kembali tentang Tari, langkah Tian berhenti seketika. Sepertinya Tian sedang memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan dari Cheery.


"Pa, Apa Tante Tari itu Mama Cheery?" Lagi, Cheery kembali menanyakan pertanyaan yang sama saat Tian hanya diam saja.


Hingga sampai di dalam kamar, Tian menurunkan Cheery dari gendongan kemudian ia letakkan Cheery di atas tempat tidurnya. Pria itu berjongkok di bawah, menatap Cheery serius, membuat Cheery menunduk takut-takut. Aku yang berdiri di belakangnya pun memutuskan untuk duduk di samping Cheery. Memeluk tubuh mungil itu dari samping.


"Cheery, mau dengerin Papa bicara?"


Kepala mungil itu mengangguk.


"Lihat Papa, sayang?" Titahnya tapi dengan nada yang lembut.


Cheery mendongak, menatap Tian sekarang. Tian menarik napas lebih dulu sebelum kemudian ia memberikan penjelasan pada Cheery. Mungkin, di usianya sekarang akan sangat sulit untuk Cheery bisa memahami apa yang di katakan oleh Papanya itu. Tapi meskipun begitu, secara perlahan Tian tetap memberi penjelasan pada Cheery. Tian mengatakan yang sebenarnya. Tian pun membenarkan kalau Tari adalah Mamanya, wanita itu adalah Ibunya. Ibu yang telah melahirkan Cheery kedunia ini.


"Cheery suka Tante Naya?"


Cheery menatapku, lalu kepalanya mengangguk.


"Cheery sayang Tante Naya?"


"Iya, Pa." Cicitnya.


"Cheery dulu pernah bilang sama Papa, kalau Cheery mau Tante Naya jadi Mamanya Cheery, kan?"


Lagi, kepala mungil itu mengangguk.


"Sekarang Tante Naya mau jadi Mamanya Cheery, gimana? Cheery mau kan Tante Naya jadi Mama Cheery?"


Cheery menatapku dan Tian secara bergantian sebelum kemudian kepalanya menggeleng pelan.


Terkejut?

__ADS_1


Tentu, aku sangat terkejut saat kepala mungil itu menggeleng. Pun dengan Tian. Ia hanya diam tak merespon apapun saat Cheery memintanya untuk membawa Tari kembali.


...****************...


__ADS_2