Akupun Menyerah

Akupun Menyerah
Mahluk kecil


__ADS_3




Lima tahun kemudian,




Dentuman musik yang memekakan telinga, serta ruangan yang minim akan pencahayaan menjadi hal pertama saat tubuh kita memasuki ruangan tempat hiburan malam seperti ini. Sama seperti aku. Setiap malam aku selalu berada disini untuk menghibur semua orang. Dan aku berada di dalam klub malam ini untuk bekerja.



Ya, pernikahanku yang baru beberapa bulan akhirnya kandas diakhiri dengan ketukan palu dari hakim. Setelah aku resmi menjadi seorang janda, pada saat itu aku kembali tinggal di rumah Ibu. Beruntung aku memiliki Ibu yang sangat menyayangiku. Aku pikir saat itu Ibu akan marah dan kecewa karena keputusanku untuk mengakhiri pernikahanku bersama Tian. Tapi nyatanya aku salah, justru Ibu yang meminta maaf padaku. Beliau merasa bersalah karena telah menjodohkan aku dulu, dan Ibu pun sangat menyesal saat mengetahui kalau ternyata aku tak bahagia.



Satu tahun setelah aku dan Tian resmi berpisah, aku memutuskan untuk bekerja sebagai seorang Disc Jockey atau kita kenal dengan sebutan DJ.



Aku Nayara,



Aku tak pernah peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang aku. Tentang kehidupanku, atau tentang apapun itu yang bersangkutan denganku. Aku memutuskan untuk menjadi seorang DJ karena ingin melanjutkan cita-cita ku dulu. Sejak dari dulu, lebih tepatnya saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas aku sudah belajar banyak bagaimana caranya untuk menjadi seorang DJ. Hingga di beberapa bulan aku sendiri, barulah aku kembali mempelajarinya, di bantu oleh teman saudara sepupuku yang telah lebih dulu menjadi seorang DJ.



Keputusanku untuk bekerja di tempat hiburan malam seperti itu tentu membuat aku selalu di pandang rendah oleh sebagian orang. Tapi aku tak peduli.



Karena menurutku, tidak ada yang salah dengan pekerjaan yang aku lakukan sekarang. Aku hanya menjadi seorang DJ, bukan menjual diri.



Meskipun begitu, aku akui bekerja di tempat hiburan malam seperti itu memang lah sangat berbahaya. Tak jarang, ada saja lelaki hidung belang yang menggodaku. Menawarkan aku uang yang banyak dengan imbalan aku harus tidur bersamanya. Bahkan setiap malam, aku harus bisa menjaga diriku dari tatapan para buaya darat yang menatapku seperti orang kelaparan. Selain karena gerakan tubuhku saat sedang memainkan musik, mungkin karena pakaianku pulalah yang membuat mereka menatapku seperti itu. Sebenarnya akupun risih, tapi aku harus terbiasa dengan pakaian minim seperti ini.



Sudah hampir empat tahun aku bekerja sebagai seorang DJ. Dan selama itu pulalah aku bisa menikmati kehidupanku sekarang. Perlahan, akupun bisa melupakan bayang-bayang Tian dari kepalaku. Kunikmati kehidupanku sekarang, apalagi aku selalu di kelilingi oleh orang-orang baik di sekelilingku. Bukan hanya di Jakarta, tapi aku sudah mengelilingi kota-kota besar lainnya juga. Selama bekerja, aku tak sendiri. Aku memiliki asisten dan juga sepupu yang menjadi manajerku. Mereka berdua lah yang selalu menjaga aku, melindungiku dari orang-orang jahat, dan karena mereka pula akhirnya aku bisa menjadi DJ yang sangat terkenal.



Dan rasanya semua itu seperti mimpi bagiku.



"Ra, besok kita balik ke Jakarta." Ujar Geril, saudara sepupuku itu. "Ada kerjaan lagi disana."



Aku yang sudah duduk di sebelahnya pun hanya mengangguk.



Mendengar Jakarta, rasanya sudah tak asing lagi bagiku. Karena sudah hampir tiga tahun aku dan Ibu tinggal disana. Tinggal di rumah peninggalan Ayahku dulu. Aku dan Ibu memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena keinginan dari adik laki-lakinya Ayah. Selain karena amanat, Om Beri juga merasa harus bertanggung jawab penuh untuk menjaga aku dan Ibuku. Karena selain beliau, aku dan Ibu tak mempunyai siapa-siapa lagi.



"Lo, ingat Revan kan?"



Aku menoleh, menatap adik sepupuku itu dengan mata menyipit.



"Malam besok pembukaan klub barunya, dia mau lo sebagai DJ-nya." Kepalaku mengangguk. Meskipun lelah, tapi inilah pekerjaan ku sekarang. Aku tak boleh mengeluh, aku harus tetap semangat demi kebahagiaanku sendiri dan juga Ibu.

__ADS_1



Ibu,



Mengingat beliau membuatku merindukannya sekarang. Ibu adalah wanita terhebat yang aku tahu. Semenjak aku berpisah dengan Tian, Ibu lah yang selalu menyemangatiku. Beliau banyak memberi aku nasihat, dan salah satu nasihat yang aku ingat sampai detik ini adalah - jangan pernah membenci Tian, Tari dan keluarganya. Ibu juga meminta aku agar mau memaafkan mereka, dengan atau tanpa mereka minta maaf sekalipun.



Tanpa Ibu tahu, kalau aku sudah memaafkan mereka semua jauh sebelum Ibu meminta pun.



Aku tak ingin hidup dalam kebencian karena aku tahu itu tak akan membuat hidup ku tenang. Aku hanya ingin hidup bahagia sekarang. Dan akupun sudah mendapatkannya. Aku bahagia karena masih ada Ibu, dan aku juga bahagia dengan kesendirianku saat ini. Meskipun pernah beberapa kali Ibu meminta aku untuk segera mengenalkan calon menantu padanya, Ibu ingin aku segera menikah kembali, dan Ibu ingin segera melihat aku bahagia.



"Sayang ... kapan kamu akan mengenalkan calon suami pada Ibu?"



Aku yang sedang membantunya memotong sayuranpun seketika tersenyum. "Aku belum mau menikah lagi, Bu."



"Kenapa?" Tanyanya sambil memasukkan semua sayuran yang aku potong-potong tadi ke dalam wajan. "Ibu rasa sudah saatnya untuk kamu menikah lagi, kamu itu cantik. Mau nunggu sampai kapan?"



"Gak tahu, Bu." Aku tersenyum. Entah kenapa setiap kali aku mendengar kata pernikahan, membuatku merasa takut.



"Dengarkan Ibu sayang, setiap manusia itu mempunyai takdir yang berbeda-beda." Ibu menangkup kedua sisi wajahku, sepertinya beliau bisa membaca isi pikiranku. "Dulu kamu memang pernah gagal, tapi tak ada yang tahu jika sekarang takdir kamu akan bahagia setelah mengalami kegagalan itu, Nak." Ibu tersenyum penuh kasih padaku. "Ibu yakin itu, kamu akan bahagia."



Bahagia?




Jika memang aku akan bahagia, bolehkah aku meminta untuk mendapatkan seseorang yang mau menerima aku apa adanya dan mencintaiku dengan sepenuh hati?



Karena aku takut kembali mencintai orang yang salah.



\*\*\*\*\*\*



Sementara di tempat yang berbeda,



"Permisi, Pak."



Tian menoleh, pun dengan Rama yang saat ini ada di dalam ruangannya itu



"Ada apa, Nana?"



"Di depan ada Pak Revan, katanya ingin bertemu dengan Bapak." Ujar wanita itu yang di balas anggukkan oleh Tian.

__ADS_1



"Baiklah, suruh dia masuk."



Nana, sekretarisnya itu mengangguk sebelum kemudian ia dan Rama keluar lalu mempersilahkan Revan masuk.



Revan adalah salah satu teman baik Tian sewaktu mereka kuliah dulu. Revan yang baru beberapa bulan kembali dari luar negeri, lelaki itu memutuskan untuk membuka beberapa usahanya di Jakarta. Dan lelaki itu adalah salah satu pemilik klub malam terbesar yang ada di Jakarta.



"Ada apa?" Tanya Tian begitu Revan sudah duduk di hadapannya.



"Gue mau ngundang lo nanti malam."



"Untuk?" Tanya Tian, setahunya Revan belum mau menikah kan?



"Pembukaan klub malam baru." Tak ada yang salah jika Revan kembali membuka tempat hiburan malam seperti itu lagi. Karena setahu Tian, beberapa klub malam milik Revan itu sukses semua.



"Sepertinya gak bisa." Tian kembali pokus pada layar laptopnya.



"Come one, Tian. Lo harus datang. Kita nanti pesta disana sama temen-temen yang lain." Bujuk Revan dengan wajah yang sangat menyebalkan.



"Entar gue bakal kenalin lo sama cewek sexy." Revan terkekeh. "Siapa tau lo mau nikah lagi."



"Sialan.!" Tian mendengus, memilih untuk mengabaikan Revan dan kembali bekerja. Sementara Revan, lelaki itu memutuskan pergi setelah ia meyakinkan Tian untuk datang ke pembukaan klub malam terbarunya itu. Revan memaksa agar Tian datang, dan beruntungnya, Tian pun akhirnya mengangguk.



Tian memang selalu absen setiap kali Revan mengadakan acara. Ia tak pernah hadir karena kesibukannya akhir-akhir ini yang membuat lelaki itu tak bisa kemana-mana. Selain karena sibuk bekerja, ada mahluk lainnya juga yang selalu menunggunya di rumah. Sosok mahluk kecil yang ia titipkan setiap hari di rumah Kakek dan Neneknya.



Ya, di pernikahannya bersama Tari ,Tian telah dikaruniai seorang putri kecil yang bernama Tanisha Cheery Aydan.



\*\*\*\*\*\*



Dentuman musik yang memekakan telinga serta kerlap kerlip lampu yang minim akan pencahayaan itu membuat semua orang disana berdasa dengan bebas. Aku memainkan musiknya, akupun berdansa dan sesekali ikut menyanyikan lagu-lagu yang ku putar dengan musik yang telah aku modifikasi. Semua orang berseru heboh, meminta aku untuk berpoto bersama. Aku yang dengan senang hati pun mengikuti apa yang menjadi kemauan mereka.



Beberapa lagu telah aku putar, hingga di beberapa menit terakhir aku mengangguk saat Geril naik ke atas panggung dan meminta aku untuk ikut dengannya.



Begitu aku, Geril dan asisten ku hendak masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba saja aku tersentak dengan tubuh menegang kaku seketika. Disana, di depan aku saat ini, aku melihat seseorang yang sedang menatapku sama seperti aku sekarang. Aku yakin dia pun sama terkejutnya persis seperti aku.



Orang yang aku hindari dan tak ingin aku temui. Kini, orang itu ada di depan mataku.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2