
•
•
•
Setelah satu minggu,
"Ada apa, Bu?" Aku menghampiri Ibu yang sedang duduk di atas sofa ruang tengah. Saat aku datang, Ibu baru saja mengakhiri panggilannya yang entah dengan siapa itu.
Beliau tersenyum padaku, "Nak, barusan Jeng Maya menelpon. Beliau mengundang kita untuk datang ke rumahnya nanti malam."
Aku yang duduk di sampingnya pun menatap Ibu sembari mengernyit. "Ada acara apa, Bu?"
"Katanya sih, mereka akan mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya." Ujar Ibu kemudian. Aku yang tak terkejut pun hanya diam. Sejak pertemuan pertama kami terjadi beberapa waktu yang lalu di sebuah Mall, Mama Maya sepertinya tak ingin kehilangan jejak kami lagi. Beliau memang tak meminta nomor ponselku secara langsung, tapi Mama Maya meminta nomor ponsel Ibuku, beliau mengatakan tak ada maksud lain, Mama Maya hanya ingin agar kami semua tetap menjalin hubungan dengan baik, dan tak memutuskan tali silaturahmi walau kami sudah tak mempunyai hubungan apa-apa lagi.
Dan Ibuku membenarkan itu.
"Gimana? apa kamu mau ikut bersama Ibu?" Tanya Ibuku yang membuat aku sedikit bingung.
Apa sebaiknya aku tak menemani Ibu?
Bukan tanpa alasan, sebab aku tahu jika aku datang bersama Ibu, kemungkinan terbesar adalah aku akan kembali bertemu dengan Tian. Dan karena hal itulah yang membuat aku sedikit merasa tak nyaman. Bukan karena Mama, Papa ataupun Cheery. Sungguh, sampai kapanpun aku ingin sekali bisa berhubungan baik dengan mereka semua. Tapi ada sesuatu yang membuat aku sebenarnya ingin menghindari mereka.
Tian.
Tian adalah alasan terbesarku saat ini. Aku tak ingin bertemu ataupun berhubungan apapun lagi yang menyangkut tentangnya.
Semakin kami sering bertemu, semakin besar pula rasa ingin membencinya. Dan aku tak mau mengotori hatiku sendiri hanya karena lelaki itu.
"Bagaimana Sayang, apa kamu mau ikut? atau Ibu saja yang pergi sendiri kesana?"
Aku menatap Ibuku lekat, membiarkan Ibu pergi sendiri rasanya tak mungkin. Tapi untuk ikut dengannya pun terlalu sulit untukku. Jika bukan keluarga mantan mertuaku yang mengundang kami, maka dengan senang hati aku akan menemani Ibu.
Tapi ...
Aku tak mau jika harus bertemu kembali dengan Tian. Entahlah, kenapa aku ingin sekali menghindarinya. Apalagi setelah kami berdua bertemu kembali di puncak waktu itu. Pada saat itu, aku melihat sikap Tian sedikit berubah padaku. Aku tidak bisa menghindar saat lelaki itu terus memperhatikanku dari kaca spion dalam mobilnya.
Saat itu, dari perjalanan hingga menuju ke lokasi, Tian secara diam-diam sering memperhatikanku. Meskipun matanya pokus mengendarai, tapi sesekali lelaki itu sering melirikku. Aku tahu karena aku mengetahuinya. Entah apa yang membuat Tian terus memperhatikanku seperti itu. Menatap aku dengan pandangan menelisik.
__ADS_1
Bahkan sampai dimana pesta malam itu di mulai, Aku yang baru saja selesai segera menghampiri Geril dan teman-temannya yang duduk tak jauh dari atas panggung. Sekali lagi, aku melihat Tian tersenyum padaku. Bukannya senang, aku justru di buat takut oleh sikapnya yang tak biasa seperti itu.
Aku semakin di buat terkejut saat itu, karena Tian datang di waktu yang tepat. Lelaki itu membantu aku, menolongku dari tangan-tangan jahil lelaki sialan yang menggodaku saat aku baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu gak papa?" Tanyanya saat ia berhasil membawaku jauh dari ketiga orang yang sedang mabuk berat itu.
Aku menatapnya sekilas dengan dada yang masih berdebar keras karena takut, sedetik kemudian kepalaku menggeleng. Tian, lelaki itu membuka jaket yang dikenakannya untuk ia sampirkan pada bahuku. Tapi aku menepis, dan memberikannya kembali.
"Makasih." Tanpa mau melihatnya lagi, aku segera bergegas pergi dari sana. Kenapa Tian? kenapa mesti lelaki itu yang datang menolongku?
"Naya."
Langkah kakiku berhenti, aku diam tanpa menoleh ke belakang. Inginnya aku terus berjalan menjauh darinya, tapi entah kenapa kakiku tiba-tiba saja terasa sulit untuk di gerakan saat dia memanggil namaku.
"Naya, bisa kita bicara sebentar." Aku bisa mendengar suara paraunya yang sedikit melirih.
"Maaf, saya harus kembali kesana." Ya, karena aku akan meminta pada Geril untuk pulang malam ini juga.
"Naya tunggu. Aku benar-benar ingin bicara sama kamu."
"Tapi maaf, saya gak bisa."
Aku memutar badan, melihatnya sekarang. Untuk beberapa saat pandangan kami berdua bertemu. Ku tarik napas dalam-dalam untuk meredakan debaran jantungku yang berdebar tak beraturan saat aku melihat Tian kembali menorehkan senyum untukku.
"Bisa kita bicara?" Ulangnya kembali.
"Saya gak bisa bicara lama-lama dengan orang asing." Aku melihat Tian sedikit terkejut dengan sikapku. Lelaki itu mengangguk sebelum kemudian ia kembali berujar.
"Hanya sebentar."
"Saya tidak mempunyai banyak waktu. Jika ingin bicara, silahkan.!" Mungkin aku terlihat begitu kejam, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin Tian tahu, kalau aku sudah benar-benar menepati ucapanku waktu itu.
Jika suatu saat nanti kita berdua bertemu kembali, aku akan menganggap kamu sebagai orang asing.
Maka, aku benar-benar menepati ucapanku sendiri.
Dan disinilah sekarang aku dan Tian berada.
Kami berdua memutuskan untuk bicara di taman belakang Villa, jauh dari orang-orang yang kemungkinan besar akan mengenali dan melihat kami disini.
__ADS_1
Hening, itulah yang terjadi saat kami berdua sama-sama terdiam. Entah apa yang akan Tian bicarakan padaku, akupun sedang menunggunya.
"Naya?" Aku diam, memberinya waktu untuk bicara. Ku lihat lelaki itu menghela napas panjang. "Maaf." Tian mengatakan itu seraya menundukkan kepalanya.
"Untuk?" Tanyaku masih tetap tak melihat kearahnya.
"Untuk semua yang pernah aku lakukan sama kamu, dulu."
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya aku bisa mendengarnya sendiri. Mendengar secara langsung permintaan maaf darinya.
"Maafkan, aku." Lagi, kata itu kembali keluar dari bibirnya.
Aku masih tak percaya jika lelaki egois dan tak mempunyai perasaan seperti Tian mau meminta maaf. Tapi saat aku melihat sorot matanya, aku tahu kalau Tian mengatakan kalimat itu dengan tulus. Tak ada kepura-puraan di dalamnya.
"Maaf atas semua sikap tidak baikku dulu sama kamu." Ada jeda di sela kalimatnya. "Aku tahu aku salah, aku tahu kamu membenciku sekarang. Aku memang pantas mendapatkannya. Tapi setelah meminta maaf, mau kamu memaafkan aku atau pun tidak, setidaknya itu bisa membuatku merasa sedikit tenang."
Tian menatapku sekarang, pun dengan aku. Kami berdua sama-sama terdiam membisu untuk beberapa saat.
"Hanya itu yang ingin aku katakan sama kamu."
"Aku sudah memaafkan kamu Mas, Jauh sebelum kamu sendiri meminta maaf pun." Aku bisa melihat Tian kembali terkejut dengan apa yang aku katakan. Lelaki itu tersenyum, dan aku buru-buru membuang muka ke samping. Aku tak ingin melihat senyum itu. Mungkin sudah saatnya aku Berdamai dengan masa lalu.
Memaafkan bukan berarti aku dan Tian akan kembali menjadi dekat. Tidak.
Aku tidak ingin itu terjadi, meskipun dulu aku sempat memiliki perasaan lebih terhadapnya, tapi seiring berjalannya waktu pulalah, akhirnya aku bisa menghapus rasaku itu padanya secara perlahan.
Aku bisa melupakan Tian sedikit demi sedikit.
Aku hanya ingin menikmati hidupku dengan tenang sekarang. Aku hanya ingin menikmati kesendirianku saat ini. Sebelum nanti aku menemukan orang yang benar-benar tepat dan tulus mencintaiku.
Mencintaiku seorang, tanpa harus berbagi.
******
"Bagaimana mana sayang?"
Aku menatap Ibu sambil tersenyum. "Baiklah, Bu. Aku akan ikut bersama Ibu."
...****************...
__ADS_1